Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 51 Apa yang terjadi di Kamar 505?


__ADS_3

“Kenapa? Bukannya kita ketemu besok?”, Sarah menjawab panggilan telepon dari mantan suaminya, Arya.


“Aku mau kita ketemu sekarang, besok aku ada janji.”, jawab Arya. Sarah merasakan ada perbedaan nada dari nada bicara Arya. Tapi dia tidak bisa menebak alasanya.


“Tapi..”, jawab Sarah ragu.


“Kamu katakan saja, kamu dimana. Aku yang akan menyusul kamu.”


“Arya, tapi aku sedang di luar kota.”


“Dimana? Aku akan menyusulmu kesana?”


“Kamu? Kamu sekarang dimana?”, jawab suara di seberang.


“Aku sedang di rumah.”


“Lalu, kamu ingin menyusul aku kesini? Istri kamu?”


“Dia sedang tidak di rumah. Katakan saja kamu dimana.”


“Hm.. Aku di kota A, butuh waktu tiga jam untuk kamu kesini.”


“Tenang saja.”


“Baiklah. Kamu bisa menemui aku di hotel A, kamar nomor 505. Aku tunggu kedatangan kamu.”, jawab Sarah sambil menutup ponselnya.


Sarah bingung. Selama ini, Arya selalu menolak saat diajak bertemu sebelum akhirnya berhasil membuatnya janjian bertemu besok.


Tapi, kenapa Arya malah ingin bertemu dengannya hari ini. Bahkan saat Sarah mengatakan akan bertemu di kamarnya, Arya justru setuju.


“Siapa Sar?”, terdengar suara bariton pria yang juga stay bersamanya hari itu di kamar hotel.


“Arya.”, jawab Sarah singkat sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Pria itu mendekati Sarah dan memeluknya dari belakang.


“Kamu masih berhubungan dengan mantan suami kamu?”, tanya pria itu yang kali ini sudah lanjut menciumi tengkuk bagian belakang Sarah.


“Bukan urusanmu.”


“Kenapa? Kamu masih mencintainya? Bukankah kamu bilang dia tidak pandai di ranjang?”


“Lakukan saja apa maumu.”, kata Sarah sambil memberikan akses pada pria itu untuk melakukan lebih padanya.


“Aku hanya penasaran. Belakangan ini aku lihat kamu sering memeriksa ponselmu. Kamu juga sering berhubungan dengan pria bernama Edo. Siapa dia? Pacar barumu?”


“Kamu banyak tanya sekali, ya.”, jawab Sarah.


Kali ini mereka sudah berpindah ke ranjang di dalam kamar itu. Sebelumnya, Sarah hanya membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau. Namun, saat ini sepertinya perlakuan pria itu mendapatkan sambutan dari Sarah.


****


Sementara itu….


Arya menekan tombol 5 begitu sampai di dalam lift. Dia tidak bisa lagi bermain - main dengan Sarah dan menyakiti perasaannya lebih dalam. Sudah cukup Arya menderita selama tiga tahun. Mungkin sejak awal, dia seharusnya tidak menjalin hubungan dengan Sarah.


Arya hanya berharap bahwa masalah yang sebenarnya menjadi pemicu keretakan rumah tangganya bukanlah karena Sarah menginginkan anak darinya, tapi masalah lain. Arya tidak ingin menyakiti lebih banyak orang lagi.


“Mama kamu selalu minta aku untuk hamil, Arya. Kamu tahu bagaimana perasaan aku?”


“Sar, kita bisa coba cek ke rumah sakit.”


“Buat apa? Masalahnya sudah jelas. Kamu gak pernah ada buat aku. Kamu gak pernah mau sama - sama berusaha buat punya anak. Masalahnya ada di kamu, bukan aku.”


“Terus kamu mau aku bagaimana? Aku sudah ajak kamu untuk sama - sama periksa ke dokter. Kalau ada masalah dengan kesuburan kita, dokter bisa bantu, Sar. Kita bisa coba program hamil, program bayi tabung, apa saja.”


“Enggak. Kita cerai aja.”


“Apa? Sar, kamu jangan asal bicara.”, Arya terkejut mendengar pernyataan Sarah yang bagai sambaran petir.


