Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 104 Pertanyaan Sulit dari Dinda


__ADS_3

Malam kemarin menjadi malam yang panjang untuk Arya. Kuswan tak berhenti bercerita. Dinda ikut tertawa. Ibas berhasil mencari alasan dan kembali ke kamarnya setelah 10 menit bertahan dengan obrolan keluarganya.


Andien tentu saja memiliki alasan yang tepat untuk segera kembali ke kamar karena kedua puteranya sedang tertidur. Tak lupa ia membawa sekotak makanan agar jika sewaktu - waktu Rafa dan Samawa bangun, Andien tidak perlu turun lagi ke bawah.


Setelah hampir jam 12 malam, Arya akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar setelah bertahan selama yang dia bisa. Melihat Arya naik dan masuk ke dalam kamar, Inggit meminta Dinda untuk menyusul.


Pergerakan ini membuat Reza tidak enak hati dan segera pamit pulang dengan alasan malam sudah larut. Alasan yang sangat valid dan bisa diterima karena setelah mengantar Bianca, dia juga tentu harus pulang ke apartemennya.


Inggit sudah menawarkan mereka untuk menginap saja, tetapi keduanya menolak halus. Apa boleh buat, Inggit tak bisa memaksa. Dinda mengurungkan niatnya untuk naik karena ingin mengantar Bianca setidaknya sampai di pintu depan.


“Hmmmpp”, Dinda mengerjapkan matanya karena terbangun dengan siulan burung yang menandakan fajar sudah mulai menyingsing dan mereka akan segera menyambut pagi.


Dinda melihat ke samping dan menemukan Arya masih tertidur pulas. Seperti biasa, pria itu sudah melepas piyama bagian atasnya. Arya selalu seperti itu. Dia akan tertidur dengan piyama yang masih terpasang di tubuhnya. Namun, ketika pagi menyongsong, piyama itu pasti sudah terbang entah kemana.


Dinda baru akan beranjak bangun dari tidurnya sebelum Arya menariknya ke belakang.


“Mas Arya! Aku kira mas Arya masih tidur. Ih.. jangan geli tahu.. Mas Arya..”, teriak Dinda saat Arya sudah melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dan mencium tengkuk bagian belakangnya.


Namun, cara Arya mencium membuat Dinda kegelian dan tidak bisa menahan teriakannya.


“Tadi malam, karena Reza, kita tidak sempat melakukan apapun dan langsung tidur.”, ujar Arya dengan nada kecewa.


“Memangnya kita ingin melakukan apa?”, tanya Dinda polos.


“Hem? Kamu ini polos atau pura - pura polos?”, Arya bertanya balik.


Dia kembali memberikan ciuman - ciuman kecil di bagian belakang tubuh Dinda mulai dari leher, bahu, dan punggung. Suasana hening sejenak, Dinda tidak melakukan pergerakan lagi.


“Kenapa?”, tanya Arya bingung.


“Hem?”, Dinda ternyata sedang termenung. Dia langsung sadar begitu Arya memanggil namanya dan menyodorkan kepalanya agar bisa melihat ekspresi wajah Dinda.


Setelahnya, Arya mendaratkan ciuman di pipi Dinda.


“Mas Arya, aku boleh bertanya?”, lama akhirnya Dinda mengatakannya. Dia berpikir sejenak tentang perkataan Bianca tadi malam dan memutuskan untuk menanyakannya pada Arya. Mumpung moodnya sedang bagus.


“Apa? Kenapa kamu tiba - tiba serius?”, tanya Arya masih bingung dengan tingkah Dinda yang tiba - tiba memberikan aura berbeda dari beberapa saat yang lalu.


Arya bangun dan duduk bersandar di dinding kasur. Dia meletakkan tangannya mengelus - elus pipi Dinda. Akhirnya Dinda memutuskan untuk bangun dan duduk menghadap ke arah Arya. Dinda menatap Arya dengan tatapan lembut. Keraguan merasuk di dalam pikirannya meski dia sudah mengumpulkan keberaniannya.


“Hm.. bagaimana perasaan mas Arya terhadapku?”, Dinda memegang telapak tangan Arya yang ia letakkan diatas kakinya yang menjulur ke depan. Sedangkan satu tangan Arya yang lain mengelus rambut Dinda.


Arya tidak bisa menutupi ekspresinya yang terkejut dengan pertanyaan Dinda. Itulah pertanyaan yang beberapa hari yang lalu juga ia tanyakan pada dirinya sendiri. Bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap istrinya ini.


