Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 239 Perhatian Orang Terdekat


__ADS_3

Dimas sedang duduk di sebuah bangku taman yang ada di daerah perkantoran. Ini istirahat pertamanya setelah dari pagi sibuk wara wiri mulai dari mengurusi keperluan cafe miliknya, meeting dengan tim development dan mengatur jadwal meeting dengan sebuah agensi marketing. Dimas merasa sudah saatnya dia melakukan upgrade terhadap usaha Cafe miliknya.


Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari kantongnya. Pandangannya lurus ke seberang lobi kantor. Ia kembali teringat dengan kejadian dua hari yang lalu dimana Dinda sudah tidak sadarkan diri setelah insiden yang Dimas juga belum mendapatkan detail lengkap. Hanya rumor yang ia dengar dari karyawan kantor, petugas keamanan, dan juga karyawan cafe miliknya.


“Kamu gak lihat memangnya yang kemaren dilabrak? Wah heboh banget?” 


“Aku cuti hari itu jadi gak lihat. Cuma ada yang kirim videonya tapi gak jelas juga cuma sepotong - sepotong.” 


“Ada yang selingkuh terus istrinya datang ke kantor untuk melabrak.” 


“Tapi katanya bukan selingkuh. Si istrinya salah paham. Orang suaminya juga di kantor yang sama.” 


“Yang aku dengar bukan begitu. Lagian namanya sudah selingkuh ya mana ada ngaku selingkuh. Pasti denial dulu.” 


“Itu bukan suaminya mungkin, pacar atau temannya yang akting menyelamatkan daripada di hajar.” 


“Kalian update berita kapan? Orang katanya beneran suaminya kok. Teman aku kerja di perusahaan yang sama. Katanya itu bos sama anak intern?” 


“Hah? Bos sama anak intern yang selingkuh begitu? Ya ampun ada - ada saja.” 


“Jadi, si anak intern itu selingkuh sama bos nya. Kepala divisinya. Terus ketahuan sama istrinya, dilabrak lah disini. Eh, ternyata si anak intern itu sudah punya suami yang kepala divisi juga.”


“Si anak intern itu kan hamil tuh kayanya. Orang pingsan dan pendarahan.” 


“Jangan - jangan hamil di luar nikah lagi.” 


“Wah.. makin kacau lagi.” 


“Ya ampun, anak intern sekarang serem - serem, ya. Bisa - bisanya selingkuh dengan kepala divisi.” 


‘Hm.. yaa.. Mungkin aja mau cepet naik jabatan. Who knows.” 


“Hush.. jangan bergosip kalau tidak tahu ceritanya. Memangnya kalian kenal dengan orangnya.”


“Kan sudah ada bukti videonya viral di anak - anak kantor. Sekarang apa - apa tuh langsung viral. Serem, yah.” 


“Foto cuma sepotong - sepotong belum tentu ceritanya seperti yang dinarasikan. Orang yang terlibat saja belum bicara apa - apa.” 


“Kebiasaan, video baru ditonton beberapa detik pertama sudah ngomongnya sampai sekian paragraf. Belum tahu asal usul kebenarannya. Kasihan kalau jatuhnya fitnah.” 


Kenyataan bahwa Arya sudah menikah yang baru dia ketahui beberapa bulan yang lalu sudah membuat dirinya terkejut. Sekarang, Dinda juga sedang hamil. Dia pikir hubungan mereka tidak sedalam itu. Ternyata, he fell harder than he thought he would.


‘Aku harap Sarah segera sadar dan melupakan Arya secepatnya. Terakhir bertemu, wanita itu masih saja menanyakan pria yang sudah lama tak menjadi miliknya.’


Dimas mengeluarkan ponselnya. Mencari - cari apakah ada panggilan telepon atau pesan dari Sarah. Nihil.


‘Tumben sudah beberapa waktu ini, dia tidak menghubungiku lagi. Waktu itu dia masih merengek meminta untuk bertemu Arya. Mungkin saja saat itu dia sedang mabuk. Aku harap semua baik - baik saja.’, ujar Dimas dalam hati.


*************


“Dinda masih belum masuk juga ya?”, tanya Delina saat jam makan siang pada yang lain.


