Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 234 Kerja di Rumah Sakit


__ADS_3

Dinda sudah tertidur setelah menghabiskan sarapannya. Dia sempat bermain game online sebentar lewat game console yang dipinjam oleh Arya untuknya. Untuk saat ini, Arya tidak memperbolehkan Dinda melihat ponselnya sampai dia benar - benar pulih dan sudah boleh pulang.


Dinda tahu benar alasannya. Dia tidak akan berdebat untuk ini. Lagipula, berkat hal itu dia bisa lebih tenang menjalani hari dan tidak perlu mengkhawatirkannya sekarang. Nanti saja.


“Mas Arya lihat ponsel aku ga?”, tanya Dinda pagi ini setelah Dimas dan dr. Rima pamit pulang. 


“Ponsel kamu aku simpan sementara. Arga dan Bunda sudah aku hubungi. Kalau kamu mau telpon, pakai ponselku saja.”, ujar Arya. 


Dinda tidak bertanya lagi setelahnya. Hanya saja dia terlihat sangat bosan dan bingung mau melakukan apa. Mata belum mengantuk dan dia hanya bisa duduk melamun. Arya kemudian inisiatif memberikan sebuah goodie bag berisi beberapa barang padanya. 


“Hm?”, Dinda bingung saat Arya menyodorkan goodie bag itu padanya. 


Arya tidak menjawab dan meminta Dinda melihat ke dalam goodie bag itu sendiri. Arya kemudian lanjut duduk di sofanya dan bekerja. 


“Woah.. “, Dinda merasa senang melihat apa yang ada di dalamnya. 


Pertama, ada game console milik Arya yang terpajang rapi area santai di kamar mereka. Dinda pernah mencobanya diam - diam. Kali ini Arya memberikannya. Kedua, ada novel romantis. Dinda bukan tipe yang senang membaca novel romantis. Dia juga kaget Arya punya novel - novel ini. 


Meski di ruang kerja Arya banyak sekali buku, Dinda baru sadar hingga saat ini dia belum pernah melihatnya apa saja buku yang ada disana sama sekali. Sepertinya hal yang pertama ingin dia lakukan nanti kalau sudah sampai di rumah adalah melihat apa saja buku yang Arya punya. 


Ketiga, ada puzzle unik dalam kotak. Masih baru. Sepertinya milik Ibas, karena Arya tidak punya puzzle - puzzle ini sama sekali. 


Kemudian, ada alat rajut mini. Mungkin ini mainan milik mba Andin. Meski dia sudah memiliki anak, hal unik yang dilakukan mba Andin adalah dia senang sekali membeli alat - alat rajut seperti ini. 


Dinda tersenyum melihat barang - barang yang ada di dalamnya. Dinda seolah berencana untuk mencoba semuanya saat itu juga. Namun, baru sekitar satu jam bermain game console, Dinda langsung tertidur sambil memeluk goodie bag dan juga game console di tangannya. 


Melihat Dinda yang masih tertidur, Arya berdiri dan melepas hijabnya. Pria itu mengecupnya pelan dan menaikkan selimut gadis itu ke atasnya. Arya juga menarik gorden pembatas yang menutup kasur pasien agar tidak tertutup karena sebentar lagi Siska dan Susan akan datang untuk mendiskusikan sesuatu. 


**********


“Heh, kita ga mau jenguk Dinda? Dengar - dengar dari Pak Erick, Dinda sepertinya mengambil cuti sakit 4 hari. Kemungkinan sekarang di masih di rumah sakit.”, ujar Fas pada Delina, Suci, Bryan, dan Andra.


Saat itu mereka sedang makan siang bersama seperti biasa.


“Aku tidak tertarik.”, ujar Suci.


Bryan dan Andra tidak menjawab. Delina masih melanjutkan makannya.


“Kalian kenapa?”, tanya Fas.


“Aku setuju dengan usul Fas. Lagipula aku memang berencana akan menjenguk Dinda sore ini.”, tutur Bryan setelah berhasil mengunyah bakso super yang dipesannya.


“Aku masih belum bisa berhadapan dengan Dinda tanpa bertanya apapun. Ada seribu pertanyaan yang ingin aku sampaikan padanya.”, ujar Delina.


