Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 243 Bagaimana Reaksi yang lain?


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah menemani perjalanan Dinda dan Arya menuju kantor. Tidak seperti biasanya, mereka memilih berangkat lebih pagi. Tepatnya, Dinda meminta Arya untuk berangkat lebih pagi karena dengan begitu dia bisa menghindari banyak orang di hari pertamanya.


Dia juga bisa duduk lebih lama di kursinya dan mulai mengumpulkan energi serta keberanian untuk menghadapi apa yang sudah terlanjur tumpah disaat dia sebenarnya belum siap.


“Kalau terus menunggu, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah siap, Din.”


Kata - kata Arya pagi itu kembali terngiang di kepala Dinda pagi ini. Pandangannya lurus ke arah luar jendela mobil. Meski itu adalah pemandangan yang sama yang dia lihat setiap pagi berangkat ke kantor, tetapi dia tidak pernah bosan.


Dinda kembali memperhatikan anak sekolah yang berbaris menyeberangi jalan di dampingi oleh orang dewasa. Dinda melihat gerobak - gerobak pedagang kaki lima sudah berdiri dengan antrian pembeli yang tak berhenti.


Orang - orang mulai menggeser pintu ruko untuk memulai perdagangan mereka hari ini. Suara riuh klakson mobil juga terkadang masih sering berbunyi di tengah kemacetan. Pertukaran antara lampu merah dan lampu hijau terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara motor.


“Tidak perlu khawatir. Kamu tidak sendiri. Lagipula, kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Untuk apa takut. Istri Arya Pradana kenapa keberaniannya cuma di level ini?”, ujar Arya yang melihat ke arah istrinya saat lampu lalu lintas berganti merah dan dia harus berhenti.


“Yang punya keberanian tingkat dewa kan mas Arya, bukan aku.”, ujar Dinda yang masih saja khawatir.


Keberaniannya seolah timbul tenggelam. Di rumah, dia sudah mantap mengatakan bahwa dia antusias dengan hari ini dan akan berdiri tegak penuh percaya diri. Tapi 10 menit kemudian keberaniannya hilang dan berganti dengan rasa cemas.


Kemudian tak lama setelahnya dia kembali mencari video - video motivasi di internet dan kepercayaan dirinya muncul lagi. Begitu terus sampai keduanya hanya berjarak beberapa kilometer lagi menuju kantor.


“Huuuuffff…. Hmppphhhhhh…. Hufffffff…”, Dinda mencoba mengatur nafasnya untuk bisa memberikan ketenangan bagi dirinya.


“Oiya, hari ini aku hanya ada satu meeting di jam 3-4 dan itu tidak terlalu formal. Kamu bisa mengirimkan pesan padaku kapan saja kamu mau.”, ujar Arya kembali melajukan mobilnya.


“Benarkah? Aku pasti akan mengirimkan banyak pesan pada mas Arya. Jangan lupa membalasnya ya. Kalaupun mas Arya sibuk, balas dengan emoticon saja.”, ujar Dinda memberitahu suaminya.


Mobil sudah berhasil melewati titik - titik kemacetan pagi itu dan melaju dengan cepat. Tak berapa lama, keduanya sudah sampai di depan gedung perkantoran dan melewati pintu masuk mobil.


Para petugas keamanan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum akhirnya mempersilahkan Arya untuk melajukan mobilnya.


“Terima kasih, Pak.”, ujar Arya sebelum menutup kaca mobilnya.


Arya melaju melewati turunan dan berbelok 2x menuju basement, area parkir khusus untuknya dan beberapa senior management yang lain. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Berbeda dengan parkiran lainnya yang masih sepi, parkiran ini sudah ramai.


Ya, para senior management memang paling dikenal selalu datang pagi. Karena itu terkadang, Arya tak jarang melakukan beberapa kali meeting lebih awal dari jam kerja pada umumnya. Biasanya hal itu terjadi kalau para pimpinan sibuk dan sudah memiliki jadwal meeting yang lain di siang harinya.


“Okay!”, ujar Arya setelah mantap memarkirkan mobilnya.


Setelah dia mematikan mesin mobil, dia langsung menolehkan pandangannya pada Dinda.


