Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 222 Benang Kusut Bagian 2


__ADS_3

“Oh?”, Dinda terkejut saat melihat dan mendengar apa yang sekarang ada di hadapannya.


Setidaknya hanya berjarak sekitar 2 meter dari tempat dia berdiri.


Dua jam yang lalu.


Tim Digital and Development merayakan salah satu keberhasilan join project mereka di Sulawesi. Saat itu staff yang bertugas untuk support adalah Bryan. 


Dika berbaik hati untuk mentraktir mereka semua. Oleh karena itu dia memajukan jam makan siang menjadi jam 11 karena jam satu dia sudah terlanjur ada meeting lain. Semua staff di divisi Digital and Development dia ajak untuk makan siang bersama di restoran terkenal yang jaraknya lebih kurang sekitar 10 km. 


Mereka memutuskan untuk memanfaatkan staff yang membawa mobil dan saling berbagi tumpangan. Agar semua orang saling mengenal satu sama lain, Dika sengaja meminta mereka untuk berbaur. Tongkrongan tetap seperti Delina, Suci, Dinda, Andra, dan Bryan tidak boleh berada dalam satu mobil sebisa mungkin. 


Mereka juga hanya punya kemungkinan kecil untuk satu mobil karena Andra dan Bryan memang membawa mobil. Sedangkan Delina, mulai hari ini sudah bisa membawa mobilnya sendiri karena mobil milik kakaknya sudah berhasil diperbaiki. 


Suci tidak membawa mobil, begitu pula dengan Dinda. Rini membagi Suci untuk menaiki mobil Erick. Rini mengambil beberapa staff untuk naik di mobilnya. Dan Dika memilih beberapa staff untuk ikut dengannya di mobil yang sama termasuk Dinda. 


Saat usulan itu diberikan, kepala Dinda berpikir, tidak ada diantara trik yang pernah Arya sampaikan padanya bisa diimplementasikan untuk kasus ini sehingga dia mau tidak mau harus mengatakan ya. 


Lagi pula ini adalah acara bersama dan yang berada di dalam mobil Dika bukan hanya dia sendiri saja. Tetapi juga ada beberapa staff lainnya. Sehingga, Dika tidak mungkin akan menanyakannya hal - hal aneh apalagi yang berhubungan dengan Arya. 


Jam 11 tepat mereka bersiap - siap turun ke basement mengikuti tempat parkir mobil orang yang mereka tumpangi masing - masing. Dinda bersama yang lain tentu saja mengikuti Dika menuju ke tempat parkiran khusus bos - bos. 


Kebetulan mobil Dika di parkir dua baris di belakang mobil milik Arya. Berbeda dengan mobil Arya yang berwarna putih, mobil Dika berwarna hitam. Jenis dan luasnya kurang lebih sama. Hanya berbeda warna. 


“Wah.. Pak Dika ternyata sudah punya anak, ya. Saya baru tahu.”, ucap salah seorang karyawan saat mendapati ada beberapa mainan di dalam mobilnya. Di bagian depan juga terdapat foto Dika dengan putera, anaknya. Tidak ada foto istrinya disana. 


“Wah, foto istrinya Pak Dika kok gak ikut dipajang?”, tanya yang lain menggoda. 


“Nanti kalian pada naksir lagi.”, jawab Dika. 


“Din, kamu di depan saja. Biar seimbang. Ada dua di belakang dan dua lagi pria di tengah.”, ujar Dika saat Dinda masih bingung mau naik dimana.


Dinda berjalan sedikit lambat dibandingkan dengan yang lain dan tertinggal di belakang. Yang lain sudah pasti langsung menghindari tempat duduk paling depan karena takut gugup dan berakhir salah tingkah kalau harus berada di sebelah Dika. 


Semua sudah mengambil posisi masing - masing dan hanya Dinda yang tertinggal. Dia bingung apakah harus naik di bagian tengah.


“Eh? Ah.. Iya baik, Pak.”, ujar Dinda akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain naik di bangku depan. 


“Umur anak Pak Dika sekarang berapa, Pak.”, tanya karyawan yang lain berusaha menghidupkan suasana. 


