Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 195 Payback


__ADS_3

Akhir pekan memberikan Dika ruang untuk bisa mengunjungi Rima. Ya, lagi - lagi pria itu memikirkan Rima.  Pagi sekali, Dika sudah siap dengan pakaian olahraganya.


Dia sudah memikirkan ini berulang kali. Dika sudah memutuskan untuk tidak menggubris kata - kata Rima dan akan tetap mencoba menemuinya.


Siapa yang tahu, mungkin saja dia bisa menemukan takdir barunya. Dia hampir tidak pernah tulus menyukai seseorang, ingin bersama seseorang, selain saat dia bersama Rima dulu.


Dia masih memiliki banyak kesempatan.


“Mau perfi kemana kamu pagi - pagi begini?”, tanya Rianti.


Dika terperanjat. Tentu saja Dika kaget.


Biasanya, dia hampir tidak pernah melihat Rianti di rumah pada akhir pekan. Apalgi, pagi - pagi begini. Mereka jarang sekali bertemu di rumah. Saat Dika di rumah, Rianti sedang diluar. Begitu pula sebaliknya.


Beberapa hari ini, Rianti terlihat banyak beredar di rumah. Sebenarnya ada apa dengan dia, begitu kira - kira pikiran Dika.


“Tumben kamu ada di rumah?”, tanya Dika terkejut, tapi dia tidak menampakkannya.


Dia berusaha bersikap biasa saja agar perempuan itu tidak berpikir yang aneh - aneh. Apalagi dia sangat ahli mengarang cerita.


“Kenapa? Aku tidak boleh di rumahku saat akhir pekan? Kebetulan, hari ini Putera libur dari sekolah dan asramanya. Aku ingin membawanya jalan - jalan. Sudah lama aku tidak mengajaknya untuk bermain di luar.”, jawab Rianti.


“Eh?”, Dika nampak heran. Tidak, lebih tepatnya dia kaget. Rencana apa itu? Seumur - umur hidup bersama Rianti, dia hampir tidak pernah mendengar ide itu keluar dari mulutnya.


“Kenapa?”, tanya Dika heran. Kali ini, Dika tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Tidak berguna karena dia sangat penasaran dengan isi kepala istrinya.


Sejak kapan dia peduli pada anaknya? Begitu kira - kira yang ada di pikiran Dika.


Meskipun, Putera keluar dari rahim perempuan itu, tapi anehnya Rianti jarang menunjukkan kasih sayangnya. Entah hanya perasaan Dika saja, tapi Dika merasa selama ini, justru dia yang lebih dekat dengan Putera ketimbang ibunya sendiri.


“Aku hanya kaget belakangan ini kamu melakukan hal - hal yang tidak pernah kamu lakukan. Termasuk berbicara denganku.”, kata Dika.


Sudah kepalang tanggung. Mungkin lebih baik dibahas saja, begitu kira - kira isi pikiran Dika.


“Ada yang bilang sebaiknya aku mengambil inisiatif untuk hubungan yang sudah lama rusak. Jadi, aku hanya mencoba. Berusaha. Mungkin ada yang bisa aku perbaiki.”, jelas Rianti.


“Wait, wait, wait… aku sama sekali tidak mengerti maksud kamu. Apa? Memperbaiki? Memperbaiki apa?”, tanya Dika bingung.


“Hubungan. Relationship. Sesuatu yang seharusnya sudah kita bahas sejak lama.”


“Antara?”


“Tentu saja antara kamu dan aku. Aku dan Putera. Siapa lagi?”, kata Rianti.


Pernyataan Rianti kali ini tentu saja membuat Dika speechless luar biasa. Dia bahkan bingung harus mengatakan apa. Dia sempat terdiam dan mencoba mencerna kalimat istri diatas kertasnya baik - baik.


“Dengan cara?”


“Mencoba dekat denganmu dan Putera?”, jawab Rianti santai.


Tidak seperti Dika yang terlihat tegang, shock, dan kaku, Rianti bersikap seolah - olah ini adalah hal biasa.


'Apa salahnya dengan memperbaiki hubungan. Kenapa dia bersikap berlebihan sekali.', pikir Rianti dalam hati.


“Hah…? Kamu bercanda. Kamu tidak sedang memainkan drama, kan? atau kamu sedang mengerjaiku karena bosan?”


