
“Jadi, gimana kamu hari ini?”, tanya Arya sambil mengeringkan rambutnya.
Dia memasang earbuds di telinganya segera setelah dia selesai mandi. Dia melewati meeting yang berat hari ini. Beberapa kali dia harus berselisih paham dengan klien yang personalitinya kurang menyenangkan dan tidak profesional menurut Arya.
Dia mengeluarkan banyak energi hari ini karena berusaha menghadapi mereka dengan kepala dingin, berusaha mengarahkan diskusi yang sehat dengan memberikan poin - poin utama agar lebih mudah untuk dicerna.
Dia sengaja menghabiskan waktunya untuk sekedar berendam di kamar mandi dan mencuci rambutnya.
Arya banyak menghabiskan waktu di ruangan terbuka sehingga keringat membahasi kulit kepala yang membuatnya lumayan tidak nyaman seharian.
Beruntung, hotel yang dipesan Siska memiliki kamar mandi dengan peralatan yang baik dan lengkap. Arya juga tidak lupa membawa perlengkapan mandi dari rumah.
Sejak sebulanan yang lalu, dia mulai menggunakan produk - produk yang dipilih Dinda untuknya. Aroma yang keluar dari produk itu membuatnya selalu bisa merasakan rumah.
Arya sudah tidak sabar untuk melepaskan penatnya dengan mendengar suara istrinya.
Dia sengaja membersihkan diri terlebih dahulu agar bisa lebih rileks dan santai saat mengobrol dengan Dinda.
Lagipula, ini juga menjadi waktu yang tepat untuk Dinda yang mungkin sudah bersantai di rumah sepulang dari kantor.
“Hm...", Dinda terdengar berdehem sebentar seolah ingin membuat Arya penasaran dengan bagaimana dia melewatkan hari ini.
"Kangen mas Arya.. kangen mas Arya.. kangen mas Arya lagi. Ternyata kamarnya menjadi lebih dingin kalau mas Arya gak ada.”, ujar Dinda sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dia menjawabnya dengan nada antusias. Bahkan Dinda mendekatkan speaker ponsel itu ke bibirnya agar Arya bisa mendengar dengan jelas suaranya.
Dia mengambil bantal yang biasa Arya gunakan dan meletakkannya dekat dengan hidungnya.
Sehingga, dia bisa mencium sisa - sisa aroma Arya di sana. Dinda bahkan sengaja tidak memperbolehkan Bi Rumi membersihkan kamarnya karena dia tak ingin menghilangkan aroma suaminya dari sana.
Mungkin dengan begitu, dia bisa sedikit mengurangi rasa rindunya pada suami tercinta. Dinda bergidik mengatakan itu dalam hatinya.
'Sejak kapan aku jadi begini?', kata Dinda merasa malu dalam hati.
'Hm.. tapi apa salahnya. Pertama, dia adalah suamiku. Kedua, aku memang mencintainya. Aku tidak salah dong, jika ingin memperjelasnya.', Dinda tersenyum sambil sesekali melirik foto pernikahan mereka yang terpanjang rapi di dinding kamar.
Saat itu dia belum mencintai pria itu. Menyukainya sudah. Tapi, hanya sekedar kagum pada pandangan pertama melihat seorang eksekutif muda yang terlihat cerdas dan berwibawa.
'Hah.. tak sekalipun tercetus dalam pikiranku, kalau pria yang ada di foto itu menjadi suamiku. Takdir itu memang unik.', kata Dinda dalam hati.
“Benarkah?”, tanya Arya mendudukkan dirinya pada bagian ujung tempat tidur.
Arya meluruskan kaki kanannya, sedangkan kaki kiri ia biarkan menekuk sambil menjadi sandaran tangan baginya yang sedang menelepon Dinda.
Dia menyetel ulang temperatur AC yang ada di sana. Arya, temperatur AC selalu kurang untuknya.
Setiap kali dia menurunkan suhu AC, dia jadi teringat pada istrinya yang tidak tahan dengan AC. Arya tersenyum simpul hanya dengan memikirkannya saja.
“Hn. Bagaimana pekerjaan mas Arya di sana? Lancar ga? Mas Arya makan dengan teratur?”, Dinda mencoba untuk mencari topik lain agar pembicaraan mereka tetap bisa berlangsung lama.
