Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 223 Insiden Tak Terduga di Parkiran Bagian 1


__ADS_3

Arya masih berkutat dengan meeting onlinenya bersama para jejeran management di berbagai negara. Beberapa pekan ke depan mungkin dia harus menghadiri konferensi di luar negeri dan menjadi salah satu pembicara internal dalam salah satu gebrakan motivasi yang diprakarsai oleh HRD.


Pria itu menilai ini adalah kesempatan bagus untuknya. Selain bisa menambah portofolio untuknya, mungkin promosi berikutnya bisa semakin mulus untuknya. Terlebih jajaran maangement diatasnya sekarang sudah mendekati usia pensiun.


Berdasarkan informasi yang baru saja disampaikan, waktu konferensi mungkin akan memakan waktu dua pekan. Sepekan persiapan dan tiga hari waktu konferensi. Sementara sisa dua hari kerja lainnya akan digunakan untuk melakukan meeting internal dan evaluasi.


Arya tahu dan yakin ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Terlebih di Indonesia, hanya 3 orang saja yang akan dikirim. Satu adalah dirinya, satu lagi adalah HRD, dan satu lagi adalah CEO mereka.


Namun, setelah Arya menghitung - hitung waktunya dan kebiasaan dari sebuah perencanaan adalah delay. Dalam meeting online yang dia hadiri kali ini, konferensi ini masih dalam tahap inisiasi yang sedang dilakukan oleh salah seorang tim HRD di Belanda.


Waktu pelaksanaan masih belum final dan masih berupa perkiraan. Namun, kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin pelaksanaannya justru akan dilakukan bersamaan dengan HPL Dinda.


Sembari mendengarkan meeting, Arya sudah melihat dan menghitung - hitung tanggal dan durasi yang berdasarkan prediksinya, 60% mungkin akan jatuh bersamaan dengan tanggal HPL Dinda.


Disinilah ambisi, profesionalitas, dan tanggung jawabnya sedikit goyah. Dia melihat kesempatan besar, namun dia tidak bisa juga melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang harus mendampingi istrinya.


‘Hah… kenapa kesempatan bagus selalu datang di waktu yang sempit.’, ujar Arya dalam hati.


Arya jadi teringat kala dia mendapatkan dua acceptance letter (surat penerimaan menjadi mahasiswa) dari dua kampus yang berbeda. Satu adalah kampus imipiannya yang sudah dia targetkan sejak dia masih di bangku SMA.


Sedangkan satu lagi adalah impian Kuswan, papanya dimana dia berharap agar dia tidak diterima. Namun, fakta memberikan sebaliknya. Arya bahkan sempat berpikir untuk mengubah surat itu dan memberikan yang palsu pada papanya. Surat yang menyatakan bahwa dia tidak diterima.


Namun, Arya akhirnya mengurungkan niat tersebut. Dia tidak berani. Jika papanya tahu, maka habislah dia. Bukan tidak mudah bagi seorang Kuswan saat itu untuk membuka kanal informasi universitas dan mencari - cari nama Arya.


Apalagi dia menjadi yang paling tahu benar bagaimana kemampuan anaknya. Lagi, tidak hanya kegagalan yang bisa datang beruntun, tetapi juga kesempatan dimana kita diharuskan untuk memilih mana yang terbaik dan keduanya sama - sama sulit.


Tok tok tok tok


“Iya masuk.”, ucap Arya saat seseorang mengetuk pintunya.


Dia jadi berpikir kemana perginya Siska. Arya sudah jelas - jelas mengatakan pada sekretarisnya itu untuk tidak membiarkan siapapun masuk di jam - jam segini karena dia sedang ada meeting penting.


“Oh, ada keperluan pak Dika?”, tanya Arya bingung.


Hanya ada kemungkinan kecil pria itu datang menemuinya. Kenapa? Karena kalaupun ada urusan terkait divisi Digital and Development bersama divisi Business and Partners, yang diutus pasti adalah anak buahnya. Misalnya saja Erick.