“Aku tidak bercanda sama sekali. Aku serius. Berhenti bersikap berlebihan. Memangnya salah kalau aku ingin memperbaiki semuanya setelah 10 tahun kita berumah tangga?”, balas Rianti.


"Oh.. aku sangat merinding mendengar kata - kata berumah tangga keluar dari mulutmu. Tidak ada yang salah jika yanh mengatakannya wanita di luar sana. Tapi, kamu Rianti?"


“Aku kira kamu justru ingin segera mengakhiri hubungan kita yang semakin hari sudah semakin tidak jelas.”, Dika mendekati Rianti namun dia mundur perlahan.


“See? Kamu saja tidak ingin aku dekati. Lalu, apa tadi? Kamu ingin mendekatiku? Dengan cara? Berlibur dengan Putera? Lelucon apa lagi yang sedang kamu mainkan? Lagi drama?”, tanya Dika, emosinya sedikit terpancing dengan sikap defensif yang dikeluarkan oleh Rianti.


“Kamu sedang berhubungan dengan wanita lain?”, Rianti langsung menebak dengan tepat.


Meski sebelumnya dia sedikit bergidik dengan sikap Dika yang tiba - tiba saja mendekatinya, Rianti bisa mengembalikan sikap coolnya. Setidaknya dia mencoba untuk melakukannya.


Dia tidak ingin Dika mengetahuinya.


“Kenapa kamu tiba - tiba menanyakan hal itu? Bukannya kamu justru yang sibuk keluyuran bersama pria lain? Asal kamu tahu, aku tidak berhubungan dengan wanita manapun.”, kata Dika.


Oh benarkah? Percaya diri sekali kamu.", kata Rianti menatap tajam ke arah Dika.


"Tidak ada yang perlu aku sembunyikan."


“Kamu masih ingat kan, mayoritas persentase saham perusahaan papa kamu dipegang oleh papaku. Jika aku menemukan kamu berhubungan dengan wanita lain, kamu tahu apa yang terjadi keesokan harinya.”, ancam Rianti.


Sebenarnya dia tak ingin pembicaraan ini justru berakhir dengan seperti ini. Tapi ucapan - ucapan dan perlakuan Dika menyulut emosinya.


Padahal, Rianti sudah mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan hal yang menurutnya paling memalukan.


'Apakah aku harus menurunkan egoku lagi hanya untuk memperbaiki hubungan ini? Dia mengatakan aku yang bersikap defensif. Tapi, apa dia tidak merasa kalau dia juga begitu?', ucap Rianti dalam hati.


“Hah.. ya.. Aku paham betul. Karena itu aku sangat heran ketika tiba - tiba kamu melontarkan wacana memperbaiki hubungan. Ini yang kamu bilang memperbaiki hubungan? Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan. Aku pergi. Kamu sudah banyak membuang waktu kita berdua.”, kata Dika segera berlalu meninggalkan Rianti.


Tanpa keduanya sadari, Putera ternyata mendengar pertengkaran mereka dari ruang tamu. Dia baru saja pulang bersama supir.


Tadinya dia ingin berteriak girang menyampaikan kalau dia sudah tiba di rumah. Namun, melihat orang tuanya sedang bersitegang, Putera nampak terdiam.

__ADS_1


Ini bukan pertama kalinya dia melihat kedua orang tuanya bertengkar atau berselisih paham. Sering, mungkin karena itu dia tidak begitu sedih saat harus sekolah di tempat yang ada asramanya.


Dengan begitu, dia bisa melupakan sejenak bagaimana masalah di rumah.


*********


“Bianca kapan menyusul? Kamu belum mau punya anak ya?”, tanya Sekar menyeruput minumannya.


Pertanyaan yang paling dihindari oleh Bianca di kalangan keluarga dekatnya malah dilontarkan oleh Sekar. Dia ingin berkumpul disini karena dia tidak mau stress.


Sekar malah menyinggungnya.


Dinda langsung memberikan kode dengan menggeleng - gelengkan kepalanya ke arah Sekar.


Bianca sudah cukup stress belakangan ini terus ditanya tentang kehamilan, target punya anak, dan hal - hal serupa oleh keluarganya.


“Kenapa?”, tanya Sekar tak bersuara ke arah Dinda.


Dia tidak mengerti Dindan sedang memberikan kode tentang apa.


“Hah…Apa aku harus memjawab pertanyaan ini juga? Aku bukannya tidak mau. Tapi, kalau belum dikasih aku harus bagaimana? Memangnya aku pabrik yang ketika ingin produksi langsung bisa produksi? “, Bianca langsung murung.