“Bagaimana? Masih takut? Haruskah kita pulang lagi?”, tanya Arya.


Arya tidak benar - benar bermaksud serius dengan ucapannya. Dia hanya menggoda Dinda saja.


“Hn.. kita kembali saja.”, jawab Dinda.


“Hahahahahaha.”, tanpa disangka Dinda malah menganggapnya serius dan justru mengiyakan ajakan Arya tersebut.


Alhasil pria itu tertawa mendengar jawaban istrinya yang terlampau polos.


“Kamu itu memang harus dijaga 24 jam, ya.”, ujar Arya menaruh jarinya di pinggir bibir Dinda.


Arya seolah menghapus sedikit lipstik yang membayang disana. Mungkin akibat perbuatannya pagi ini.


***Flashback tadi pagi. ***


“Eits…. Mas Arya mau ngapain?”, tanya Dinda menghentikan pergerakan Arya yang jarak wajahnya tinggal 10 cm saja di hadapannya. 


Tak tanggung - tanggung, Dinda melebarkan telapak tangannya di tengah - tengah antara wajahnya dan wajah Arya yang saling berhadapan. 


Arya sampai harus memiringkan kepalanya untuk melihat wajah istrinya yang tertutup dengan kedua telapak tangannya. 


“Menurut kamu, saya mau apa?”, tanya Arya dengan suara baritonnya yang penuh dengan aura dingin yang dengan mudah bisa membekukan siapa saja. 


Arya meletakkan tangan kirinya menggapai pinggang istrinya dan menariknya mendekat hingga jarak keduanya benar - benar dekat. Hanya berbeda beberapa cm saja. Deru nafas keduanya terdengar. Degup jantung Dinda membuat wajahnya langsung memerah. 


“M-m-mas Arya mau ngapain pakai tarik - tarik segala.”, ujar Dinda yang saat itu harus berjinjit akibat ulah Arya. 


Arya menggunakan tangan yang satunya untuk menurunkan telapak tangan Dinda yang memang sudah tak menutup wajahnya lagi. Tanpa aba - aba, Arya langsung mencium apa yang menjadi miliknya. 


Ciuman itu berlangsung beberapa menit. Bahkan, lipstik Dinda membuat bibir Arya memerah. Pria itu langsung menyadarinya karena mereka masih berdiri di dekat meja rias. 


Arya langsung menghapus sedikit bagian yang ketara di bagian bawah bibirnya menggunakan jarinya. 


“Kalau kita tidak sedang ke kantor hari ini, aku tidak akan menghapusnya.”, ujar Arya mengambil jas nya yang tergantung di kursi dan melangkah ke luar kamar. Dia juga mengambil tas kerja yang sudah rapi ditaruh Dinda di meja dekat pintu kamar. 


‘Kenapa dia bisa se-cool itu. Padahal kemarin aku masih jual mahal. Harusnya sebelum dia cium, aku minta es krim dulu. Hah.. kecolongan. Lagipula siapa yang bisa menahan pesonanya. Dinda….’, teriak Dinda dalam hati. 


“Sayang, ayo sarapan.”, panggil Arya sebelum turun tangga. 


“Iyaa.”, sought Dinda mengambil tas dan memastikan kembali jilbabnya sudah pas. 


Tapi, Dinda lupa kalau sedikit bayangan lipstik bergeser di bibirnya. 


***Flashback selesai. ***


Arya melihat bekas lipstik yang menempel di jempolnya.


“Kalau ada yang lihat, nanti kamu bisa dalam masalah.”, ujar Arya setelah berhasil menyeka sedikit lipstik yang bergeser di bibir Dinda.


Seperti biasa, Arya mengambil tas kerjanya di belakang lengkap dengan tablet miliknya.


“Ayo.”, kata Arya yang sudah siap membuka pintu mobilnya.


“Mas Arya tunggu… hm.. Atau mas Arya duluan aja deh. Aku belakangan.”, ujar Dinda yang masih mengatur nafasnya seolah dia akan pergi berperang.


“Hm? Terus siapa yang kunci mobilnya?”, tanya Arya.


“Aku.. nanti aku kasih kunci mobilnya ke mas Arya.”, ujar Dinda santai.