Seolah tak ingin sambungan telepon ini segera terputus, Dinda terus mencari topik - topik baru. Selain itu, ini juga menjadi salah satu bentuk perhatiannya pada Arya.
Dinda belajar melalui internet. Mungkin kalau nanti Arya melihat historical pencariannya, Dinda akan merasa malu.
Bagaimana cara menunjukkan perhatian pada suami
Tips membuka obrolan agar komunikasi dengan pasangan lancar
Langkah mengatasi masalah komunikasi suami dan istri
Tips pasangan beda usia jauh agar harmonis dan langgeng
Tips menjaga pola komunikasi bagi pasangan beda usia
__ADS_1
“Hm.. sejauh ini lancar. Let’s see apakah aku bisa pulang lebih awal untuk menemui baby kecil kita.”, ujar Arya memilih berdiri dari tempatnya dan membuka gorden untuk melihat pemandangan alam.
Di kaca, dia juga bisa melihat pantulan dirinya sendiri. Seketika Arya melihat ekspresi tenang, nyaman, dan damainya saat ini. Di tangannya ada ponsel dan dia sedang berbicara dengan istrinya.
Pantulan yang memberikan Arya pemahaman bahwa kehidupannya menjadi jauh lebih baik sekarang.
“Huu.. cuma kangen dengan baby kecil?”, tanya Dinda merajuk.
Arya tersenyum dengan respon Dinda. Terkadang dia memang paling ahli membuat Arya tertawa.
Arya sudah tidak tahu lagi, apakah dia tertawa karena kata - kata Dinda atau karena itu adalah Dinda yang mengatakannya.
Dinda tahu benar bukan itu maksud Arya. Tapi dia hanya ingin iseng menggodanya. Lagi, Dinda mempraktekkan tips - tips yang dia baca melalui internet.
“Tentu saja kangen mama nya juga. Eh, video call ya. Saya mau lihat istri saya seberapa seksi malam ini?”, kata Arya menggoda.
Tiba - tiba ide itu muncul saja di pikirannya.
Hal yang menjadi hobi Arya belakangan ini. Menggoda istrinya setiap kali dia memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Dinda adalah wanita yang paling mudah tersipu saat dia goda. Makanya, dia tak ingin membagi itu dengan orang lain.
“Ih.. apa - apaan sih mas Arya. Lagian untuk apa aku harus terlihat seksi kalau mas Arya saja tidak ada disini.”, Dinda terlampau polos sampai - sampai dia bisa keceplosan dan mengeluarkan isi hatinya.
Saat sadar, dia memukul jidatnya.
“Oh.. ternyata kamu hanya mau berpenampilan seksi kalau ada saya, ya? Hem… sedikit tersentuh. Dipertahankan ya sayang. Hem-m. ”, kata Arya tersenyum.
Arya sudah mulai terbiasa dengan Dinda. Meskipun saat ini dia tidak melihatnya secara langsung, tetapi Arya tahu kalau wajah istrinya itu sudah semerah tomat.
“Eh? Memangnya tadi aku bilang apa? Perasaan aku tidak berbicara apa - apa. Mas Arya mimpi ya. Padahal belum tidur tapi sudah membayangkan yang aneh - aneh. Sepertinya aku memang harus menerima permintaan video call ini untuk mengklarifikasi.”, kata Dinda pura - pura lupa.
Permintaan panggilan video dari Arya sudah masuk ke ponselnya. Dinda tersenyum dan menekan tombol untuk menerimanya.
Deg… suara jantung Arya langsung berdegup saat permintaan video call nya sudah diterima. Melihat Dinda dari layar ponselnya bisa membuat dia cukup deg - deg-an.
“Mas Arya, mas.. Mas Arya kenapa? Kok bengong? Mas Arya tampan sekali. Ha-ha.. mungkin karena efek cahaya di belakang? Hm.. sepertinya aku harus mengambil screenshot video call dengan mas Arya.”, tanya Dinda heran saat tak ada suara dari Arya di ponselnya.