“Hayolah, pasti ada alasan Dinda menyembunyikan status pernikahannya.”, ujar Fas.


“Kenapa? Masa ke teman yang dekat meja aja ga beritahu sama sekali.”, ujar Delina masih kesal.


“Hah, Dinda dan Pak Arya? Jujur aku juga masih belum bisa menerimanya.”, kata Andra meletakkan sendoknya. Ada bunyi yang keluar karena dia meletakkannya dengan kasar.


“Memangnya kamu siapanya Dinda? Belum bisa terima.”, ujar Bryan.


“Setidaknya sekarang kita tahu kalau Dinda itu perempuan baik - baik. Tidak seperti yang beberapa waktu lalu dituduhkan padanya.”, lanjut Bryan.


“Bry, jangan - jangan kamu dan Suci sudah tahu lebih dulu. Reaksi kalian berdua tuh persis dengan reaksi Pak Erick. Tidak ada kaget - kagetnya sama sekali. Benar, kan?”, tanya Delina.


“Benar Bry? Kamus sudah tahu lebih dulu. Ci?”, tanya Andra dengan geragas.

__ADS_1


“Aku tidak sengaja melihat Pak Arya menurunkan Dinda dan beberapa interaksi mereka di parkiran gedung depan. Awalnya aku juga mengira Dinda dan Pak Arya hanya sebatas pacaran. Who knows, kalau ternyata mereka juga sudah menikah.”, ujar Bryan menjelaskan agar yang lain tidak salah paham.


“Kalau kamu Ci?”, tanya Andra.


Fas juga menoleh ke arah temannya itu karena ikut penasaran.


“Kenapa kita harus membahas mereka terus sih? Seperti tidak ada pembahasan lain saja.”, respon yang tidak terduga keluar dari Suci.


Semua langsung terdiam.


“Tapi, menurut kalian hubungan Dinda dan pak Dika itu tidak benar kan? Meskipun aku masih marah, tapi aku tidak percaya kalau Dinda seperti itu.”, kata Delina beberapa menit setelah respon tak terduga dari Suci.


“Siapa tahu, mungkin saja dia memang ada main dengan Pak Dika.’, ujar Suci melemparkan bola panas.


‘Lagipula heran, seperti tidak ada wanita lain saja. Kenapa semuanya harus mengincar wanita yang sama. Memangnya apa sih lebihnya si Dinda itu.’, ujar Suci kesal dalam hati.


“Walaupun aku kesal karena Dinda tidak memberitahukan hubungannya dengan Pak Arya, tapi aku tidak percaya kalau Dinda punya hubungan seperti itu dengan Pak Dika. Sepertinya ada yang sedang mengadu domba mereka. Maksudnya Dinda tuh sudah dapat Pak Arya yang perfect seperti itu, mau yang bagaimana lagi. Mana mungkin dia sempat main mata dengan laki - laki lain. Apalagi Pak Dika.”, ujar Andra bersemangat.


Pria ini memang aneh. Meski hatinya patah mengetahui Dinda sudah ada yang punya, tapi penilaian objektifnya terhadap gadis itu juga masih sama.


“Ya sudah, jadi yang mau jenguk Dinda nanti sore siapa saja?”, kata Fas mengulangi lagi kata - katanya.


“Tunggu, memangnya kita masih bisa jenguk sore - sore? Sepertinya jam besuk rumah sakit itu dibatasi deh. Weekend aja, weekend.”, protes Delina.


“Tadi katanya ga mau ikutan. Ga mau berhadapan dulu dengan Dinda.”, kata Fas bingung.


Delina tidak menjawab.


“Ya sudah, wiken ya.”, kata Fas menarik kesimpulan.


“Eh.. tapi kalau kita jenguk Dinda, pasti ada Pak Arya kan disana? Hm.. duh serem.”, ujar Andra baru memikirkannya sekarang.


“Ah.. benar juga. Tapi, aura killer nya itu loh.”


“Jadi atau enggak nih?”, Fas kembali bertanya.


“Iya, iya.”, jawab yang lain.


“Suci, kamu ikutan ga?”, tanya Fas karena perempuan itu tidak menjawabnya. Dia sibuk menghabiskan makanannya sejak tadi.


“Lihat dulu.”, jawab Suci jutek.


“Ya sudah kalau begitu.”