“Tenang saja Bi, kalian juga belum 4 bulan, kan menikah? Nanti juga dikasih.”, kata Dinda berusaha menghibur.


“Iya, Dinda saja kan tidak langsung. Ya, kan Din.”, kata Rara ikut menghibur Bianca.


Sebagai calon dokter spesialis obgyn, dia bisa memahami bagaimana perasaan seorang perempuan tentang kehamilan.


Pembahasan itu sangat sensitif dan tergantung konteksnya. Pertanyaan tentang sudah hamil atau belum harus disesuaikan pada tempatnya. Jika tidak kita justru akan memberikan stress pada orang lain.


“Tapi Dinda kan beda, Ra. Dia tidak langsung dekat dengan mas Arya. Mereka butuh waktu untuk nyaman dan kenal satu sama lain. Mereka kan dijodohkan.”, kata Bianca.


“Bukannya kamu juga?”, tanya Sekar mulai bingung.


“Tapi, aku dan mas Reza langsung tertarik satu sama lain dan orang tua mengizinkan kita untuk kenal lebih dekat dulu sebelum menikah. Kamu juga malam pertamanya beberapa bulan setelah menikah kan Din, gak langsung?”, tanya Bianca tiba - tiba.


“Eh?”, Dinda kebingungan dengan pertanyaan Bianca yang tidak hanya tiba - tiba tetapi juga membuat dirinya salah tingkah.


‘Bianca… meski dia sedang murung, tapi dia tetap ember juga. Apa - apaan coba dia sampai bahas malam pertama segala. Lagian, memangnya kapan aku memberitahunya tentang itu. Dia pasti ngarang. Atau tahu dari mas Reza? Heh? Berarti mas Arya bilang dong ke Mas Reza?’, Dinda langsung mencari sesuatu untuk mengipas.


Tiba - tiba udara terasa panas. Dia bingung bagaimana dia harus menanggapi hal ini.


“Jadi, kamu gak langsung first night, Din? Wah, jadi kapan first night, nya? Hm.. menengangkan sekali nih cerita tentang Dinda. Terus baru first night, langsung jadi? Wah..”, kata teman yang lain.


“Eh? Apaan sih, kok jadi membicarakan itu. Lagian apa coba menegangkan. Film horor baru menegangkan”, Dinda bingung, panik, shock, dan salah tingkah.


Dia tidak tahu lagi harus bersikap dan mengeluarkan ekspresi seperti apa untuk menenangkan mereka - mereka yang haus akan cerita ini.


Seketika dia ingin sekali kabur dari sana. Secepatnya.


“Sudahlah Din. Kamu gak usah malu - malu. Kan sudah menikah.”


“Ya, tapi tetap saja. Masa membicarakan hal seperti itu di tempat terbuka begini. Malu. Hush, sudah jangan membahas itu lagi.”, kata Dinda panik.


“Memangnya kita membahas apa, kita hanya bilang malam pertama aja kok. Gak spesifik kemana - mana. Jadi, kalau tidak di tempat terbuka bisa dong kita bahas?”, goda temannya yang lain.


Wajah Dinda sudah persis seperti kepiting rebus.


“Hush.. udah ih.. Masih diterusin. Shutt.”, kata Dinda mengarahkan jarinya ke bibir agar mereka semua mengganti topik pembicaraan.


“Jadi, gimana mas Arya?”, goda Dian dan Rara berbarengan.


“Diaaan.. Rara…udah ah… mulai ngaco deh pembicaraannya.”, Dinda melemparkan tissue kepada kedua temannya.


********


“Morning… tumben kamu disini?”, tanya Sarah menghampiri Dika di tempat Gym.


Dia baru saja tiba dan kaget melihat Dika berada di tempat treadmill di sampingnya.


“Oh.. morning! Aku berlangganan disini. Kamu tahu itu kan?”, balas Dika sedikit ngos - ngos-an.


“Ah.. benar juga. Hanya saja, aku tidak pernah melihatmu menggunakannya di akhir pekan. Belakangan kita jarang bertemu, jadi aku tidak ingat bagaimana kebiasaanmu.”, jawab Sarah.


“You know, Sar. Sepertinya I’m done with you. Aku harap kita tidak saling menghubungi satu sama lain.”, kata Dika dan pergi begitu saja.