Lama Arya tidak menjawab dan hanya menatap gadis itu karena dia juga tenggelam dengan pikirannya sendiri.


“Kenapa mas Arya tidak menjawab?”, tanya Dinda lagi.


“Apakah aku perlu menjawab itu?’, Tanya Arya. Mungkin menurut Arya kalimat ini biasa saja karena baginya dengan dia memberikan skinship dan perhatian pada Dinda, itu sudah menunjukkan bagaimana perasaannya. Meski mungkin saat ini dia belum bisa mengatakannya.


Tapi sebaliknya, bagi Dinda, kalimat Arya tadi melukai hatinya. Kenapa Arya menolak untuk menjawabnya dan malah bertanya.


“Hm.. mas Arya harus menjawabnya.”, ujar Dinda lagi.


“Sudah jam 7, kita harus siap - siap. Kita lanjutkan lagi nanti.”, kata Arya tiba - tiba dan Dinda menganggap itu sebagai cara Arya menghindar dari pertanyaannya.


“Kenapa?”, Saat Dinda menanyakan ini, ponsel Arya yang ada di nakas berbunyi. Dari tempat Dinda duduk, dia bisa membaca siapa yang menghubungi Arya saat itu.


Sarah is calling…. 

__ADS_1


Melihat itu, Dinda menarik tangan Arya yang baru mau beranjak dari ranjang mereka.


“Bagaimana jika ponsel yang berbunyi adalah ponsel aku dan nama yang tertera disitu adalah Dimas. Apa mas Arya akan merasakan perasaan yang saat ini aku rasakan saat melihat nama SARAH di ponsel mas Arya?”, ucap Dinda lirih.


Arya melihat ke belakang, dia mencari maksud dari pertanyaan Dinda.


“Kenapa pembicaraannya bisa sampai kesana? Aku gak mau merusak harmoni hubungan kita yang sudah baik belakangan ini.”


“Mas Arya bilang aku merusak harmoni hubungan kita? Trus bagaimana dengan wanita itu, dia tidak merusak, tapi aku yang merusak? Jadi, kalaupun Dimas mendekatiku, mas Arya gak masalah, iya? Karna mas Arya gak punya perasaan apa - apa ke aku. Mas Arya cuma jadiin aku buat teman tidur di ranjang aja, kan?”, Dinda tidak tahu dari mana emosi ini bisa tiba - tiba datang.


Belakangan dia menjadi sedikit moody. Tiba - tiba dia bisa terharu, bisa senang, dan saat ini bisa lebih sensitif. Dinda mengartikan perkataan Arya lebih dari apa yang dimaksud pria itu.


“Din, jaga bicara kamu. Kenapa kamu tiba - tiba ngomong ke arah sana?”, kata Arya masih dengan nada suara yang rendah.


Panggilan dari Sarah tidak terjawab.. Dering sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Namun, panggilan itu kembali berbunyi dan membuat Dinda mengambil ponsel Arya lalu mengangkatnya lalu memberikannya pada Arya. Ekspresi Dinda seolah menyuruh pria itu mengangkat ponselnya.


Arya mengambil ponselnya dari tangan Dinda dan menekan tombol ‘Reject’, lalu meletakkan kembali ponsel itu di meja nakas.


“Kita bicarakan nanti. Saya ada meeting pagi.”, jawab Arya dan berlalu ke kamar mandi tanpa sepatah kata lagi.


******


Dinda sedang melamun di mesin pembuatan kopi meski dia tidak membuat kopi. Dia memikirkan apa yang sudah dia lakukan pagi ini. Dinda tidak tahu dari mana emosinya tiba - tiba muncul, dia menjadi sangat sensitif belakangan ini sampai - sampai moodnya juga turun naik dan pagi tadi adalah puncaknya.


“Kamu mau minum kopi?”, tanya Bryan yang baru saja muncul di sampingnya.


“Oh? Ah.. enggak..”, jawab Dinda terkejut melihat Bryan tiba - tiba ada disana.


“Terus? Ngapain di depan mesin kopi kalau kamu tidak sedang membuat kopi?”, tanya Bryan heran. Bryan mengambil sekantung kopi yang ada di dalam storage dan menuangkannya ke salah satu mesin kopi yang kosong. Mesin kopi yang lain mengandung merk kamu yang tidak dia suka sehingga dia memutuskan menuangkan ke mesin yang masih kosong.


Aroma kopi yang pekat keluar saat Bryan menuangkan sebungkus kopi ke dalam mesin. Dinda langsung menutup hidungnya dengan telapak tangan.


“Kamu kenapa?”, tanya Bryan lagi - lagi dibuat heran dengan tingkah aneh Dinda.


