
Dinda duduk santai di balkon kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Arya belum juga pulang.
‘Mana ada manusia yang kerja 12 jam lebih? Mereka sedang meeting apa sih bisa selama itu? Pak Arya juga ga kasih kabar. Apa aku tidur duluan aja?’, Dinda terus berpikir dalam hati.
Malam sudah semakin larut dan suaminya belum pulang. Meski ini bukan pertama kalinya Arya pulang larut malam, tetapi Dinda tetap menanti kabar. Apalagi hubungan mereka sudah mulai mencair belakangan ini.
Inggit dan Kuswan yang sudah terbiasa dengan kesibukan Arya sepertinya tidak ambil pusing dan sudah memilih memejamkan mata sedari tadi. Mereka justru khawatir dengan Dinda yang untungnya sudah pulang pukul 9 tadi.
Sementara disisi lain.
***From:** Wanita Penggoda *
***To:** Arya 2 (Ponsel 2 Arya yang digunakan untuk urusan pribadi) *
*Pak Arya balik jam brp? *
“Eh Ci, ini ponsel kedua pak Arya. Kayanya ada yang call sama chat. Coba kamu balas kesana aja.”, kata seseorang yang tengah panik.
“Gimana bukanya? Mana gue tahu kode hapenya berapa. Gue telpon pak Erick dulu aja.
Mereka kan temen deket, pasti tahu nomor bokap nyokap nya pak Arya. Udah jangan panik, yang penting kan udah di bawa ke Rumah Sakit.
Suci dengan sigap menelepon pak Erick yang seperti biasa jam segini masih ON. Dia meminta nomor keluarga Arya yang bisa dihubungi dan menjelaskan situasinya.
“Halo, Pak Erick? Pak, kita bisa dishare nomor keluarganya Pak Arya ga? Pak Arya tiba - tiba pingsan waktu meeting di bar dan sekarang udah kita bawa ke Rumah Sakit.”, Suci langsung to the point.
Erick kaget dan langsung menawarkan diri untuk menghubungi keluarga Arya. Meski tidak pernah bertemu tapi dia yakin bisa menyampaikan informasi ini tanpa membuat kepanikan. Suara suci sudah memberitahu dia bahwa mereka di sana sedikit panik.
Kalau Suci yang memberikan kabar, pasti orang tua Arya langsung heboh. Harusnya Arya gak parah. Kalau dengar dari Suci, Arya sepertinya cuma pingsan karena kecapekan.
****
“Dinda…. Din… bangun sayang.. “, Dinda mengerjapkan matanya perlahan.
Dia baru saja terlelap setelah menunggu Arya yang tidak kunjung pulang. Mungkin baru beberapa saat yang lalu matanya terpejam.
Butuh waktu untuknya memproses bahwa ada Inggit di depan pintu.
“Iya ma.. Sebentar Dinda buka.”, sahut Dinda sambil menggosok - gosok matanya yang masih berat. Meski dia sadar kamarnya kedap suara, tetapi dia tetap saja menyahut.
“Din.. kamu cepet pakai jaket sekarang, ya. Kita ke rumah sakit.”, Dinda kaget bukan main.
‘Siapa yang di rumah sakit? Dia langsung kepikiran Bunda dan adiknya.
“Arya masuk rumah sakit. Kamu cepat siap - siap turun ke bawah, ya. Kita ke rumah sakit, sekarang!.”, ada perasaan lega dalam hatinya karena bukan Bunda atau adiknya yang dimaksud.
Tetapi perasaan lega itu tidak bertahan lama setelah dia sadar bahwa orang yang masuk rumah sakit adalah Pak Arya, suaminya. Timbul perasaan khawatir luar biasa yang sulit dijelaskan.
Tak butuh waktu lama, mereka langsung sampai di rumah sakit dan masuk ke IGD sesuai dengan informasi dari resepsionis. Kuswan langsung mencari keberadaan Arya.
Begitu menemukannya, Inggit langsung memeluk anaknya yang saat ini sudah dalam posisi duduk dengan selang infus terpasang di lengannya. Wajahnya pucat dan lelah.
“Kamu kenapa sih, Arya? Bikin mama papa panik.”, kata Inggit.
Meski sebelumnya Arya sering mengagetkannya karena pulang dalam keadaan mabuk (sebelum menikah dengan Dinda), tetapi ini kali pertama Inggit mendapat kabar anaknya masuk rumah sakit.
