Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 68 Pertanda Badai Mulai Menerjang


__ADS_3

“Balik, Din?”, kata seorang pria menghampiri Dinda yang sedang menunggu ojek online di halte.


“Em.”, jawab Dinda singkat.


“Balik kemana?”, tanyanya. Dimas saat itu baru saja bertemu dengan beberapa vendor kopinya di gedung sebelah.


“Ke rumah.”, jawab Dinda kembali singkat.


“Hahaha… maksud saya, rumahnya di daerah mana? Gak mungkin kan kamu balik ke sekolah?”, balas Dimas terkekeh.


“Di daerah X.”, jawab Dinda berusaha menjawab se-umum mungkin.


“Hm.. mau saya antar? Saya bawa mobil dan kebetulan akan ke arah sana juga.”


“Tidak perlu. Saya sudah pesan ojek online. Kasian abangnya kalau di cancel. Sudah setengah perjalanan.”, tolak Dinda dengan halus.


“Apa saya terlalu lama tinggal di Amerika? Saya kira kita akrab, tapi sepertinya kamu sudah menolak saya berkali - kali.”, kata Dimas.


“Tidak. Jangan salah paham. Waktunya saja tidak pas. Dan menurut saya, kita belum akrab.”, jawab Dinda. Dinda ingin sekali mengakhiri pembicaraan ini, tapi dari gelagatnya, Dimas belum terlihat ingin berhenti.


“Sudah punya pacar?”, tanya Dimas to the point.


Dinda jelas tak bisa menyembunyikan wajah kagetnya. Pria ini semakin sok akrab. Padahal mereka baru saja bertemu dua kali. Dan di kantor ini juga mereka tidak pernah bertemu sapa.


“Hem.. belum.”, kata Dinda. Gadis itu bingung harus menjawab apa. Dia tidak bisa menjawab bahwa dia sudah bersuami. Tapi, tak bisa juga berbohong dengan berkata sudah punya pacar.


“Hm… bohong. Sepertinya kamu sudah punya kekasih.”, pernyataan Dimas membuat Dinda sedikit canggung. Ia melayangkan tatapan bingung pada Dimas.


“Arya?”, tembak Dimas. Dia merasa tidak ingin bertele - tele.


Dinda membulatkan matanya terkejut. Bagaimana mungkin nama itu keluar dari mulut Dimas.


Gadis itu tersudut. Tidak ada orang lain di halte saat itu. Mungkin karena itu Dimas jadi santai untuk bertanya terang - terangan.


Tak sampai beberapa menit, ojek online yang dipesan Dinda datang. Dia merasa terselamatkan.


“Ojeknya sudah datang. Saya pulang dulu.”, jawab Dinda.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengamati interaksi mereka. Arya dari ruang meeting lantai 3 dan Suci dari lobi.


*****


“Mas Arya udah di rumah?”, tanya Ibas yang secara tiba - tiba muncul di balik pintu kamar.

__ADS_1


Sepertinya Dinda lupa menutupnya, dia sedang berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Dinda lantas melihat ke arah belakang untuk melihat tamu di kamarnya hari ini.


“Oh..kapan pulang? Sepi rasanya kamu ga ada di rumah.”, ujar Dinda. Alih - alih mempersilahkan Ibas masuk, Dinda memilih untuk keluar dan mengajak adik iparnya itu mengobrol di luar.


Seperti nasehat dari bundanya, meskipun Ibas atau siapapun di keluarga Arya yang laki - laki, Dinda tidak boleh mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamar jika tak ada Arya di dalam. Dan Dinda memegang nasehat itu.


“Baru tadi sore, sepertinya saat kamu pulang, aku sedang di kamar membersihkan diri.”, jawab Ibas.


Mereka mengobrol di ruang santai yang ada di lantai dua. Sama dengan di lantai satu, disana juga ada TV dan jendela besar dengan view yang mirip seperti balkon kamar Dinda dan Arya.


“Jadi, kapan wisuda?”, tanya Dinda berbasa - basi.


“Hem…sudah mulai jadi seperti tante - tante di acara lebaran? Nanya kapan nikah, kapan wisuda? Aku tanya nih, kapan punya anak?”


“Jangan gitu dong. Soalnya aku lihat kamu sudah selesai magang. Bukankah kesana mengurus administrasi? Aku ingin sekali hadir di wisuda adik iparku ini.”


“Aku juga ingin kakak ipar yang sebenarnya sebaya denganku ini hadir.”, balas Ibas merangkul Dinda.


“Jam berapa mas Arya pulang?”, tanya Ibas. Tadi dia sudah bertanya tetapi dia tidak menjawab.


“Mungkin jam 8, dia sedang banyak pekerjaan.


“Boleh aku kepo hubungan kalian?”, tanya Ibas memberanikan diri membuka topik sensitif.


“Kalau butuh teman curhat, aku siap kok. Atau kamu mau tanya - tanya soal mas Arya? Boleh”


“Ahhh… sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan. Tapi lebih baik aku mendengarnya langsung dari mas Arya.”