Contoh kasusnya adalah pada saat keterlibatan Bryan dalam join project mereka. Semua yang mengaturnya adalah Erick. Dika paling hanya tanda - tangan dan tidak terlibat diskusi langsung dengan Arya.


Sehingga dia sedikit bingung, kenapa saat ini Dika malah menemuinya.


“Sebenarnya saya ada meeting jam 1 siang. Namun meeting itu ternyata di cancel. Padahal sudah buru - buru kemari.”, ujar Dika memberikan TMI (Too Much Information).


“Anyway, bukan itu tujuan saya sebenarnya. Ada yang ingin saya sampaikan.”, ujar Dika.


Kali ini sikap Dika agak membuat Arya terkejut. Dia berbicara begitu formal padahal hanya ada mereka berdua disana.


“Dika, sorry. Saya masih ada meeting sampai jam 2. Mungkin kita bisa schedule waktu untuk berbicara? Seharusnya di depan d Siska. Mungkin bisa coba diskusikan dan cari slot dengannya?”, ujar Arya.


Ucapan Arya mungkin terdengar sangat sombong dan sok sibuk. Namun memang begitu kenyataannya. Dilihat dari raut wajah Dika, sepertinya ini adalah pembicaraan serius. Dan mungkin membutuhkan waktu.


Tapi, meeting ini juga sama pentingnya. Lebih baik dia memberikan prioritas satu dengan lainnya daripada ujung - ujungnya justru tidak mendapatkan benefit dari keduanya.


“Baiklah kalau begitu. Mungkin nanti aku akan mencari waktu. Ini adalah persoalan pribadi. Jadi tidak mungkin aku meminta Siska untuk mengaturnya.”, Dika tampak kecewa.


Dia sedikit tersinggung karena Arya terus menolak bertemu dengannya. Dia berpikir mungkin saja Arya menghindarinya karena historical diantara mereka. Namun, tidak seperti itu dari sisi Arya.


Dia benar - benar sibuk belakangan ini dan bahkan sulit untuk mengatur waktunya sendiri.


Dika keluar dari ruangan Arya. Dia mencoba mengambil ponselnya di saku celananya.


“Oh **, aku meninggalkan ponselku di mobil. Hah.. mana harus melakukan beberapa panggilan.”, ujar Dika mengutuk dirinya sendiri yang entah sejak kapan menjadi orang yang pelupa.


“Okay.. let’s do a walk.”, ujar Dika dalam hati.


Dika mengalihkan tujuannya menjadi ke arah lift untuk turun menuju basement tempat dia memarkirkan mobilnya.


Di jalan, Dika bertemu dengan Siska yang sedang kesulitan dengan beberapa dokumen. Dika memanyapanya.


“Oiya, Siska. Pak Arya ada waktu kosong minggu ini?”, tanyanya.


Dia tidak ingin mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Dia benar - benar tidak ingin melakukannya, namun nampaknya untuk kali ini, dia tidak memiliki banyak waktu. Dia harus melakukannya.

__ADS_1


“Hum… di jam kerja sudah terisi semua kecuali di hari Kamis, Pak. Sepertinya Pak Arya memiliki slot kosong di jam 2-5 sore. Mungkin Pak Dika bisa menemuinya di jam segitu? Mau saya blok waktunya sekalian, pak?”, tanya Siska memastikan.


“Tidak perlu, saya akan menemuinya di jam - jam tersebut.”, balas Dika menaiki lift, sedangkan Siska yang tadi baru saja keluar lift, langsung pamit dan melangkah ke arah pintu masuk Business and Partners.


Dia berlari karena takut ada orang yang masuk ke ruangan Pak Arya saat dia tidak di tempat karena harus menemui bagian Finance.


*********


Dika berjalan ke loby dan langsung terus ke basement. Dia langsung berbelok dan tidak keluar dari gate lobby karena dia memiliki tujuan yang jelas. Mengambil ponselnya yang tertinggal.