“Benar? Kamu kasih kuncinya ke ruangan saya?”, tanya Arya.


“Ah… iya.. Iya aku keluar sekarang. Bismillah…”, ujar Dinda sebelum membuka pintu mobilnya.


“Mau dicium lagi biar lebih percaya diri.”, ujar Arya menawarkan.


“Itu mah maunya mas Arya.”, protes Dinda yang kali ini sudah lebih cerdas mengidentifikasi motif suaminya.

__ADS_1


Arya hanya bisa tersenyum simpul.


Tok tok tok tok


Arya dan Dinda terkejut ketika seseorang mengetuk pintu mobilnya.


“Tumben kamu pagi sekali sudah datang?”, tanya Arya yang melihat Erick sudah muncul di depan jendela mobil.


“Tumben pagi - pagi sudah menebar cinta kemana - mana.”, sindir Erick yang ia tujukan spesifik ke arah Arya.


“Pagi.. Pak Erick.”, sapa Dinda dengan formal.


“Pagi. Sudah sembuh?”, tanya Erick mengalihkan perhatiannya pada Dinda.


“Alhamdulillah sudah fit lagi, Pak.”, jawab Dinda tersenyum simpul.


“Ya udah yuk.”, ujar Arya pada Dinda.


Karena kedatangan Erick, Dinda tak lagi bisa menolak untuk keluar dari mobil. Tidak mungkin dia bermanja - manja seperti tadi saat ada Erick disana. Terpaksa Dinda harus pasang mode kantor yang serius.


Dinda turun dari mobil setelah menyandang tas miliknya. Dia tidak membawa banyak seperti Arya. Dinda hanya perlu membawa bekal makan, perangkat shalat, dan juga beberapa alat charger dan ponsel.


Tidak seperti Arya yang difasilitasi laptop, Dinda hanya mendapat fasilitas PC dan monitor yang tentu saja tidak bisa di bawa pulang.


Arya memastikan Dinda sudah turun dari mobil sebelum menguncinya.


“Aduh..”, kata Dinda saat akan melangkah maju.


“Kenapa?”, tanya Arya berbalik ke belakang dengan cemas.


“He-he.. Rok nya tersangkut. Boleh bantu buka mobilnya lagi, Pak.”, kata Dinda masih dengan mode serius kantor miliknya. ‘Saya’ dan ‘Pak Arya’ dengan segala kata - kata formal lainnya.


Arya kembali membuka pintu dan Dinda berhasil menyelamatkan rok miliknya.


“Aku masih belum bisa terbiasa dengan perubahan mode kalian. Hebat sekali bisa langsung berganti antara ‘Suami’ dan ‘Atasan’.”, ujar Erick pada Arya.


“Dinda bukan lagi bawahanku kan, tapi bawahan kamu.”, ujar Arya.


“Yuk… “, kata Arya menunggu Dinda yang masih merapikan roknya.


Arya bahkan mengulurkan tangannya.


“Pak Arya mau ngapain?”, tanya Dinda heran karena pria itu mengulurkan tangan.


“Gak boleh gandeng?”, tanya Arya.


“Lagi di kantor, yang ada nanti aku makin dibully oleh yang lain.”, ujar Dinda.


“Siapa yang bully. Sebelum sampai kantor, kamu masih istri saya, loh.”, protes Arya pada Dinda.


Erick hanya terdiam memperhatikan.


“Sekarang kita sudah di kantor, Pak Arya.”, ujar Dinda melangkah ke depan.


Sesampainya di pintu lift, dia langsung menekan tombol untuk naik ke lobi.


“Apa?”, balasnya.


Erick hanya tersenyum.


“Selamat Pagi Pak.”, ujar dua orang karyawan Business and Partners yang lewat.


“Pagi.”, balas Arya singkat.


Dinda langsung menggigit bibir bawahnya. Posisinya sekarang berada di depan dua orang karyawan itu sehingga dia tidak bisa melihatnya.


Ting.


Pintu lift terbuka, semua masuk termasuk Erick, Arya, Dinda, dua orang karyawan Business and Partners dan beberapa orang lagi. Erick sudah menekan tombol sehingga Arya tidak perlu menekannya lagi karena mereka toh berada di lantai yang sama.