“Oh.. sudah besar. Sudah 10 tahun.”, jawab Arya. 


“Kamu sudah pasang seatbelt nya, Din?’, tanya Dika. 


“Kalau susah pasangnya nanti Pak Dika bisa bantu, Din?”, ujar yang di belakang bercanda. 


Padahal mereka tahu benar kalau Dika sudah punya istri dan anak. Tetapi tetap saja ingin menjodoh - jodohkannya untuk membuat suasana lebih seru dan tidak tegang. 


“Oiya Suci di mobil mana ya?”


“Entahlah, sepertinya di mobil Pak Erick.”


“Kenapa menanyakan Suci. Kalian naksir?”, tanya Dika. Kini balik dia yang menggoda bawahannya. 


“Haha.. Pak Dika bisa saja.”


Dinda terlihat memegang ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Dika melihat sekilas, sepertinya gadis itu mengirimkan pesan pada suaminya. 


“Kalau kamu, sudah punya pacar belum, Din.”, tanya karyawan yang ada di belakang. 

__ADS_1


“Uhhh… ada yang mulai aktif tanya - tanya, nih. Kemaren kemana aja?”, ujar karyawan yang lain.


Dika langsung berdehem seolah menandakan untuk tidak membahas hal tersebut. Bawahannya langsung sadar dan tidak melanjutkan obrolan tersebut. 


Dinda hanya diam saja karena diantara yang lain hanya dia yang junior disana. 


Jalanan tidak terlalu macet. Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai. Karena belum masuk jam makan siang, restoran belum terlalu penuh. Dika langsung melakukan pemesanan. Rini sudah melakukan reservasi sebelumnya, sehingga untuk menu yang bisa sharing, sudah bisa dikeluarkan. 


Mobilisasi cukup singkat dan semua makan dengan lahap setelah Dika membukanya dengan kata - kata pengantar. Intinya adalah berterima kasih pada support dari Bryan dan beberapa anggota tim nya sehingga bisa bersinergi dengan baik bersama tim 10 yang dipimpin oleh Pak Arya langsung. 


“Tadinya, saya ingin mengundang Pak Arya untuk ikut bersama kita juga disini. Tetapi, beliau ada agenda lain sehingga tidak bisa ikut.”, kira - kira seperti itulah kata pembuka dari Dika yang kemudian disambut oleh tepuk tangan yang lain. 


Dinda berhasil duduk diantara Delina dan Rini, sehingga dia tidak perlu merasa canggung. Di hadapannya ada Andra dan beberapa staff lainnya. Sedangkan Bryan harus menerima pressure yang besar hari ini karena harus duduk diantara Dika dan Erick. Dia menjadi bintang utamanya hari ini, sehingga tidak mungkin baginya untuk kabur. 


Waktu berjalan dengan cepat. Mereka berhasil selesai sekitar pukul 12.30 siang. Restoran mulai ramai dan jalanan mulai ramai. Dika langsung melakukan pembayaran dan bergerak menuju mobilnya. 


Dia memiliki meeting jam 1 dan harus sudah sampai di kantor maksimal jam segitu. Semua yang menumpangi mobil Dika harus kembali menyesuaikan dengan waktu Dika. Sementara yang lain izin masih ingin membeli sesuatu.


Jalanan berpihak padanya. Tidak butuh waktu lama, Dika berhasil sampai di kantor kembali pada pukul 12.55. Jalanan mulai padat tetapi lebih banyak pada arus sebaliknya. Sehingga itu memberikan keuntungan untuknya. 


“Okay.. semua sudah turun?”, tanya Dika memastikan semua anggotanya sudah keluar dari dalam mobil. 


“Sudah Pak.” 


“Sudah Pak.” 


Masing - masing karyawan saling bersahutan untuk memberikan jawaban. 


“Oke.. saya tidak bisa lama - lama karena harus segera meeting. Jadi tidak apa - apa kalau saya naik duluan, ya.”, ujar Dika pamit dengan yang lain. 


“Iya, iya Pak. Silahkan. Terima kasih, Pak Dika untuk traktirannya.”