“Hah.. semoga saja ponsel itu benar - benar tertinggal di dalam mobil. Kalau tidak, habislah aku. Dika - Dika, kenapa kamu bisa pelupa.”, ucapnya pelan sambil menekn tombol lift dn memasukkan satu tangannya di dalam kantong.


Lift menuju basement, tempat parkiran berada saat itu sangat sepi. Mungkin karena orang - orang masing makan siang. Maklum, hari ini adalah hari terjepit karena besok adalah tanggal merah, plus baru saja tanggal gajian. Sehingga, banyak yang memanfaatkan momen - momen seperti ini untuk makan di restoran, berkumpul dengan teman dari kantor lain, aatau sekedar mentraktir rekan terdekat.


Begitu pintu lift terbuka, Dika masuk ke dalam dan menekan tombil basement yang dia tuju. Karena bosan dan masih kesal dengan meeting yang dicancelled, Dika berdehem sambil memikirkan kenapa meeting itu dicancelled.


Pertama, dia sudah menyiapkan semua presentasi yang dibutuhkan. Kedua, dia bahkan meminta anak buahnya untuk buru - buru menyelesaikan makan mereka dan bahkan makan siang lebih awal. Jam 11.


“Ah.. semena - mena saja. Sudah mengadakan meeting di jam terjepit seperti itu. Lalu cancelled last minute. Profesonalitas macam apa itu.”, komentar Dika melampiaskan kekesalannya dengan berbicara sendiri di dalam lift.


Ting. Pintu lift terbuka.


Dika keluar dan menuju ke mobilnya di barisan ketiga dari depan. Mobil berwarna hitam yang bisa dia lihat dengan jelas. Sedikit random, Dika menekan tombol kunci mobilnya dari kejauhan hanya untuk sekedar memeriksa seberapa jauh jangkauan tombol kunci miliknya.


Tuip Tuip Tuip Tuip . Mobil Dika berbunyi.


Entah karena suasana parkiran yang saat itu sedang sepi atau karena memang suara mobil Dika yang lebih besar dibandingkan dengan mobil pada umumnya, suara itu menggema.


“Wuh.. keren juga mobil ini. Tidak menyesal aku membelinya. Dari jarak beberapa meter, kuncinya juga bisa langsung aktif. Luar biasa sekali.”,. Puji Dika.


“Oh? Dinda? Kamu?”, Dika kaget saat Dinda berlari ke arahnya.


Disaat yang bersamaan dua orang satpam juga baru saja turun dari lift.


“Hah… hah… hah…”, Dinda ngos - ngosan. Dia kesulitan untuk mengatur nafasnya.


“Hei - hei.. Kamu ngapain lari - lari? Seperti habis melihat setan saja.”, tanya Dika heran.


“Kamu kenapa?”, Dika memegang bahu Dinda karena khawatir.


“Ga kenapa - kenapa, Pak. Terima kasih.”, ucap Dinda saat nafasnya sudah bisa dia kontrol. Keningnya berkeringat, padahal dia tidak berlari sekencang itu. Lebih dikatakan berjalan cepat karena dia juga khawatir dengan keselamatan kandungannya.


“Hei hei.. Mau kemana kamu?”, tanya Dika.


“Mau ke atas Pak.”, jawab Dinda sambil menunjuk ke arah lift.


Saat itu, Dika belum lagi berada di mobilnya. Dia baru berada di belakang baris kedua dari depan. Sehingga dia perlu berjalan sedikit lagi untuk bisa mencapai mobilnya.


“Sebenat - sebentar, saya ambil ponsel dulu. Kita ke atas bersama. Saya jadi khawatir kalau membiarkan kamu ke atas sendirian. Wajah kamu juga sedikit pucat. Kamu benar baik - baik saja?”, tanya Dikda lagi memastikan.


“Iya Pak, saya baik - baik saja. Bapak tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya keatas duluan ya, pak.”, ucap Dinda ingin segera pergi dari sana.


“Wait - wait. Dua menit. Saya cuma mau mengambil ponsel saya.”, ujar Dika.


