
Arya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Setelah keluar dari kamar mandi, dia tak lupa mematikan lampunya terlebih dahulu.
“Sayang, kamu masih belum tidur?”, tanya Arya pada Dinda yang ternyata masih duduk di tempat yang sama.
Arya menghampiri dan memberinya satu kecupan. Dinda masih terlihat serius seperti tadi sebelum dia mandi.
“Kamu serius sekali. Ada apa?”, tanya Arya yang mau tidak mau harus membahas ini.
Dia sudah sadar dari tadi sebenarnya dengan mood Dinda karena istrinya itu tidak bereaksi seperti biasanya saat dia cium.
“Mau bicara sambil duduk di ranjang?”, tanya Arya menawarkan.
Jam sudah larut malam. Arya juga tidak berniat untuk melanjutkan pekerjaannya. Hari ini dia sudah terlalu lelah.
Dinda mengangguk.
“Iya, sekalian ganti plester luka mas Arya. Belum diganti, kan?”, kata Dinda sambil tersenyum.
“Masih harus diganti lagi?”, Arya nampak kaget.
Dia kira sudah tidak perlu diganti lagi
“Tentu saja, mas. Lukanya masih harus rajin dibersihkan sampai dia mengering sempurna dan gak perlu diplester lagi. Hayuk.”, kata Dinda mengambil plester di dalam tasnya.
Arya dengan patuh duduk di atas ranjang dan membuka baju tidurnya. Dia memang tidak akan menggunakannya lagi saat tidur. Kebiasaan yang tidak bisa diubah.
“Arrrghhh, pelan - pelan.”, kata Arya karena masih merasakan perih.
Dia bahkan mengepalkan telapak tangannya karena menahan sakit.
Dinda menarik plester pelan - pelan sambil memberikan hembusan - hembusan kecil.
“Ditahan sebentar ya.”, kata Dinda sambil mengoleskan obat dan memasangkan plester yang baru.
Langkah - langkah itu dia lakukan berulang sampai semua bagian tubuh Arya yang terkena luka selesai dia ganti plesternya. Ada beberapa luka yang Dinda rasa sudah tidak perlu diplester karena sudah mengering.
“Oke… sekarang, kamu mau berbicara tentang apa?”, tanya Arya berbalik menghadap ke arah Dinda. Tatapannya intens dan lembut.
Dinda meletakkan kotak plester dan kotak obat di atas meja rias, sebelum kembali duduk di ranjang menghadap Arya. Dinda merasa sedikit nervous.
“Mas Arya kenapa tidak bilang kalau mas Arya mengenal Pak Dika.”, meski tampak ragu - ragu, tapi Dinda berhasil menyelesaikan pertanyaannya.
“Hum? Maksud kamu, Dika, bos kamu?”, tanya Arya memastikan.
“Iya. Pak Dika Sadewa.”
“Hum.. kenapa tiba - tiba menanyakan tentang dia? Bukannya kita semua mengenalnya?”, tanya Arya bingung.
“Mas Arya kenal Pak Dika jauh sebelum dia bekerja di perusahaan yang sama dengan kita, kan?”, kata Dinda mencoba memperjelas.
Ekspresi Arya sedikit berubah. Bukan karena pertanyaan Dinda tapi dari mana dia mendapatkan informasi itu.
“Apa ini hasil pembicaraan kamu dengan Dimas tadi pagi?”, bukannya menjawab pertanyaan, Arya balik melemparkan pertanyaan.
Dinda mengangguk. Alih - alih menutup - nutupi, dia memilih untuk jujur. Jika dia mengharapkan kejujuran dari Arya, maka dia juga harus jujur.
“Oke, kita bahas tentang pertemuan kamu dengan Dimas nanti. Kamu mau tahu kenapa aku menutupi kalau aku mengenal Dika jauh sebelum dia bergabung dengan perusahaan yang sama dengan kita?”
Dinda kembali mengangguk.
“Ingat, waktu kamu tidak memberitahuku kalau ada yang memberikan kamu pesan kalau aku berselingkuh dengan istri orang?”, tanya Arya.
