Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 231 Keraguan Arya sebelum Dinda Sadar


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Dinda sadar. Arya masih setia menunggu di ruang inap. Ibas baru saja datang membawakan beberapa baju untuk Dinda dan Arya. Mungkin besok Arya masih belum bisa ke kantor dan harus izin. Tapi untuk berjaga - jaga, Dia tetap meminta Ibas untuk membawakan pakaian kerjanya serta beberapa keperluan lainnya.


“Mas Arya, mas kelihatan capek sekali. Keluar cari angin segar dulu sana. Disini biar aku yang gantian jaga. Lagipula menurut dokter, Dinda masih beberapa jam lagi sadarnya.”, Ibas setidaknya sudah mengulang perkataan ini sebanyak dua kali sebelumnya. Namun Arya nampak belum juga beranjak.


Tuing Tuing Tuing.


Ibas pikir itu adalah bunyi ponsel Arya. Lucu sekali bunyinya. Ibas langsung menatap Arya tidak percaya. Mengapa bunyi dering ponselnya bisa jadi se-cute itu.”, ujar Ibas.


Arya beranjak, bukan untuk mengambil ponselnya. Tetapi mengambil sesuatu di tas milik Dinda. Ya, ternyata nada dering itu berasal dari dalam tas Dinda.


Arya tidak berencana membukanya, namun tampilan notifikasi chat yang ada di bagian atas tanpa sengaja terbaca oleh Arya.


Din, bagaimana ceritanya? Kamu beneran istri Pak Arya—dari seseorang di divisi Digital and Development yang sama sekali tidak dikenal Arya.


Din, kamu yang benar? Mana mungkin deh kamu istrinya Pak Arya. Ya, kan?Tadi cuma prankkan? Atau lagi akting?---lagi dari orang yang berasal dari divisi Digital and Development. 


Arya mengetahuinya karena Dinda selalu menandai nama mereka dengan menggunakan DD di belakang namanya.


Dinda? Ini aku Silvia dari Divisi Business and Partner yang pernah satu grup dengan kamu saat Outing. Boleh tanya. Kamu dan Pak Arya sudah menikah—-Arya seperti kenal dengan namanya. 


Tak berapa lama Arya memegang ponsel itu, muncul sebuah notifikasi yang berasal dari email. Arya juga bisa melihat isinya sedikit. Arya tahu email dari siapa itu hanya dengan melihat namanya.


Itu adalah Email dari Alex, salah satu manager yang ada di HRD.


Dear Dinda Lestari, 

__ADS_1


Considering the incident and news we received today at the lobby. I’d like to meet and discuss with you in person. Please let me know your available time when you’re in a good condition. Thanks! 


Singka, padat, dan jelas. Di perusahaan dimana Arya dan Dinda bekerja, HR team dibagi berdasarkan klasifikasi posisi pegawai. Alex, merupakan Manager HR yang bertugas khusus mengurusi anak intern baik durasi satu tahun, 6 bulan, maupun jenis summer intern yang durasinya hanya 3 bulan.


Kemudian, dia juga bertugas mengurusi Management Associate seperti Suci.


Sementara untuk level yang sudah seperti Arya ke atas, ada lagi HR dengan level berbeda yang mengurusnya. Oleh karena itu, Alex merasa sangat terkejut dengan kabar yang dia dengan sore ini dari beberapa orang karyawan. Mereka yang ingin ditampilkan sebagai anonim memberikan protesnya terhadap Dinda yang ternyata memiliki hubungan khusus atau keluarga dengan Arya dan dicurigai mendapatkan perhatian, perlakukan, dan penempatan khusus.


Sebelumnya, Arya memang sudah sempat berdiskusi dengan HR. Namun, dia baru berdiskusi dengan HR yang mengurusnya bukan HR yang mengurusi Dinda. Arya berharap cepat atau lambat mungkin HR yang mengurusinya yakni Gerald (Head of HR) akan langsung berbicara dengan Alex, namun ternyata pada kenyataannya belum.


Hanya dengan membaca isi email itu, Arya sudah bisa mengetahui apa konteks pembicaraan yang diinginkan oleh Alex terhadap Dinda. Emailnya straight to the point dan terkesan dingin. Sebagai seorang suami, Arya tentu khawatir dengan istrinya jika nanti bertemu dengan Alex.


