Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 128 Kena Mental


__ADS_3

Sore hari ini terlihat berbeda di kediaman Kuswan. Tak ada Arya, Dinda, Andin, dan juga cucu - cucunya. Hanya ada Ibas yang memang sudah di pesan untuk tetap di rumah sampai kakak - kakaknya pulang.


“Melamunkan apa sih pa?”, kata Inggit yang baru saja menghampiri membawa secangkir teh untuk Kuswan.


“Rumah sepi.”, kata Kuswan.


“Kangen ya? Kamis juga pada pulang, pa.”, kata Inggit membuka sebuah toples berisi kukis untuk menemani hidangan teh suaminya.


“Arya dan Dinda bagaimana? Apa mereka baik - baik saja?”, tanya Kuswan.


“Loh, kok tanya - tanya mama. Bukannya papa yang paling up to date dengan kabar mereka? Perasaan papa yang paling kepo. Tiap sore nungguin menantunya pulang. Malamnya belum mau masuk kamar kalau belum mama paksa karena nunggu Arya pulang.”, kata Inggit.


“Kalau Arya nya ada, papa pura - pura tidak tertarik dan hanya tanya hal - hal penting saja. Sekali - kali tanya, bagaimana pernikahan mereka, apa Arya bahagia? Apa dia sehat? Ini tanya yang serius terus.”, lanjut Inggit lagi.


Kuswan hanya diam saja, karena di dalam hati dia setuju dengan perkataan Inggit. Sebenarnya setiap kali dia berhadapan dengan Arya, dia ingin bertanya tentang keadaannya, hari - hari nya, pernikahannya, tapi kalimat yang keluar selalu saja berbeda.


“Rumah sangat tenang beberapa bulan ini. Papa sampai lupa bahwa beberapa bulan yang lalu sering terlibat perang dingin dengan Arya.”, kata Kuswan membalas kalimat Inggit.


“Sekarang papa percaya, kan? Kenapa begitu pertama kali mama melihat Dinda, mama sudah tahu kalau dia akan memberikan warna baru di kehidupan Arya? Sekarang lihat putera kita yang gelap gulita sudah terang penuh senyum. Bahkan sewaktu akan berangkat ke Bangkok dia sudah berani mencium isterinya di depan kita.”, Inggit mengeluarkan tawa kecilnya saat mengingat momen itu.


Dia masih ingat bagaimana wajah terkejut Kuswan kala itu. Namun ketika sudah ke kamar, dia tak henti menyebut - nyebut momen tersebut.


“Hm.. papa hanya berharap Ratna juga merasakan perasaan yang sama dengan kita sebagai orang tua.”


“Sekarang, mama mau sedikit serakah.”, kata Inggit sambil memandang langit.


“Serakah?”


“Hm.. mama ingin Dinda segera hamil. Entah bagaimana Sarah telah mencuci otak Arya sampai dia berpikir kalau dia tidak bisa memberikan keturunan. Papa tahukan, setiap kali mama membicarakan anak, dia pasti terlihat murung. Arya adalah anak yang penuh percaya diri. Tetapi melihatnya seperti itu, perasaan mama tidak nyaman.”, kata Inggit.


“Seharusnya dulu ketika dia meminta menikahi Sarah, papa lebih tegas untuk melarangnya.”, balas Kuswan.


“Sudah. Mungkin Arya memang harus melewati bagian itu dalam hidupnya. Sehingga dia bisa lebih menghargai apa yang dia miliki sekarang.”


“Ngomong - ngomong, apa Ratna tidak pernah cerita ke mama tentang mantan suaminya?”, tiba - tiba Kuswan mengangkat topik yang sensitif bahkan untuk Inggit sekalipun.


Inggit menggeleng.


“Sepertinya mereka tidak ingin kita menyebutnya. Toh, Ratna bisa membesarkan anak - anaknya dengan baik tanpa pria itu. Kenapa kita harus mengingatnya.”


******


“Huuuuhkkkk… bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Pak Arya bisa punya hubungan seperti itu dengan Dinda? Tidak.. Tidak mungkin”, Suci sedang duduk di sofa lobby setelah beberapa saat lalu dia tanpa sengaja melihat Dinda keluar dari kamar Pak Arya.


Jika saja tak ada ciuman itu, mungkin dia masih bisa mewajarkan apa  yang ia lihat. Tapi, ciuman itu membuatnya semakin jelas. Tapi, meski dia menerima informasi itu dengan mata kepalanya sendiri tetapi otaknya masih tidak percaya.