“Hum.. apa hubungannya itu dengan pertanyaan aku, mas?”
“Kenapa kamu tidak menceritakannya lebih awal?”, tanya Arya.
“Karena aku merasa itu bukan hal penting untuk mas Arya. Lagipula aku percaya dengan mas Arya.”, jawab Dinda.
“Begitu juga dengan ini. Menurut aku, tidak penting untuk kamu mengetahui tentang Dika. Dan aku juga percaya sama kamu.”, jelas Arya.
Dinda terdiam. Perkataan Arya ada benarnya juga. Dinda juga tidak menceritakan setiap hal pada Arya jika dia rasa itu tidak penting untuk pria itu. Dan sebaliknya, Arya juga begitu.
“Ada lagi yang mau kamu tanyakan?”, kata Arya.
“Jadi, Pak Dika itu… siapa?”, tanya Dinda ragu - ragu.
“Hum.. Dia memiliki hubungan spesial dengan Sarah. Mungkin. Aku juga tidak terlalu mengetahuinya.”
“Mba Sarah?”, mata Dinda membulat.
__ADS_1
“Mas Arya baik - baik saja?”, setelah terkejut, Dinda kembali melontarkan pertanyaan.
“Kenapa? Apa aku seharusnya tidak baik - baik saja? Dinda, Sayang… kamu itu istri aku sekarang. I love you and no one can ever replace it. Mau apapun hubungan orang di luar sana, I just focus on you. Got it?”, tegas Arya.
“Got it?”, tanya Arya sekali lagi karena Dinda masih belum memberikan reaksi.
Muachhh
Kali ini, Arya yang kaget karena respons Dinda yang langsung menciumnya.
“Kenapa mas Arya senyum - senyum?”, tanya Dinda jadi salah tingkah dibuatnya.
“Memangnya gak boleh senyum?”, tanya Arya.
“Udah ah, mau tidur.”, kata Dinda langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
Wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Arya ikut berbaring dan menempelkan tubuhnya pada Dinda sambil melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.
“Bayi papa satu ini belum mau kasih tahu jenis kelaminnya apa, ya?”, tanya Arya memegang perut Dinda.
Dinda tersenyum mendengarnya.
“Oiya, tadi di kantor kamu bilang sudah punya pacar? Siapa pacar kamu?”, tanya Arya iseng.
“Mas Arya.”, kata Dinda menutup wajahnya dengan selimut.
“He-em.. Jadi aku sekarang pacar kamu, iya? By the way, si Bryan teman kamu itu juga tahunya kita pacaran, ya? Lucu sekali dia menatapku dengan tatapan penuh arti setiap bertemu. Punya nyali juga dia rupanya.”
“Habis mau bagaimana lagi. Mba Delina gencar menjodohkanku dengan Dimas. Lalu, mas Arya menatapku dengan tatapan mematikan. Kalau aku tidak mengatakan aku punya pacar, dia tidak akan berhenti.”, kata Dinda.
Dia masih belum berbalik. Arya juga masih terus memeluknya dari belakang.
“Hem.. kenapa rasanya aku kurang puas ya dengan jawaban itu.”
“Kurang puas?”
“Hm..”
“Tapi, mas Arya tidak marah kan aku berbicara dengan Dimas tadi pagi? Aku takut mas Arya akan menyeretku lagi. Lalu, marah - marah.”
“Kapan aku menyeret kamu, sayang.”, kata Arya merasa tidak terima dengan pernyataan Arya.
Kali ini dia berbalik arah menghadapkan wajahnya ke Arya. Dinda menempelkan telapak tangannya di pipi Arya.
‘Dingin.’, ucap Dinda dalam hati.
Pria ini seperti hidup di gunung es. Dia bisa tahan dengan AC sedingin ini tanpa memakai atasan.
“It’s a long story.”, kata Arya membalikkan badannya menatap langit - langit.
