Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 188 Mencari Tahu


__ADS_3

Sejak pertemuannya beberapa waktu lalu dengan Rima, Dika masih tak bisa melupakannya. Saat itu, dia tak punya pilihan selain menelan bulat - bulat semua kenyataan di depannya karena Rima memaksanya. Dika juga tidak berpikir dengan jernih saat itu.


Selama pertemuan pertama mereka, ‘Menikah’ hanyalah status yang dia dengar. Dia belum tahu kalau konsekuensinya adalah, Rima memiliki suami dan anak. Selama dua hari ini, dia berpikir dalam tentang semua kata - kata Rima padanya.


Dika mendadak merasa penasaran dengan siapa Rima menikah. Jika umur anaknya mirip dengan umur anak Dika, seharusnya jarak pernikahan Rima dengannya tidak begitu jauh. Tapi, 10 tahun lalu, dia masih ingat bagaimana kesan perpisahan mereka. Tidak baik - baik.


Lalu, bagaimana bisa Rima mengenal orang yang baru secepat itu dan memutuskan untuk menikah? Kecuali Rima selingkuh di belakangnya. Hal yang lebih tidak mungkin karena sepengetahuan Dika, Rima sangat gigih dengan nilai akademiknya.


Dia tidak ragu menghabiskan waktu yang lama di perpustakaan untuk belajar. Jadi, dimana Rima bisa memiliki waktu untuk berselingkuh sementara untuk bertemu dia saja sudah sulit menemukan waktu.


‘Apa suaminya juga berprofesi sebagai seorang dokter?’, Dika terus bertanya - tanya dalam hati.


“Kamu tidak ke kantor? Apa kamu tidak akan dipecat jika terus - terusan begini?”, tanya Rianti pada Dika yang masih setia di ruang kerjanya.


“Ada apa denganmu belakangan ini?”, tanya Dika bingung dengan sikap Rianti yang tiba - tiba berubah.


Dia lebih sering di rumah selama dua hari ini. Hal yang membuatnya lebih kaget lagi, wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu juga rutin menanyakan keadaannya. Hal yang tidak biasa dari seorang Rianti.


“Bagaimana kalau tiba - tiba aku memutuskan untuk menjadi istri yang baik?”, ucap Rianti.


Dika tertawa lebar sebagai respon refleks darinya mendengar pernyataan dari istrinya itu.


“Jangan melakukan hal - hal yang tidak pernah kamu lakukan. Cukup urusi saja urusanmu dan aku juga akan mengurusi urusanku. Hah.. tadinya aku masih ingin di rumah, tapi kamu membuatku ingin ke kantor.”, ujar Dika.


*********


“Permisi, saya ingin bertanya. Apa dr. Rima ada shift praktek hari ini?”, tanya Dika pada salah seorang petugas administrasi.


“Maaf, bapak ada keperluan apa?”, tanya petugas tersebut.


“Hem.. saya hanya ingin kontrol kesehatan anak saya.”, jawab Dika.


“Anak Bapak umur berapa? Kebetulan dr. Rima hanya menangani bagian obgyn saja. Untuk dokter anak, Bapak akan kami rujuk ke dokter spesialis anak. Sebelumnya sudah pernah kontrol di rumah sakit ini?”, tanya petugas tersebut.


‘Ah.. sudah kuduga. Sulit untuk mendapatkan informasi di sini. Hem.. aku coba cari petugas lain saja.’, pikir Dika dalam hati.


Dika berjalan - jalan ke area di sekitar ruangan praktek dr. Rima. Dia tidak masuk dan hanya duduk diantara sekian banyak orang yang mengantri disana. Dika melihat ada seorang petugas kebersihan dan mungkin bisa menjadi informan yang tepat untuknya.


“Permisi, saya tidak melihat dr. Rima hari ini. Kemana ya?”, tanya Dika basa - basi.


Petugas kebersihan itu nampak bingung.


“Ah.. saya temannya, kebetulan istri saya sedang di dalam untuk melakukan pemeriksaan, tadi saya ke toilet terlebih dahulu. Kami lebih senang periksa dengan dr. Rima tapi tidak dapat antrian.”, ujarnya mengarang cerita.