Mungkin ini adalah kata ‘Tidak’ yang ke seratus yang sudah dia ucapkan sejak tadi. Seorang Pak Arya punya hubungan dengan Dinda? Intern kemaren sore yang gak pinter - pinter amat itu? Suci berkali - kali mendecih setiap kali dia ingin memproses ingatan tadi di kepalanya.


‘Meski Dinda merayu Pak Arya sekalipun, Pak Arya bukan tipe pria yang mudah dirayu. Tidak sekali dua kali aku melihat wanita yang jauh lebih seksi merayu pak Arya di bar, tapi pria itu hanya mengacuhkan mereka. Dari mba Sarah yang aku pernah lihat, ke Dinda? Bagaimana mungkin dia turun level serendah itu?’, pikir Suci dalam hati.


“Eh.. Ci. Kamu ngapain disini? Sudah jam 1 malam, loh. Kamu berniat tidur disini?”, kata Bryan yang baru saja lewat karena dia menanyakan hair dryer yang tidak tersedia di kamarnya ke resepsionis.


Malam ini banyak sekali pelanggan yang harus mereka hadapi sehingga Bryan yang sudah menunggu dari tadi tak bisa terus menunggu lagi. Melihat Suci, Bryan pun mengambil duduk di sampingnya sambil memegang hair dryer yang sudah berhasil diambilnya barusan.


“Hellooo.. Ci. Kamu melihat aku, kan? Wah ternyata dari tadi dia tidak menghiraukan ku?”, tanya Bryan.


“Oh? Hah? Eh? Kamu kok tiba - tiba disini?”, respon Suci kaget.


“Heh…. aku sudah disini sejak beberapa menit yang lalu, memanggilmu, dan bahkan sudah mengajakmu berbicara. Tapi, kamu tidak menghiraukanku sama sekali. Sedang memikirkan apa?”, tanya Bryan.


“Bukan urusanmu.”, kata Suci pergi meninggalkan Bryan begitu saja.

__ADS_1


“Hah? Dia sedang kenapa? Kenapa marah - marah begitu? Seperti orang sedang datang bulan saja.”, gerutu Bryan.


******


From: Mas ‘A’ ❤️


Kamu sudah sampai kamar?


Dinda tersenyum menerima pesan itu. Dia langsung membalasnya. Dinda merasa senang karena Arya memeriksa dirinya.


“Kamu kenapa senyum - senyum sendiri?”, tanya Delina yang sedang bersiap membersihkan wajahnya.


“Engga.”, jawab Dinda cepat.


“Jangan - jangan kamu bertemu pacar kamu ya? Dia juga sedang disini?”, tanya Delina tiba - tiba.


“Eh? Engga… engga, kok. Tadi kalian makan dimana?”, tanya Dinda mengalihkan topik.


“Jangan mencoba mengalihkan topik.”, ujar Delina.


Ting tong ting tong


Tak lama bel pintu kamar mereka berbunyi.


“Eh.. mba Suci?”, ucap Dinda ketika melihat siapa yang ada di depan kamarnya melalui lubang kaca kecil di pintu.


“Bukain aja. Dia ingin menginap disini katanya.”, balas Delina.


“Eh? Mba Suci? Kenapa?”, Dinda membukakan pintu sambil bertanya pada Delina yang sibuk mengusap dan menggosok - gosok wajahnya. Dia memang terkenal yang paling rutin skin care-an.


“Tanya saja sendiri.”, kata Delina karena dia sadar Suci sudah masuk ke kamar.


“Kenapa mba? Ada sesuatu di wajahku?”, tanya Dinda polos.


“Darimana kamu?”, tanya Suci. Padahal, jelas - jelas dia tahu habis dari mana Dinda.


“Hm.. pergi bersama teman.”, jawab Dinda.


“Tidur dengannya?”, kata Suci frontal sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


“Tidur?”, Dinda menggeleng kebingungan.


“Hahaha… gak semua seperti kamu Ci..”, kata Delina menimpali karena dia berpikir Suci sedang bercanda.


“Heh.. siapa yang tahu. Mungkin Dinda yang kita kenal, bukanlah Dinda yang sebenarnya. Bukan begitu, Din?”, kata Suci memainkan ponselnya mengirimkan pesan.


Dinda tidak menjawab dan malah menatap Suci kebingungan. Dia tidak melihat ada unsur candaan dari kalimat Suci barusan.


“Aku sudah. Kamu mau bebersih dulu? Sepertinya kamu belum mandi.”, kata Delina. Gadis itu menyimpulkan demikian karena Dinda masih mengenakan baju yang tadi.


“Oh.. engga mba. Tadi aku sudah mandi, kok.”, jawab Dinda dengan polosnya.


“Hah? Mandi dimana? Teman kamu itu tinggal di Lombok? Aku kira kamu bertemu dengannya di Cafe.”, ucap Delina sambil mengoleskan cream malam di wajahnya.