Betul sesuai dengan perkataanya. Hanya butuh dua menit dan dia kembali lagi ke tempat Dinda berdiri. Dua orang satpam tadi menyapa keduanya. Mungkin mereka sedang memeriks sesuatu. Dinda dan Dika juga tidak jelas.


Disini, Dinda tidak berani untuk mengatakan apa yang dia lihat. Dia memutuskan untuk sampai dulu di atas, baru mengatakannya pada siapapun yang dia lihat.


“Oke. hayok.”, ujar Dika mengiringi Dinda dari belakang.


Dika menekan tombol lift dan menunggu.


“Kamu dari tadi belum naik ke atas? Kebetulan sekali, saya tadi juga baru bertemu dengan suami kamu di atas. Dia kenapa sih? Sibuk sekali. Sombong banget. Maaf ya. Tapi dia benar - benar… ah sudahlah.. Untuk apa aku berbicara dengan istrinya yang sudah pasti akan membelanya.


“Pak Dika tadi bertemu dengan mas Arya?”, tanya Dinda.


“Hm..barusan sekali di ruangannya. Ponsel saya ketinggalan, makanya saya kembali untuk mengambilnya. Kenapa?”, tanya Dika.


“Tidak.. Mas Arya sedang meeting?”, tanya Dinda.


“Hm.. dia masih meeting sampai nati sekitar pukul 2 katanya. Haah.. workaholic sekali. Kamu gak capek apa hidup sama dia. Mantan istrinya saja lelah.”, ujar Dika berbicara semaunya.

__ADS_1


Dia sekarang seperti bukan berbicara dengan bawahan tetapi hanya antar tetangga julid yang mengomentari suami orang.


Ting.


“Ayo, kamu duluan.”, ujar Dika.


Suasana basement masih sepi. Selain Dika dan Dinda serta dua orang satpam tadi, belum ada lagi yang lewat disana.


“Memang selalu sepi begini ya?”, tanya Dika.


Dinda tidak menjawab. Kepalanya masih memikirkan yang tadi. Sebelum dia menceritakannya pada seseorang yang bisa mempercayai ceritanya, Dinda harus berusaha merangkai kembali apa yang dia lihat.


Bahkan sampai sekarangpun, dia masih belum mengerti apa yang sudah dia dengar. Apa maksudnya. Apa yang sedang mereka rencanakan. Semua berputar di kepala Dinda.


“Din? Kamu dengar saya kan? Atau dari tadi sebenarnya saya sedang berbicara sendiri?”, Dika mulai tidak mempercayai lawan bicaranya.


Ting.


Tak butuh waktu lama untuk pintu lift itu terbuka. Dinda dan Dika keluar.


Dinda sudah ingin berbelok dan menekan tombol lift untuk naik. Dia sudah memutuskan, sebaiknya dia mengatakannya pada Arya. Diantara semua orang yang ada disini, mungkin hanya Arya yang akan mempercayainya.


“Din, Din, tunggu sebentar.”, panggil Dika menghentikan langkah Dinda.


“Masih ada waktu, kamu jangan langsung ke atas dan bekerja. Saya traktir kamu minuman hangat sebentar di Cafe sana agar kamu bisa menenangkan pikiran. Kamu pucat sekali. Mungkin kamu butuh istirahat sebentar.”, ucap Dika.


“Tidak usah Pak, tidak apa - apa.”, balas Dinda menolak dengan halus.


“Din, kamu tidak usah sungkan. Lagipula kamu tidak perlu takut, saya tidak memiliki maksud aneh - aneh kok. Saya cuma khawatir, kamu belum sampai atas sudah ambruk.”, ujar Dika.


“Gapapa Pak, saya baik - baik saja kok. Pak Dika tidak perlu khawatir.”, Dinda masih menolak.