“Aku capek nungguin kamu. Aku capek bergelut dengan kesibukan kamu. Aku capek sama keluarga kamu yang sampai sekarang gak pernah terima aku. Pernah mba Andin ajak aku ngomong? Pernah Ibas sekedar basa basi ke aku? Gak pernah.”


*“Sar, semua butuh proses.” *


*“Gak ada proses adaptasi yang sampai tiga tahun. Mereka memang benci sama aku untuk hal yang aku gak tahu apa. Aku cinta sama kamu, Arya. Tapi aku gak bisa begini terus. Aku mau kita cerai.”, Sarah mengambil tasnya dan bergerak ke pintu apartemen. *


“Sar, Sarah, dengarkan aku dulu. Sayang, kita bisa bicarakan ini baik - baik. Sar, kamu gak bisa meninggalkan aku seperti ini. Sar, please. Kamu mau kemana?”

__ADS_1


“..”, Sarah tidak bergeming. Dia memakai sepatunya keluar dari apartemen dan meninggalkan Arya yang hanya bisa terdiam di depan pintu apartemen.


“Apa semua karena Dimas?”, ucapan Arya membuat Sarah menghentikan langkahnya.


“Apa kalian kembali menjalin hubungan lagi di belakang aku?”, kata Arya dengan tatapan miris.


“Apa maksud kamu?


“Aku melupakan kejadian di MIT waktu itu karena aku sayang sama kamu. Apa aku salah menarik kamu kembali ke kehidupan aku?”


“Dimas tidak ada hubungannya dengan masalah di rumah tangga kita.”, tegas Sarah.


“Dia selalu ada Sar, dia selalu jadi bayang - bayang dalam rumah tangga kita.”


“Terserah kamu. Kalau kamu berpikir begitu. Aku pergi.”, ucap Darah tegas.


Arya terdiam. Dia tidak melihat ada kebohongan di mata Sarah. Dia membiarkan wanita itu pergi.


Sepanjang menaiki lift, bayangan perceraiannya dan Sarah kembali teringat. Malam itu, untuk pertama kalinya mereka bertengkar sangat hebat. Pertengkaran ini sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir pernikahan mereka. Namun, malam itu seperti menjadi puncaknya.


Lift sudah membawa Arya ke lantai 5 hotel ini. Tanpa ragu, Arya langsung berbelok ke arah kiri menuju kamar 505. Arya menekan tombolnya beberapa kali.


Arya kembali menekan tombol hingga beberapa kali karena pintu juga tak kunjung dibuka. Sarah akhirnya keluar membukakan pintu. Sarah tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


Dia langsung keluar dan menutup pintu kamar dengan cepat.


“Bukannya kamu bilang kamu sedang di rumah?”, Sarah keluar kamar hanya mengenakan sandal hotel dan handuk kimono berwarna putih. Rambutnya ia biarkan tergerai.


“Long time no see, Sar. Boleh kita bicara di dalam?”, kata Arya dingin.


Arya sudah akan melangkah maju, namun Sarah menahannya dengan tangan. Arya tidak bergeming.


“Kenapa? Kamu sering menghubungi aku untuk bicara, kan? Ayo kita bicara sekarang. Aku penasaran apa ada diantara kita yang harus dibicarakan.”


“Arya, kamu tunggu disini sebentar, aku akan ganti baju dan kita bicara dibawah.”


“Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan? Aku menghampiri kamu. Kita mungkin bisa menghabiskan malam untuk membicarakan hal yang ingin kamu bahas sampai kamu menanyakannya pada mas Edo.”


“Arya… Arya…”, Sarah terus berusaha menghalangi Arya.


Namun, Arya dengan cepat mengambil kartu akses yang dipegang oleh Sarah dan membuka pintu. Dia memaksa masuk dan tak lupa menarik lengan Sarah untuk ikut masuk bersamanya ke dalam.


Tak lama seorang pria dengan menggunakan kimono keluar dari kamar. Arya sudah membayangkan ini di kepalanya saat melihat Sarah tanpa sengaja di lobi bawah bersama seorang pria.


Tapi dia masih tidak habis pikir ternyata bayangannya itu seperti kenyataan yang dia lihat sekarang.