“Wuuhhh… baiklah. Tapi, beritahu aku jika kamu berubah pikiran.”, kata Dimas menawarkan.


“Ooh.. disini kamu rupanya, mama cariin dari tadi. Arya belum pulang, ya?”, Inggit baru saja muncul dari tangga.


“Iya, ma. Balik jam 8 katanya.”, jawab Dinda.


“Anaknya tante Indah, abangnya Fam akan menggelar acara lamaran minggu depan. Mereka adakan di rumah tante Indah di luar kota. Papa dan mama tidak bisa ikut karena kondisi kesehatan papa tidak baik untuk travelling jauh. Kamu sama Arya yang berangkat, ya?”, kata Inggit.


“Minggu depan hari apa ma?”


“Hm.. malam minggu. Jadi, kalian berangkat dari sini Jum’at malam. Kalau Arya kecapekan tidak bisa menyetir, bawa Ibas aja jadi supir pengganti.”


“Oke.. baik ma. Nanti Dinda sampaikan ke mas Arya kalau sudah pulang.”, jawab Dinda.


*****

__ADS_1


Restoran buffet di sebuah hotel menjadi tempat pertemuan Dimas dan Sarah malam ini. Sejak Dimas kembali, belum sekalipun dia menemui Sarah. Meski mereka sudah tidak berhubungan, tetapi sepertinya Dimas dan Sarah tetap menjadi teman. Setidaknya seperti itu kelihatannya.


‘Haruskah aku katakan tentang kejadian dua hari yang lalu? Ah tidak.. Sarah bisa membunuhku. Terserah nanti dia akan tahu dari Arya atau siapa. Yang jelas, aku tidak akan mengatakannya.’, Dimas khawatir, Sarah tahu bahwa Arya sudah mengetahui perihal alasan perceraiannya.


“Kalau bayi kita masih hidup, mungkin kamu dan aku tidak berakhir seperti ini.”, kata Sarah. Ia memulai kalimat pertamanya dengan cerita menyedihkan.


“Mungkin karma untuk kita yang berhubungan di belakang Arya.”, ujar Dimas sambil menikmati daging bakarnya.


“Aku tidak menganggapnya begitu. Jika aku harus kembali ke masa tiga tahun lalu. Aku akan tetap membuat keputusan yang sama malam itu. Kuakui, kamu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Arya dengan kesibukannya.”


“Come on, Sarah. Hanya ada kita berdua. Kamu tidak perlu menggunakan alasan yang dibuat - buat. Arya sudah sibuk sejak dulu dan kamu tahu itu. Dia workaholic, bahkan saat di kampus pun, dia sudah begitu dan kamu tetap menikahinya.”


“Haruskah aku mengatakan alasan yang sebenarnya padamu. Sudahlah. Aku tidak ingin membicarakannya malam ini. Kejadian di hotel tempo hari membuatku sakit kepala.”, kata Sarah sambil menenggak koktail yang dipesannya.


“Di hotel, apa yang kalian berdua lakukan?”


“Seperti yang pernah ku katakan. Dia menangkap basahku sedang bersama Dika, pria yang pernah aku ceritakan sebelumnya.”


“Menangkap basah? Apa maksudmu?”, tanya Dimas bingung.


“Entahlah. Setengah jam yang lalu, dia katakan dia masih di rumahnya. Lalu tiba - tiba muncul di depan pintu kamar hotelku. Dia memaksa masuk bahkan mengucapkan kata - kata yang tidak menyenangkan. Dia sepertinya sangat marah.”


“Wow.. It means, He definitely still loves you.”, Dimas menarik kesimpulan.


“That’s the point. So, aku akan memberikannya waktu untuk berpikir, dan mungkin aku akan kembali menemuinya.”, ungkap Sarah.


‘Apa yang akan terjadi sekarang?’


“Aku bingung, kenapa kamu masih mengejarnya. Bukankah pilihanmu meninggalkannya?”


“Jika dia tetap single, aku tidak akan mengejarnya lagi. Aku tak suka barang kesukaanku dimiliki oleh wanita lain.”


“Kamu gila, lalu bagaimana denganku? Kamu tidak cemburu aku dekat dengan wanita lain. Walau bagaimanapun kita pernah punya anak bersama.”


“Aku tidak tahu. Tapi, aku sangat tidak suka Arya bersama dengan wanita lain. Aku jadi ingin menemui wanita itu. Seperti apa sih dia.”


“Kekasih Arya?”, tanya Dimas.


“Apa aku belum pernah mengatakannya?”, Sarah ingat bahwa dia pernah bilang pada Dimas.


“Well, my memory is short so maybe I forgot. Well, kurasa aku tidak perlu tahu darimu. Aku suka mencari tahu sendiri.”, kata Dimas sambil menenggak koktail yang sama dengan Sarah.


“Pria gila.”, ujar Sarah.

__ADS_1


*****


__ADS_2