Meski Arya sudah kepala tiga, tapi di mata Inggit, dia kadang terlihat masih seperti anak kecilnya. Terutama saat sedang sakit begini.
Dokter jaga langsung menghampiri.
“Selamat pagi Bapak/Ibu, apakah Bapak dan Ibu orang tua pasien?”, tanya dokter tersebut sopan.
“Iya dokter, saya mama nya, ini papanya, dan ini istrinya.”, jawab Inggit sambil menunjuk Kuswan dan Dinda bergantian.
“Baik ibu. Pasien dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah kita periksa, pasien mengalami kelelahan dan asam lambungnya naik. Kemungkinan belum ada makanan berat yang masuk lebih dari 8 jam. Ini membuat pasien kehilangan keseimbangan dan pingsan.”, semua mendengarkan penjelasan pasien dengan seksama.
“Pasien bisa tinggal di rumah sakit untuk menyelesaikan dua kantung infus. Setelah itu, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat untuk menjaga ketersediaan kasur di IGD.”, lanjut Dokter.
“Saya pulang aja dok. Saya bawa kantung infusnya aja, bisa kan?”, potong Arya.
__ADS_1
“Tapi apa ada yang bisa menggantikan kantong infusnya, Pak?”, tanya dokter memastikan.
“Ada, dok.”, jawab Arya singkat.
“Siapa? Udah kamu di rumah sakit aja. Nanti biar Dinda sama mama yang temenin.”, kata Inggit.
“Ibas kan bisa ma. Ganti kantong infus doang.”, kata Arya. Ibas pernah mengambil sekolah dokter karena terpaksa.
Ia sempat belajar dan hampir lulus. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menentang orang tuanya dan terjun ke dunia DKV.
Akhirnya perdebatan selesai dengan menghasilkan keputusan, Arya boleh dirawat di rumah dan mendapatkan beberapa obat pendukung.
“Oiya yang ngantar kamu kesini mana, ya?”, pertanyaan yang juga sudah ditanyakan Dinda dari tadi di dalam hati.
Dia baru ingat sesaat setelah sampai di IGD bahwa tadi pak Arya pergi dengan timnya. Kalau mereka melihat Dinda disini bisa berabe ceritanya.
“Arya suruh pulang, ma. Lagian sudah malam. Kasian.”, Inggit tampak mengangguk.
Semua bersiap pulang. Pak Cecep yang mengantar mereka diminta siap - siap di depan. Selain cecep, ada Ibas juga dengan mobilnya.
Dia sedikit fobia dengan rumah sakit, jadi dia memilih untuk menunggu di mobil. Drama - drama masa lalunya di rumah sakit membuat dia tidak ingin masuk.
“Din, kamu sama Arya naik mobil Ibas, ya. Biar mama sama papa balik bareng pak Cecep. Kamu mau naik kursi roda, ya?”, Inggit menawarkan sambil sedikit bercanda. Dia sudah tenang karena sepertinya Arya sudah oke. Asal tinggal istirahat saja.
Arya hanya mencelos dan menarik Dinda.
“Bawain dokumen dan laptop saya dibawah. Sambil kamu papah saya juga.”, Dinda juga merasa lega, pria ini tidak apa - apa.
Dinda mengambil tas berisi laptop dan tablet Arya lalu mengalungkannya di bahunya. Dia kemudian mengambil beberapa dokumen yang terletak di meja dan memegangnya.
“Udah sini tas sama dokumennya biar sama mama. Kamu papah Arya aja sampai mobil ya, sayang.”, kata Inggit.
Inggit dan Kuswan berjalan lebih dulu sambil sesekali melihat ke arah belakang.
Arya mengalungkan lengannya ke bahu Dinda. Sementara Dinda mengalungkan lengannya di pinggang Arya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk memapah Arya tapi dia nampak berusaha.
“Kamu makan ga sih? Badan kecil begitu gak ada tenaganya.”, celetuk Arya.
“Setidaknya saya gak berakhir di rumah sakit seperti pak Arya.”, jawab Dinda.
Arya mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Dinda. Dia heran.
Tidak biasanya gadis ini membalas perkataannya dengan jawaban sarkas. Sebelumnya, Dinda selalu saja mengatakan ‘Ya’, ‘Oke’, ‘Baik’, ‘Maaf’, dan semacamnya.
