Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 25 Menginap Dadakan di Hotel Bagian 2


__ADS_3

*Malam itu jalanan kota memang sedang macet parah karena ada perhelatan acara besar. Akibatnya, banyak kendaraan yang melakukan konvoi dan mulai tidak terkendali sehingga menyebabkan kemacetan yang mengular. *


*“Arya, meetingnya di percepat jadi jam 8. Sorry gue baru bisa ngabarin karena asli gue juga baru dapat kabar dari babe.”, Erick dengan suara ngos - ngosan mengabari Arya. Ia ternyata sedang berada di tempat Gym. *


*Pak Erick tinggal di gedung apartemen yang bersebelahan dengan kantor. Dia berencana akan melakukan olahraga rutinnya di gym sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk meeting. Tetapi, reschedule yang tiba - tiba itu membuatnya harus menghentikan aktivitasnya. *


*“Waduh gue masih di jalan. Macet banget.”, kata Arya dari seberang sambungan telepon. *


*“Ya udah lo minggir ato gimana deh. Tadi gue denger berita kayaknya itu macet bakalan panjang. Bisa nyampe rumah jam 12, loh!.” *


*Disitulah awal permasalahan ini muncul. *


Dinda sudah masuk ke kamar mandi. Setidaknya itulah yang dilihat Arya. Diapun mulai melanjutkan meetingnya. Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu 1 jam untuk meeting. Mereka sepakat untuk break istirahat 15 menit dan lanjut lagi.


Arya hendak masuk ke kamar mandi, ia ingin mencuci mukanya yang sudah berminyak dan membuatnya tidak nyaman.


Dinda masih belum terlihat keluar dari kamar mandi. Akhirnya, Aryaa memutuskan untuk menunggu di depan kamar mandi sebelum insiden dahsyat itu terjadi.


Baru saja Arya sampai di depan pintu kamar mandi, Dinda sudah seperti akan terbang keluar. Gadis itu menabrak dada bidangnya sangat keras.


Beruntung dia rajin berolahraga sehingga dadanya sangat kuat menahan berat gadis itu yang sudah seperti sapu terbang.


“Bisa gak sih gak huru hara….”, Arya masih akan melanjutkan perkataannya, tetapi sesuatu yang lebih urgent harus dilakukannya.


Efek dari tabrakan yang begitu kuat membuat bagian pengatup handuk Dinda hampir terbuka.


Arya dengan sigap memeluk Dinda agar katupan handuk tidak terjatuh. Setelah melakukan kalkulasi singkat, hal itu menjadi satu - satunya tindakan terbaik saat itu.


Dia bisa saja meraih handuk tersebut dengan tangannya, tetapi tindakan itu tidak akan menjamin sisi handuk yang satunya tidak terbuka.


Selain itu, salah - salah dia bisa saja memegang bagian yang tidak seharusnya. Meskipun Dinda sudah berstatus menjadi istrinya,tapi gadis itu pasti akan membesar - besarkan hal ini. Begitu pikir Arya.


“Cepat pakai ini.”, Arya segera mengambil handuk kimono yang ada di sisi kanannya dan menaruhnya di kepala Dinda. Ia kemudian berinisiatif untuk balik badan.


“Oh ****.. Saya tutup mata, kok. Cepat masuk kamar mandi dan pakai handuk kimononya.”, ternyata saat berbalik, didepan Arya ada kaca yang sama tingginya dengan dirinya.

__ADS_1


Tanpa ba bi bu lagi, Dinda langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak banyak drama. Dinda langsung memasang handuk kimononya, mengatur nafas, dan kembali keluar.


“Udah siap, Pak. Maaf. Bapak bisa pakai kamar mandinya sekarang.”, kata Dinda sambil berlalu dari hadapan Arya.


Arya menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia bisa melihat jelas, wajah Dinda sudah seperti kepiting rebus sekarang.


“Kemaren kamu taruh selusin lingerie di kasur. Sekarang, kamu buka - bukaan. Masih ga mau mengaku kalau kamu sedang menggoda saya?”, Arya kepikiran untuk mengerjai gadis ini.


Dia tahu betul insiden tadi sepenuhnya kecelakaan. Tapi, seru juga menjahili Dinda, pikirnya.


“Maksud Bapak? Insiden lingerie. Tidak, maksud saya baju - baju aneh itu, saya bisa jelaskan. Dan yang barusan di luar kendali saya. Lagian Bapak kenapa nongkrong di depan pintu?”, Dinda memicingkan matanya karena menaruh curiga pada Arya.


“Saya sudah hampir selesai meeting, kamu masih di dalam. Kamu kira cuma kamu saja yang memerlukan kamar mandi. Saya juga mau mandi.”


