
Hari Senin sudah datang lagi. Waktunya untuk para pekerja kantoran kembali pada realita mereka setelah menghabiskan akhir pekan yang singkat. Tidak terkecuali Dinda dan Arya yang sudah terlihat sibuk dengan persiapan mereka masing - masing.
"Mas Arya hari ini pulang jam berapa?", tanya Dinda.
Pertanyaan yang paling sering dia tanyakan di hari kerja, karena dengan begitu dia bisa menyesuaikan waktu pulangnya.
Karena Ibas sudah masuk kantor, Pak Cecep tidak bisa lagi menjemput Dinda karena musti standby di rumah saat mba Andin sedang tidak di rumah.
Terkadang, kalau Arya harus pulang telat, Dinda akan pulang bersama dengan Ibas.
Arya biasanya menggunakan kamar mandi setelah Dinda selesai. Selain Dinda membutuhkan waktu yang lebih lama, Arya juga bisa mendapatkan kesempatan untuk tidur lebih lama. Dinda akan membangunkan Arya saat dirinya sudah selesai.
“Cuaca sepertinya akan panas, kenapa kamu pakai jaket?”, tanya Arya bingung saat Dinda memakai jaketnya. Padahal, beberapa hari ini cuaca sudah panas meski masih pagi.
“Hm.. perutnya sudah semakin besar. Kalau aku pakai jaket, tidak akan kelihatan.”, tutur Dinda.
Arya menghela nafasnya. Dia mengambil bangku satunya untuk duduk di samping Dinda yang masih sibuk di depan cermin.
“Kamu benar - benar belum mau bilang kalau kamu sudah menikah dan sedang hamil? Masa intern kamu masih 3 bulan lagi. Perut kamu juga akan membesar Din. Itu tidak bisa di sembunyikan hanya dengan jaket saja.”, kata Arya memberikan pengertian pelan - pelan pada Dinda.
Dari awal, dia tidak setuju dengan keputusan Dinda yang menunda - nunda untuk memberitahukan bahwa dia sudah menikah. Tapi, Arya juga tidak mau gegabah untuk membicarakannya. Dia tidak mau Dinda salah paham.
“Tapi mas Arya. …”, balas Dinda. Masih berat rasanya untuk memberitahu yang lain.
“Sayang. Dengarkan aku. Sekarang ataupun nanti, akan tetap sama. Kalaupun kamu belum mau bilang kalau suami kamu itu adalah aku, juga ga masalah. Tapi, setidaknya mereka tahu kamu sedang hamil. Jadi, kamu tidak perlu kesusahan menutupinya seperti ini.”, kata Arya memberikan saran.
“Aku tidak tahu bagaimana nanti respon yang lain. Tapi, yang jelas, aku akan melindungi kamu. Mereka hanya akan bergosip sebentar. Nanti juga akan mereda dan mulai terbiasa.”, kata Arya berusaha menenangkan.
Flashback Dinda saat SD
“Din, kok aku ga pernah lihat kamu sama papa kamu? Selalu ibu kamu saja. Papa kamu memangnya kemana?”
“Din, kok waktu perkenalan keluarga, kamu ga sebut papa kamu?”
“Din, kamu bilang kamu punya papa. Tapi, kalau main ke rumah kok ga pernah ada ya?”
“Din, papa kamu mana?”
“Din, papa kamu yang mana?”
“Din, kamu ga punya papa?”
“Din, papa kamu orang jahat, ya? Makanya ga pernah ada?”
Flashback Dinda saat SMP
“Din, bunda kamu itu ditinggal sama papa kamu, ya? Kok papa kamu kabur begitu aja sih?”
“Din, kamu ga punya papa karena papa kamu kabur, ya? Ih kok bisa kabur begitu?”
“Eh, aku dengar papa Dinda itu kabur karena banyak utang.”
“Bukan, papa Dinda itu kabur karena ga sanggup tinggal sama keluarga Dinda.”
“Dulu dia bilang dia punya papa, tapi ternyata papanya kabur. Pembohong banget sih. Kalau ga punya, bilang aja ga punya.”
Flashback Dinda saat SMA
“Eh… tahu ga Dinda Larasati, anak baru yang sedang dibicarakan anak cowo? Ternyata bundanya itu simpanan, jadi papanya kabur begitu ketahuan sama istri pertamanya.”