“Pak Arya udah bikin satu rumah cemas. Kita sampai lari - lari kesini.”, kata Dinda yang kemudian hanya dibalas Arya dengan diam.
Sesampainya di mobil.
“Masuknya pelan - pelan ya Pak.”, Dinda membantu Arya masuk mobil.
Kepalanya masih sempoyongan dan badannya masih sangat lemas. Dia langsung terkulai di bangku mobil.
“Mas, workaholic boleh. Tapi jangan sampai tumbang di rumah sakit.”, jawab Ibas sambil terkekeh ketika melihat masnya yang tidak berdaya masuk mobil. Kakaknya yang biasanya tegap dan tegas bisa tidak berdaya seperti itu di hadapannya.
Semua mulai menjalankan mobilnya pulang.
Di mobil, Dinda melakukan apapun yang dia bisa. Mulai dari menyeka keringat yang sudah mengalir di tubuh Pak Arya karena demam.
Kemudian dia melonggarkan sedikit kemejanya. Membantu menidurkan kepalanya di bahu. Sepanjang perjalanan, Arya hanya diam.
Disisi lain, Ibas diam - diam memperhatikan mereka dari kaca depan mobil. Semua keluarga tahu bagaimana masnya bisa menikah dengan Dinda. Dijodohkan. Dia kira hubungan mereka akan tandus seperti padang pasir.
Tetapi Ibas melihat kepedulian Dinda pada Arya. Ibas juga bisa melihat Arya yang notabene sulit sekali untuk nyaman dengan perempuan, bisa sebegitu rileksnya berada di dekat Dinda.
****
“Pak Arya, saya tahu Bapak mau langsung cepat - cepat istirahat, tapi makan buburnya dulu ya. Bapak dari kemaren ga makan apa - apa terus minum kopi. Di bar juga ga tahu udah minum apa lagi. Makan dulu ya.. Abis itu baru tidur.”, Dinda sudah meminta Bi Rumi untuk membuatkan bubur saat di perjalanan menuju rumah.
Setibanya di dalam kamar, Dinda langsung menidurkan pak Arya di tempat tidur. Inggit mengecek kondisi Arya sebelum mempercayakan semuanya pada Dinda.
__ADS_1
Dimata Inggit, Arya masih anak kecil meski usianya sudah 34 tahun. Tapi, Inggit sadar kalau sekarang dia sudah punya istri.
“Arya, apa gak apa - apa di rumah aja? Tadi ga ada demamnya, jadi mama setuju. Tapi kok sekarang kamu malah demam juga?”, ungkap Inggit khawatir.
“Gapapa ma. Udah mama istirahat aja. Arya juga akan istirahat penuh, kok. Tenang aja.”, kata Arya berusaha menenangkan mamanya.
Sepeninggal Inggit dan Kuswan, Dinda mengambil handuk kecil dan membasahkannya sedikit dengan air panas. Dia menyeka wajah Arya.
“Pak, saya ijin buka kemejanya ya. Supaya badannya bisa di lap juga. Abis itu saya bantu ganti bajunya dengan kaos yang baru, ya.”, Pertanyaan Dinda hanya dijawab dengan kedipan mata dan sedikit anggukan dari Arya.
Ekspresi wajahnya mengisyaratkan ‘Terserah kamu saja’, pada Dinda.
Dinda dengan telaten membuka perlahan kemeja suaminya. Dia menyeka perlahan dada bidang itu dengan handuk. Dia lalu berjalan ke arah ruang ganti dan mengambil kaos berwarna abu -abu kemudian memakaikannya pada Arya.
Tidak seperti sebelumnya. Interaksi mereka begitu dekat. Deru nafas Arya yang lelah terdengar dengan jelas di telinga Dinda saat dia berusaha memakaikan kaos. Aroma tubuhnya yang khas masih bisa dirasakan Dinda meski sudah larut malam.
‘Sepertinya pak Arya pakai parfum mahal’, begitu pikirnya di sela - sela memakaikan kaos pada Arya. Masih sempat - sempatnya dia memikirkan hal random seperti itu.
Dinda juga menanggalkan ikat pinggang Arya agar membuat laki - laki itu lebih nyaman.
“Heh.. gak sekalian kamu ganti celana saya? Kenapa cuma baju?”, Dinda tidak menyangka pria itu masih sanggup mengerjainya disaat - saat seperti ini.