Arya sudah berdiri di bagian belakang. Dinda berusaha untuk berdiri agak ke pinggir agar tidak terlalu berdekatan dengan Arya, namun posisinya malah semakin terdorong dan hasilnya tetap saja di samping Arya.


Dinda terlihat menundukkan wajahnya, mungkin masih ada perasaan khawatir dalam dirinya. Kemudian tiba - tiba sebuah tangan menggenggam tangannya. Dinda langsung melirik ke samping kiri atas dimana Arya berdiri disana.


Arya tetap melihat lurus ke depan. Kalau dia tidak memikirkan Dinda, mungkin pria itu sudah memeluk istrinya sekarang. Namun, Dinda tentu tak menginginkan itu setidaknya disini. Akhirnya Arya hanya meraih tangannya dan menyampaikan kalau dia akan baik - baik saja.


*********


“Oh, kamu benar - benar sudah masuk hari ini. Pagi Din! Apa kabar kamu?”, tanya Delina dengan wajah cerah.


Sebelum Delina datang ke rumah sakit, Dinda pikir rekan sebelah mejanya itu akan marah besar padanya. Ternyata dia bisa bersikap jauh lebih ramah dari yang dibayangkan. Padahal kalau mengingat kepribadiannya, Delina adalah tipe yang meledak - ledak.


“Iya mba. Terima kasih sudah mengunjungi tempo hari. Aku bisa pulih lebih cepat.”, ujar Dinda sedikit memberikan pemanis pada kata - katanya.


“Haha… kamu bisa saja. Oiya, Mba Rini sudah datang belum?”, tanya Delina.


“Belum mba, di sekitaran sini, aku baru melihat Mba Suci saja.”, jawab Dinda.


“Trus dia kemana?”, tanya Delina lagi sambil meletakkan tas dan ponselnya.


“Dia sedang membuat kopi di pantry. Sudah 10 menit yang lalu.


“Hm.. “, kata Delina mengambil duduk dan meletakkan kopi nya di atas meja.


Delina biasanya memang sudah siap dengan kopinya setiap pagi.


“Ohiya, tadi juga ada Pak Erick, tapi dia sedang ke ruangan Pak Arya.”, jawab Dinda.


“Mmmm… tumben panggilnya ‘Pak’, gak ‘Mas’?”, goda Delina.


“Ini kan di kantor, mba.”, kata Dinda tersenyum simpul.


Suci juga terlihat muncul dari balik dinding yang mengarah ke area divisi Business and Partners.


“Huu… pantesan saja gak pernah ketahuan. Bisa banget se profesional itu di kantor.”, kata Delina.


“Bukannya Dinda sering keceplosan? Kamu aja yang otaknya kurang makanya gak nyadar.”, ujar Suci dengan komentar juteknya langsung duduk di mejanya dan meletakkan kopi disana.

__ADS_1


“Iyaa Suci yang sangat pintar. Kamu juga kalo Pak Arya gak bilang, kamu juga ga bakalan tahu, kan? Tapi, kenapa Pak Arya cuma bilang ke kamu, ya? Kalau Bryan kan jelas tuh, dia nge-gap-in Dinda dan Pak Arya di parkiran, kalau kamu?”, tanya Delina tiba - tiba tercetus pertanyaan itu dari mulutnya.


“Oh? Bukan urusan kamu. Lagipula, aku tidak seperti karyawan lainnya. Aku sudah sering terlibat pekerjaan dengan Pak Arya. Jadi wajar kalau dia menganggap kami dekat.”, kata Suci berdalih.


Dinda sudah mengetahui alasan kenapa Arya mengungkapkan hubungan mereka pada Suci. Jadi, dia sudah tidak cemburu lagi. Sebelumnya, Dinda cemburu karena Suci memang cenderung memiliki otak yang lebih cerdas dan mungkin lebih ideal dengan bayangan pendamping yang dimiliki oleh orang - orang di sekitar Arya selama ini.


“Heh, Dinda.. Kamu harus pasang kuping tebal terutama di tempat - tempat umum. Awas aja kamu nangis dan pulang. Project yang kemarin belum selesai dan sempat mundur karena insiden tak terduga kamu minggu lalu.”, kata Suci to the point.