“Tanya saja pada Pak Erick. Mungkin dia mengambil cuti beberapa hari.”


“Berarti dia masih di rumah sakit, dong. Katanya kemaren mau jenguk. Ga jadi?”, tanya Delina.


“Lah bukannya kamu yang katanya belum siap lah, apa lah. Jadi kita belum mutusin. Nanti kalau kamu ditinggal malah ngambek lagi.”, ujar Fas.


Kebetulan hari ini mereka tidak makan keluar. Mereka memesan makanan secara online dan menghabiskannya di kubikel area kerja mereka. Fas juga ikut turun menyambangi divisi Digital and Development untuk menyantap makan siang itu bersama.


“Kemana si Andra?”, tanya Suci yang sedang menyomot beberapa kentang goreng.


“Gak tahu. Sebat mungkin.”


“Masih patah hati dia? Jadi sering diam.”, ujar Fas.


“Yah.. siapa yang gak patah hati. Si Andra sudah mengincar Dinda dari pertama dia masuk.”


“Aku kira dia hanya main - main dengan kata - katanya. Dia benar - benar menyukai Dinda? Wah…”, ujar Fas tidak percaya.


“Awalnya Andra memang terlihat agresif apalagi sempat bersitegang karena kejadian di mobil waktu ulang tahunnya itu. Tapi Andra kayanya berusaha dekatin pelan - pelan. Pas Delina bilang dia sudah punya pacar, doi masih santai karena katanya masih bisa ditikung. Lah kalau sudah menikah, bagaimana menikungnya?”, ujar seseorang yang juga ikut bergabung disana.


Dia duduk dekat dengan Andra dan sedikit banyak tahu tentangnya meski jarang hang-out bersama Delina dan teman - teman yang lain.


“Plus suaminya Dinda siapa? Pak Arya, guys. Pak Arya. Orang terkiller se-perusahaan kayanya. Bahkan aura management saja kalah sama aura dia. Kalau bukan karena usia dan lama kerja, sepertinya dia sudah cocok untuk duduk di kursi management. Itu saja sudah banyak yang jealous sama pencapaian karirnya.”, ujarnya lagi.


“Plus, Dinda juga sedang hamil.”, tambah Delina.


“Ah.. benar. Makin mustahil ditikung. Andra masih mental breakdown kayanya. Tapi ngomong - ngomong ada yang tahu kabar terakhir Dinda? Dia baik - baik saja? Kalau aku dengar dari orang di divisi sebelah yang ada di sana, dia mengalami pendarahan.”, tanya Delina.


Kali ini suaranya cukup lantang saat bertanya.


“Dia baik - baik saja. Kalian tidak perlu khawatir.”, tiba - tiba Erick muncul dari pintu depan saat bawahannya sedang sibuk mengobrol satu sama lain dan fokus di tengah.


“Woah.. Pak Erick mengagetkan saja.”


“Kenapa? Kalian takut kalau yang datang itu Pak Dika?”, tanya Erick berjalan ke arah kursinya dan meletakkan tas laptopnya di meja.


Sepertinya dia baru saja selesai meeting di luar. Belakangan ini dia sangat sering meeting dengan finance karena ada beberapa hal yang perlu dipastikan untuk proyek development besar ke depannya terkait penyediaan akses cloud.


Seharusnya ini menjadi proyek besar divisi IT namun beban pekerjaan di bebankan ke dua divisi agar tetap bisa berjalan lancar. Proyek cloud ini akan di terapkan pertama kali di divisi Digital and Development sebelum divisi - divisi lainnya.


“Ah.. tapi Pak Erick, mohon maaf nih izin bertanya. Pak Dika kemana Pak?”, tanya Delina pelan.


Meski Pak Erick memiliki jabatan yang lumayan senior diantara mereka, tapi Delina lebih nyaman padanya dibandingkan dengan bos - bos lainnya. Terlebih, dia juga penasaran karena sejak kejadian itu, Pak Dika jarang sekali masuk kantor dan hanya masuk untuk menghadiri meeting saja.


