
“Apa - apaan kamu Rianti. Kamu tidak malu dilihat oleh banyak orang? Kamu mau menjadi bahan gosip seluruh kantor? Bukan, kamu mau aku menjadi bahan gosip seluruh kantor?”, ujar Dika dengan suaranya yang sudah menegang.
Terkejut. Tidak menyangka sama sekali. Speechless. Entah apa kata yang paling tepat untuk bisa menggambarkan apa yang dirasakan oleh Dika saat ini. Hal yang paling pertama adalah dia merasa sangat bersalah pada Dinda yang harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari istrinya sendiri.
Belum lagi semakin lama semakin banyak pasang mata yang mulai melirik ke arah mereka. Seorang satpam nampak sedang berjalan ke arah satpam yang lain dan mereka terlihat tengah berdiskusi. Tak lama, mereka seperti menyampaikan beberapa informasi melalui walkie talkie yang dipegang oleh salah satu dari mereka.
Sepertinya, kedua satpam itu melapor pada atasannya. Mereka belum bisa memutuskan apakah harus mengintervensi dan meminta mereka Rianti, Dika, dan Dinda yang terlibat keributan saat itu untuk melanjutkan kesalahpahaman mereka diluar.
“Huh, untuk apa aku harus malu dengan beberapa pasang mata yang ada disini karena seorang pelakor ini. Kamu kira aku selama ini diam karena aku bukan tipe wanita yang senang membuat keributan seperti ini?”, ujar Rianti. Dia sengaja memelankan suaranya untuk kalimat kedua karena dia hanya ingin dirinya dan Dika yang mendengarnya.
Well, tentu saja Dinda bisa mendengar itu karena dia berada tepat di samping Dika. Masih dengan ekspresi terkejut dan menahan sakit pada pipinya yang merah, Dinda bermaksud untuk pergi dari situ. Dia marah, namun tak banyak yang bisa dia lakukan. Dia juga bukan di posisi yang bisa berteriak kalau ‘Saya sudah menikah dan memiliki suami. Jadi, tidak mungkin saya berselingkuh dengan suami Anda.’.
Setelah dipikir - pikir lagi, teriakan seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah.
“Heh. Mau kemana kamu? Ngaku gak?”, ujar Rianti menarik kepalan rambut Dinda yang tertutup dibalik hijabnya. Saking kuatnya tarikan itu, hijab Dindapun hampir saja terlepas kalau saja dia tidak menahannya.
“Mba, lepaskan.Saya bukan seperti yang mba tuduhkan. Saya tidak berselingkuh atau melakukan apapun dengan Pak Dika yang notabene adalah bos saya.”, akhirnya Dinda mengeluarkan suaranya karena dia merasa tidak tahan rambutnya ditarik seperti itu. Ditambah lagi kepalanya juga terasa semakin tidak enak.
“Rianti, lepaskan, kamu sudah keterlaluan.”, ujar Dika yang tentu saja mencoba menarik tangan Rianti dari rambut Dinda.
Bukannya membuat Rianti semakin tenang dan mau melepaskan tarikan tangannya, wanita itu malah semakin menggila. Dia menarik hebat hijab itu sekuat tenaganya. Dika mencoba melepaskannya. Namun, tentu saja dia tidak bisa menarik tangan Rianti begitu saja karena masih mengepal di kepala Dinda.
Dia juga takut malah membahayakan karyawan internnya itu. Alhasil, Rianti yang semakin menggila karena di matanya, Dka terlihat melindungi Dinda dan itu menampilkan kembali bagaimana bayangan pernikahannya yang selama ini tidak pernah berhasil.
Seolah melampiaskan segala kekesalannya selama sepuluh tahun pada momen singkat itu, Rianti mengeluarkan seluruh tenaganya. Posisi Dika yang berada di antara keduanya di depan tapping gate membuat dirinya juga tidak diuntungkan.
Rianti beralih dengan mendorong Dika yang saat itu lepas pengawasan pada dirinya sendiri karena. Hal ini karena kakinya yang sedang berusaha berpindah dan menyilang. Posisi itu menyebabkan DIka mudah kehilangan keseimbangan meski dengan dorongan Rianti yang tidak sekuat pria dewasa.