“Oh.. iya.. Banyak sekali yang ingin kontrol kehamilan dengan dr. Rima. Orangnya sangat ramah. Kebetulan hari ini memang tidak praktek. Kenapa tidak langsung menghubunginya?”, tanya petugas kebersihan itu heran.


“Tadinya saya ingin memberikan kejutan, ha-ha. Hm.. suami dokter Rima, kalau tidak salah dokter disini juga ya?”, tanpa basa - basi Dika berusaha mencari informasi sebelum petugas ini merasa curiga dengannya.


“Hm? Suami? Setahu saya dokter Rima masih sendiri. Aaah.. tapi beliau sudah punya anak laki - laki. Saya tidak begitu jelas detailnya. Takut salah bicara.”, petugas kebersihan itu sadar dia telah keceplosan berbicara.


Alhasil, dia terlihat bingung bagaimana kembali menarik ucapannya.


“dr.Rima masih sendiri?”, tanya Dika kembali memastikan.


“Maaf, saya permisi dulu. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Mari, Pak.”, ujarnya sambil membawa perkakasnya pergi menjauh.


‘Masih sendiri? Rima belum menikah? Tapi kenapa dia mengatakan dia sudah menikah? Aku juga tidak pernah menanyakan dengan siapa dan apa profesi suaminya. Jika aku mencoba menemuinya, apa dia masih mau menemuiku?’, kata Dika bertanya - tanya dalam hati sambil berjalan keluar rumah sakit.


‘Atau aku mengikutinya saja? Aah.. sejak kapan kamu jadi stalker, Dikaa.’


Saat Dika berdebat dengan pikirannya sendiri, saat itu pula orang yang dia tunggu - tunggu tiba - tiba muncul tak berapa jauh dari tempat mobilnya di parkir.

__ADS_1


“Rima?”


Dika langsung turun dari mobilnya dan memanggil Rima. Ia langsung berdiri di depannya dan memegang lengannya.


“Hey, aku benar - benar tidak menyangka bisa menemuimu disini. Apa kabar?”, tanya Dika seolah mereka sudah beberapa minggu tak bertemu.


Padahal pertemuan terakhir mereka baru hitungan beberapa hari saja.


“Dika? Ada urusan apa kamu kesini?”, tanya Rima kaget melihat pria itu ada di depannya.


Sejujurnya, Rima juga sulit melupakan kesan pertemuan terakhir mereka beberapa waktu lalu. Dia berharap dengan bersikap begitu, Dika berhenti menemuinya. Tapi dia salah. Pria itu sekarang justru menemuinya lagi.


“Menemui kamu.”, kata Dika to the point.


“Kamu tidak bekerja? Bukankah jam segini seharusnya kamu berada di kantor?”


“Aku mau berbicara dengan kamu. Bisa aku meminta waktu kamu sebentar?”


“Berbicara tentang apa? Dika, come on. Aku sudah bilang, aku senang bisa bertemu kamu kembali. Tapi hanya sekedar itu saja. Tidak lebih. Kita sudah memiliki kehidupan masing - masing. Aku berharap kamu paham dengan itu.”


“Kehidupan masing - masing? Bagaimana kalau kehidupan itu bukanlah kehidupan yang aku inginkan?”


“Lalu, cari kehidupan yang kamu inginkan. Bukan terus mendatangiku seperti ini.”


“Bagaimana jika kehidupan yang aku inginkan itu adalah kamu?”


“Apa?”, Rima tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.


“Dika. Hati - hati kalau berbicara. Kamu memiliki istri dan anak di rumah. Jangan membentangkan garis abu - abu pada hubungan kita.”, Rima melepaskan pegangan tangan Dika dan kembali berjalan maju ke depan.


“Akhirnya kamu berbicara tentang hubungan kita.”, Dika kembali mengejarnya dan menghentikan langkah wanita itu.


“Kamu belum menikah kan? Kamu mengaku sudah menikah hanya untuk membuatku mundur. Iya, kan?”


Dika melepaskan pegangan tangannya.