“Ha? Kayanya  ga ada yang pernah bilang aroma kopi tidak enak. Kamu sedang sakit?”


“Hem? Engga. Ya sudah, aku keluar dulu deh.”


“Loh loh.. Tadi kesini mau ngapain? Kok udah mau pergi aja?”, Bryan sangat heran dengan tingkah Dinda.


“Gak tahu, lupa. Ya udah.. Aku duluan ya Bryan.”, ucap Dinda meninggalkan rekannya itu disana.


Ruang pantry untuk mesin kopi memang sering sepi karena hanya digunakan oleh intern saja. Sedangkan yang lain biasanya lebih senang memesan kopi di Cafe bawah atau sekitarnya.


“Eh Dinda, kamu dicari Mba Rini, tapi dia baru mau masuk meeting lagi. Katanya nanti jam 3 jangan lupa samperin dia di ruang meeting atas, ya.”, kata Delina memberikan informasi saat berpapasan dengan Dinda di lorong area divisi Business and Partners.


“Oh iya.. Thanks ya mba Delina.”, ucap Dinda.


“Tumben kamu disini, udah makan siang? Tadi kita mau ajakin bareng, tapi kamu lagi ke divisi Finance dan telepon kamu gak aktif.”, Delina yang baru saja tiba dari arah lift memutuskan untuk berjalan ke divisinya bersama Dinda.


“Hm.. lagi gak nafsu makan. Nanti aku makan snack di laci aku aja.”, jawab Dinda.


“Eh? Kenapa? Kamu sakit? Tumben banget. Hari ini kamu gak bawa bekal?”, Tanya Delina.


“Ada, tapi perut aku lagi gak enak. Nanti kalo pengen aku makan, kok.”, Dinda tersenyum.


“Hm.. ya sudah kalau begitu.”


******

__ADS_1


Arya baru saja tiba di kantor setelah meeting dengan salah seorang perwakilan klien yang akan bos utamanya akan dia temui di Bangkok minggu ini. Di parkiran, Arya tak sengaja bertemu dengan Dimas. Seperti biasa mereka bersikap tidak saling kenal. Lebih tepatnya, Arya yang bersikap begitu.


Sedangkan Dimas, hari ini dia tidak mengajak Arya bicara karena Arya juga sedang bersama sekretaris dan beberapa orang bawahannya. Saat melihat Dimas, Arya tiba - tiba terpikirkan kembali dengan perkataan Dinda pagi ini.


‘Kenapa sih tadi pagi Dinda harus bawa - bawa Dimas segala? Aku kan juga tidak mengangkat telpon dari Sarah.’


Akhirnya Arya sampai di ruangan meeting yang dijanjikan. Hari ini, setelah meeting di luar, dia akan ada meeting bulanan dengan semua manajer tim Business and Partners dan Digital and Development.


“Siang semuanya, masih ada waktu 10 menit lagi dari waktu yang dijanjikan. Beberapa manager juga belum hadir. Kalau begitu saya ke toilet dulu.”, ujar Arya meletakkan tas nya dan keluar ruangan menuju toilet.


Saat Arya sudah berada di dalam toilet, Dinda datang membawa dokumen yang diminta oleh Rini melalui WhatsApp dan membawanya ke ruang meeting.


“Ohiya DIn, sebentar ya. Sini, duduk dulu. Manager yang lain juga belum datang. Kamu sudah cek data yang bagian sini, kan? Oke. Untuk yang ini..”, Rini memeriksa dokumen yang Dinda bawa sembari gadis itu menunggu.


Dia melirik ke sekeliling bertanya - tanya meeting apa yang akan diadakan disini. Dia mengenal beberapa orang yang sedang duduk. Tidak saling mengenal, tapi hanya sesekali pernah melihat mereka saat meeting bulanan semua divisi.


‘Ah.. apa meeting ini adalah meeting semua manager Business and Partners? Tapi mas Arya gak ada. Eh.. itu bukannya tas mas Arya ya?’, ujar Dinda dalam hati.


“Din.. dokumennya sudah oke. Ini, kamu fotokopi sebanyak 10 buah dan kamu jilid rapi, ya. Nanti taruh di meja aku. Terus, kamu booking ruang meeting kecil yang ada di dekat divisi finance. Ruang meeting Bangkok. Jangan lupa kasih durasinya dari jam 10-12, ya. Terus kalo misalnya sampai nanti malam dan besok jam 10 gak ada meeting, kamu taruh aja sekalian dokumennya disana yang rapi. Kalau gak ada, besok kamu taruhnya, ya.”, jelas Rini.


