Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 213 Aku akan menjadi perisaimu


__ADS_3

“Mas… Mas Arya… Mas Arya masih marah?”, Dinda menarik - narik lengan baju Arya sedikit - sedikit sambil menatapnya.


Orang yang ditatap tetap mengarahkan pandangannya ke depan dengan ekspresi datar.


Wajahnya biasa saja. Fokus. Tapi Dinda bisa merasakan kemarahan disana. Wajahnya yang terlihat dari samping tidak begitu bersahabat.


“Mas Arya…Masih marah, ya?”, tanya Dinda dengan rasa takut tapi tetap ingin memastikan.


Masih terus berusaha dengan melemparkan tatapan membujuk. Persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi orang tuanya karena berbuat kenakalan kemudian didiamkan begitu saja.


Dari awal masuk mobil tadi, Arya tidak berbicara sepatah katapun selain ‘pasang seatbelt’ kamu. Hanya itu saja.


Bahkan nada bicaranya saat itu sudah jelas menunjukkan dia sedang marah.


Sepertinya Dinda memang tidak bersahabat dengan yang namanya parkiran. Setiap Arya marah pasti kebanyakan dia lampiaskan di parkiran.


Caranya sama. Marah dan mendiamkan Dinda. Bukan merajuk. Tetapi itulah cara Arya untuk mendinginkan kepalanya dan memikirkan cara terbaik mengontrol emosinya.


Uniknya, saat bersama Dinda, kemarahan itu bisa lebih cepat mereda dibandingkan dengan saat bersama Sarah.


Mengapa? karena Dinda selalu berusaha agar kemarahan Arya mereda. Berusaha berbaikan. Berusaha menjaga komunikasi.


Sementara Sarah, dia memiliki tipikal yang tidak mau kalah. Setiap Arya marah atau setiap terjadi pertengkaran, dia jarang inisiatif untuk meminta maaf lebih dulu.


Selalu menunggu. Menunggu semuanya meledak dan membuat masalah baru yang lebih besar.


Kembali pada Arya yang belum mengucapkan satu patah katapun sejak tadi berangkat dari parkiran kantor menuju rumah.


Tentu saja Dinda jadi heran. Awalnya dia kira Arya tidak berbicara karena dia sedang sibuk menyetir, tapi saat mobil itu sudah berjalan hingga setengah perjalanan pun, Arya belum juga berbicara. Fix, Arya marah.


Dan Dinda sadar pasti ada kaitannya dengan kejadian tadi siang dimana dia harus membelikan pesanan para staff di divisinya. Hal yang terjadi sesekali dan hanya setiap Pak Erick tidak sedang di tempat.


“Mas.. mas Arya tidak membalas. Berarti benar kan kalau mas Arya masih marah. Aku kira marahnya sudah selesai dari tadi. Ternyata masih.”, ujar Dinda melepas pegangannya pada lengan baju Arya dan menunduk sedih.


Sebenarnya ini adalah taktik Dinda yang kedua jika Arya sedang marah. Hidup bersamanya selama hampir 6 bulan membuat Dinda hapal betul bagaimana sifat Arya kalai sedang marah.


Dinda membuat dirinya terlihat menyedihkan dan strategi ini pernah berhasil meredam kemarahan Arya.


Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali.


‘Semoga saja kali ini bisa berhasil. Aku hanya perlu berharap kali ini strategi andalan kedua milikku berhasil. Rasanya tidak enak sekali dimarahi mas Arya.’, ucap Dinda dalam hati.


Sepertinya lama - lama dengan Mama Inggit, sifat mama Arya itu menurun pada Dinda. Drama Queen tapi hanya disaat - saat seperti ini. Cocok sekali.


Sayangnya, Arya masih tidak berkutik. Dinda diam - diam mencoba melirik ke kanan.


Awalnya, dia hanya mengarahkan matanya ke samping mencoba untuk mengintip. Tapi caranya itu malah membuat mata dan kepalanya sakit.


Akhirnya Dinda memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya ke kanan. Sedikit, hanya sedikit. Sebisa mungkin agar Arya tidak menyadarinya.


Kalau dia menyadari Dinda mengintip, maka strategi Dinda sudah pasti akan gagal.