“Ada kok beliau. Hanya saja belum ke ruangannya.”, sebuah jawaban diplomatis keluar dari Pak Erick dan bawahannya bisa menyadarinya.


“Pak Erick, kita rencananya mau menjenguk Dinda sore ini. Bapak mau ikut?”, tanya Delina tiba - tiba.

__ADS_1


“Heh, kapan kita memutuskan untuk jenguk sore ini?”, protes Suci.


Meski dia tidak banyak berbicara, tetapi dia mengikuti semua perkembangannya. Belum ada keputusan apa - apa soal mereka yang mau menjenguk Dinda sore ini. Tiba - tiba, Delina sudah mengambil keputusan dan inisiatif sendiri.


“Hm.. boleh. Saya sebenarnya belum ada rencana menjenguk. Tapi kalau kalian mau pergi sore ini, saya akan ikut. Ada yang mau bareng di mobil saya?”, tanya Erick langsung to the point.


“Tidak Pak terima kasih. Saya naik di mobil Bryan saja. Yang lain bisa menumpang di mobil Andra, saya rasa sudah cukup. Mungkin kalau Mba Rini atau karyawan lain mau ikut bisa menumpang di mobil Bapak.”, jelas Delina.


“Hm.. baiklah. Mungkin tidak usah banyak - banyak ya yang menjenguk. Nanti terlalu ramai.”, kata Erick memberikan saran.


**********


“Dinda???? Kamu gapapa? Gimana bayinya? Aman?”, teriak Bianca dari pintu masuk.


Bahkan belum lagi dia mendekat tetapi dia sudah berteriak. Arya sampai terkejut dibuatnya.


“Za, repot - repot amat kesini. Kamu bukannya sibuk proyek.”, kata Arya langsung menyapa Reza yang ikut menyusul di belakang.


Dia membawa beberapa makanan dalam kantong dan meletakkannya di meja.


“Istri minta kesini sudah seperti anak kecil tantrum. Mau bagaimana lagi.”, kata Reza sambil menunjuk Bianca dengan menggerakkan kepalanya.


“Dindaa…. Kamu sih diam aja. Harusnya kamu gampar balik. Enak saja main gampar - gampar istri orang. Awas ya kalau ketemu sama aku.”, Bianca langsung panas dan menggebu - gebu bukan main.


“Iya - iya Bi. Sudah jangan marah - marah. Nanti mas Arya mulai lagi.”, kata Dinda berbisik pada Bianca.


Kemarin


“Saya gak mau tahu Pak, pokoknya saya mau menuntut dan melaporkan wanita yang sudah menyerang istri saya. Untung kita cepat bawa ke rumah sakit. Kalau tidak.” 


“Saya gak peduli. Mau seminggu, sebulan, terserah. Saya gak bisa diam saja istri saya dibeginikan.” 


“Tidak. Dia tidak datang kesini untuk meminta maaf. Even they did, saya tidak akan memaafkan. Gak, gak, saya gak mau tahu. Urus semuanya, pokoknya saya mau dia dipanggil.”, Arya menutup ponselnya. 


“Brengsek banget, memangnya siapa bisa menyerang orang sembarangan.”, ujar Arya emosi sambil menutup teleponnya. 


“Mas Arya, sudah mas. Ini hanya salah paham. Gak perlu diperpanjang. Aku juga gapapa, kok.”, Dinda berusaha menenangkan Arya yang kemudian duduk di samping tempat tidur Dinda. 


Gadis itu mendekatkan tubuhnya dan berusaha memeluk Arya agar pria itu tenang. 


“Gapapa gimana? Kamu gak bisa bayangkan aku tuh sudah lost dan gak bisa mikir lihat kamu masuk ke dalam ruangan ‘apa itu namanya’ aku lupa. Dan dia sampai sekarang pun tidak menunjukkan batang hidungnya untuk meminta maaf. Brengsek.”, kata Arya emosi. 


“Shuuuuu… mas jangan bicara begitu.”, Dinda meletakkan jarinya di bibir Arya. 


Dia tidak mau pria itu berkata kasar karena emosi. Dia sudah baik - baik saja dan menurutnya persoalan ini tidak perlu diperpanjang lagi. 