“Oh.. oke baik, mba Rini.”, jawab Dinda.


“Oke.. itu aja. Thanks, ya. Sorry aku gak bisa ke bawah soalnya langsung abis - meeting ada meeting lagi.”


“Hehe.. iya gapapa, mba. Kalau begitu aku permisi dulu ya, mba. Pak Erick.”, ujar Dinda tersenyum pada Erick karena dia juga berada disana.


Dinda berjalan menuju pintu bermaksud untuk keluar dari ruangan secepat mungkin sebelum Arya datang. Di satu sisi, entah kenapa dia ingin melihat pria itu. Disisi lain, dia juga takut bertemu pandang dengannya, setelah keributan yang sudah dia buat hari ini. Meski dalam hati, Dinda masih sakit hati.


Kenapa begitu sulit untuknya mengatakan isi hatinya. Apa memang mas Arya hanya menganggapnya sebagai wanita yang bisa dia pakai untuk tidur kapan saja?


Braak…


Saat pikiran - pikiran itu masih berkecamuk di dalam kepalanya, dia tidak sadar jika tubuhnya dan Arya bertabrakan. Dinda melamun dan tidak tahu bahwa ada orang dari arah berlawanan datang ke arahnya. Begitu pula dengan Arya yang sedang menunduk karena fokus mengelap tangannya dan tidak sadar ada seseorang di depannya.


Badan Arya yang lebih atletis tentu mendorong tubuh Dinda sedikit. Arya dengan sigap menangkap tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.


“Oh oh oh kamu ga apa - apa?”, tanya Arya langsung memastikan.


Dinda mengedarkan pandangannya, dia terkejut dan bingung harus menjawab apa.


“Iya, gapapa ma…. Pak Arya.”, hampir saja Dinda menyebut kata ‘Mas’, namun dia langsung menariknya.


Dinda langsung memperbaiki posisi berdirinya dan hendak pergi keluar ruangan karena posisinya masih di depan pintu, dan Arya juga di depan pintu. Dinda bergeser kekiri agar dia bisa keluar. Namun disaat yang bersamaan, Arya juga bergeser ke arah yang sama. Dua kali terjadi, akhirnya Arya berhenti dan mempersilahkan Dinda untuk jalan duluan.


“Kamu duluan.”, kata Arya.


“Baik, maaf Pak. Permisi.”, ujar Dinda sambil menunduk dan langsung berhembus pergi.


Arya hanya tersenyum dan semua orang di ruangan menyadari senyuman Arya. Namun, reaksi mereka berbeda - beda. Ada yang ‘Ya sudahlah’, ada juga yang ‘Hah… Arya si killer itu tersenyum?’, dan ada juga yang saling bertatapan dengan yang lain.


Erick yang sudah mengetahui hubungan antara mereka bereaksi sedikit berlebihan dengan tertawa. Namun, Arya segera melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


Rupanya, tidak hanya orang yang sudah hadir di dalam yang melihat. Beberapa orang yang baru datang dan hadir dari lorong di arah berseberangan, juga melihatnya sedikit, meski tak begitu jelas. Diantara orang itu, ada Suci yang ternyata juga dipanggil oleh Erick untuk mengantarkan dokumen terkait meeting hari ini.


‘Apa - apaan sih Dinda itu. Kenapa jatuhnya seperti tidak natural?’, ujar Suci dalam hati.


Tidak hanya itu, pikiran - pikiran lain masuk dalam kepalanya seiring dengan perjalanannya mengantar dokumen tadi ke pak Erick.


Suci tadinya sangat senang sekali bisa datang ke ruang meeting karena dia jadi bisa melihat Arya. Tapi, begitu sampai di dalam, Arya tidak menghiraukannya sama sekali. Sebenarnya hal yang wajar, karena Arya merasa tidak ada urusan dengan Suci dan dia juga sedang sibuk mempersiapkan laptopnya untuk meeting.

__ADS_1


Tapi Suci merasa kecewa dan membedakan sikap Arya padanya dengan sikap Arya tadi ke Dinda yang jelas - jelas sudah menabraknya.


“Sejak kapan dia jadi ramah terhadap intern? Kenapa dia bersikap seperti itu ke Dinda? Apa yang sudah Dinda lakukan? Sepertinya kemarin - kemarin pak Arya tidak melihat ke arah Dinda sama sekali. Apa ada yang terjadi selama project smart report kemarin, ya. Ih si Dinda gatel banget, sih!”, Suci menggerutu kesal sepanjang jalan.


__ADS_2