*********


“Halo, Pak Arya. Kita sudah sampai di lobi rumah sakit.”, ujar Siska melalui ponselnya.


“Ya sudah langsung naik saja.”, ujar Arya memberikan izin.


Tak berapa lama, ada yang mengetuk pintu kamar pasien tempat Dinda dirawat. Arya sudah bisa menebak kalau itu adalah Siska. Arya berdiri dan langsung membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia saat yang ada di depan pintu ternyata bukan Siska dan Susan, tetapi justru Dika, orang yang paling tidak ingin dia lihat saat ini.


“Mau apa kamu kesini?”, ucap Arya dengan tegas. Dia bahkan tidak membukakan pintu untuk Dika. Arya keluar dan kembali menutup pintu itu.


“Apa Dinda baik - baik saja.”, tanya Dika dengan suara pelan.


“Kenapa? Kamu ingin memastikan kalau apa yang kamu inginkan sudah berhasil?”, ujar Arya yang sedang mengepalkan tangannya dengan keras.

__ADS_1


Pria itu berusaha untuk tidak menghajar orang yang ada di depannya dan menahan emosinya agar tidak membuat keributan di rumah sakit.


“Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Tapi, aku sama sekali tidak berniat untuk mencelakai Dinda, sedikitpun. Aku tahu sekarang sudah sangat terlambat. Aku beberapa kali mencoba menemuimu untuk menjelaskan.”, ujar Dika.


“Aku tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutmu. Di kantor, aku bisa menahan diri untuk bersikap profesional. Namun sekarang kita di rumah sakit. Aku tidak ingin melihat atau berbicara denganmu.”, kata Arya dengan tegas dan berniat untuk kembali masuk ke kamar pasien.


“Sarah beberapa waktu lalu memintaku untuk mendekati Dinda. Berusaha membuat kamu membencinya sampai kalian berpisah. Aku menolaknya dan aku berusaha mengatakannya padamu. Tapi kamu yang tidak pernah punya waktu. Aku meminta kita berdua berbicara beberapa kali namun kamu selalu menolaknya. Dan dugaanku benar. Meski bukan dariku, dia memutar rencananya dan menghasut istriku untuk membuat keributan di kantor.”, jelas Dika mencoba mencari penjelasan yang paling cepat dan singkat di waktu yang sangat tipis.


Meski hal ini tidak mempengaruhi hubungannya dengan Arya sama sekali. Tetapi, dia merasa perlu untuk mengklarifikasi dirinya. Dia tidak memiliki niat buruk apapun terhadap Dinda.


“Aku memang sempat mengagumi istrimu. Tapi tidak untuk melakukan hal buruk padanya. Tidak sama sekali. Bahkan rencanaku untuk masuk ke perusahaan yang sama denganmu tidak ada maksud buruk sama sekali. Aku hanya penasaran padamu dan kemudian membawaku pada Dinda.”, lanjut Dika.


Selagi Arya belum masuk dan masih berhenti di depan pintu, itu berarti pria itu masih bersedia untuk mendengarkannya. Dika harus memanfaatkan waktu ini dengan baik.


“Aku ke parkiran untuk mengambil sesuatu. Tiba - tiba Dinda sudah berlari seperti sedang di kejar sesuatu. Wajahnya pucat. Aku hanya mencoba untuk memberikan ruang untuknya beristirahat dengan menawarkan singgah di Cafe milik Dimas sebentar. Aku bahkan tidak tahu jika istriku bisa datang dan tiba - tiba menyerang. Aku sedang menyelesaikan bagian itu dan memastikan istriku meminta maaf pada Dinda.”, jelas Dika.


Arya masih belum berbalik, namun Dika nampaknya masih ingin menceritakan sesuatu.


“Aku tahu kamu tidak suka dengan kehadiranku disini. Namun, berapa kalipun aku berpikir, ada yang aneh dan lepas dari pandanganku karena pertengkaran tak terduga itu. Telah terjadi sesuatu dengan Dinda di parkiran basement. Dia tidak baik - baik saja dan hal itu luput dari perhatianku. Aku tidak benar - benar memperhatikannya. Aku tidak tahu apakah dia sudah menceritakannya, tapi setelah aku pikir - pikir lagi, dia terlihat lost dan bingung saat itu.”, Dika melanjutkan.