“Udah, kamu tidak perlu khawatir. Maksud saya baik. Ohiya, saya juga mau mendiskusikan sesuatu hal yang penting dengan kamu. Hm.. mungkin ini ada hubungannya juga dengan Arya.”. Ujar Dika berusaha untuk menarik Dinda agar dia mau, dengan cara menambahkan kta Arya di dalam ajakannya.


Siapa tahu, mungkin ini akan bekerja.


“Baiklah, pak.”, ujar Dinda tersenyum tipis.


Dia lelah berdebat. Dika juga adalah bos nya. Lagian mereka berbicara di tempat yang ramai, jadi tidak masalah.


“Nah begitu dong dari tadi. Kan cepat jadinya.”, ujar Dika tersenyum pada Dinda.


Disini, Dika tidak memiliki maksud yang aneh - aneh sama sekali. Dia hanya memang ingin membicarakan sesuatu. Sedangkan beberapa waktu ini dia sulit sekali untuk berbicara mengenai hal ini pada Arya.


Mungkin berbicara pada Dinda lebih dulu bisa menjadi salah satu solusinya.


Mereka keluar dari gate pintu akses lift kantor hendak menuju Cafe milik Dimas. Namun, Dinda sedikit sempoyongan, dan Dika yang kebetulan sedang melihat kebelakang langsung menangkap Dinda.


Beruntung dia hanya sedikit oleng saja. Karena Dika bertindak refleks, Dika langsung memegang bahu Dinda dan seolah terlihat akan memeluknya.


Kemudian, entah dari mana dan kapan, seseorang tiba - tiba saja datang di hadapan mereka. Dika kenal dengan wanita itu begitu pula dengan Dika.


**********


“Halo, Ren. Kamu sudah istirahat? Sudah bilang Ririn untuk berganti shift sebentar? Iya, saya sedang bawa beberapa pesanan, jadi saya mau minta kamu untuk membawanya masuk ke dalam. Hanya sedikit kok, saya juga tadi sudah konfrimasi dengan satpam dan gedung, boleh kok masuk dari lobby depan. Kalau dari bawah nanti bisa susah lagi. Saya tidak mau ribet.”, ujar Dimas sedang berbicara melalui sambungan telepon bersama dengan salah satu karyawannya.


Dimas sedang berada di dalam mobil. Dia membawa bebarapa racikan kopi terbaru yang dikembangkan oleh tim risetnya.


Dimas, bukanlah pengusaha Cafe biasa. Dia juga bukan menyuguhkan kopi - kopi biasa. Dimas memiliki tim risetnya sendiri yang dia pekerjakan khusus untuk meneliti tren minuman terbaru terutama yang berhubungan dengan kopi.


Tak tanggung - tanggung. Dimas mempekerjakan tiga karyawan riset yang berkantor di salah satu studio yang sebelumnya menjadi milik keluarga Sarah namun akhirnya berhasil dia beli.


Disana, mereka meneliti beberapa varian tren baru dan juga tidak segan - segan melakukan riset lapangan. Topik inilah yang waktu itu sempat dibahas oleh Dimas saat  dia sedng berbicara dengan Dinda, namun terlanjur ditarik oleh Arya.


Dimas biasanya akan meluncurkan satu hingga dua produk minuman terbaru setiap tiga bulan. Dia juga akan melakukan review pada laporan transaksi penjualan untuk memeriksa varian mana yang paling banyak disukai oleh para pelanggan dan mana yang tidak.


Dari situ, dia bisa mengetahui mana yang seharusnya dikeluarkan dari menu, dan ganti dengn menu yang baru.


Model seperti ini menjadi bisnis yang sudah dia pikirkan dari beberapa tahun terakhir saat dia masih bekerja di salah satu perusahaan di Amerika. Kecintaannya pada teh dan kopi membuatnya berani terjun ke bisnis ini.


“Iya, kamu minta tukar shift sama si Ririn, terus nanti saya akan kirim pesan ke kamu kalau saya sudah sampai depan kantor. Nanti kamu tinggal keluar ambil barangnya.”, ujar Dimas mengarahkan.

__ADS_1


__ADS_2