“What? Dika, tunggu.. Apa maksud kamu?”, Sarah berjalan cepat menghampiri Dika.


Dia merasa tidak terima dengan pernyataan pria itu barusan.


“It means what It means.”, kata Dika mencoba untuk pergi meninggalkan Sarah namun wanita itu masih mencegatnya.


“Aku tidak mengerti. Bukankah kamu masih menginginkan aku? Kamu bahkan melamar di perusahaan yang sama dengan Arya. Bukankah karena kamu ingin tahu seperti apa pria yang aku sukai?”, kata Sarah dengan tatapan marah.


“Ya.. I used to. Tapi, Arya sudah tidak menyukaimu kan? Jadi, aku sudah tidak tertarik bermain denganmu lagi. Karena aku sudah tidak bisa melihat ekspresi itu dari Arya. Ekspresi saat dia melihatmu berada berdua denganku di kamar hotel.”


“Apa?”, tanya Sarah tidak mengerti.


“Jika aku menginginkan ekspresi itu darinya. Mungkin aku harus mendekati istrinya. Aku yakin dia akan sangat marah. Ha-ha.. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya. Anyway, aku tidak tertarik melakukannya sekarang. So, we’re done. Bye.”, kata Dika pada Sarah sebelum berlalu.

__ADS_1


“Dasar laki - laki brengsek.”, Sarah mengumpat kesal.


“Awas kamu, Dika.”


Sarah begitu marah sampai dia mengikuti pria itu dari tempat gym tadi. Seperti yang sudah dia duga, pria itu kembali mengunjungi rumah sakit ini. Jika dia tidak sedang menjenguk seseorang, maka ada seseorang yang dia nanti di rumah sakit ini.


“Rima? Tempo hari aku melihat hubungan keduanya terlihat sangat dekat. Aku tidak menyangka, dunia bisa sesempit itu. Wanita yang menjadi teman minumku malam itu adalah seseorang yang sedang diincar oleh Dika sekarang.”


*********


“Tidak jadi, Pak.”, kata Bryan mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Saat di perjalanan, dia sudah bertekad untuk menanyakan tentang status Arya dan Dinda sebenarnya. Tetapi, nyali Bryan langsung menciut tatkala harus berhadapan 4 mata dengan Arya. Dia sudah berani mengatakan bahwa ada yang ingin dia tanyakan. Tetapi, Bryan tidak berani melanjutkannya.


Saat itu pintu lift terbuka, mereka keluar bersama - sama. Tidak hanya berada satu lantai, kamar mereka juga ternyata saling berhadapan meski tidak persis berhadapan. Arya sudah akan membuka pintu kamarnya.


“Pak Arya, tentang Dinda. Apa pak Arya benar - benar serius?”, akhirnya Bryan berani menanyakannya.


Saat melontarkan pertanyaan itu, Bryan tidak berhadapan dengan Arya langsung. Arya sedang menghadap pintu kamarnya dan begitu pula dengan Bryan. Mungkin dia jadi lebih berani.


“Saya tidak menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi. Serius atau tidak, itu adalah urusan saya dengan Dinda.”, jawab Arya tegas.


“Apa benar Pak Arya dan Dinda sudah menikah?”, tanya Bryan.


“Saya kira saya sudah pernah mengatakannya padamu. Saya tidak tahu kenapa saya harus menjawab pertanyaan ini. Tapi, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kamu dan saya atau mungkin Dinda. Saya tegaskan sekali lagi. Ya, saya sudah menikah dengan Dinda.”, jawab Arya tegas.


Arya sudah membuka pintunya namun dia belum masuk dan berhenti.


“Oh ya, satu lagi. Istri yang saya sebutkan sedang hamil di mobil tadi adalah Dinda. Saya hanya tidak ingin kamu punya kesalahpahaman yang lain. Suci, Siska, Erick sudah mengetahui tentang ini. But not others. Saya berharap kamu tidak mengatakannya pada yang lain. Setidaknya sampai Dinda lulus intern. Saya rasa kamu cukup cerdas untuk tahu alasannya.”, lanjut Arya sebelum masuk sepenuhnya ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


********


“Halooo… mas Arya. Belum tidur?”, tanya Dinda girang.


Dia sudah berguling - guling di atas kasur sekarang karena senang teleponnya tersambung.


“Belum. Kamu sendiri? Tumben jam segini belum tidur. Bukannya besok harus ke kantor?”, tanya Arya.