“Aku hanya ingin menyampaikan itu. Aku harap Dinda baik - baik saja.”, setelah mengatakan kalimat itu, Dika langsung pergi.


Arya masih terdiam disana berusaha mencerna semua yang dikatakan oleh Dika. Jika perkataannya benar, kenapa Dinda tidak menceritakan hal itu padanya.


“Selamat Siang Pak Arya.”, tak berapa lama, Siska dan Susan datang. Mereka juga membawa beberapa makanan dan buah.


“Pak Arya?”, Siska memanggil sekali lagi karena sepertinya Arya tidak bergeming.


“Oh? Ah.. kamu sudah disini? Sorry, saya sedang memikirkan sesuatu. Silahkan masuk.”, ujar Arya pada dua karyawannya.


“Maaf Pak Arya, kita jadi mengganggu. Saya kira ada yang menjaga Dinda selain Pak Arya dan kita bisa diskusi sebentar di luar.”, begitu masuk, Susan melihat area tempat tidur pasien sudah ditutup dengan tirai. Mungkin Dinda sedang istirahat.


Dia mendadak merasa tidak enak karena harus melakukan meeting di dalam ruang pasien.


“Tidak apa - apa. Dinda sudah tertidur cukup lama. Dia hanya perlu bedrest. Selebihnya dia baik - baik saja. Tidak perlu khawatir.”, ujar Arya.


“He-he.. Baiklah kalau begitu. Saya akan mencoba untuk tidak terlalu ribut.”, ucap Susan.


Jujur, dia masih belum terbiasa dengan situasi ini. Kenyataan bahwa Dinda adalah istri Arya dan sekarang pria itu sedang menunggunya masih sangat asing untuknya. Rasa kecewa dan cemburu itu tentu saja masih ada. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Namun, beberapa tahun bekerja dengan Arya, Susan cukup tahu bahwa pria itu adalah pebisnis yang profesional. Dia tidak akan meladeni sikap - sikap seperti itu.


Business is a business.


“Saya ingin melanjutkan diskusi yang minggu lalu sudah kita sepakati. Saya tidak bisa menggeser waktu eksekusi project karena akan berdampak pada divisi lain yang sudah mempersiapkan kebutuhannya.”, ujar Susan membuka diskusi dengan memberikan faktanya terlebih dahulu.


“Saya mengerti. Saya sudah menggeser semua meeting yang bisa saya geser. Saya tahu kalau meeting yang ini tidak bisa kita geser. Kamu sudah siapkan rangkumannya? Saya akan pelajari hari ini dan langsung tanda tangani.”, ujar Arya membuka laptopnya.


“Iya Pak, saya sudah mengirimkan ke email Bapak pagi ini. Jadi, untuk bagian…”, selama kurang lebih 20 menit, Susan mulai menjelaskan informasi - informasi yang membutuhkan masukan dari Arya selaku kepala Divisi Business and Partners.


Sembari berdiskusi, Siska nampak memberikan beberapa kertas dan dokumen untuk Arya tanda tangani.


Entah karena lelah atau memang nyaman dengan kamarnya, tak sedetikpun Dinda terbangun meski suara diskusi itu terus berlanjut hingga satu setengah jam kemudian. Arya memang sangat mengenal istrinya.


Di rumah pun, Dinda selalu dibantu dengan alarm. Namun, ada beberapa waktu tertentu yang sudah menjadi kebiasaannya. Sehingga, saat waktu - waktu itu datang, Dinda sudah otomatis terbangun.


“Terima kasih Pak Arya sudah menyempatkan diri untuk mendiskusikan project ini.”, Susan menutup diskusi hangat mereka pagi menjelang siang itu.


“Pak, ini ada beberapa dokumen yang perlu Pak Arya tanda tangani. Semuanya sudah didiskusikan minggu lalu. Beberapa revisi juga sudah dilakukan.”, kata Siska menyodorkan kembali beberapa dokumen terpisah dari project Susan untuk Arya tanda tangani.

__ADS_1


Arya memeriksanya sebentar sebelum kemudian membubuhkan tanda tangannya disana.


“Thanks Pak Arya.”, ujar Siska kembali menyusun dokumen - dokumen tersebut.


__ADS_2