Melihat Arya bengong, Dinda berinisiatif untuk mengambil potongan gambar dengan tangkapan fitur screenshot di ponselnya. Kapan - kapan, Dinda bisa menggunakannya untuk menggoda Arya.
Kapan lagi dia bisa mendapatkan gambar Arya sedang bengong. Jarang - jarang, kan.
“Oh? Pintu ke beranda sudah ditutup belum? Nanti kamu masuk angin. Kamu kebiasaan, kalau saya pulang kerja sudah ketiduran, tapi pintu beranda lupa di tutup.”, ujar Arya malah membahas pintu beranda.
Dia berusaha menghilangkan deg - deg an nya dengan membahas topik lain. Kebetulan saat ini, dia bisa melihat beranda dari tangkapan video call Dinda.
Gadis itu memang suka membuka pintu beranda dan mematikan AC. Katanya, angin alam lebih menyegarkan. Dia juga bisa menikmati cahaya - cahaya bulan yang terkadang bisa tertangkap dari beranda.
Saat ini, Arya memikirkan satu ide usil untuk menakut - nakuti Dinda.
Bagaimana kalau dia menakuti istrinya itu dengan berpura - pura melihat ada sesuatu yang tidak biasa di belakangnya?
Atau seperti berakting ada yang bergerak?
Tapi, setelah berpikir beberapa kali, dia mengurungkan niatnya.
‘Tidak, tidak. Nanti dia bisa ketakutan dan tidak berani tidur di kamar lagi. Lagian Dinda sedang hamil Kalau ada apa - apa dengan baby kecil gara - gara keusilanku, bagaimana.’, kata Arya mengusir ide usil itu dari pikirannya.
“Mas Arya, tumben pakai baju? Biasanya kalau mau tidur malam hari gak pernah tuh pakai baju. Apa sebenarnya mas Arya selama ini hanya mengerjaiku? katanya kalau malam selalu tidur tanpa atasan, bohong ya?”, tanya Dinda heran dan berpura - pura menaruh curiga.
Dia bahkan menyipitkan matanya agar ekspresinya terlihat lebih meyakinkan.
Kenyataan bahwa Arya memakai baju padahal sebentar lagi dia mau tidur membuat dirinya bertanya - tanya.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu mau aku buka? Kamu sudah mulai centil ya sekarang, Din.”, goda Arya.
“Apaan sih. Aku cuma bingung. Jangan disalah artikan.”, kata Dinda meluruskan maksud pertanyaannya.
Pria satu ini memang selalu saja punya cara untuk membelokkan pertanyaannya.
“Yakin? Hm.. saya kira kamu punya maksud lain. Ohiya, di kantor baik - baik saja?”, tanya Arya tiba - tiba kepikiran untuk membahas tentang kantor.
“Mas Arya, kenapa kita malah membahas kantor. Boring bahas kantor.”, balas Dinda.
"Kenapa? kamu mau tetap membahas tentang aku? Hm.. centil."
"Ya sudah, bahas kantor.", kata Dinda tidak bersemangat.
“Loh, bukannya kamu paling bersemangat kalau bahas kantor. Kan mau jadi wanita karir katanya, padahal proyeksi masa depannya belum juga dipresentasikan. Entah sudab dari kapan. Kalau saya tipikal kepala divisi sebelah yang suka labrak kamu, mungkin audah tidak terhitung ya berapa kali saya tegur. Pokoknya, sebelum liburan ke Korea, saya mau ada proyeksi karir kamu ke depan ya. ”, protes Arya.
“Di kantor biasa saja. Sepertinya kalau mas Arya tidak ada, divisi Business and Partners bebas merdeka. Mereka terlihat sangat bahagia. Bahkan, mereka sering makan - makan.”, ujar Dinda asal. Padahal dirinya tidak memperhatikan divisi itu sama sekali.
"Hm, benarkah? Aku jadi semangat untuk segera ngantor.", kata Arya
“Si cecunguk itu? Siapa namanya, Andra. Dia mengganggu kamu, gak?”, tanya Arya lagi seperti sedang melakukan pemeriksaan.
“Andra itu teman biasa kok mas. Dia sudah tidak mengganggu aku lagi.”, jawab Dinda.