Alih - alih membalas, Dinda hanya memberikan ekspresi cemberut dan beranjak mengambil bubur lalu memberikannya pada Arya.
Awalnya Arya ogah - ogahan dan ingin langsung tidur saja. Tapi Dinda bersikeras.
Dia tahu benar Arya belum makan apa - apa hari ini. Dia hanya minum kopi karena jadwal meeting nya yang padat.
Perlahan suap demi suap Dinda berikan pada Arya sampai mangkok itu kosong. Arya minum dan bersiap untuk menidurkan dirinya. Namun, rasa mual tiba - tiba menyerangnya.
“Din, sorry saya mo ke kamar mandi.”, kata Arya yang berusaha untuk beranjak dari tempat tidur.
“Pak Arya mau ngapain? Muntah? Gapapa, saya aja yang ambil ember di kamar mandi, pak Arya ga usah bangun.”, Dinda berlari ke arah kamar mandi. Tapi ia baru sadar tidak ada ember disana. Dia bergerak menuju laci lemari di kamar mandi dan mengambil kantong plastik.
“Ini pak, Pak Arya muntahin di dalam sini.”, ucap Dinda tanpa ragu.
Awalnya Arya ragu dan merasa tidak enak untuk muntah di depan gadis ini. Apalagi dia yang menampung nya dengan plastik.
Tapi perut Arya sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isinya. Arya akhirnya mengeluarkannya ke dalam plastik yang sudah di pegang Dinda.
Sesekali, Arya memperhatikan Dinda. Tidak sedikitpun gadis itu merasa jijik atau menutup mulutnya karena bau. Dinda dengan telaten menutup zipper plastik dan mengambil handuk untuk menyeka bekas muntahan di bibir Arya.
Arya juga melihat sedikit noda muntahan jatuh di tangan Dinda. Alih - alih mengeluh atau berkomentar, Dinda dengan dengan santai menyapu muntahan itu dengan handuk dan menaruhnya di kamar mandi.
Seketika ingatan Arya kembali ke 5 tahun yang lalu. Saat dia sakit dan masih bersama Sarah, mantan istrinya.
Sarah tidak pernah mau mendekatinya kalau Arya muntah. Dia juga menunjukkan saat dia merasa jijik.
Arya harus berlari ke wastafel karena Sarah tidak bisa membantunya. Dia juga akan tidur terpisah jika Arya sedang sakit karena takut tertular. Meski itu hanya flu atau demam biasa.
Tapi sekarang, ketika Dinda sudah selesai membereskan insiden tadi, dia langsung mengganti baju dengan piyamanya dan langsung tidur di sebelah Arya.
Dia juga tampak dengan telaten memeriksa suhu tubuh laki - laki itu dengan menempelkan tangannya pada kening Arya.
Saat dia rasakan suhunya belum turun, Dinda kembali mengambil kompres es batu yang sudah dia minta pada Bi Rumi di atas kepala Arya.
Sesekali dia menyekanya ke kening, pipi, dan leher Arya.
Dia sudah mengenal Sarah lebih dari 10 tahun. Sedangkan, Dinda? Dia baru sebulanan lebih ini mengenalnya. Tapi, ketulusan gadis itu jauh melebihi Sarah.
“Yah, bubur yang tadi kayaknya keluar semua. Pak Arya mau saya ambil roti di bawah? Atau jus mungkin. Setidaknya perut pak Arya ada isinya.”, Arya belum menjawab, dia masih terdiam mencerna segala perhatian yang diberikan oleh Dinda.
“Pak Arya? Pak Arya mau aku ambilkan roti di bawah? Atau aku ada biskuit di tas, sebentar aku ambil ya.”, Dinda baru saja ingin turun untuk mengambil biskuit yang ada di tasnya. Tapi tarikan tangan pak Arya jauh lebih cepat.
Cup. Laki - laki itu menarik dan mengecup bibirnya. Ringan. Dinda bisa merasakan hawa panas dari ciuman itu karena suhu tubuh pak Arya masih belum turun.
Sesaat setelah Arya melepas ciumannya, Dinda masih berusaha mencerna ciuman itu.
‘Kenapa interaksi dengan pak Arya selalu saja diakhiri dengan ciuman. Sebenarnya dia anggap aku ini apa sih?’, kata Dinda dalam hati.
__ADS_1
“Gak usah diambil. Saya mau langsung tidur.”, kata Arya sambil menjatuhkan badannya di bantal dan tidur.