Sayangnya, pandangan Arya masih fokus ke depan padahal mobil dalam keadaan berhenti karena lampu merah menyala.


Dinda malah seperti naik taksi online. Bedanya dia duduk di bangku depan dan supirnya tampan.

__ADS_1


‘Gawat, mas Arya benar - benar marah. Bagaimana ini? Aku harus mencoba jurus apa lagi? Biasanya jurus kedua ini ampuh. Apa aku pura - pura nangis saja? Ah.. tapi pasti mas Arya langsung tahu. Aku sudah upgrade taktik, mas Arya juga sudah upgrade pengetahuan tentang taktikku.’, ujar Dinda.


Dia seperti sedang ada di medan perang sekarang. Menyusun strategi bagaimana sang pangeran mau bertekuk lutut dan menyerah.


“Oh.. ada tempat makan enak di sana. Wah, All you can eat lagi. Kayanya enak nih. Rame. Shabu - Shabu dan Meat Grill kan kesukaan mas Arya, kan? Hem.. cocok nih di kala hujan - hujan gerimis manja begini, enak tuh mas singgah di sana.”, kata Dinda dengan penuh antusias.


JURUS KETIGA: Mengalihkan perhatian.


Siapa tahu saja pertahanan Arya yang setebal baja dan setinggi tiang listrik itu bisa runtuh dengan jurus terbaru ini.


Jarang - jarang sekali Dinda menggunakan jurus yang satu ini. Mungkin ini kedua kalinya. Jurus ini biasa dia pakai untuk ngeles kalau Arya mencoba untuk menggodanya.


"Lagi promo cuma 150k. Aku yang traktir. Mas Arya ga mau?", tanya Dinda masih belum menyerah.


“.....................”, hening.


Tidak ada jawaban dari Arya sama sekali. Nihil. Dinda seolah - olah transparan. Invisible. Tidak terlihat.


'Bagaimana dia bisa tidak mengacuhkan ku sama sekali? Hah.. aku lupa kalau dia kulkas 10 pintu. Jurus level tiga sekalipun tidak akan ampuh.', bathin Dinda dalam hati.


Dinda sudah kehabisan jurus. Dia sudah tidak ada jurus lain lagi dan hanya bisa menunduk. Menunggu emosi dan kemarahan sang suami mereda. Tapi, mau sampai kapan dia menunggu kemarahan mas Arya hilang.


Menunggu es batu mencair saja bisa satu jam. Apalagi menunggu bongkahan es batu balok seperti Arya. (Dinda sedang menganalogikan Arya dengan bongkahan es batu balok yang biasa digunakan oleh abang - abang penjual kaki lima. Ukuran Es batunya raksasa).


Berpikir. Berpikir. Berpikir lagi. Macet juga membuat situasi menjadi lebih canggung.


‘Baiklah. Aku yang berbuat salah. Aku harus meminta maaf. Kalau begini terus sampai rumah, bisa - bisa komunikasi bisa merenggang.’, setelah lama berpikir, akhirnya Dinda menyerah dan lebih baik menyerah saja.


JURUS KEEMPAT : menyerah dan akui kesalahan. Minta Maaf.


Jika tidak pun, coba mengerti apa yang membuat pasangan marah dan minta maaf untuk hal itu terlebih dahulu. Selanjutnya, baru coba sampaikan apa yang membuat kamu juga marah.


“Mas Arya, aku minta maaf kalau aku salah. Aku masih belum tahu di bagian mana aku salah. Tapi, aku minta maaf dulu. Aku tidak bisa kalau mas Arya terus diam begini. Kalau aku salah, plis ajari aku dimana aku harus memperbaiki diri.”, ujar Dinda dengan nada pelan dan berusaha selembut mungkin.


Dinda mencoba menarik lengan baju Arya hanya untuk menarik perhatiannya.


Sebagai respon dari perkataan Arya barusan, Arya tiba - tiba langsung menepikan mobilnya di sebuah toko dan berhenti tak berapa lama setelah Dinda meminta maaf.


Arya menarik nafasnya sebentar. Dia memandang ke depan.Tidak lama, mungkin sekitar 2-3 menit.