“Sudah? Artinya dia pernah mengganggu kamu dong? Karena apa?”, bukan Arya namanya kalau tidak teliti sampai ke akar - akarnya.
Bahkan kata per kata saja dia perhatikan dengan saksama.
“Hm.. bukan hal yang harus mas Arya khawatirkan, kok.”, balas Dinda.
‘Justru yang lain yang membuatku kurang nyaman. Untuk hal itu, sebaiknya aku tidak cerita ke mas Arya. Toh, tidak terjadi apa - apa. Jadi seharusnya semua akan baik - baik saja.’
“Kenapa? Kenapa kamu bengong?”, tanya Arya.
Dinda menggelengkan kepalanya.
“Gapapa kok, mas. Ya sudah, mas Arya tidur sana. Sudah jam berapa ini.”, kata Dinda mengingatkan. Malam memang sudah semakin larut.
“Susunya sudah kamu minum. Sejauh ini oke? Atau perlu kita ganti merek susunya?”, tanya Arya.
“Mas Arya sudah beli tiga mereka. Masih ada dua opsi lagi. Sejauh ini masih oke, kok. Bi Rumi dan mama juga sering kasih jus dan makanan sehat. Jadi, baby kecilnya bisa tumbuh dengan baik di dalam perut.”, kata Dinda memegang perutnya yang sudah mulai menunjukkan baby bump meski samar - samar.
“Syukurlah.. Oiya Din. Saya baca beberapa buku yang waktu itu saya beli, katanya senam hamil itu bagus untuk perkembangan bayi. Kamu mau daftar?”, tanya Arya kembali mengingat buku yang dia baca.
Sebelum tidur atau saat sedang menunggu sesuatu, Arya membiasakan diri untuk membaca - baca buku seputar kehamilan agar dia bisa lebih waspada jika istrinya membutuhkan sesuatu. Arya juga bisa menaruh perhatiannya dengan tepat dengan memahami bagaimana tumbuh kembang janin di dalam rahim.
Selain itu, dia juga menjadi lebih peka dan mengerti perasaan Dinda yang mungkin sudah mulai mengalami mood swing. Bahkan Arya meninggalkan beberapa buku tentang kehamilan dan bayi di laci meja kantornya.
“Hem.. itu nanti kalau sudah 5 bulan. Aku tertarik, mas. Makasih ya, hampir saja aku lupa.”, jawab Dinda.
“Katanya ada sesi senam bersama ayahnya juga supaya bisa membangun chemistry. Ha-ha.. Aku benar - benar tidak percaya kalau akan segera jadi ayah.”, Arya tak sadar kalau senyumannya sudah merekah.
Sebelumnya, dia memupus semua harapan - harapan itu hanya karena satu statement dari mantan istrinya. Kalau dipikir - pikir lagi, Arya sudah membuang - buang waktu dan perasaan untuk hal yang belum pasti sama sekali.
“Kamu kenapa senyum - senyum?”, tanya Arya saat melihat bibir Dinda yang sudah membentuk senyuman manis dan mata yang berbinar - binar.
“Hu.. mas Arya juga senyum - senyum, kok. Ga sadar, ya? Kenapa? Baru tahu kalau istrinya cantik?”, Dinda langsung menutup wajahnya saat mengatakan kalimat ini.
Entah belajar dan mendapat keberanian darimana seorang Dinda yang polos dan pemalu level kuadrat bisa mengatakan hal seperti itu pada Arya Pradana, Kepala Divisi yang paling dia takuti sebelumnya.
“Hem.. nanti mirip siapa ya? Aku mau mirip dengan kamu saja.”, kata Arya.
“Kenapa? Aku suka kalau ada mas Arya versi kecil yang imut.”, balas Dinda.
__ADS_1
“No no no nanti aku punya saingan. Cukup hanya ada satu Arya supaya aku tidak mudah cemburu nanti.”, jawab Arya.
“Hm..mmm. Baiklah, tapi kalau ada satu lagi Dinda kecil, mas Arya juga akan membuatku cemburu ga? Tapi, kalau nanti mirip aku atau mas Arya, aku hanya berharap dia tidak mewarisi sikap kulkas 10 pintu dari mas Arya. Huffff… cukup satu kulkas saja untukku.”, canda Dinda.