“Baik. Setidaknya jawaban yang aku inginkan sudah aku temukan hari ini. Aku akan kembali untuk menemukan jawaban yang lain.”, kata Dika sebelum akhirnya membiarkan Rima pergi.


********


‘Menarik sekali hubungan mereka. Hal yang tidak pernah aku duga dari seorang Dika Sadewa. Saat menemuiku, dia tidak banyak bercerita tentang wanita lain dalam hidupnya kecuali Rianti. But, look. Ha-ha. Jadi wanita itu yang membuat kamu menjauh dariku.’, kata Sarah sambil memandang hasil potret yang dia ambil pagi ini di parkiran rumah sakit.


“Hai, sudah lama menunggu?”, tanya Dimas yang baru datang menghampiri Sarah.


“Tidak. Kamu sibuk belakangan ini? Bahkan untuk bertemu sekali - sekali saja sudah sangat sulit. Sedang buka cabang yang baru lagi?”, tanya Sarah sambil melihat - lihat menu makanan.


“Tidak, hanya beberapa urusan pribadi. Ada apa kamu memanggilku kesini?”, tanya Dimas.


“Tidak. Hanya butuh teman mengobrol saja.”, jawab Sarah.


“Bagaimana hubungan Arya dengan wanita itu, kamu kan di gedung yang sama dengan mereka. Pasti kamu sering melihat mereka, kan.”


“Sarah, sudahlah. Untuk apa kamu menaruh perhatian pada hubungan mereka. Lanjutkan hidupmu, jangan terus bergantung dengan Arya. Dia sudah melupakanmu.”


“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Menyebut nama Arya hanya akan membuat kita bertengkar. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu malam ini.”


“Alasanku menerima ajakanmu untuk bertemu hanya satu. Aku ingin bertanya tentang teman kencanmu itu.”, kata Dimas dengan wajah serius.


“Siapa? Dika, maksudmu?”, tanya Sarah.


“Memangnya kamu punya teman kencan yang lain?”, tanya Dimas.

__ADS_1


“Hm.. tergantung. Ha- ha. Kenapa dengan dia?”


“Kamu yakin kamu tidak tahu menahu mengenai alasannya masuk ke perusahaan yang sama dengan Arya?”


“Heh.. masih pertanyaan itu. Ya, aku tidak tahu. Aku juga penasaran kenapa dia masuk ke perusahaan yang sama dengan Arya. Aku sudah berkali - kali bertanya padanya. Tetapi dia tidak pernah menjawabku serius.”, terang Sarah.


“Baik. Anggap saja aku percaya padamu. Sekarang aku ingin bertanya. Jadi, menurutmu kenapa dia ingin berada dekat dengan Arya?”


“Entahlah, mungkin dia hanya penasaran seperti apa orang bernama Arya yang sering aku ceritakan padanya. Mereka juga sempat bertemu kan sebelumnya. Dika memang seperti itu. Dia penasaran dengan pria yang berada di dekatku. Tapi, mungkin sekarang situasinya bisa berbeda.”


“Apa maksudmu?”, tanya Dimas heran.


“Hm.. sepertinya Dika sudah punya mainan baru.”


“Sarah, jawab aku. Apa maksudmu?”, tanya Dimas.


“Berhentilah penasaran. Kamu tidak bisa melakukan apa - apa untuk merebut Dinda. Untuk apa aku memberitahumu informasi penting ini. Yang penting, dia sudah tidak tertarik dengan Arya. Aku jamin itu. Dia tidak akan mengganggu Arya lagi.”, kata Sarah.


‘Tapi, aku yang akan menggunakannya untuk membawa Arya kembali padaku. Pria itu harus disadarkan. Dia sudah mabuk terlalu lama.’, jawab Sarah dalam hati sambil memberikan senyuman licik.


*********


“Sayang, kamu sudah pulang? Gimana hari ini? Capek, ya?”, Inggit menyapa Dinda seperti biasa di teras rumah.


Dia sudah mendapatkan pesan kalau Arya akan pulang tepat waktu hari ini. Jadi Inggit sengaja menunggu di depan rumah.