Namun, sebagai seseorang dengan posisi yang lebih di atas di kantor yang sama, Arya juga harus menjaga profesionalitasnya. Dan hal itu sangat sulit sekali.


Membaca respon - respon yang diberikan oleh beberapa orang di ponsel Dinda, Arya sudah bisa membayangkan bagaimana mereka akan meminta penjelasan kepada Dinda.


“Bas, mas titip Dinda sebentar.”, ujar Arya pada Ibas kemudian langsung membuka pintu untuk keluar kamar.


“Halo.”, jawab Arya Arya sambil menutup pintu kamar pelan.


Pria itu bergerak menuju lorong yang lebih sepi untuk mengangkat telepon. Tak berapa lama, dia menemukan balkon dimana dia bisa menghirup udara malam yang segar.


“Arya? Are you okay? Aku baru saja mendengar insiden tadi siang dari orang - orang kantor. Sehabis keluar bersama Dika, aku tidak kembali ke kantor dan lanjut ke tempat lain. Bagaimana keadaan Dinda?”, tanya Erick terdengar khawatir.


“Dia baik - baik saja. Hanya sampai sekarang belum siuman.”, jawab Arya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan bayinya? Baik - baik saja?”, tanya Erick lagi dengan nada yang penuh kehati- hatian. Dia sangat takut jika dia berbuat kesalahan dalam bertanya untuk permasalahan ini.


“Hm.. mereka berdua baik - baik saja.”, balas Arya dan langsung membuat Erick merasa lega.


“Fuh… What the hell was happening? I mean. Aku melihat video yang tersebar. Perempuan itu menjambak Dinda? Apa yang sebenarnya terjadi?”, Erick memulai pertanyaannya dengan memastikan kabar keduanya.


Kemudian, barulah dia menggebu - gebu bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia khawatir dan tidak tahu apakah ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk membantu.


“I don’t really know. Aku sedang di atas bersama Siska mendiskusikan sesuatu. Kemudian Siska mendadak mendapatkan kiriman video live dari seseorang yang terjadi ada Dinda di dalamnya. Aku langsung berlari ke bawah dan semua terjadi begitu cepat. Dinda sudah entah terdorong atau bagaimana tapi dia mengalami pendarahan.”, jelas Arya.


Tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan penjelasan dari Arya.Erick adalah salah satu dari mereka.


“Pasti ada kesalahpahaman disini. Dinda, It’s impossible, right?”, kata Erick.


“Entahlah. Aku ingin menjawab tentu saja. But, this is Dika. Aku yakin Dinda bukan orang seperti itu. Tapi saat … ah sudahlah.. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami.”, ujar Arya kemudian seolah ingin mengakhiri teleponnya.


Arya kembali memikirkan kejadian tadi. Dia begitu yakin jika istrinya tidak seperti yang dituduhkan. Tapi ada pikiran - pikiran lain yang tiba - tiba muncul di kepalanya.


Bukankah dulu dia juga tidak yakin kalau Sarah akan mengkhianatinya dan pada akhirnya semua jadi begitu.


‘Pria bajingan itu. Aku sudah memperingatkannya untuk tidak pernah macam - macam pada Dinda dan dia tidak mengindahkan peringatanku sama sekali. Brengsek.’, Arya menendang apa yang bisa dia tendang di depannya.


‘No, she’s not like that. Arya, sadar. Berkali - kali kamu meragukan dia dan mungkin karena itu juga dia tidak meyakinimu.’, ujar Arya dalam hati.


Arya kembali teringat pada pesan - pesan chat yang masuk ke ponsel Dinda. Kalau saja Dinda setuju untuk mengakui hubungan mereka sejak awal, apakah semua ini bisa mereka bendung. Mungkin setidaknya mereka tidak akan terlalu kaget seperti sekarang ini. Selingkuh? Tidak hanya tentang hubungan Dinda dan Arya tetapi juga Dinda harus menjelaskan tentang perselingkuhan.

__ADS_1


‘It’s too much for her.’, ujar Arya dalam hati.


__ADS_2