Pergulatan yang terjadi dalam tempo singkat itu menyebabkan tubuh Dika yang berada di antara keduanya terdorong ke arah Dinda. Saat itu Dika mencoba melindunginya dengan berusaha berpindah menjadi tameng. Tetapi pergeseran dan arik menarik itu malah membuat tubuhnya mendorong tubuh Dinda terhempas ke belakang.
Bagian punggungnya tak pelak membentur tapping gate masuk area karyawan yang keras. Karena dorongan yang singkat dan jarak yang relatif dekat membuatnya terpental kecil kembali ke depan dan terjatuh dalam keadaan berlutut.
Tepat setelah terjatuh, pintu lift bagian ujung terbuka. Arya keluar dari lift itu dalam keadaan berlari dan pandangannya langsung mengarah ke depan dimana ketiga orang itu berada. Tidak. Arya baru melihat dua orang saja. Dika dan Rianti. Tubuh Dinda yang sudah terjatuh tertutup tapping gate dan tidak langsung terlihat dari arah Arya berdiri.
Tentu saja pria itu agak heran dan mencari - cari karena berdasarkan informasi yang dia lihat tadi. Dinda ada disana.
Beberapa orang yang baru saja selesai makan siang mulai berkumpul disana. Ada sebagian kecil orang yang juga terlihat keluar dari beberapa toko di lobby termasuk Cafe milik Dimas.
Ada juga yang sebagian menganggap seolah tidak terjadi apa - apa dan dengan santai lewat pada area tapping gate satunya lalu memasuki lift.
Ada yang melihat - lihat kejadian itu, namun tetap melanjutkan ke tapping gate are lainnya untuk memasuki lift karena sedang mengejar waktu meting.
Meski ada beberapa orang, tak ada diantara mereka yang merupakan divisi Digital and Development. Mereka tidak terlihat bergerak membantu Dinda yang terjatuh karena mereka mengira dia hanya tersenggol sedikit.
Dinda terlihat terduduk dan kesulitan untuk berdiri. Selain kepalanya sudah agak berputar, kakinya juga sulit digerakkan karena dia kehilangan tenaga.
Seorang wanita yang tadinya masih berbisik dengan yang lain mulai memperhatikan ada darah yang menetes saat Dinda berusaha untuk berdiri meski masih setengah.
“Oh? Ada darah?”
“Eh?”
“Itu, coba lihat. Bantuin gih, itu gapapa begitu?”
“Mba, ton, satpam nya mana?”
“Eh iya, berdarah itu. Ada yang luka?”
Dika tadi sudah melihat ke belakang saat seperti ada yang tersenggol olehnya. Namun Rianti menarik dan malah mengajaknya kembali beradu argumen.
__ADS_1
“Lepas, kamu gak sadar habis mendorong orang?”, kali ini Dika tak bisa menahan emosinya. Suaranya yang tadi sudah menegang namun masih under control mendadak berubah.
“Din, kamu gapapa?”, tanya Dika mengarahkan pandangannya ke samping namun Rianti kembali mengeluarkan suaranya.
“Kamu tinggal ngaku kamu selingkuh sama dia. Dasar.. Mau kamu..”
“Aku ga selingkuh, dia bawahan aku. Kamu apa - apaan?”
Arya yang menyadari keberadaan Dinda langsung melakukan tap dan keluar dari tapping gate Dia langsung memastikan keadaan Dinda yang sudah setengah berdiri.
“Sayang, kamu gapapa? Apa - apaan ini, Dika? What the hell are you guys doing?”, ujar Arya langsung bertanya dengan suara keras dan menggema.
Bayangan tamparan yang tadi ia lihat menaikkan semua puncak emosi yang ada di kepalanya. Tak hanya dirinya, beberapa orang anak business and partners yang baru saja keluar dari Cafe Dimas langsung melongo saat mendapati bos mereka ada disana dan berteriak.
Rianti nampang bingung saat pria itu juga ikut membuatnya bergidik ngeri.
“Dika?”
“Selingkuh? Siapa yang Anda bilang selingkuh, huh? Dia isteri saya. ANDA sudah menampar orang di tempat umum. Mana sih satpam, kenapa keributan seperti ini dibiarkan? Gila apa?”, teriak Arya emosi.
Beberapa informasi yang lamat - lamat dia dengar saat masih diatas dan sudah dibawah langsung dia rangkum menjadi satu.