“Hah.. ini tuh gara - gara si Dika bre….”, Arya baru saja ingin menumpahkan kembali kata - kata kasar sebelumnya namun Dinda kembali menutup bibirnya. 


Kali ini bukan dengan jari melainkan dengan bibirnya sendiri. 


Sontak tentu saja Arya jadi terkejut. 


Dinda langsung malu sendiri tapi dia pura - pura santai. 


“Saat saya minta cium, kamu menolak. Sekarang saya lagi emosi malah kamu cium.”, ujar Arya. 


“Aku mau, bayi kita dengar yang baik - baik saja. Hm? Sudah ya mas.


**********


“Mba Dindaaaa, kamu baik - baik saja? Yang mana yang sakit?”, tanya Fam yang datang bersama Dito setelah Ibas memberitahu mereka.


Dinda tersenyum saat kedua sepupu super baiknya ini datang untuk menjenguk.


Berbeda dengan orang lain yang biasanya membawa buah atau cake, keduanya malah membawa makanan - makanan ala - ala korea seperti Kimbap, topokki, dan lain - lain yang endingnya mereka makan sendiri di ruangan itu karena Dinda belum boleh.


“Kamu gak bilang lagi disini.”, tanya Arya menutup gorden karena sudah malam.


“Harusnya hari ini mau ke rumah mas Arya, tapi ternyata kata Ibas mas lagi di rumah sakit dan mama Inggit gak boleh tahu. Ya.. aku jadinya menginap di rumah mas Reza.”, ujar Fam.


“Kasian itu baru pengantin baru kenapa kamu ganggu.”


“Hm.. mereka tidak terlihat seperti pengantin baru. Justru yang terlihat seperti pengantin baru itu mas Arya dan mba Dinda.”, ujar Fam. Ditto mengangguk menyetujui.


“Ngaco kamu.”, balas Arya.


“Ih.. sendirinya ga sadar yah?”, ujar Fam.


“Mba Dinda, mas Arya pasti panik banget kemarin, ya kan? Kita aja panik. Aku gak kebayang mas Arya. Gimana ceritanya sih mas?”


Arya kembali harus menceritakan kronologinya lagi. Dia mungkin sudah berulang kali menceritakannya. Sepertinya Arya harus merekamnya saja di kaset. Dia tak menyangka sebanyak ini yang datang menjenguk mulai dari dr. Rima, teman - teman Dinda, Siska, Susan, sekaran Dito dan Fam. Dia justru ragu sekarang, apakah Dinda benar - benar  bisa mendapatkan bedrest yang cukup sekarang.


“Wah… mba Dinda besok pokoknya aku akan mengajarkan mba caranya pertahanan defensif ya. Jadi pipi mba yang merah itu karena ditampar wanita itu? Lagian mas Arya sih, lama sekali mengumumkan hubungan pernikahannya. Kan jadi pada berspekulasi sendiri.”, kata Fam mengeluarkan semua komentarnya sambil menikmati makanannya.


“Kalian sebenarnya kesini numpang makan atau menjenguk orang.”


“Mas, kita boleh menginap di apartemen mas Arya gak? Di apartemen mas Reza sepi makanan. Mba Bianca itu ga bisa masak.”, tiba Fam langsung curhat dadakan.


“Ga boleh.”, kata Arya tegas sambil meminum kopinya.


“Pelit. Mba Dinda, boleh ga?”, tanya Fam mengubah objek pertanyaannya.


“Boleh, kok.”, kata Dinda.


“Tuh, dengar mas. Istrinya aja bilang boleh.”, ujar Fam.


“Kamu gak pernah liat apartemen habis kemalingan kan? Kalau mereka dibiarkan menginap di apartemen, kamu bisa lihat nanti seperti apa.”, ujar Arya langsung membuat Dinda tertawa.


“Ibas itu masih level 1. Kalian berdua level kelas kakap.”, komentar Arya.

__ADS_1


“Habis mas Arya selalu punya barang - barang bagus yang susah didapatkan. Kelihatan dingin tapi koleksi banyak game console. Kelihatan gahar, tapi koleksi kopinya nomor satu. Kelihatan cuek, tapi.. “, kata Fam berhenti sejenak.