“Hem..”


“Tidak bisa tidur karena saya tidak disana?”, tanya Arya.


“Ih, mas Arya percaya diri sekali.”, jawab Dinda sambil menatap langit - langit kamarnya.


“Benar?? Kamu tidak kangen sama sekali? Kalau begitu saya bisa dong menambah durasi perjalanan bisnis jadi sebulan.”, kata Arya jahil.


“Hn. Silahkan saja. Aku bisa dengan bebas menaikkan temperatur AC. Tidak perlu mati kedinginan karena mas Arya.”


“Hm-mm.. Jadi selama ini kamu merasa mati kedinginan karena saya? Bukannya tambah hangat, ya? Sepertinya kamu deh yang sering mepet - mepet ke saya kalau lagi tidur.”, goda Arya.


“Eh? Enak aja.. Mas Arya yang mesum, kalo tidur pake buka baju segala. Apa coba maksudnya.”


“Loh, kok mesum. Saya dari dulu kalau tidur memang begitu. Kamu ngomel tapi suka kan?”


Dinda menggeleng - geleng kepalanya, padahal Arya tak bisa melihatnya.


“Jadi, kapan mas Arya pulang?”, tanya Dinda.


Nada suaranya manja, seolah sudah lama menunggu pria itu. Padahal Arya baru semalam 2 malam disana.


“Sudah kangen?”, tanya Arya.


“Anak kita kangen. Aku biasa saja.”


“Ya.. ya.. Saya pernah baca loh, kalau anak itu merasakan apa yang dirasakan ibunya. Jadi, kalau anak kita merasa kangen sama ayahnya. Berarti kamu yang kangen sama saya.”, jawaban Arya barusan membuat Dinda kalah telak.


“Ya ya ya… aku kangen banget sama mas Arya sampai gak bisa tidur. Biasanya selalu ada lengan kekar mas Arya melingkar dan membuatku hangat, tapi sekarang selimut pun rasanya sedingin es.”


“Jangan bicara begitu. Saya jadi pengen menghubungi Siska untuk pesan tiket pulang sekarang. Saya juga masih belum bisa tidur karena biasanya ada aroma kamu yang bisa bikin saya tidur nyenyak.”, kata Arya juga melontarkan kalimat rayuannya.


Tapi itu memang benar. Sebelumnya, Arya membutuhkan minuman untuk membuatnya mabuk agar dia bisa terlepas dari insomnianya. Sekarang, dia hanya butuh Dinda disampingnya.


“Oiya, Bryan menanyakan tentang hubungan kita. Sebenarnya ada hubungan apa sih kamu dengan si Bryan itu?”, tanya Arya kesal.


“Hm? Bryan? Aaah… tentang foto yang tersebar waktu itu. Bryan sudah lama tahu tentang hubungan kita. Tapi, sepertinya dia mengartikan hubungan kita sebagai hubungan kencan. Dia khawatir kalau mas Arya hanya mempermainkan aku.”, jelas Dinda.


“Berarti dia menyukai kamu dong. Wah.. perlu diberi pelajaran si Bryan.”


“Mas Mas Arya, tunggu dulu. Bukan begitu kok. Bryan itu perhatian hanya sebatas teman. Hm tidak, sebatas adik perempuan? Dia pernah cerita kalau dia dulu punya adik perempuan yang sekarang sudah tidak ada, jadi dia menganggapku sebagai adiknya. Dia merasa khawatir kalau nanti mas Arya hanya mempermainkan aku.”, jawab Dinda.


“Adik perempuan? Akal - akalan dia saja. Hem-mm harus saya simpan dimana istri saya ini yaa.. “, kata Arya bercanda.


“Ha-ha.. Saya cuma mau mas Arya kok. Gak mau yang lain.”, ucap Dinda.


Dia merasa geli sendiri dengan kata - katanya. Dinda bahkan meremas seprai karena tidak percaya kalau dia mengatakan hal itu.


Di seberang sana, Arya juga bersikap yang sama. Namun, dengan mode cool Dia tidak berhenti senyum. Arya begitu puas dengan jawaban istrinya. Seolah besok dia bisa menemui Bryan dengan bahu tegak dan wajah angkuh.


‘Hah.. memangnya dia saingan yang sepadan?. Heh.. Arya.. Arya’, pikir Arya dalam hati.

__ADS_1


********


__ADS_2