“Darahnya.. Beneran tahu itu darah.. Bilang gih.”, ucap perempuan tadi.
Darah yang keluar memang sedikit. Menetes tipis di kaki Dinda yang saat itu mengenakan rok. Usahanya untuk berdiri membuat ada bagian rok yang terlipat sedikit dan memperlihatkan sedikit bagian kulit kakinya. Apalagi, dia juga mengenakan sepatu kets tipis saat itu.
“Oh?”, Arya mengalihkan perhatiannya kembali pada Dinda yang memang sedari tadi sudah berada dalam pegangannya.
Arya mencoba memproses beberapa informasi samar yang dia dengar dari bisik - bisik orang yang melihat kejadian itu. Dia langsung memeriksa sekali lagi keadaan istrinya.
“Sayang, kamu gapapa? Huh? Din?”, Arya mencoba memeriksa pipi Dinda yang memang masih memerah. Dia kira bibir istrinya mungkin yang dikira berdarah atau tamparan tadi membuat ada goresan di wajah Dinda dan berdarah. Dia belum melihat ke tempat lain.
“Uhm? Ada yang sakit? Din?”
“Huh, lebay, cuma jatuh begitu saja. Oh.. jadi kamu main dengan perempuan yang sudah punya orang? Atau dia jadi simpanan orang lain lagi?”, Rianti mulai melantur kemana - mana karena dia masih sangat kesal.
“Shi*t\, masih tidak berhenti bicara. Shut the f*ck up or I’ll call the police”\, ujar Arya yang tatapannya sudah tajam. Dia melihat ke arah Dika setelah mengatakannya pada Rianti.
Bersamaan dengan Arya yang mengomentari tidak adanya keamanan satpam yang bertindak langsung, seorang satpam senior dengan perawakan besar terlihat mendatangi area.
Dia sedang makan siang saat bawahannya menghubunginya melalui walkie talkie. Suasana makan siang biasanya lebih santai dan belum banyak orang yang masuk . Dia mengambil kesempatan itu untuk beristirahat dan meminta juniornya yang biasa berjaga di tempat lain untuk berganti shift.
Siapa yang menyangka bahwa tiba - tiba ada kejadian tidak menyenangkan seperti ini.
Kembali fokus ke Arya yang memeriksa apakah istrinya baik - baik saja.
Pria itu memeriksa mulai dari wajah, bahu, lengan, dan apapun yang bisa dia cek. Dinda sedikit meringis saat dia baru saja merasakan ada yang perih bagian perutnya. Arya langsung terkejut. Dia tidak melihat saat Dinda terjatuh.
Saat dia datang tadi, dia sama sekali tidak tahu kalau istrinya habis terdorong dalam pertengkaran tadi. Alangkah terkejutnya Arya saat dia menarik sedikit rok Dinda agar dia bisa memeriksa kakinya.
Pria itu melihat darah yang tadinya masih menetes sedikit dan samar mulai mengalir dan lebih jelas berwarna merah. Dinda juga ikut mengarahkan pandangannya ke tempat yang sama saat Arya memeriksanya.
“Din? Kamu? Sayang, kamu gapapa? Brengsekkk… “, teriak Arya langsung melangkah ke arah Dika, menarik kerah bajunya, dan baru saja akan menghantamkan kepalan tangannya ke wajah pria itu. Namun, satpam yang tiba langsung melerainya.
Dia tidak pernah se-marah itu dan kehilangan kontrol dimanapun di tempat umum apalagi ini adalah di kantor. Dia tidak mungkin memukul wanita dan dia juga tahu bahwa semua ini tidak akan terjadi jika bukan karena andil Dika.
“Oh - oh.. Mba gapapa?”, teriak seseorang saat melihat Dinda mulai kehilangan keseimbangan. Arya langsung menoleh dengan cepat, melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Dika, dan bergerak cepat menangkap istrinya yang sudah hampir roboh.
Dinda langsung terjatuh di pelukan Arya. Posisinya masih setengah berdiri saat Arya menangkapnya.
__ADS_1
“Sayang, DIn.. Jangan gini.. DIn? Din? Dinda? Sayang. Oh sh*t”, someone called an ambulance.”, Arya mencoba memegang pipi Dinda untuk menyadarkan istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
“SOMEONE CALLS AN AMBULANCE?”, teriak Arya saat orang disana justru tidak berinisiatif dan malah menonton saja.