“Pertama, kamu sedang hamil. Di situasi tadi, jika saya tidak datang, kamu yang akan membawa semua roti dan minuman itu sendirian? Iya? Kamu ingat kan dr. Rima bilang kalau kamu tidak boleh membawa beban berat. Oke, untuk roti tapi minuman? Itu bisa dua kiloan, Din!.”, terlihat dari nadanya, fix, Arya sedang marah besar.


Dinda baru saja ingin memberikan respon pada perkataan Arya, namun Arya sudah melanjutkan kata - katanya lagi.


“Kedua, kamu itu intern, Din. Oke, kalau kamu memang mau ke toko roti dan Cafe untuk membeli minuman. Satu dua orang boleh titip. Tapi hampir 15 orang? Kamu Intern atau OB? Bahkan OB pun ada pembagian tugasnya.”, lanjut Arya.


Pada saat mengatakan hal yang pertama, Arya masih mengarahkan pandangannya ke depan.


Saat dia menyampaikan poin nya yang kedua, Arya mengarahkan pandangannya pada Dinda.


Dinda cukup kaget. Dia tidak menyangka kemarahan Arya bisa sebesar ini. Pantas saja dia tidak semudah itu dibujuk bahkan sudah sampai memakai taktik level tiga.


Arya kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan, menarik nafas, dan kembali menoleh ke arah Dinda.


Berbeda dengan pandangannya saat awal yang emosi, sekarang Arya mengontrol ekspresinya agar bisa setenang mungkin. Nada bicaranya juga sudah mulai pelan.

__ADS_1


“Saya menahan diri saya untuk tidak mengatakan kalau kamu adalah istri saya. Pertama, kamu yang meminta itu dari saya dan saya mencoba menghargai keputusan kamu. Saya paham sampai situ. Kedua, karena alasan profesionalitas. Saya tidak mungkin tiba - tiba marah ke mereka karena mereka juga tidak tahu kalau kamu hamil. Tapi Din, besok saya mau tidak mau harus memberi tahu bahwa kamu adalah istri saya. Saya tidak bisa tawar menawar lagi dengan hal itu. Semakin lama, saya hanya akan semakin gila dengan segala hal tidak menyenangkan yang harus kamu terima karena kita berusaha menyembunyikan status kita.”, ujar Arya dengan nada tegas.


"Kamu tahu, bahkan saat tahu kamu sudah menikah saja, masih saja ada pria semacam Dimas dan Dika yang otaknya entah di bawa atau ditinggal begitu saja di rumah. Apalagi mereka belum tahu."


Dia baru akan menyalakan kembali mobilnya saat Dinda memegang tangan Arya.


“Mas Arya.. tapi.. Aku belum bisa..”, ujar Dinda ragu.


Dua tahu perkataannya pasti akan membuat emosi Arya naik lagi. Tapi, Dinda benar - benar belum bisa.


Bagaimana menjelaskannya pun, Dinda bingung.


“Belum bisa apa? Kenapa sih kamu setakut itu? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Din. Kita menikah secara sah. Legal dan Agama. Saya tidak berpacaran atau menjalin hubungan dengan siapapun saat kita akan menikah. Terus apa yang kamu takutkan?”, kata Arya memijat dahinya.


Terkadang dia masih tidak mengerti dengan Dinda. Apakah karena usia mereka terpaut lumayan jauh sampai Arya tak paham kekhawatiran istrinya?


“Ini gak semudah yang mas Arya bayangkan. Oke, mas Arya adalah Kepala Divisi. Semua patuh dengan pak Arya. Tidak akan ada yang berani bergosip tentang Pak Arya. Pak Arya terlahir dari keluarga terpandang, cerdas, dan memiliki posisi strategis. Lalu saya? Hanya seorang intern yang tiba - tiba masuk ke kehidupan mas Arya.”


“Fuh… “, Arya menghela nafas mendengarkan jawaban Dinda yang tidak bisa dia terima.


“Hanya karena kamu intern? Siapa sih yang berhak mengatur istri saya harus punya jabatan tinggi juga? Saya yang mengatur, kenapa harus mendengarkan orang lain?”


“Mereka pasti akan membandingkan aku dengan mba Sarah. Sama seperti teman mas Arya, rekan mas Arya, siapapun di sekitar mas Arya yang selalu membandingkan aku dengan mba Sarah.”, disini Dinda sudah menangis.