“Apakah suatu hari nanti mas Arya akan menceritakannya?”, tanya Dinda.
Dinda tidak memaksa Arya untuk bercerita. Dia siap mendengarkan kapan saja jika Arya ingin menceritakannya. Tidak harus sekarang.
Perlahan keduanya tertidur.
Flashback masa kuliah Arya dan Dimas.
“Hai, aku sedang berulang tahun. Ayo kita pergi pesta ke luar?”, ujar Arya duduk di samping Dimas.
Pria itu sedang membereskan buku - bukunya. Sepertinya dia akan di kampus hingga malam lagi hari ini.
“Kamu di kampus sampai malam lagi?”, tanya Arya.
“Sepertinya begitu.”, jawab Dimas.
“Tidak ingin merayakan ulang tahunku?”, tanya Arya.
“Bukankah bulan lalu kamu juga ulang tahun? Apa kamu ulang tahun setiap bulan. Kalau begitu, kamu ganti saja namanya menjadi ulang bulan.”, kata Dimas.
“Hm.. aku suka merayakan ulang bulan. Bagaimana, kamu tertarik untuk ikut?”
“Kenapa, kamu kasihan padaku?”, tanya Dimas tiba - tiba.
“Hm? Kenapa kamu tiba - tiba berkata begitu? Aku hanya mengajakmu untuk merayakan ulang tahun. Apa hubungannya dengan kasihan?”, Arya terlihat salah tingkah. Terbukti dengan dia yang langsung berdiri memainkan sebuah hiasan pohon di kamar Dimas.
Pria itu sudah 3 bulan tinggal di apartemennya sendiri. Lebih tepatnya studio. Dia sudah tidak tinggal di apartemen Arya lagi.
“Kemarin kamu ulang tahun dan mengajakku belanja di supermarket. Hari ini kamu melakukannya lagi. Kamu khawatir aku tidak makan?”, kata Dimas melemparkan sebuah buku pada Arya yang sedang melihat ke arah jendela.
__ADS_1
“Hem.. betul. Sejak aku berkencan dengan Sarah, kamu seperti berada di duniamu sendiri. Bukankah kamu di kampus sampai malam agar kamu tidak perlu menyalakan heater di musim dingin?”, kata Arya akhirnya blak - blak-an.
“Kamu ingin mengajakku ke supermarket, kan? Ayo.. aku akan borong semua sampai kamu bangkrut.”, kata Dimas meletakkan tasnya dan menarik Arya keluar.
“Wah.. aku takut. Aku akan memilih supermarket kecil di persimpangan blok ini.”
“Hahaha.. Itukan supermarket untuk anak - anak.”
Arya tersenyum. Arya selalu mencari berbagai cara agar bantuannya tidak merusak persahabatan mereka. Dari dulu dia sudah begitu. Dia tidak memiliki banyak teman dekat. Tapi sekalinya punya, dia akan menjaganya.
********
“Pak Erick, kita presentasi juga di Town Hall dengan CEO nanti?”, tanya Rini yang baru menyadari ternyata minggu depan ada undangan town hall dengan CEO.
Acara ini biasanya berlangsung sekali setahun. Para kepala Divisi akan memberikan presentasi singkat tentang pencapaian divisi mereka.
“Tentu saja.”, jawab Erick.
“Pak Dika yang akan presentasi, kan? Apa beliau sudah tahu? Kita perlu mempersiapkan sesuatu? Ah.. aku tidak mau pulang malam lagi karena mempersiapkan materi ini. Aku ada janji dengan pacarku.”, ujar Rini yang sudah heboh pagi - pagi.
“Katakan saja padanya. Suruh dia mempersiapkan presentasinya lebih awal agar kita tidak perlu pulang malam.”, ujar Erick dengan ekspresi pasrah.
“Kenapa kamu berkata begitu?”, tanya Rini heran.
“Arghh.. Aku saja sedang stress karena dia belum menandatangani dokumenku yang harus aku submit hari ini. Aku tidak tahu dia menghilang kemana. Sepertinya sejak makan siang kemarin, dia menghilang bagai debu. Tidak kembali lagi. Buktinya, laporanku tidak bergerak satu cm pun sejak aku letakkan.”, kata Erick frustasi.