“Ya sudah, sana pakai baju.”, lanjut Arya dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Malam itu, meeting Arya berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hal ini membuat Arya berinisiatif meminta Dinda memesan makanan cepat saji menggunakan aplikasi.


Lagi - lagi dia meminta Dinda untuk memesan dengan cepat menggunakan ponsel pribadinya. Dia sudah lapar, dan tentu saja dengan Dinda.


“Iya mba. Sudah datang ya makanannya? Gapapa bisa ditaruh aja, itu sudah dibayar online jadi mas yang antar bisa tinggal di resepsionis. Ini sebentar lagi saya turun mau ambil.”, kata Dinda sambil mempersiapkan pakaiannya.


“Din, makanannya udah datang?”, pak Arya memanggil dari kamar mandi. Dia baru saja selesai mandi setelah berkutat lama dengan meetingnya.


“Iya Pak, barusan aja datang.”, sahut Dinda dari arah ruang tempat tidur.


Dinda hampir kehilangan fokusnya saat melihat Arya muncul shirtless dan memperlihatkan dada bidangnya yang lebar.


“Ya udah hayok diambil.”, kata Arya mengambil kaos oblongnya dan langsung mengenakannya.


“Gapapa pak, biar saya aja yang ambil.”, kata Dinda merasa tidak nyaman.


“Itu kantongnya ada 4, kamu bisa bawa? Lagian udah malam. Koridor hotel udah sepi. Kamu mau tiba - tiba ditarik om - om ke kamarnya?”, kata Arya sedikit menakut - nakuti Dinda.


‘Masa sih?’, Bathin Dinda tidak percaya.

__ADS_1


“Ga percaya? Ya udah ambil sendiri. Saya tunggu disini. Saya juga males bawa sendiri.”, kata Arya bersiap masuk lagi sebelum akhirnya Dinda menahan Arya dengan menarik sedikit bagian kaosnya.


“Iya iya Pak. Hayuk diambil. Tadi perasaan pesannya gak banyak.”, Dinda masih terus berbicara. Komunikasi mereka yang semakin intens beberapa waktu terakhir membuatnya lebih berani sekarang.


“Halo.. Iya rick? Udah santai aja, saya akhirnya cari hotel.”, rupanya ada telpon masuk dari Erick.


“Saya belum segila itu. Mana sempat untuk tidur dengan wanita. Ada - ada saja. Kalau itu kamu, mungkin iya”, Dinda sedikit bergidik dengan pembicaraan mereka.


“Tunggu, lagipula seandainya saya memang berencana untuk tidur dengan wanita malam ini, kenapa? Kamu mau kesini untuk memastikan? Silahkan.”, Arya masih melanjutkan.


‘Apa - apaan sih pembicaraan mereka?’, Dinda hanya bisa bergumam dalam hati.


Dinda memutuskan untuk tidak menghiraukan.


“Ya udah, meeting sudah selesai. Saya baru mau makan malam. Jangan telpon - telpon lagi. See you tomorrow, di kantor!’, Arya segera menutup telponnya.


***Di lobi hotel. ***


“Oke, udah lengkap. Makasih ya.”, kata Arya pada resepsionis.


Ia langsung membagi dua kantong pada Dinda dan dia memegang dua kantong sisanya.


Ternyata benar, bawaannya lumayan. Dinda tidak tahu makanan yang dipesan Arya meski dia yang memesankan di ponsel pria itu.


Namanya baru sekali ini dia dengar. Ternyata porsinya besar juga.


“Ya udah jalan duluan. Saya gak bisa tekan lift. Kamu yang tekan.”, Dinda mulai kesal.


Dari mobil tadi Pak Arya terus memerintahnya melakukan ini dan itu. Mending santai. Dia selalu saja nge-gas. Suruh cepat - cepat.


Tapi apalah daya, Dinda hanya bisa tersenyum dan melakukan perintah.


***Sementara itu, dari kejauhan, nampak Suci yang sedang melambai pada seseorang. ***


‘Loh, itu bukannya pak Arya? Sama siapa tu? Cewe, tapi mukanya ga begitu jelas. Adiknya? Kayanya dia ga pernah punya adik cewe. Pacarnya? Ato istrinya? Dia kan udah cerai, jadi gak mungkin itu istrinya.’, Suci masih saja tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


“Ci, ngeliatin apaan sih sampe pacarnya sendiri dianggurin.”, kata pria diseberang sana. Dia adalah pacar Suci. Suci datang ke hotel ini untuk bertemu dengannya dan makan malam di luar. Pria itu dari luar kota dan menginap di hotel ini.


__ADS_2