“Bucin abis. Hahahahahahahaha”, tawa keduanya langsung pecah. Mereka seperti sedang tidak di rumah sakit tetapi di Cafe.


Arya hanya bisa menarik nafasnya pelan melihat tingkah kedua sepupunya ini. Namun dia juga senang karena setidaknya Dinda bisa tertawa lepas. Kemarin dirinya sudah membuat istrinya itu bersedih karena sikapnya. Syukurlah dia bisa tertawa lagi.


**********


Erick dan yang lain sudah sampai di rumah sakit. Ada Delina, Suci yang ikut karena dipaksa, Andra, Fas, dan Bryan. Rini tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang masih ingin diselesaikan. Dika sudah tampak di kantor pada sore hari namun tentu dia tidak ikut mengingat apa yang terjadi. Dia juga sebenarnya sudah datang kemarin dan sadar bahwa kedatangannya hanya akan membuat suasana menjadi tidak enak.


“Oke, baik Pak.”, hanya itu kata - kata yang terdengar dari Erick.


Baru saja dia menghubungi Arya terlebih dahulu untuk memastikan kedatangan mereka. Terlebih di kamar ternyata sedang ada orang tua Arya dan juga adiknya.


“Guys, nanti jangan terlalu heboh ya. Di ruang inap Dinda juga sedang ada kedua orang tua Pak Arya.”, kata Erick.


‘Ah…’, semuanya langsung memberikan respon yang sama.


“Tuhkan, harusnya tadi kamu tidak memaksaku untuk ikutan.”, kata Suci menyalahkan Delina.


“Gapapa kali. Kan orang tuanya Pak Arya belum tentu seperti Pak Arya. Hah.. aku masih tidak bisa membayangkan kalau suaminya Dinda adalah Pak Arya. Masih sulit dipercaya.”, kata Fas yang sedari tadi terlihat santai tapi tiba - tiba jadi deg - degan. Padahal mereka tidak sedang meeting tapi menjenguk orang yang sakit.


Erick menyesal tidak memberitahukan kedatangannya lebih awal. Jika tahu orang tua Arya sedang ada di sini, mungkin dia akan mengurungkan kedatangan mereka dan menundanya menjadi besok. Tapi mau bagaimana lagi mereka sudah sampai disini.


“Selamat sore.”, Erick datang mengawali yang lain.


Sebenarnya dilarang untuk menjenguk beramai - ramai. Namun sudah kepalang tanggung karena kalau dibagi menjadi dua batch, mereka pasti berebut untuk pergi bersama dengan Pak Erick.


“Oh iyaa.. Silahkan silahkan. Teman kantornya Dinda ya?”, sapa Inggit dengan ramah.


Kuswan dan Ibas sedang keluar untuk mencari udara segar agar yang lain bisa dengan leluasa untuk menjenguk.


“Hai Din, apa kabar?”, ujar Bryan yang selanjutnya masuk di belakang Erick. Bryan terlewat untuk menyapa Arya yang sedang disana. Atau mungkin dia sengaja melewatkannya.


Delina masuk dengan hati - hati dan menyapa Arya dengan senyum kaku. Begitu juga Fas dan Andra yang masih terlihat kikuk padahal Arya juga bersikap seperti biasa. Aura gelapnya sedikit lebih berkurang karena dia mengenakan setelan biasa dan mengingat ini di luar jam kerja.


“Sore Pak.”, sapa Suci. Satu - satunya yang berani menyapa Arya dengan percaya diri.


“Sore.”, balas Arya mempersilahkan yang lain untuk duduk.


Inggit meletakkan berbagai cake yang ada di meja dekat sofa dan mempersilahkan yang lain untuk duduk disana sembari bergantian untuk berbicara dengan Dinda.


“Hai…”, Dinda membalas sapaan rekan dan senior kantornya satu per satu dengan senyuman.


Arya yang tadinya berdiri bergerak keluar setelah Erick selesai menyapa Dinda dan juga melangkah keluar memberikan rekan yang lain ruang untuk mengobrol.


“Gimana istri kamu?”, tanya Erick.


