Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 208 Curhatan Karir


__ADS_3

Tok tok tok


Ibas mengetuk pintu kamar Arya. Sebelum Arya menikah dengan Dinda, Ibas bisa memasuki kamar ini dengan bebas. Bahkan saat Arya melarangnya, Ibas tetap saja masuk. Sekarang, di kamar itu tidak hanya ada Arya tetapi juga Dinda. Ibas tak bisa lagi sembarang masuk.


“Hm?”, Arya membuka sedikit pintu kamarnya hanya untuk memastikan ada bisnis apa adiknya mengetuk pintu kamarnya.


“Tumben mas Arya akhir pekan begini ada di rumah. Tidak nge-gym?”, tanya Ibas.


“Nanti sore. Aku sedang lelah. Mau apa kamu kesini?”, tanya Arya benar - benar hanya membuka pintunya sekitar 30 cm.


“Mas Arya sedang melakukan apa memangnya di dalam? Kenapa membuka pintu hanya 10 cm begini? Sedang menyembunyikan sesuatu, ya? Ah.. akhir pekan juga?”, tanya Ibas dengan wajah melongo.


“Apa yang kamu maksud? Jangan aneh - aneh pikirannya.”, akhirnya Arya membuka pintu kamarnya lebar - lebar.


Kosong. Hening. Tidak ada siapa - siapa selain kakak laki - lakinya itu.


"Dasar kamu ya, otaknya. Tuh lihat, tidak ada orang. Tumben kamu di rumah? Biasanya sudah kelayapan gak tahu kemana?", balas Arya sambil membiarkan pintu terbuka.


Ibas masuk ke dalam dengan santai mengikuti Arya. Pintu lalu ia tutup.


“Dinda kemana, mas?”, tanya Ibas.


Sejak bekerja sebagai karyawan full-time, Ibas selalu membalaskan dendam kekurangan tidurnya di akhir pekan. Dia akan bangun lebih siang dibandingkan biasanya.


“Keluar. Jalan dengan teman - temannya.”, jawab Arya singkat.


“Wah… kebetulan sekali. Aku boleh masuk ya mas.”, tanpa ba-bi-bu lagi, begitu Arya mengatakan Dinda sedang tidak ada, dia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar Arya.


Padahal dia sudah masuk ke dalam kamar sedari tadi. Tapi dia baru meminta ijin sekarang.


“Hei… hei..  Kamu ada perlu apa sebenarnya?”, tanya Arya pada Ibas yang sudah mengakses ruangan pribadinya.


“Mas, aku boleh ijin naik ke kasur ga?”, tanya Ibas meminta izin sebelumnya.


“Hm.”, jawab Arya mengangguk dan berpikir ada apa adiknya datang menemuinya. Tidak biasa sekali.


Ibas langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Arya berjalan membuka pintu balkon yang tadinya masih tertutup agar udara segar masuk.


Terang saja, begitu Arya membuka pintu balkon, hembusan angin segar menyeruak dari luar ke dalam. Angin itu berhembus membawa aroma bunga - bunga yang di tanam oleh mama di taman belakang.


Plus, sekarang ada tanaman Dinda disana yang mayoritas diisi dengan sayur - sayuran.


“Ada perlu apa kamu? Tumben sekali. Jangan diacak - acak ya kasurnya.”, kata Arya memperingatkan.


“Hu… strict banget. Aku mau curhat.”, kata Ibas kemudian memperbaiki posisi tubuhnya menjadi duduk.


Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Ibas sudah beberapa kali kesini sejak Arya menikah tapi dia tak pernah menghabiskan waktu lama.


“Wah.. aku baru sadar ternyata ada banyak perubahan di kamar ini. Hm.. Dito bisa mengambil gambar yang bagus juga. Foto mas Arya dan Dinda terlihat serasi dan bagus. Saat itu mas Arya frontal sekali ya, sudah main pegang sana sini.”, komentar Ibas saat melihat foto pernikahan Arya dan Dinda. Disana, Arya terlihat memegang pinggang Dinda dan mempersempit jarak mereka.


“Sudah sah. Terserah mas mau melakukan apa.”, balas Arya mengambil lotion di meja rias dan membalurkannya di tangan.


“Jadi, kamu mau curhat apa? Cinta?”, tanya Arya lagi. Dia mengambil air putih yang ada di atas meja dan meneguknya.


“Karir.”, jawab Ibas mantap.


Arya hampir saja tersedak mendengar jawaban dari Ibas.


“Karir? Kamu tidak sedang bercanda, kan?”, tanya Arya tidak percaya adiknya ini ingin berkonsultasi masalah karir dengannya.


