Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 57 Cafe Baru di Kantor


__ADS_3

“Malam, pa.”, sapa Dinda begitu sampai di rumah. Dia kaget karena tidak biasanya papa (Kuswan) ada di teras depan rumah sepulangnya Dinda bekerja. Biasanya, jika sudah malam, Kuswan sudah di menonton televisi bersama Inggit.


“Malam, sayang. Baru pulang?”, tanya Kuswan sedikit basa - basi. Meskipun sudah beberapa bulan tinggal di rumah ini, namun Dinda masih sulit untuk berkomunikasi dengan Kuswan jika hanya mereka berdua saja.


Tidak seperti Inggit yang ceriwis, Kuswan lebih tenang dan tegas. Pembicaraannya juga selalu berbobot. Jadi, Dinda yang masih muda pun sulit untuk bisa sekedar ngobrol dengan Kuswan.


“Iya, pa.”, jawab Dinda singkat.


“Sini duduk sebentar.”, ajak Kuswan sambil menunjukkan satu kursi kosong di sebelahnya.


Dinda sedikit ragu - ragu namun tetap tersenyum dan duduk di samping Kuswan.


“Gimana di kantor? Aman?”, tanya Kuswan.


“Sepertinya mas Arya menghandle pekerjaannya dengan baik, Pa.”, jawab Dinda.


“Maksud papa, kamu. Gimana di kantor?”, tanya Kuswan lagi.


“Ooh.. baik - baik aja, Pa. Sudah hampir 8 bulan, jadi sudah bisa beradaptasi dengan baik dan kenal banyak orang.”, jawab Dinda antusias.


“Hm..kamu suka dengan pekerjaan yang sekarang?”, tanya Kuswan lagi.


“Iya pa. Suka. Ya.. walaupun terkadang sulit, tapi banyak rekan kantor yang membantu. Bos Dinda juga baik.”, jawab Dinda lagi dengan bersemangat.


“Hm.. Arya?”


“Hm.. bukan pa. Tapi pak Erick namanya. Dia bos Dinda di kantor. Kalo mas Arya, biasanya hanya sebatas tanda tangan saja kalau di divisi Dinda.”


“Hubungan kamu dengan Arya bagaimana? Baik - baik saja?”, tanya Kuswan. Sebenarnya pertanyaan tadi hanyalah basa - basi. Pertanyaan yang sebenarnya ingin dia berikan pada Dinda adalah tentang kehidupan pernikahan mereka.


“Baik kok, pa.”, jawab Dinda. Meski Dinda berkata seperti itu, Kuswan bisa melihat dengan jelas ada yang tidak beres dari raut wajahnya. Tidak seperti saat menceritakan pekerjaannya, nada Dinda, raut mukanya, dan helaan nafasnya dingin dan sendu.


“Papa tahu, papa dan mama meminta sangat banyak dari kamu. Arya dengan masa lalunya dan kamu yang masih seperti kertas putih. Papa berharap, Arya tidak melukai perasaan kamu. Jika dia melakukannya, kamu bisa cerita pada papa dan mama. Kamu sekarang juga puteri kami.”, Kuswan menatap dalam menantunya.


“Papa tahu, tidak mudah menjadi istri seseorang yang sudah pernah menikah. Kamu akan merasa, ada saja yang tidak kamu ketahui tentangnya. Bayangan wanita yang pernah mengisi hatinya dan tanpa sadar kamu membandingkannya.”, lanjut Kuswan lagi.

__ADS_1


“Din, percaya pada papa. Meskipun Arya adalah putera yang keras dan terkadang sulit dimengerti, tetapi papa tahu bahwa semua keputusan yang dia ambil pasti melewati pertimbangan yang panjang dan dengan komitmen. Termasuk keputusan untuk menikahi kamu. Papa dan mama mungkin yang menyarankannya, tapi Arya bukan pria yang bisa disetir. Jadi, jangan pernah membandingkan diri kamu dan merasa kecil. Kamu adalah istrinya sekarang.”, kata Kuswan dengan nada yang lembut.


Tanpa sadar, Dinda meneteskan air mata. Bayangan - bayangan perselisihannya dengan Arya beberapa hari ini kembali masuk dalam pikirannya.


“Ah.. kamu menangis? Papa gak maksud bikin kamu nangis, loh Dinda.”, Kuswan terdengar sangat khawatir. Dia tidak menyangka menantunya akan menangis dengan kata - katanya. Padahal, dia sudah memilih dan memikirkan kalimat ini seharian.


“Engga kok pa. Dinda ga nangis. Makasih ya pa. Jujur sebenarnya Dinda masih bingung bagaimana bisa memulai obrolan dengan papa. Selama ini di rumah tidak ada sosok papa. Dinda hanya bertiga dengan Bunda dan Arga. Dinda jadi merasa punya papa sekarang.”


“Loh.. kok baru sekarang. Saat papa datang ke rumah kamu waktu itu, papa sudah menganggap kamu anak papa.”, tutur Dinda.


“Papa apain Dinda, pa? Kok sampai nangis begitu.”, akhirnya si yang paling ceriwis muncul. Inggit baru saja datang membawa beberapa potongan buah untuk menemani Kuswan menikmati angin dan udara malam.


“Engga kok ma.”, jawab Dinda tersenyum.


“Pokoknya, kalau Arya aneh - aneh, kamu laporin aja ke papa. Biar papa omelin dia.”


“Hehe.. Siapp pa.”, kata Dinda kembali tersenyum.