Seseorang yang berasal dari divisi Business and Partners langsung menekan tombol di ponselnya.
“Halo, bisa ke gedung perkantoran…..”, kata wanita itu baru saja ingin memanggil ambulans.
Dimas terlihat berlari dari arah pintu masuk.
“Pakai mobil aku saja. Lebih cepat. ARYA! Bawa ke mobilku, masih terparkir di depan, lebih cepat dari pada menunggu ambulans.”, ujar Dimas pada Arya.
Arya langsung bergerak cepat menggendong Dinda keluar dari area kantor mengikuti arah langkah Dimas.
Dia langsung membuka pintu mobil dan membiarkan Arya meletakkan Dinda disana lalu berlari ke arah sebaliknya untuk masuk. Sesampainya di dalam, Arya kembali menyibak sedikit rok Dinda dan masih melihat darah yang menetes disana.
“Oh please….God… please save both of them.”, ujar Arya saat menatap Dinda dengan tatapan penuh harap dan cemas.
Dimas yang tengah bergegas memasang seatbelt langsung terdiam sebentar saat mendengar kalimat Arya. ‘Both of them.’
Ah.. saat itulah Dimas tahu kalau Dinda sedang hamil.
Beberapa saat lalu.
Dimas baru saja tiba di depan halte gedung perkantoran seperti biasa untuk drop beberapa bahan untuk menu racikan baru. Dia sudah menghubungi anak buahnya untuk mengambilnya di jok paling belakang.
Dimas sengaja tidak masuk ke area parkiran dan malah berhenti di depan karena dia tidak berencana untuk ke salah satu cabang Cafenya hari ini. Dia sudah janji meeting dengan seseorang dalam waktu 20 menit lagi.
Dimas agak bingung karena lobby jauh lebih ramai dari biasanya. Dari kaca mobil dia hanya bisa melihat semua pandangan mengarah ke bagian tengah.
‘
‘Sedang ada apa ya?’, pikirnya dalam hati.
Pegawai Dimas berlari keluar menemuinya sebentar di kaca mobil.
“Ambil di jok belakang, langsung tutup setelahnya ya. Maaf saya mau buru - buru meeting.”, ujar Dimas.
“Baik.. siapp Pak.”, jawab karyawannya.
“Eh eh tunggu, itu ada apa?”, tanya Dimas yang tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
“Itu Pak. Ada yang ketahuan selingkuh. Oh? Saya baru ingat. Perempuan yang waktu itu Pak Dimas bantu bawakan barangnya ke atas. Pas mesan kopi. Yang Pak Dimas suruh saya pura - pura ada pesanan diatas. Saya kira itu pacar Pak Dimas. Ternyata ketahuan selingkuh sama bosnya. Eh, dituduh.. Terus ada bos satu lagi turun ke bawah …”, jelas karyawannya.
Namun belum sempat karyawannya menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah membuka pintu mobil dan berlari masuk.
“Eh? Pak Dimas? Pak?”, teriak karyawan itu.
Dimas bahkan membiarkan pintu mobilnya terbuka.
“Waduh.. Si bapak terlampau tajir apa gimana, ya. Itu pintu mobil belum ditutup, ada dompet, hape, segala macam di dalam. Untung saya orang baik. Yah.. harus nunggu disini deh sampai bapak balik.”, ujar karyawan itu kebingungan.
Dia tidak punya pilihan lain selain menunggu Dimas kembali. Dia juga menutup pintu di arah kemudi setir.
Dimas berlari ke dalam. Saat sudah tiba, dia berusaha melewati beberapa orang.
“SOMEONE CALLS AN AMBULANCE?”
Saat itulah Diomas mendengar suara bariton Arya yang kuat dan langsung menyadari seperti apa situasi yang mungkin terjadi. Dimas langsung maju dan melihat. Tanpa berpanjang lebar, dia langsung menawarkan mobilnya yang jelas - jelas masih terparkir di depan.
__ADS_1
Dia tak butuh penjelasan apapun sekarang. Dia hanya perlu membawa istri sahabatnya ini ke rumah sakit terdekat, segera.