“Wah… Suci memang yang paling the best dan si paling tega ya. Istri orang baru selesai cuti sakit, yang dipikirkan masih project.”, komentar Delina.


“Yang gak dilibatkan dalam project harap diam aja.”, ujar Suci.


“Hah? Okeeee si paling sibuk dan tahu.”, kata Delina.


Meski dia sudah terbiasa dengan sikap jutek Suci, tapi tetap saja, mendengarnya kadang memang bisa membuat kuping sakit.


Seseorang lewat di depan area mereka. Suci yang tadinya tidak memperhatikan langsung mengarahkan pandangannya pada orang itu.


‘Oh? Ada apa dengannya? Bukannya dia yang ada di divisi Business and Partners, ya? Kenapa dia lewat disini. Dan apa itu tadi? Sepertinya dia mengarahkan pandangannya pada Dinda. Apa hanya perasaanku saja?’, ujar Suci dalam hati.


‘Hah.. untuk apa aku pikirkan.’, kata Suci lagi dalam hati kemudian mulai menghidupkan laptopnya.


10 menit kemudian…


“Oh? Din.. pagi! Kamu sudah baikan?”, Bryan baru saja datang. Melihat Dinda, dia langsung bersemangat menyapanya.


“Hi, Bry. Apa kabar?”, kata Dinda seolah mereka sudah lama tidak bertemu.


Pahadal, jarak pertemuan antara di rumah sakit dan sekarang belum terlalu jauh.


“Tentu saja baik. Kamu sudah baik - baik saja sekarang?”, tanya Bryan langsung mengambil kursi dan duduk di samping Dinda.


Dinda agak kaget ketika Bryan langsung duduk di depannya.


“Ah.. Iya.. aku baik - baik saja.”, jawab Dinda.


“Hei… hei… baru beberapa hari yang lalu bertemu dengan suaminya di rumah sakit. Kamu sudah mau mendekati saja?”, Delina baru - baru ini menyadari sepertinya Bryan memang ada rasa pada Dinda.


Tidak seperti Andra yang to the point, Bryan terkesan diam - diam menaruh perhatian. Bahkan orang di sekitar tidak ada yang mengetahuinya.


‘Hah.. kasian Fas. Lagian cowok macam Bryan disukai.’, ujar Delina dalam hati.


“Aku hanya bersemangat karena sudah lama tim kita tidak lengkap. Jadi, nanti makan bareng, Din?”, ujar Bryan.


“Hm.. sepertinya hari ini libur dulu. Tapi besok aku janji akan makan siang bareng lagi.”, jawab Dinda.


“Oh kenapa? Kamu sudah janji dengan seseorang?”, tanya Bryan penasaran.


“Hm.. itu… hm.. Iya sudah janji makan siang..”, Dinda merasa segan untuk mengatakannya.


“Bilang aja makan siang dengan Pak Arya. Ribet banget.”, tambah Suci dari samping.


Suci sedang mengumpulkan beberapa kerta untuk distaples. Kemudian dia berjalan menuju ruangan Dika.


“Hehe.. Iya, Bry. Hari ini sudah janji makan siang dengan Pak Arya.”, jawab Dinda masih canggung dengan suasana ini.


“A-ah.. It’s okay.”, kata Bryan langsung berdiri.


Meskipun tidak memperlihatkan ekspresi kekecewaannya, tapi dia tahu benar kalau dia masih belum bisa bersikap biasa saja. Padahal dibandingkan Andra, dia yang sudah mengetahui hubungan keduanya lebih lama.


“Morning, oh ada siapa ini?”, kata Rini menggoda Dinda.


“Pagi Mba Rini.”, sapa Dinda.


Rini tersenyum dan Dinda membalasnya. Dia tak banyak bertanya. Hanya menyapa dan segera menaruh tasnya di meja.


‘Syukurlah, sejauh ini semuanya bersikap baik.’, kata Dinda dalam hati.


Benar - benar di luar bayangannya. Semua orang terlihat biasa saja. Setidaknya untuk divisi Digital and Development.


Belum ada yang memandangnya aneh atau bertanya yang tidak - tidak. Semuanya normal seolah tidak terjadi apa - apa dan seolah fakta yang terungkap minggu lalu bukan apa - apa. Semua berjalan seperti biasa seperti sebelum kejadian itu berlangsung.