Ibas adalah anak terakhir yang tipikal lebih dimanja dan bebas. Ibas terbiasa melakukan apa yang dia suka. Dipaksa masuk ke fakultas kedokteran adalah pengecualian. Meskipun akhirnya tetap berakhir menggeluti profesi yang dia suka sebagai desain grafis, tetap saja Ibas tak pernah sekalipun meminta saran atau konsultasi dengan Arya.


“Mas Arya meledekku, ya?”, protes Ibas merasa tidak suka dengan reaksi Arya.


“Bukan begitu, hanya saja mas tidak pernah mendengar kamu menanyakan tentang karir sebelumnya. Jadi, mas kaget saja kalau tiba - tiba kamu ingin membahas tentang karir.”, tutur Arya.


“Dinda tidak cerita?”, tanya Ibas.


“Cerita apa?”, Arya bertanya balik karena merasa tidak tahu.


“Papa juga?”, tanya Ibas lagi.


“Mas belum mengobrol lagi dengan papa sejak kembali dari luar kota.”, jawab Arya.


Arya memang sudah beberapa hari di rumah sejak dia pulang dari bisnis di luar kota. Meskipun begitu, setiap hari dia selalu sibuk dengan pekerjaan kantor dan aktivitas lain. Bahkan dia harus melakukan srimulat dengan semua deadline pekerjaannya untuk bisa menyediakan waktu menemani Dinda periksa kandungan.

__ADS_1


“Aku membuat kehebohan di rumah saat sarapan pagi. Aku beradu argumen dengan papa di depan semua orang.”, ungkap Ibas.


“Tumben? Mas kira hanya mas yang gila di rumah ini. Ternyata kamu bisa kumat juga.”, kata Arya tersenyum simpul.


“Tentang apa?”, tanya Arya selanjutnya.


“Mas sudah tahukan kalau aku sekarang bekerja full time di sebuah start-up? Kantornya hanya berjarak beberapa km dari kantor mas Arya.”, jelas Ibas.


“Oh ya? Mas kira kamu masih freelance. Pantas sekarang kamu sering sarapan pagi. Mas tidak menyadarinya. Maaf.”, kata Arya.


“Aah… kenapa aku jadi sedikit kecewa. Sejak menikah, perhatian mas Arya hanya ke Dinda saja sih. Tapi tidak apa - apa.”, kata Ibas memaafkan. Tidak mudah memang bagi seorang Arya Pradana untuk membagi waktunya.


“Maaf. Beberapa hari ini mas sangat hektik. Bahkan membagi waktu untuk Dinda saja juga sudah sangat sulit. Lagipula, kamu juga kadang berangkatnya lebih siang dari mas sehingga mas jadi tidak menyadarinya. Lalu, kenapa kamu tiba - tiba jadi berselisih dengan papa?”, tanya Arya bingung. Dia belum mendapatkan benang merah persoalan Ibas.


“Papa tidak suka aku bekerja di start-up. Dan tiba - tiba membandingkan aku dengan mas Arya. Mas Arya tahu sendiri aku paling tidak suka dibandingkan sejak dulu. Jadi, aku langsung membantah kata - kata papa. Ya.. aku sudah minta maaf.”, jelas Ibas.


“Hm.. baguslah kalau kamu sudah meminta maaf. Kondisi kesehatan papa sedang tidak baik. Jadi, sudah tindakan yang sangat bagus untuk kamu meminta maaf atas kejadian itu. Sekarang, kenapa kamu ingin konsultasi masalah karir?”, tanya Arya.


“Aku ingin tahu, bagaimana caranya mas Arya bisa secepat itu menanjak dalam karir?”, tanya Ibas dengan ekspresi serius.


“Eh - eh.. Hati - hati, itu bantal kesayangan Dinda. Kalau rusak susah mencari gantinya.”, kata Arya sebelum menjawab pertanyaan Ibas.


“Hm.. heh… pelit sekali. Jadi, bagaimana mas Arya?”, tanya Ibas lagi.


“Kamu kan baru masuk kerja, belum juga sebulan. Nikmati saja dulu.”, jawab Arya memberikan saran.


“Aku kan ingin segera membanggakan papa. Lagipula, mas Arya juga dulu pasti baru masuk kerja sudah ambis, makanya tidak sampai dua tahun sudah naik jabatan.”, komentar Ibas.


“Hm.. mas tidak tahu kenapa semua orang berpikir begitu, tapi mas tidak se-ambis itu. Mas hanya bekerja dengan sungguh - sungguh dan melakukan yang terbaik. Promosi adalah bonus.”, tutur Arya.


“Ah.. sudah kuduga mas Arya akan menjawab seperti itu. Sok cool sekali. Ayolah..berikan tipsnya. Bagaimana mas Arya bisa melakukannya?”, tanya Ibas merengek seperti anak kecil.