Kemarin dia meeting seharian. Dia sudah meletakkan berkas yang harus ditandatangani oleh Dika di atas meja dengan harapan hari ini dia sudah bisa memproses laporan itu. Tapi, jangankan ditanda tangani, laporan itu seperti tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
“Hah, yang benar Pak Erick?”, Suci yang baru saja kembali dari menyeduh kopinya di pantry ikut bertanya.
Dia juga meletakkan satu dokumen kemarin untuk ditandatangani. Dia pikir, hari ini dia hanya tinggal mengambilnya saja.
Erick mengangguk menjawab pertanyaan Suci.
“Wah.. gimana dong, Pak. Sore ini harus diserahkan ke Finance agar budgetnya keluar. Kalau dari Pak Dika saja belum ditanda - tangani, budgetnya tidak akan keluar bulan ini.”, kepala Suci langsung pusing seketika.
Jika dia telat mendapatkan budget, maka pada laporan performancenya, ada bagian yang tidak bisa diceklis.
“Sudah coba telepon Pak Dika, belum Pak?”, tanya Suci pada Erick.
“Sudah beberapa kali tapi tidak diangkat. Lebih tepatnya tidak terhubung.”, jawab Erick.
“Masih pagi, siapa tahu nanti beliau masuk.”, ucap Rini mencoba menenangkan diri sendiri meskipun sebenarnya, dialah yang paling tidak tenang.
“Morning! Morning! Eh eh Ci, sudah dengar kabar baru, belum? Kabar paling paling hot hari ini.”, ujar Andra berbisik di telinga Suci karena ada Erick disana.
“Ngapain sih kamu berbisik - bisik seperti itu, Andra.”, Erick mengegurnya.
“Ha-ha.. Enggak ada Pak Erick. Kenapa wajah pada tegang semua ini, Pak? Oh? Jangan - jangan Pak Erick juga mendengar gosip tentang itu juga?”, tanya Andra.
“Gosip apa memangnya? Kamu itu ya, biasanya yang bergosip itu perempuan, kenapa kamu laki - laki mulutnya lemes banget.”, kata Erick geleng - geleng kepala melihat tingkah anak buahnya satu ini.
“Wah, Pak. Gosip kita itu adalah gosip berkualitas. Gosip elit. Jadi, gak cuma perempuan saja yang ikut. Tetapi laki - laki juga.”, Andra memberikan pembelaan pada dirinya.
“Halah, gosip elit. Gaya kamu saja. ”, tanya Erick.
“Jadi, Pak Erick mau tahu gosipnya, gak?”, tanya Andra dengan gaya yang sangat persuasif.
Bahkan, sekelas Erickpun sedikit tergoda.
“Sudah sana. Kerja, sudah jam berapa ini?”, kata Erick.
“Masih pagi Pak. Masih 15 menit lagi. Yang lain juga belum datang. Dinda juga tumben telat. Biasanya sudah datang.”, kata Andra.
“Oh.. Dinda belum datang, ya. Hem.. padahal saya mau konsultasi dengan Pak Arya.”, ujar Erick refleks.
“Hum? Konsultasi dengan Pak Arya, apa hubungannya dengan Dinda?”, tanya Andra bingung.
Erick baru sadar kalau dia keceplosan. Tidak disangka, ternyata Andra orangnya teliti juga.
“Saya ganti topik. Kenapa, gak boleh saya ganti topik?”, ujar Erick gagap.
“Oh.. jadi, mau dengar gosipnya gak? Lagi panas banget loh. Fresh out from the kitchen.”, kata Andra.
“Simpan saja buat kamu. Saya gak tertarik. Saya mau ke HRD dulu.”, kata Erick berlalu.
“Pagi Pak.”, Bryan tiba begitu Erick keluar.
Dia langsung menyapa bosnya itu.
__ADS_1