“Sepertinya aku mengganggu waktu kalian.”, Arya memberikan tatapan tajam pada Sarah setelah menatap pria itu.


Arya baru saja ingin bergerak ke luar kamar hotel, namun kali ini Sarah menahannya.


“Arya, Arya, aku bisa jelasin. Plis, jangan pergi.”, kata Sarah menarik lengan Arya.


“Dika, plis boleh kasih ruang buat kami sebentar?”, Sarah menoleh pada pria yang tadi bersamanya dan memberikan instruksi agar pria itu keluar.


Pria itu masuk ke dalam kamar, merapikan pakaiannya, dan keluar dari kamar hotel tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Arya masih terdiam. Dia berusaha mencerna ini dengan akal sehatnya. Tapi, dia tidak menemukan jawaban.


Sarah mengajaknya untuk duduk di kursi. Awalnya Arya tak mau. Tapi, Sarah mendorong sedikit tubuh Arya untuk memintanya duduk di kursi.


“Arya, aku minta maaf.”


“Maaf? Buat apa?”


“Mengecewakan kamu.”


“Heh? Well, I’m leaving.”, Arya ingin beranjak lagi dari kursi. Tapi dengan cepat Sarah kembali menahannya.


“Arya, dengarkan aku. Aku tahu kamu masih cinta, kan sama aku?”, kata Sarah setengah berteriak. Ia melakukannya untuk menahan Arya agar tidak pergi.


“...”, Arya menatap Sarah dengan tatapan tidak percaya.


“Kamu bisa jelasin, kenapa kamu datang kesini? Ke kamar ini? Kita janjian besok. Dan aku gak tahu dari mana kamu tahu aku sedang bersama orang lain di kamar ini. Lalu, kamu datang tiba - tiba begini. Kalau bukan karena kamu masih cinta dan peduli sama aku, terus apa?”


Arya seolah tertampar oleh perkataan Sarah. Ia sulit mengakuinya tapi siapapun akan melihat bahwa tindakan Arya saat ini memang membuatnya terlihat masih peduli dengan Sarah. Toh, mereka sudah bercerai. Hak Sarah untuk bertemu dengan laki - laki lain.  Kenapa dia harus bersikap seperti seorang suami yang menangkap basah istrinya berselingkuh.


“Dia Dika. Rekan sekantor aku.”


“Aku gak peduli.”

__ADS_1


“Kamu bilang kamu ga peduli. Tapi, kamu kesini?”, Sarah menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Kamu salah paham. Dia kesini cuma mau numpang mandi. Dia harus ke airport pagi ini. Sayang kalau dia harus pesan room hotel. Jadi, dia mandi disini dan berangkat lagi. Kamu lihat dia tadi bawa koper kan?”, terang Sarah.


“Terserah kamu. Aku ga peduli. Sekarang, apa yang mau kamu bicarakan? Aku harap ini terakhir kali kita bertemu.”, tegas Arya.


“Aku mau menjelaskan kesalahpahaman empat bulan yang lalu.”


“Kalau kamu hanya ingin menjelaskan hubungan aku dengan Dimas, I’m done, here.”


“Yang kamu lihat itu, Dika. Pria yang barusan. Bukan Dimas. Dan disana, gak cuma ada aku dan Dika tapi juga beberapa teman lainnya. Dan kamu salah paham. Berciuman kamu bilang? Kita sama sekali gak melakukan apa - apa. Kamu hanya melihat dari sudut pandang yang salah.”


“...”, Arya melayangkan tatapan tajamnya pada Sarah.


“Kenapa kamu gak jelaskan saat itu juga?”, tanya Arya setelah sebelumnya sempat diam.


“Kamu gak pernah kasih aku kesempatan. Aku senang sekali karena akhirnya kamu membuka hati lagi padaku dan mau bertemu. Tapi siapa sangka, kita malah bertemu tanpa sengaja dan salah paham. Kamu mabuk, Arya. Kamu salah lihat. Pria itu bukan Dimas.”


“Asal kamu tahu, setelah di MIT, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Dimas.”, lanjut Sarah.


“Apa karena itu kamu menolakku dan menerima perjodohan dari orang tua kamu?”


