
Akhir pekan ditambah dengan libur nasional dan beberapa hari cuti membuat Dinda akan menghabiskan waktunya dengan Arya di sebuah resort di luar negeri.
Minggu lalu setelah Arya sembuh total dan projectnya selesai, Inggit memaksa Arya untuk menggunakan voucher itu.
Pagi hari Inggit sudah sibuk menyiapkan sarapan spesial karena putera pertama dan menantunya akan berbulan madu setelah lebih dari 2 bulan menikah.
“Kamu udah pastikan semua masuk? Semua daftar yang saya sebutkan kemarin sudah di koper?”, tanya Arya pada Dinda yang mengecek bawaannya sekali lagi.
Dinda dibantu oleh Bi Rumi menyiapkan perlengkapan mereka.
Dinda bertugas memeriksa kelengkapan sementara Bi Rumi yang bertugas mengepak, menyetrika, dan merapikan koper. Mereka membawa tiga buah koper. Satu koper pakaian, satu koper perlengkapan mandi, makan, dan perintilan serta satu lagi koper kosong untuk oleh - oleh.
Orang serumah sudah memberikan mereka banyak daftar souvenir dan oleh - oleh yang mereka inginkan.
Pesawat mereka akan take off pukul 6 sore dan akan tiba jam 7 pagi keesokan harinya.
Tujuan mereka adalah Maldives. Tiket pesawat adalah hadiah dari Inggit dan Kuswan sementara hotel adalah hadiah dari tante Meri.
Mereka akan menginap di Hotel Sun Siyam Iru Veli. Penginapan tepi pantai yang atapnya terbuat dari jerami. Masing - masing hotel sudah dilengkapi kamar, tempat untuk berjemur, dan kolam renang mini.
Sejak ide ini dicetus oleh Inggit hingga hari ini sebenarnya perasaan Dinda campur aduk. Di satu sisi, dia sangat senang karena bisa berlibur ke luar negeri dan ini adalah pertama kalinya. Belum lagi dia sudah mencari tahu bahwa banyak sekali aktivitas laut yang bisa mereka nikmati ditempat ini.
Namun disisi lain, dia bingung apa yang harus dia lakukan disana. Ketakutan terbesarnya adalah Arya kembali menagih hal yang menjadi haknya sementara Dinda masih belum tahu mau dibawa kemana pernikahan ini.
Jika Arya hanya ingin main - main, dia tak ingin Arya mengambil kehormatannya. Dinda juga ingin menjaga harga diri dan martabatnya kalau Arya hanya ingin menggunakannya lalu membuangnya.
Apalagi kalau dia sampai hamil. Dia tidak ingin memiliki anak saat calon ayahnya sendiri tidak ada niatan untuk itu.
Saat memutuskan menikah dengan Arya, Dinda sudah mantap untuk ikhlas dan bersyukur atas semua yang terjadi. Dia menganggap serius pernikahan ini dan rela jika suatu saat nanti dia memang harus mengandung anak Arya.
Tapi, perkataan Arya tentang hanya menganggapnya sebagai wanita yang ia bisa tiduri kapan saja dan menyamakannnya dengan teman tidur lainnya membuat hati Dinda patah. Dia memikirkan kembali alasan dia menikahi Arya.
Apa balas budi yang seperti ini yang tante Inggit inginkan? Tentu tidak. Dia orang baik dan pasti juga tidak ingin kebaikannya harus dibalas dengan hal seperti ini.
Ketidakjelasan inilah yang membuat Dinda menolak setiap kali Arya menginginkan lebih darinya.
Dinda tidak bisa menceritakan hal ini pada bundanya karena sudah pasti akan menghancurkan hatinya.
Sampai saat ini, Dinda masih bertahan jika Arya masih sekedar menciumnya. Tapi lebih dari itu, Dinda tidak bisa.
Sayangnya beberapa kali pertahanannya patah karena pesona Arya membuat pendiriannya lemah.
Kejadian malam itu misalnya. Tanpa Dinda sadari, dia tak bergeming dan menolak.
Untung saja Inggit datang mengetuk pintu. Kalau tidak, Dinda sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Dia takut pada liburan ini pertahanannya kembali runtuh.
Apalagi belakangan ini, Pak Arya mulai bersikap lunak, tak jarang dia bersikap manis, dan semua itu seolah menjadi hal yang biasa.
“Non Dinda, ayo turun, Den Arya sudah turun dari tadi membawa dua koper. Yang ini biar bibi bantu. Ada yang masih ketinggalan?”, Bi Rumi membangunkan lamunan Dinda.
Arya sudah turun lima menit yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, mereka harus segera ke bandara.
“Eh iya Bi.. maaf Dinda ngelamun. Engga, Bi. Kayanya udah semua.”, kata Dinda bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
“Peralatan tempur sudah cukup belum? Non, udah bawa? Kalau perlu empat harinya jadiin terus non, hahaha.”, Dinda pucat pasi mendengar candaan Bi Rumi. Dia tahu benar apa maksudnya.