“Kalau begitu Dinda masuk dulu ya, pa. Ma.”, pamit Dinda.


“Oiya Din, Arya sampai kapan di Singapura.”


“Loh.. Arya ga telpon?”, tanya Inggit.


“Beberapa hari lalu ada ma. Tapi Dinda lupa tanya mas Arya pulangnya kapan. Nanti coba Dinda tanya ya ma.”


“Hm.. kalian beneran baik - baik saja, kan?”, kata Inggit.


Dinda tidak menjawab dan hanya tersenyum lalu kembali berpamitan ke atas untuk istirahat.


*****


Suasana pagi yang cerah untuk menikmati secangkir kopi hangat. Dimas Prasetya, seorang pengusaha muda yang merangkap sebagai dosen di sebuah universitas Swasta. Dia baru saja kembali dari Amerika setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya.


Dimas mengambil keputusan besar setelah melalui pertimbangan panjang selama lebih dari 6 bulan. Dia keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan IT untuk membangun sendiri bisnis kulinernya. Selain senang merakit PC, dia juga sangat gemar memasak. Setelah berusaha keras menciptakan beberapa menu kekinian miliknya sendiri, dia mencoba menjual setengah asetnya untuk membuka usaha franchise di Indonesia.

__ADS_1


Sebulan yang lalu, dia akhirnya memutuskan terbang ke Indonesia setelah menjual flatnya di luar negeri. Dia mengawali bisnisnya dengan membangun banyak koneksi sejak ia masih di Amerika. Sesampainya di Indonesia, dia tinggal menjalankan projectnya.


Dimas berhasil mendapatkan beberapa tempat bagus di beberapa gedung untuk membuka bisnis franchisenya. Sekitar seminggu yang lalu, Dimas berhasil mendapatkan slot kosong di sebuah wilayah perkantoran elit. Dia mendapatkan tempat terbaik untuk membuka cafe + resto ala eksekutif muda.


Hari ini menjadi hari dimana dia memulai proses kontrak dan melakukan perencanaan renovasi untuk toko ketiganya. Dua toko yang lain sudah ia mulai dua minggu yang lalu dan sudah ia serahkan pada dua orang manager yang akan menjalankan toko tersebut.


Sedangkan toko ketiga, Dimas ingin dia sendiri yang menjalankannya sebagai bentuk healing saat dia stress dengan rutinitasnya membangun bisnis serta menjadi dosen.


“Terima kasih banyak. Saya harap bisa menjadi warna baru di gedung ini dan tentunya menjadi tempat terbaik bagi para pekerja kantoran untuk meeting, bersantai, dan beristirahat.”, tutur Dimas setelah menandatangani surat kontrak sewa etalase di salah satu perkantoran elit yang menjadi incarannya.


Santer kabar bahwa sulit sekali mendapatkan harga yang bersaing di perkantoran ini.


‘Oh… Dinda? Bukannya itu gadis tempo hari, ya? Dia kerja disini? Haha aku kira dia masih kuliah.’, batin Dimas dalam hati saat melihat sosok yang dikenalnya melewati gate pintu masuk gedung perkantoran menuju lift.


Ia tertawa bersama beberapa orang temannya. Dia menjinjing satu rantai kopi isi 4 cup di tangannya.


‘Oh.. menarik.’, batin Dimas dalam hati.


Di kantor.


“Guys, katanya ada resto kekinian yang baru buka di bawah. Menunya menarik, harga bersahabat, dan tempatnya cozy.”, ujar Andra, sipaling tahu sejagat raya. Bahkan reporter TV pun kalah cepat dengan dia. Setidaknya untuk hal - hal yang terjadi di kantor.


“Yang mana sih? Kayanya gue gak melihat ada cafe atau resto baru.”


“Itu loh, Momi.. Cafe Resto yang lagi hits di kalangan budak korporat. Mo meeting, mo makan, mo nongkrong, mo rompi. Ampe hapal gue taglinenya. Doi baru buka dua cabang tapi udah hits banget di kalangan pekerja kantoran.”, Andra menjelaskan.


“Belom jadi sih. Tapi tempatnya itu bakal mirip - mirip kaya gini. Dibilang Cafe, bukan. Resto, bukan. Bar juga bukan. Pokoknya nano - nano, plus seru banget katanya meeting disitu. Sampe ada quiet room juga.  Nih lihat.”, Andra menyodorkan ponselnya pada yang lain. Dia memperlihatkan akun ig Momi kepada anak - anak divisi DD.


“Lagi pada ngomongin apa sih?”, tanya Dinda sambil meletakkan satu cup kopi di atas meja Erick dan satu lagi di atas meja Rini. Sedangkan dua lainnya langsung disabet oleh Delina dan Azis.


“Thanks.”, ujar mereka bersamaan.


“Ituloh dia lagi ngomongin cafe baru di bawah. Kamu lihat ga?”, Andra menyodorkan ponsel miliknya pada Dinda untuk menunjukkan pada gadis itu.


“Engga. Hm…. orang ini kaya pernah lihat deh. Tapi dimana ya?”, ujar Dinda saat melihat foto pemilik Momi yang ditunjukkan oleh Andra.

__ADS_1


“Lihat di bawah lah. Orang tadi kayaknya ada orangnya.”, sahut Bryan.


“Engga. Kayaknya pernah lihat di tempat lain. Tapi, ya sudahlah..ga ingat.”, tutur Dinda sambil lanjut duduk di kursinya berniat untuk mulai bekerja setelah makan siang.


__ADS_2