‘Hah! Dia mandi di kamar Pak Arya? Apa dia benar - benar melakukannya? Apa selama ini aku salah menilai Pak Arya? Atau gadis ini malah tidak sepolos yang aku kira?’


‘Hah! Aku bahkan tidak sanggup cerita ke yang lain karena aku juga tidak bisa mempercayainya. Apa itu artinya aku kalah dengan gadis ini?’


To: Pak Arya


Apa Pak Arya sudah punya pacar?

__ADS_1


‘Tidak - tidak. Masa aku bertanya begitu.’, pikir Suci lalu menghapusnya.


To: Pak Arya


Pak Arya menginap dimana, bisa kita bertemu?


‘Ah.. dia pasti mengira aku wanita murahan mengiriminya pesan seperti itu.’, pikir Suci lagi lalu menghapusnya.


‘Aahh aku bisa gila. Oh iya, besok kan aku satu kelompok dengannya. Iya, aku coba saja pastikan disana. Heh, bisa saja kan Pak Arya hanya memakai gadis ini sekali saja. Aku tidak masalah jika seperti itu.’


“Din, jadi kamu pergi dengan Mas ‘A’ ❤️ yang ada di ponsel kamu itu?”, Delina malah lanjut membahas obrolan yang tadi.


“Mas ‘A’?”, tanya Suci sambil menatap tajam ke arah Delina.


“Iyaa.. di hape Dinda, ada nomor dengan nama Mas ‘A’, udah gitu ada tanda love nya lagi. Siapa lagi kalau bukan pacar.”, ujar Delina mulai ember.


Dinda tidak bisa menjawab. Dia tidak bisa berbohong karena memang benar seperti itu yang sudah pernah dilihat oleh Delina.


‘What? Mas ‘A’. Gadis ini sudah gila? Apa itu maksudnya Pak Arya?’, ujar Suci kesal dalam hati.


“Cerita Din… kita siap mendukung, kok. Siapa? Di kantor kita? Atau senior kampus kamu?”, tanya Delina lagi.


“Hehe.. bukan siapa - siapa kok mba.”, jawab Dinda mulai salah tingkah.


“Bukan siapa - siapa kok pake ‘love’?”, tanya Delina.


‘Seharusnya aku tetap simpan nama Pak Arya sebagai ‘Abang Ojol’. Jadi panjang kan. Dinda bodoh…’, gerutu Dinda kesal dalam hati.


“Ini ponsel kamu kan?”, kata Suci, dia langsung mengambil ponsel Dinda yang terletak di atas meja minuman.


Suci memasukkan passcode yang pernah tanpa sengaja dia intip sebelumnya untuk membuka ponsel Dinda. Suci mencari nama yang dimaksud dan mencoba meneleponnya.


Dinda melihat yang dilakukan Suci dan panik lalu membersihkan wajahnya dengan cepat.


“Mba Suci, apa yang mba Suci lakukan? Mba, kembalikan ponselnya.”, kata Dinda berusaha merebut ponsel itu dari Suci.


Tinggi badan Suci membuatnya sulit untuk menjangkau ponsel yang bisa dia lihat sedang menghubungi seseorang. Dinda tak bisa bergerak banyak untuk menjangkaunya karena dia sadar betul kalau dia sedang hamil.


“Mba Suci, plis kembalikan.”, kata Dinda memohon.


“Wah.. mba Suci.. jangan begitulah.. Kasihan Dinda.”, kata Delina.


Meski dia berkata begitu tapi sebenarnya dia juga tertarik untuk mengetahuinya. Sehingga ekspresi dan dukungan untuk Dinda yang dia keluarkan kali ini setengah - setengah.


Suci melihat kalau sambungan ponselnya sudah tersambung.


“Halo, Din? Kenapa? Kamu belum tidur?”, jawab Arya dari seberang telepon


“Mba Suci, kembaliin ponselnya…”, teriak Dinda. Gadis itu tidak sadar kalau teleponnya sudah tersambung.


Begitu mendengar suara Arya di seberang sana, Suci malah mematikan ponselnya.


“Siapa? Siapa?”, kata Delina.


Baru beberapa menit yang lalu dia mendukung Dinda, sekarang dia sudah berkhianat dan malam ingin mengetahui siapa itu.


“Tidak diangkat”, kata Suci sembarang lalu mengembalikan ponsel itu pada Dinda.


“Yah.. gak diangkat ya? Hmm.. gak seru.”, respon Delina kecewa.


‘Heh..Tidak bisa dipercaya. Tadi itu benar - benar suara Pak Arya….’, kata Suci kesal dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2