“Kamu mau kemana Din?”, dua orang tadi keluar melalui jalur parkiran di sebelah kiri yang bisa tembus ke bagian luar meskipun agak jauh dan harus menaiki tangga. Kalau jalan naik ke atas dan keluar, mereka bisa berada di tempat yang sejuk dan enak untuk merokok. 


Sementara dua orang lagi memutuskan untuk naik tangga satu lantai di atas untuk membeli sesuatu di minimarket. 


“Din, kamu mau kemana?”, tanya salah satunya karena Dinda terlihat tidak ikut dengan mereka. 


“Aku mau ke toilet sebentar mba. Sudah tidak tahan. Gapapa, mba duluan saja.”, jawab Dinda. 


Dia sudah kebelet dari saat keluar restoran, namun karena Dika nampak sedang terburu - buru, Dinda tidak berani untuk memintanya menunggu sebentar. Alhasil Dinda harus menahannya sampai mereka tiba di kantor. 


Dinda sudah tidak sanggup menahannya lagi dengan menunggu lift ke atas, jadi dia berencana untuk menggunakan toilet di sekitar sana. 


“Hm.. ya sudah. Setelah itu kamu mau langsung ke atas?”


“Iya.. nanti aku langsung ke atas saja.”,. Jawab Dinda. 


“Ya sudah. Hati - hati ya. Lumayan sepi di sekitar sini karena semuanya sedang pergi makan siang.” 


“Iya mba. Kalau begitu sampai nanti.”, jawab Dinda. 


Keduanya langsung melangkah ke arah tujuan mereka yakni tangga. Lama kalau harus menunggu lift. 


Sedangkan Dinda berjalan ke arah sebaliknya. Di sisi kiri parkiran terdapat Mushola yang sudah tidak digunakan karena sudah pindah ke lantai 1 dengan ukuran yang lebih besar. Selain itu di sekitar sana juga sudah ada masjid yang jauh lebih besar. Maka dari itu Musholla ini sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat istirahat para satpam yang jaga malam. 


Sedangkan siang hari, tempat ini dikunci karena banyak sekali para pekerja yang justru tidur - tidur disitu dan tidak menjaga kebersihannya. Padahal ini adalah tempat parkiran para bos - bos. 


Tak jauh dari sana ada sebuah toilet yang lumayan besar dan bersih. Bahkan ada tempat showernya juga khusus VIP. Hanya level Kepala Divisi ke atas yang bisa menggunakannya termasuk Arya. 

__ADS_1


Dinda mengintip sebentar dan memang sepi. Mungkin karena sedang makan siang. Tapi Dinda tidak merasa takut karena ruangannya memang sebersih itu dan memiliki sistem penerangan yang bagus. 


Selesai dari kamar mandi, Dinda mencuci tangan dan langsung keluar. Sebenarnya tempatnya tidak menyeramkan. Pertama kali masuk juga biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu, imajinasi - imajinasi Dinda yang senang nonton film horor malah muncul di kepalanya. Dinda memutuskan untuk tidak berlama - lama disana. 


Brak Brak Tang 


Dinda mendengar bunyi pukulan dan dentingan suara. Seperti suara kayu yang menyentuh lantai. 


Deg. Dinda menelan ludahnya.


‘Suara apa ya ini?’, tanya Dinda dalam hati. 


Dinda terdiam sebentar. Suara itu sudah menghilang. Dia masih berada di pintu toilet dan belum berani keluar. Dinda juga tidak berani masuk ke dalam lagi. 


Untuk bisa ke area lift, mau tidak mau Dinda harus melewati area dimana sepertinya sumber suara yang dia dengar tadi berada. 


‘Mungkin hanya perasaanku saja. Siapa tahu ada yang sedang menurunkan barang. Hah.. Dinda, kamu harus berhenti nonton film horor.’, ucap Dinda dalam hati. 


Dinda mencoba melangkah kembali pelan - pelan. Tidak ada orang di sekitar situ. Dia berhasil berjalan sampai di baris pertama parkiran kalau dihitung dari belakang. Entah karena insting atau perasaannya, Dinda berusaha berjalan pelan sekali. Dalam arti tidak menimbulkan suara. 