“Siapa? Dua orang yang kamu temui di Maldives? Cuma karena dua orang itu? Come on, Din. Kamu gak ingat bagaimana tante Meri menyukai kamu, memuji kamu? Kamu gak ingat bagaimana sayangnya tante Indah sama kamu? Fams, Dito, semua sepupu nyaman dengan kamu. Hal yang gak pernah terjadi saat aku bersama Sarah.”, Arya sedikit meninggikan suaranya.


Ada sedikit dilemma dalam hatinya saat Arya melihat Dinda yang sedang menangis. Dia tidak tega tapi Arya harus memberikan pengertian itu pada istrinya.


Dinda menghapus air matanya dan melepaskan seatbeltnya lalu keluar dari mobil.


“Din, kamu mau kemana? Dinda! Din! Kamu mau kemana.”, Arya memanggilnya tapi Dinda sama sekali tidak peduli.


Arya akhirnya ikut melepaskan seatbeltnya dan keluar dari mobil. Saat sudah berhasil berada di dekat istrinya, Arya menarik lengannya agar Dinda kembali berhadapan dengannya.


“Mas Arya gak tahu betapa takutnya aku dengan semua gosip yang mungkin akan beredar saat mereka tahu kalau aku sebenarnya adalah istri mas Arya.”


“Aku gak tahu apakah mereka tetap akan memperlakukan aku seperti sekarang atau tidak. Aku tahu saat memutuskan untuk menikah, aku akan berhadapan dengan semua ini. Tapi semakin kesini ketakutan itu semakin kuat.”


“Bagaimana kalau mereka menjaga jarak? Bagaimana kalau gosip itu tidak berhenti? Bagaimana aku menghadapi perasaanku saat mereka membandingkan aku dengan mba Sarah? Bagaimana perasaan mas Arya saat mendengar aku dibandingkan dengan mba Sarah? Apakah akhirnya mas Arya jadi menyukai mba Sarah lagi? Bagaimana kalau mas Arya jadi berubah pikiran dan tidak mencintai aku lagi.”, kata Dinda dengan nada pelan dan bergetir.


“Bagaimana kalau pada akhirnya mas Arya justru meninggalkan aku seperti mereka, seperti teman - teman ku, seperti papa.”, kali ini Dinda tak bisa lagi membendung tangisnya.


Ketakutan - ketakutan kecil. Ketakutan dari berbagai sisi. Bahkan Dinda tak bisa mengetahui lagi mana ketakutannya yang sebenarnya.


Arya menarik Dinda masuk ke pelukannya. Ia menepuk bahu istrinya pelan. Sesekali Arya mencium bagian atas dan samping kepala istrinya. Perbedaan jarak membuat hanya bagian itu yang bisa diakses oleh pandangannya.


“Din, mereka mungkin akan bergosip. Entahlah, aku tidak tahu. Tapi mungkin saja seperti yang kamu bilang ada yang tidak suka. Tapi poinnya, kita tidak bisa membuat semua orang di dunia ini menyukai kita. Dan saat mereka tidak menyukai kita dan menjauh, itu adalah kekalahan bagi mereka dan kemenangan untuk kita.”, kata Arya.


“Kekalahan karena mereka jauh dari orang sebaik kita. Dan kemenangan karena kita jauh dari orang toxic seperti mereka.”, lanjut Arya.


“Satu lagi. Aku mencintai kamu bukan karena ada orang sekitar yang mengatakan kamu lebih baik, lebih cantik, bla bla bla. Tapi aku yang merasakannya dan aku yang memutuskannya. So, whatever people say about you, I’ve been loving you now, then, and in the future.”, kata Arya lagi.


“Aku tahu tentang papa kamu dari Bunda. Kamu tahu Din, dia pergi bukan karena kamu. Tapi karena kemauannya sendiri. Karena ketidak bertanggung jawabannya. Papa kamu pergi, bukan berarti ada yang salah dengan kamu. Tapi, ada yang salah dengan dirinya sendiri dan mungkin orang lain, who knows.”


“Hm… aku tidak pernah berkata sepanjang ini seumur hidupku kecuali saat presentasi dan pidato. Tapi, kamu membuat aku berbicara hampir setengah jam tanpa henti sekarang.”, kata Arya tertawa simpul.

__ADS_1


__ADS_2