__ADS_1
Sedangkan Bi Rumi, dia malah geli sendiri setelah mengatakannya.
“Bi Rumi jangan gitu.”, Dinda cuma bisa memberikan jawaban yang malah membuat Bi Rumi makin bersemangat untuk menjahilinya.
Sementara itu di bawah.
“Udah siapp anak Mama?”, Inggit menunjuk pada Dinda yang sudah terlihat menuruni tangga. Dinda hanya tersenyum.
“Gimana perasaannya mas? Kalo di kamar kan gak leluasa. Kalo di hotel kan bisa 24 jam.”, Ibas juga tidak mau ketinggalan menggoda kakak laki - lakinya.
Dia berharap Arya akan malu - malu kucing mendengar itu. Tapi, Ibas lupa kalau kakaknya ini sudah pernah melewati siklus ini sebelumnya.
Arya lantas menggunakan ini untuk menyerang Dinda yang sudah hampir sampai anak tangga paling bawah.
“Ya… mas sih bisa - bisa aja ya 24 jam 4 hari nonstop. Kamu bisa melayani 24 jam selama 4 hari?”, tanya Arya dengan wajah datar ke istrinya.
Seketika wajah Ibas merah padam. Dia merasa menyesal melontarkan guyonan ini. Dia justru malah berkontribusi menjerumuskan kakak iparnya ke jurang.
“Hush, Arya, Ibas. Ngomongnya dijaga. Kamu, Arya. Udah gede kok omongannya seperti itu.Tidak baik. Kita ini keluarga terpandang, masa berbicara saja tidak di filter. Tidak sopan dan tidak boleh berbicara seperti itu meskipun tujuannya hanya untuk bercanda, ingat?”, Kuswan memarahi kedua puteranya yang sudah bercanda keterlaluan.
Wajah Dinda, jangan ditanya. Sejak digoda oleh Bi Rumi tadi, wajahnya masih merah seperti kepiting rebus. Candaan Arya malah semakin membuatnya merah padam.
“Kamu jangan nakut - nakutin Dinda gitu Arya.”, Inggit langsung memukul bahu Arya yang hanya bisa tersenyum menang ke arah Dinda dan juga Ibas.
“Sudah - sudah, mana Pak Cecep? Langsung berangkat aja. Nanti kan perlu verifikasi dan sebagainya di bandara. Kalo keberangkatan luar negeri lebih lama. Jadi, berangkat sekarang aja.”, lanjut Kuswan lagi.
Akhirnya, setelah melempar lelucon panas, Dinda dan Arya masuk ke mobil. Ibas dan pak Cecep membantu membawakan koper mereka.
Mama, papa, dan yang lain tidak mengantar ke bandara karena dirasa tidak perlu dan juga macet di jalan. Sesampainya di bandara juga mereka langsung masuk dan check-in.
Dinda melupakan guyonan dan kekhawatirannya tadi begitu sampai di bandara.
Dinda yang mengenakan jeans longgar, kemeja lengan panjang, dan hijab senada terlihat sangat modis sekali. Warna outfitnya senada dengan Arya yang juga mengenakan jeans panjang dan kaos lengan pendek.
Lengan kekar dan dada bidangnya terlihat sekali dengan kaos polos berwarna abu - abu. Keduanya mengenakan sepasang sepatu sport yang juga merupakan hadiah pernikahan dari salah seorang saudara.
Dinda yang tidak terbiasa dengan aktivitas bandara hanya bisa mengintil mengikuti Arya.
Di bandara, Arya juga protektif terhadap Dinda. Beberapa kali Arya terlihat memastikan Dinda tetap berada dalam jangkauannya saat menyeberang jalan, atau kalau ada orang yang berjalan ke arah mereka.
'Hem.. mungkin ini alasan kenapa kalau jalan - jalan harus bersama seseorang yang bisa menjaga seperti suami kita. Eh? apa tadi aku mengatakan 'suami'.', wajah Dinda langsung merah.
Tak butuh waktu lama untuk Arya dan Dinda check-in. Semua kelengkapan dokumen sudah oke. Mereka siap menunggu di lobi keberangkatan. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum keberangkatan mereka.
“Pak Arya, saya boleh ke toko itu ga? Saya mau beli pop mie.”, kata Dinda meminta ijin dan menunjuk ke arah toko yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Yaudah, belikan saya kopi yang biasa, sama donut disitu, ya. Oiya, sini sebentar.”, kata Arya duduk di bangkunya.
Apa yang dilakukan Arya saat ini? Dia duduk di bangku dengan laptopnya. Masih bekerja. Bahkan beberapa waktu lalu Arya masih telponan dengan Pak Erick.
“Kamu jangan panggil saya Pak selama kita liburan. Nanti saya dikira makelar penculik anak.”, kata Arya.
Meski Arya serius, tapi Dinda menganggap ini lucu dan menyunggingkan senyumnya.
Dinda segera melaju menuju toko yang dia maksud. Dia menemukan banyak sekali jenis mie instan selain pop mie.