Tepat saat dia sudah akan masuk ke baris kedua, Dinda mendengar suara itu lagi. Kali ini bukan suara pukulan. Tapi seperti suara dua orang yang sedang berbisik. Feelingnya tidak enak. Dinda memutuskan untuk tidak meneruskan langkahnya karena takut menimbulkan suara. 


Dia masih belum yakin arah sumber suara karena tempat itu tertutup. Pantulan suara bisa membuat arah suara jadi berbeda. Dinda diam di pinggir tiang. Dia hanya berharap ada orang lain yang juga ada disana. Tapi nihil. 


“Awas aja kalau kamu bilang sesuatu tentang Teddy. Aku lihat dia masih di rumah sakit belum sadarkan diri. Mau kamu aku buat seperti itu.”, ucap seseorang itu. 


Dinda mendengarnya. Dia menutup mulutnya. Benar. Mungkin saja orang itu bukan orang luar tetapi orang dalam. Suara itu, aku seperti pernah mendengarnya di suatu tempat. Suaranya tidak asing. 


“Pak, tapi ini berbeda dengan yang bapak janjikan. Saya tidak pernah meminta Bapak untuk membahayakan keselamatan Pak Teddy. Kalau jajaran management tahu, saya dan pak Teddy bisa dipecat.”, ucap pria di hadapannya. 


“Lagian kamu yang salah. Saya minta kamu bawa Pak Arya kesini. Kenapa malah bawa Pak Teddy dan bikin dia tahu yang mau kita lakukan. Dasar goblk.”*


“Terus apa rencana Bapak sekarang. Cepat atau lambat, Pak Teddy akan bangun. Cepat atau lambat Pak Arya akan menanyakan berkas itu dan meminta penjelasan.” 


“Bagus, kalau dia minta penjelasan. Bawa di kesini di jam - jam sepi seperti kemarin. Biar aku hajar dia.”


"Ah... kalu tahu semuanya akan sebesar ini, aku tidak akan ikut - ikutan dengan rencana ini. Lebih baik aku sebarkan saja foto istrinya ke seluruh kantor agar semua bawahan mempertanyakan kredibilitasnya."


"Kau tahu, dulu saat dia pertama kali masuk ke kantor ini, aku yang mengajarkan dia semuanya. Tapi dia terlalu sombong, terlalu ambis. Dan sekarang, berani - beraninya dia memecatku padahal 5 tahun lagi aku pensiun. Apakah dia tidak bisa menutup mata saja dan pura - pura tidak tahu. Aku benar - benar kesal dengan orang seperti itu. Teddy juga membencinya. Tapi dia terlalu bodoh dan terlalu jujur. Itu masalahnya. Yang lain? Mereka terkena sihir Arya. Patuhhhh semua."


Mereka berbicara sambil berbisik - bisik. Tapi dari arah Dinda berdiri, Dinda bisa melihatnya. Dinda tidak berani berbalik melihat. Tapi dia juga penasaran. Apa yang mau mereka lakukan ke mas Arya. 


Dinda mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengarahkannya sedikit ke arah dua orang yang sedang berbicara. Dinda harap kalau hanya ponsel kecil yang dia sempilkan di dekat Dinding, mereka tidak akan menyadarinya. 


Dinda berusaha agar dia bisa melihat siapa dua orang itu. Tapi mereka berdiri di posisi yang membuat Dinda sulit untuk melihat wajahnya. Apalagi yang satunya menggunakan topi hitam.


Dinda melihat sesuatu yang dikalungkan di leher mereka berdua. Namun, karena terlalu kecil, Dinda tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dinda mencoba memberanikan diri untuk memperbesar tampilan dikamerannya.


'Lanyard ini?',  Dinda kemudian melihat lanyard yang sekarang dia gunakan dan membandingkanya.


'Sama', ujar Dinda.


'Tidak salah lagi, mereka adalah internal. Tunggu... Oh?


“Hah? Hah… hah…”, Dinda tidak percaya pada apa yang dia lihat. Dia menutup mulutnya karena tidak percaya dengan orang yang berhasil dikenalinya.


Kring Kring Kring


Alangkah terkejutnya Dinda ketika ponselnya malah tiba - tiba berdering karena seseorang menelponnya.

__ADS_1


__ADS_2