Tantangan selanjutnya adalah bagaimana Dinda harus bersikap ketika nanti Pak Dika datang. Dia yakin interaksi diantara mereka pasti akan sangat canggung.


“Andra, Bryan, saya masih bisa tolerir. Tapi Dika, saya ingin kamu tetap jaga jarak dengannya.”, kata Arya pada Dinda saat mereka masih ada di mobil. 


Dia benci harus bersikap seperti ini, tapi dengan apa yang pernah terjadi, dengan apa yang sudah terjadi, Arya tidak bisa bersikap sok profesional lagi terhadap Dika. Kesalahan besar membiarkan pria itu masuk di lingkungan kerja yang sama dengan mereka. 


Sebuah kesalahan besar untuk Arya disaat dia memiliki wewenang lebih untuk memutuskan. Arya terlalu terburu - buru ingin lepas dari divisi Digital and Development saat itu agar bisa lebih bebas dengan Dinda di kantor tanpa harus memikirkan hubungan antara atasan dan bawahan. Apalagi Dinda seorang intern yang posisinya jauh di bawah dirinya. 


Tapi, setelah dipikir - pikir kembali sekarang, lebih baik dulu dia menerima tawaran untuk menjadi Kepala di dua divisi tersebut. Setidaknya dengan begitu dia bisa tetap melindungi istrinya sampai dia berhasil menyelesaikan masa internshipnya. 


“Aku mengerti maksud mas Arya. Bagaimana kalau nanti Pak Dika memanggilku ke ruangannya untuk membicarakan tentang kejadian tempo hari?”, tanya Dinda. 


Daripada Arya salah paham, lebih baik dia menyampaikan kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi dan mendiskusikan bagaimana solusinya bersama. 


“Jika ingin membicarakan kejadian tempo hari, usahakan tetap berbicara di luar ruangan meski jauh dari yang lain. Setidaknya orang - orang melihatnya dan tidak berpikir yang aneh - aneh.”, jawab Arya memberikan saran. 


“Bagaimana jika urusan pekerjaan. Beberapa kali Pak Dika memanggilku ke ruangannya untuk memberitahunya beberapa hal.”, kata Dinda menjelaskan. 


“Aku tidak pernah memanggil intern untuk menemuiku di ruangan. Apapun itu, dia akan terlibat langsung dengan supervisornya. Dalam kasus kamu berarti Rini atau Erick, kan? Jadi, tidak ada alasan untuk Dika memanggilmu, kecuali dia punya motif lain.”, jelas Arya. 


“Lalu, bagaimana?”, tanya Dinda. 


“Usahakan membawa orang lain bersama kamu. Tempatkan diri bahwa kamu tidak mengetahui semuanya dan membutuhkan dukungan informasi dari yang lain. Hah, aku tidak suka dengan ide ini, tapi… kamu bisa bawa Bryan atau Suci. Merek sangat cerdas untuk bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh kepala divisi seperti Dika.”, ujar Arya seperti sedang memberikan kuliah untuk Dinda. 


“Baik mas Arya, aku mengerti.”, jawab Dinda. 


“Ohiya, tunggu. Lalu, bagaimana dengan mas Arya dan Bu Susan? Dan juga beberapa anak Management Associate yang lain? Aku sering lihat mas Arya diskusi intens dengan mereka di Cafe, ruang meeting, bahkan di koridor kantor.”, kata Dinda dengan ekspresi penuh telisik. 


“Hm? Memangnya kenapa?”, tanya Arya bingung.


“Nah ini. Mas Arya pasti sadarkan kalau beberapa diantara wanita yang meeting dengan mas Arya itu punya perasaan ke mas Arya?”, tanya Dinda.. Sebenarnya dia hanya menebak - nebak saja. Mana dia tahu apakah mereka punya perasaan atau tidak. 


“Kalau kamu berpikir saya akan tergoda dengan wanita seperti itu, berarti kamu belum mengenal saya sepenuhnya.”, Arya memberikan jawaban gantung. 


‘Hah.. dia selalu saja memberikan jawaban gantung seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2