__ADS_1
Dia mengambil dua, satu merk lokal dan satunya dari luar. Saat melaju ke kasir, perhatiannya tertuju pada es krim di sebelah kiri. Dia pun tergoda untuk mengambil satu.
Dinda melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit yang sudah diberikan Arya padanya. Saat sudah resmi menikah, Arya memberikan satu kartu kredit dengan limit 8 juta pada Dinda.
Kartu kredit ini bisa Dinda gunakan untuk keperluannya sehari - hari. Tapi, Dinda sangat jarang menggunakan kartu kredit ini. Dia hanya menggunakannya untuk keperluan Arya saat bersamanya atau untuknya saat bepergian bersama Arya.
Ini kali kedua dia menggunakan kartu kredit. Dia pernah menggunakannya saat mereka harus membeli keperluan ketika terjebak macet dan harus menginap di hotel.
Selain itu, Arya juga memberikan satu buku tabungan bersama kartu debitnya senilai 250 juta. 50 juta adalah tabungan pemberian atau hadiah dari Arya. Sementara 200 juta adalah bagian dari mas kawin. Tentu saja, tabungan ini tidak pernah disentuh Dinda sama sekali. Dia menyimpannya rapi di lemari kamar mereka.
Dinda hanya menggunakan uang pribadinya untuk keperluan yang sifatnya benar - benar pribadi dan belum pernah sekalipun menggunakan uang dari Arya kecuali kartu kredit tadi. Selain kartu kredit, Arya juga rutin mentransfer 2 juta setiap bulan. Hal ini untuk meminimalisasi jika Dinda membutuhkan cash dan tidak bisa menggunakan kartu kredit.
Pengeluaran Dinda memang termasuk sedikit. Dia tidak hedon. Dia selalu membawa bekal ke kantor kecuali hari Jum’at. Dia jarang makan di luar. Bajupun, Inggit yang selalu membelikannya. Sehingga, Dinda merasa sudah tidak perlu shopping untuk saat ini.
Dari sisi kewajiban materi, Arya memang sudah memberikan semuanya bahkan lebih.
“Ini Pak, kopinya. Donatnya di kotak sini, ya.”, kata Dinda memberikan pesanan pria itu dan kembali duduk di sebelahnya.
“Mas…”, kata Arya mengingatkan dengan malas.
“Oh iya, mas Arya. Maaf suka lupa.”, kata Dinda tersenyum. Entah ada angin apa moodnya tiba - tiba berubah. Mungkin suasana bandara.
“Saya mau keluar dulu temui Erick.”, kata Arya singkat.
“Ah? Pak Erick disini? Ada perlu apa pak, eh mas.”, kata Dinda kaget sambil celingak celinguk kiri kanan.
“Dia gak ada disini, tenang aja. Dia mo berangkat ke Surabaya dan ada dokumen yang harus saya tanda tangani. Udah kamu jaga laptop saya disini. Saya segera kembali.”, Dinda mengangguk.
Arya keluar dari lobi tunggu keberangkatan menuju ke bagian depan bandara tepatnya di depan area Check-In. Dia bisa melihat Erick yang sudah menunggunya.
“Lo ada - ada aja. Kalo tadi gue udah jalan gimana?”, kata Arya langsung saat bertemu.
“Nah itu dia kebodohan gue. Untung aja langit dan bumi menyertai. By the way, lo mau kemana?”, kata Erick.
“Bersenang - senang.”, kata Arya santai.
“Yang bener bro jawabnya.”, kata Erick.
“Kan udah bener. Gue mau bersenang - senang. Sakit kemarin membuat gue sadar bahwa gue harus menikmati hidup.”, kata Arya yang tidak sepenuhnya berbohong.
“Kemana?”, Erick memang sangat kepo, tapi Arya tidak menyangka dia akan sekepo ini.
“Maldives.”, Lagi - lagi jawaban singkat dari Arya. Dia malas berbohong dan langsung saja menjawab jujur.
“Maldives? Bareng cewek? Tobat, ya. Gue termasuk yang ga percaya sama rumor lo tidur sama cewek setelah lo cerai. Tapi, jangan bikin gue jadi ragu, dong.”, kata Erick.
Erick adalah teman SMA Arya meski mereka dulu tidak terlalu dekat. Sekarang, Arya dan Erick dekat setidaknya di kantor.
Erick tahu rumor yang beredar diantara pegawai yang lain dan beberapa kali menyampaikannya ke Arya.
Bukan untuk mengadu domba, tapi Erick hanya ingin Arya meluruskan rumor jika rumor itu tidak benar.
Semua pegawai tahu kalau Arya sudah menikah sebelumnya dan sudah bercerai. Meski mereka tahu sekitar 1 tahun setelah perceraian terjadi. Mereka sering melihat Arya di klub malam dan bersama wanita yang berbeda. Sehingga, tidak sedikit yang berasumsi kalau Arya sering tidur dengan wanita.
“Emang gue mau tidur bareng cewek . Ya.. kalo jadi. Udah ah.. Cuma tanda tangan aja kan. See you next week, ya”, Arya meninggalkan Erick yang masih geleng - geleng kepala.
__ADS_1