“Pernikahan aku, tidak ada hubunganya dengan apa yang aku lihat malam itu. Aku sudah mendengar cukup dari kamu. Kita sudah tidak ada hubungan apa - apa. Aku harap, ini terakhir kalinya kita bertemu.”


“Dinda, apa kamu menikahinya karena kamu memang menyukainya?”


“Bukan urusan kamu? Aku tahu kamu mengetahuinya pasti dari Edo. Tapi, aku yang paling tahu pernikahanku. Bukan Edo.”


“Aku mendengar percakapan kalian malam itu. Setelah aku menghubungimu, sepertinya kamu lupa menutupnya.”


‘Sh*t’, bathin Arya.


“Kalian belum tidur bersama meski sudah berbulan - bulan menikah?”


“Aku tidak tertarik menjawab ataupun membahasnya. Aku pergi,”, Arya sudah berdiri, tetapi lagi - lagi Sarah menarik lengan Arya.


“Kamu yakin gadis itu tidak mempermainkanmu?”


“Jangan sok tahu kamu, Sarah.”


“Aku sayang sama kamu, makanya aku mau kasih kamu satu saran. Jangan tertipu dengan gadis polos seperti itu. Kamu kira ada wanita yang mau saja dijodohkan dengan pria yang sudah pernah menikah dan bercerai begitu saja?”


“Rumah tangga aku, bukan urusan kamu.”


“Jika dia terus menolak berhubungan dengan kamu, pasti ada yang dia sembunyikan.”, Sarah menarik lengan Arya agar pria itu menoleh padanya.


“Siapa yang bisa tahu kalau dia benar - benar masih perawan. Mungkin dia tidak mau berhubungan dengan kamu karena dia takut ketahuan.”


“Jaga bicara kamu, Sarah. Aku harap, kita tidak pernah bertemu lagi. Aku masih bersikap baik padamu, karena menghargai masa lalu kita, pernikahan kita, dan kenangan kita dulu. Tapi, sepertinya aku salah.”, Arya bergerak menuju pintu kamar.


“Kamu cek saja sendiri dan buktikan. Kamu lebih percaya dia yang baru kamu kenal, atau aku yang sudah sama kamu bertahun - tahun. Dan satu lagi. Aku tulus pengen balikan sama kamu. Kalau saja malam itu kamu tidak salah paham, aku yakin hubungan kita akan seperti dulu dan kamu tidak menikahi gadis itu. Arya…”, sebelum Sarah menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah keluar dari kamar hotel dengan membanting pintu.


Dia marah meski dia tidak tahu harus marah dengan siapa. Sarah. Dirinya sendiri?


‘Apa benar malam itu hanya salah paham? Apa benar malam itu Sarah tidak bersama Dimas? Tidak.. Aku tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan Sarah. Dan jika semua itu benar pun, hal itu juga tidak akan mengubah kenyataan bahwa sekarang aku sudah menikah.’


Arya berjalan keluar hotel menuju parkiran. Di kepalanya, semua pertanyaan - pertanyaan berkumpul menjadi satu. Meski dalam hati dia mengatakan tidak ingin memikirkan itu semua, tetapi tetap saja, perkataan Sarah masuk satu per satu dan tinggal di pikirannya.


Tak lama, ponsel Arya berbunyi.


From: Dinda


Pak Arya lagi dimana?


To: Dinda


Diluar


Arya memutuskan untuk membalas singkat. Sejujurnya, dia senang menerima pesan dari Dinda. Dia bahkan tersenyum. ‘Seharusnya aku tidak memikirkan kata - kata Sarah. Dinda sekarang adalah istriku. Meski cinta itu belum ada, tapi bukan berarti tidak akan ada.’


Arya masuk ke dalam mobilnya dan menstarternya. Ia memutuskan untuk segera kembali. Mungkin dia akan menginap dulu di apartemennya selama dua hari. Membersihkan semua kenangan Sarah yang masih ada di apartemennya.


‘Mungkin aku juga harus menjual apartemen itu.’, kata Arya dalam hati.


To: Abang Ojol


Dimana?

__ADS_1


Pesan whatsapp dari Dinda masuk dan sudah terkirim, namun Arya sudah mulai menyetir. Ia memutuskan untuk membalasnya nanti.


__ADS_2