Meski dia sudah melihat dan mengobrol dengan Dinda, dia tetap menanyakan pada Arya.


“Baik. Semuanya sehat. Dia hanya butuh bedrest. Besok sore sudah boleh pulang oleh dokter.”, jawab Arya.


“Hm…. kandungannya baik - baik saja?”, tanya Erick lagi.


“Hn. Everything’s fine.”, ujar Arya.


“Aku juga menyayangkan apa yang terjadi di kantor dua hari yang lalu. HR bilang apa?”, tanya Erick.


Sebetulnya, Arya sedang tidak ingin membahasnya. Namun Erick malah menyinggungnya.


“Not sure. Aku lebih khawatir pada kondisi Dinda. Biar dia stabil dulu.”, ujar Arya.


“Hm.. James memanggilku kemarin dan bertanya apakah aku mengetahui apa yang terjadi. Like hubungan kalian, Pak Dika dan semuanya. Dia meminta penjelasan karena secara tidak langsung sebelum Dika masuk, aku adalah satu - satunya direct reporting di Divisi Digital and Development.”, jelas Erick.


Salah satu alasan Erick datang kesini juga untuk menyampaikan informasi penting ini. Rasanya kurang kalau disampaikan melalui telepon.


“It seems like they decide to cut Dinda as their best option. Tapi masih belum jelas. Itu adalah kemungkinan terburuk yang akan mereka ambil.”, jelas Erick.


“Heh.. how come?”, Arya sudah menduga hal ini sejak membaca pesan dari James.


“Sebenarnya jika tidak banyak rumor di kantor dan gosip yang bertebaran, mungkin mereka akan mempertahankan Dinda sebagai intern. Tetapi sepertinya yang lain tidak berpikir begitu. Aku menyarankan sebaiknya kamu memberikan penjelasan secepatnya.”, kata Erick memberikan saran sebagai teman dan juga kolega kerja.


“But, this is a personal matter.”, kata Arya masih speechless menimbang tanggapan para karyawan yang dianggap bisa berpikir lebih profesional.


“Hm.. mereka mencurigai prosedur Dinda masuk ke perusahaan. Ada yang bilang karena Pak Arya membantu untuk meloloskan. Ada yang bilang Dinda hamil di luar nikah. Ada yang mengatakan Dinda memanfaatkan dan meminta merahasiakan hubungan ini karena takut rahasia kecurangannya terbongkar. Mereka suka hal - hal seperti ini dan bukannya mencari kebenaran, mereka malah semakin menggorengnya.”, tutur Erick.


“Mungkin keputusan HR untuk memutus kontrak Dinda adalah keputusan yang terbaik untuknya. Semua rumor buruk itu mayoritas mengarah ke Dinda. Sebagian besar gosip menjadikan Dinda di pihak yang bersalah. Dan hanya sebagian kecil yang membicarakan Pak Arya.”, lanjut Erick lagi.


Dia menyayangkan semua ini malah justru lebih buruk dari yang dia pikirkan.


“Hah.. Dinda sangat ingin sertifikat kelulusan sebagai intern di perusahaan ini.”, Arya menghela nafas panjang.


Pandangannya lurus ke langit yang mulai gelap.


“Should I just throw my resignation, then?”, ujar Arya setelah beberapa menit hening menemani pembicaraan keduanya.


Erick langsung menoleh karena kaget. Apapun yang terjadi, dia tidak menyangka kata - kata itu akan keluar dari seorang Arya Pradana.


‘Resign?’, pikirnya dalam hati sambil mengarahkan pandangan terkejutnya pada Arya.


“Jangan memandangku seperti itu.”, kata Arya mendorong wajah Erick untuk tidak melihatnya.


“You fell first, and you fell harder.”, balas Erick mengomentari.


“Heh…”, Arya hanya tersenyum tipis.


“Kamu benar. I can’t let harm go to her. Sebenarnya ada masalah lain yang lebih penting di luar itu.”, kata Arya.


“Hm? Apa lagi masalah lain di luar itu?”

__ADS_1


Arya kemudian menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh Dinda kemarin. Erick menutup mulutnya dengan tangan.


__ADS_2