“Arya, sering - sering dong pulang tepat waktu seperti ini. Jangan malam terus. Masa, istrinya sudah tidur pulas baru pulang. Nanti anak kamu lupa loh, wajah papanya seperti apa.”, lanjut Inggit lagi.


“Mama ada - ada aja. Bayinya gak akan lupa kok, Ma. Wajah tampan papanya mau dimana lagi ketemunya. Tapi, bisa aja ya ma. Soalnya Arya pernah dengar cerita teman Arya yang istrinya sendiri lupa kalau pernah dicium suaminya di suatu tempat. Sampai dikira suaminya selingkuh sama wanita lain karena dia lupa.”, kata Arya bermaksud untuk menggoda Dinda.


“Eh? Maksudnya gimana, Arya?”, tanya Inggit bingung.


“He-he.. Tidak usah didengarkan ma. Mas Arya lagi aneh karena dia sibuk seharian. Kalau begitu, Dinda naik dulu untuk mandi ya, ma.”, kata Dinda sambil memeluk Inggit sebentar.


“Pa, Dinda naik dulu ya.”


“Iya, Din. Hati - hati naiknya.”, balas Kuswan.


“Hanya Dinda yang mau memberikan perhatian ke kita. Arya? Dia main nyelonong masuk saja, tidak pakai salam sana sini.”, komentar Kuswan yang masih setia membaca koran miliknya.


“Namanya juga Arya, pa. Kulkas 9 pintu. Butuh air yang banyak biar meleleh.”, jawab Inggit.


“Kandungan Dinda baik - baik saja? Papa belum sempat tanya - tanya karena mereka sibuk sekali.”


“Mereka yang sibuk atau papa yang sibuk main golf sama teman - teman papa?”


“Kamu ini, bisa saja mengalihkan pertanyaan.”, Kuswan kembali beralih ke korannya.


“Baik - baik saja, pa. Sehat semuanya. Hanya saja jenis kelaminnya saja yang belum ketahuan. Sepertinya dia malu.”, kata Inggit memberikan teh yang baru saja dibawa Bi Rumi pada Kuswan.


“Jenis kelamin tidak masalah. Yang penting anaknya sehat. Arya punya tanggung jawab lebih. Bayangkan betapa jauhnya dia melangkah ke arah yang lebih baik sekarang. Papa hampir saja menyesal karena tidak mengikuti saran mama untuk menjodohkan Arya dengan Dinda.”


“Tuhkan.. Ha-ha.. Mama juga takjub dengan kemampuan mama menerawang. Kalau mama ingat - ingat waktu pertama kali bertemu dengan Dinda di rumah Ratna. Wah.. jatuh cinta pada pandangan pertama. Pembawaan Dinda itu berbeda sekali dengan yang lainnya. Awalnya mama juga takut kalau Arya menolak dan justru membuat Dinda tidak bahagia. Akhirnya…mama sekarang bisa bernafas lega melihat keduanya.”


“Papa dengar dari Ibas, mama bertemu dengan Sarah di rumah sakit?”, tanya Kuswan.


“Papa? Hm.. Ibas ini. Mama sudah bilang untuk tidak mengatakannya, masih saja.”, Inggit greget.


“Papa yang memaksa. Habis sejak pulang dari rumah sakit waktu itu, ekspresi mama sudah berbeda. Mama tidak perlu khawatir. Papa tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Sarah. Sejak awal, papa sudah tahu kalau Sarah bukan wanita yang baik. Papa yakin, Arya cukup cerdas untuk bisa mengetahui hal itu. Melihat Arya sudah merenovasi apartemennya, papa yakin Arya sudah benar - benar menghapus wanita itu dari hidupnya.”


“Semoga saja wanita itu tidak mengusik lagi kehidupan Arya. Kita sudah pernah memberinya kesempatan dengan merestui hubungan mereka dulu. Tapi, dia justru membuat Arya hampir saja jatuh ke jalan yang salah.”

__ADS_1


“Sudahlah, salah papa mengungkit nama itu lagi. Hati - hati, papa tidak ingin Dinda mendengar pembicaraan ini. Sebaiknya kita tidak lagi menyebut - nyebut nama wanita itu di rumah ini.”, ujar Kuswan dengan tegas.


__ADS_2