“Hm.. kamu bekerja di start-up, ya? Sebagai desain grafis? Skala perusahaannya bagaimana?”, tanya Arya. Kali ini dia mulai serius.


“Perusahaan sudah decacorn. Aku berada dalam sebuah tim yang terdiri dari 10 orang. Satu team leader, dua assistant manager, dan sisanya adalah junior designer sepertiku.”, jelas Ibas.


“Sedikit sekali, untuk ukuran perusahaan decacorn.”, tanya Arya.


“Hm.. tim design itu ada beberapa lagi. Totalnya ada 6 tim dengan pembagian segmen yang berbeda. Masing - masing tim memiliki anggota kira - kira 10-12 orang. Ada satu orang yang memegang ke 6 tim tadi. Head of Designer.


“Betul mas.”, jawab Ibas sambil memegang sebuah jurnal yang ada di atas nakas. Arya tidak melihatnya karena dia mengarahkan pandangannya ke beranda.


“Berapa waktu normal promosi yang dibutuhkan untuk masing - masing posisi?”, tanya Arya.


“Wah.. Dinda mendokumentasikan semua momen kehamilannya di jurnal ini? Wah.. ada foto mas Arya juga. Ada kata - katanya juga. Hai Baby kecilku…”, alih - alih melanjutkan pembicaraan seriusnya dengan Arya, Ibas malah membaca buku jurnal tersebut.


“Ibas, tutup.”, kata Arya langsung hanya dengan dua kata.


Ibas bergidik dan langsung menutup buku jurnal tersebut.


“Kamu ini, kalau buku itu punya mas, kamu silahkan baca. Tapi itu jurnal Dinda.”, kata Arya memberikan nasehatnya untuk tidak sembarangan membuka milik orang lain meskipun itu kakak iparnya sendiri.


Hal itu juga berlaku sebenarnya untuk Andin dan Arya. Tapi, karena Ibas sangat dekat dengan Arya, dia sudah terbiasa untuk langsung masuk tanpa izin, membuka lemari tanpa izin, dan sebagainya. Ibas masih belum sepenuhnya untuk terbiasa bahwa di kamar ini tidak hanya ada barang milik Arya tetapi juga Dinda atau keduanya.


“Ah.. maaf mas Arya. Gak sengaja. Tapi Dinda so sweet sekali menyimpan dan mendokumentasikan semuanya.”, puji Ibas.


Arya bersikap seolah biasa saja padahal Ibas bisa melihat ekspresi bahagianya dengan jelas.


"Huuu... ada yang malu - malu kucing nih ceritanya.", goda Ibas.


"Hush... ada - ada saja kamu ini. Jadi, masing - masing level tadi, berapa normal waktu promosinya? Kamu tahu gak?", tanya Arya.


"Bukannya itu berbeda - beda ya mas. Apalagi kalau di startup tidak dihitung berdasarkan lama bekerja tetapi berdasarkan kemampuan dan pencapaian.", balas Ibas.


Sekarang, mereka kembali melanjutkan diskusi serius mereka.


"Pasti ada benchmarks-nya. Coba kamu cari tahu, tanya - tanya, dan analisa ke anggota tim. Mungkin kamu bisa mulai dengan mencari tahu di informasi LinkedIn mereka, bagaimana sih jalur promosi mereka. Biasanya berapa tahun bisa naik?", jelas Arya memberikan tips.


"Jadi mas Arya selama ini mencari tahu sampai sedetil itu?", tanya Ibas.


"Kamu ya, model murid yang tidak menyimak. Mas tidak pernah berpikir ke arah promosi. Mas hanya melakukan yang terbaik dengan penuh strategi. Jadi, beda sama orang yang hanya mengejar level tinggi. Hanya saja, kalau kamu memang ingin naik jabatan lebih cepat, kamu tidak bisa mengandalkan cara mas. Apalagi ini start-up. Kamu lebih baik mulai gali - gali informasi dan fokus cari proyek - proyek dengan hasil signifikan.", lanjut Arya lagi.


EPILOGUE


"Mas Arya, ga begitu caranya. Coba deh lihat yang mereka lakukan di video, mereka memberikan lubang - lubang dulu baru setelah itu dibuat berdiri lurus.", ujar Dinda mengoreksi pekerjaan Arya yang dari tadi tidak selesai - selesai.

__ADS_1


Kalau begini, sebaiknya dia minta bantuan tukang saja.


"Kalau sudah berdiri tegak begini, bagaimana cara melubanginya?, Tuhkan, harusnya kita panggil tukang saja biar cepat selesai. Coba deh lihat tempat tanaman - tanaman tomat aku, semuanya rapi dengan tukang.", Dinda tidak berhenti berbicara memprotes pekerjaan Arya.


Terang saja, mereka sudah disini sejak jam 8 pagi tadi selesai olahraga sebentar. Tapi sampai jam 10 pun, pekerjaan ini belum selesai.


Dinda berencana untuk mengisi petakan kecil bercocok tanam yang disediakan Inggit untuknya dengan sayur - sayuran segar.


Dia sudah mempelajari banyak video di media internet tentang bagaimana membuatnya dari pipa paralon besar yang dibolongkan.


Begitu gajian, Dinda langsung mengeksekusinya dengan meminta bantuan Pak Cecep membeli pipa paralon yang dibutuhkan.


Dinda berencana untuk membuat 4 buah terlebih dahulu. Dia sudah siap untuk memesan tukang saat Arya ingin tahu apa yang sedang dia lakukan.


Disaat itulah Arya menawarkan diri untuk membuatkannya. Tadinya Dinda sempat percaya dan senang. Lumayan, aktivitas ini bisa menjadi bonding seru untuknya dan Arya di akhir pekan.


TIPS:


Untuk menjaga komunikasi dan keterikatan dalam rumah tangga, cobalah untuk melakukan aktivitas bersama secara rutin.


Itu adalah salah satu catatan Dinda saat membaca buku - buku tentang pernikahan.


Tapi sekarang malah sebaliknya, ternyata Arya tidak bisa melakukannya dan hanya bluffing saja.


"Coba - coba sini aku lihat lagi bagaimana caranya?", tanya Arya duduk di bangku - bangku di samping Dinda.


"Oh, begini caranya. Bisa kok mudah."


"Ih dari tadi mas Arya juga ngomongnya begitu, tapi gak bisa - bisa.", Dinda tiba - tiba tertawa mendengar perkataan Arya.


Meski sudah dua jam berlalu dia masih optimis bisa melakukannya.


Kemudian tak lama, datanglah Ibas menghampiri dan bingung dengan apa yang sedang mereka kerjakan.


"Kata Bi Rumi mas Arya lagi di belakang bikin tempat sayur hidroponik. Mana? Kok ga ada?", ujar Ibas datang - datang langsung petantang petenteng dengan baju tidurnya.


Dari rambutnya yang masih acak - acakan, dijamin Ibas belum mandi dan memang baru saja bangun dari tidurnya.


Bocah ini bahkan dengan santainya meminum susu. Perawakan Ibas saat ini persis seperti anak SD.


"Bisa ga mas, bikinnya? Apa perlu aku yang turun tangan?", ujar Ibas dengan sombongnya setelah susunya habis.


"Ah.. enggak - enggak. Udah sana kamu makan aja tuh yang banyak. Bi Rumi sepertinya sudah selesai masak.", sahut Arya.


"Din, jangan percaya sama mas Arya. Selain bisnis dan gym, dia gak tahu yang lain lagi. Mana pernah mas Arya menyentuh tanah seperti ini. Aku, waktu kuliah di luar kota, pernah membuat tempat bercocok tanam Sayur Hidroponik saat KKN. Jadi, aku sudah tahu caranya.", ujar Ibas berusaha membuat Dinda percaya.


"Mas Arya, ayo, kita minta bantuan Ibas saja, biar cepat selesai. Katanya siang nanti mau ketemu Pak Erick. Kalau begini terus, gak akan kelar - kelar.", ajak Dinda.


"Ya? Ya mas?", bujuk Dinda.


Arya mempertaruhkan harga dirinya disini. Masa dibandingkan dengan adik sendiri dia tidak bisa melakukannya.


Arya masih tidak bergeming.


Kemudian, muncul ide di kepala Dinda. Dia lantas mencium pipi Arya dengan singkat.


Arya terkejut, apalagi Ibas.


"Ya sudah nih", akhirnya Arya memberikan delegasi itu pada Ibas setelah Dinda terus membujuknya. Plus, serangan tambahan barusan.


"Oh-ho, dibujuk begitu aja langsung mau.", sindir Ibas.


"Oh Iya, ada syaratnya. Lupa. Kita kapan - kapan nonton bareng lagi.", ajak Ibas.


"Sama mas juga.", sahut Arya.


"Enak aja. Sama aku aja dong. Adik Ipar dan Kakak Ipar. Me time.", ujar Ibas.


"Ga boleh. Mau ajak - ajak Dinda pergi. Ijin sama suaminya dulu dong.", kata Arya.


"Kan sudah tadi. Dengan mas Arya mendelegasikan pekerjaan ini ke aku, berarti mas Arya mengizinkannya.", jawab Ibas.


"Ah enggak - enggak. Sini balikin lagi.", kata Arya.


"Ya udah sama Fam dan Dito juga sih haha.. Om om ga boleh ikutan yang jelas.", ujar Ibas.

__ADS_1


__ADS_2