“Berarti dia anak haram, dong.”
“Nah iya.. Yang model begitu mau dipacarin. Bundanya aja simpanan orang, anaknya kita ga tahu, kan.”
“Si Dinda itu, model nya aja sok - sok anak rumahan, padahal liar juga. Makanya mungkin papanya kabur.
Entah mengapa, gosip itu tidak pernah mereda. Bahkan semakin banyak bumbu yang membuat Dinda sudah tidak tahu lagi mana yang benar.
Entah dari mana mereka tahu. Entah mengapa selalu Dinda yang menjadi sasarannya. Entah mengapa meski sudah berbeda sekolah, gosip itu tidak pernah hilang. Merekat seperti lem. Seolah Dinda menulis papan nama dan mengalungkannya.
Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain, selain tetap harus menelannya bulat - bulat demi Bunda.
__ADS_1
“Din? Sayang?”, Arya memanggilnya beberapa kali karena Dinda melamun. Dia bahkan harus memegang bahu istrinya agar Dinda sadar kalau dia memanggilnya.
“Hm?”, jawab Dinda begitu sadar Arya sudah memanggilnya sedari tadi.
“Kamu kenapa melamun? Ya sudah, kamu pikirkan dulu baik - baik. Nanti kita ngobrol lagi, ya. Aku cuma ga mau kamu jadi kesulitan begini.”, kata Arya kemudian mencium kening istrinya dan lanjut mengambil kemeja putihnya di dalam lemari.
Dia ada acara penting hari ini bersama dengan jajaran manajemen yang lain di sebuah hotel sore ini.
“Oiya sayang, nanti kamu pulangnya dengan Ibas ya. Aku langsung ke hotel sore ini. Aku sudah infokan, ada acara itu ke kamu.”, kata Arya tersenyum saat Dinda membalasnya dengan anggukan.
********
“Good morning semuanya, gimana weekend kalian?”, tanya Rini yang sudah heboh saat baru datang.
Dia meletakkan beberapa makanan ringan di atas meja. Sepertinya dia baru pulang dari luar kota.
“Hm… enak - enak sekali mba Rini. Makasih ya.”, Delina yang juga tidak kalah heboh ikut berteriak.
“Makasih mba Rini.”, Dinda copy paste jawaban Delina dan ikut mencomot makanan ringan tersebut.
“Andra mana?”, tanya Rini.
Dia ingat betul bawahannya itu meminta pesanan berbeda dan ingin memberikannya.
“Di bawah mba dengan Suci sedang membeli kopi.”, jawab Delina.
“Oiya, Bryan mana, tumben jam segini belum datang?”, tanya Rini.
“Aloha….”, tiba - tiba Bryan berteriak dari arah pintu masuk.
Tepat waktu sekali dia. Begitu namanya disebutkan, dia langsung muncul.
“Tumben kamu baru datang Bryan.”, ujar Rini menawarkan satu kotak berisi cokelat padanya.
“Badanku remuk. Kenapa harus aku yang dikirim ke Sulawesi. Aku bisa gila bekerja dengan tim Pak Arya. Mereka ambis - ambis semua. Bahkan aku lupa bagaimana udara di Sulawesi saking bekerja tanpa henti. Tunggu apa aku sempat menghirup udara di sana?”, ujar Bryan dengan perumpamaan hiperbolanya.
Dia sempat melirik ke arah Dinda sebentar, namun kembali mengarahkan pandangannya fokus pada jejeran makanan yang dibawa Rini.
Dia bingung ingin membicarakan apa dan memilih membahas jaket Dinda.
“Berat badan kamu naik, ya? Takut dibilang gendut ya Din? Makanya pakai jaket?”, entah dari mana Rini mendapatkan ide tersebut.
“Haha.. engga kok mba, hehe. Lagi pengen pakai jaket saja.”, jawab Dinda.
“Jaket baru, ya? Ooh pantas, saja. Eh tapi kamu memang harus diet deh sepertinya Din. Kok kayanya kamu gendutan.”, ucap salah seorang diantara mereka.
Bryan langsung memukulnya dengan cepat. Pria itu berbicara tanpa filter sama sekali dan Bryan tahu betul mengapa Dinda gendutan. Agar pembicaraan ini tidak berlanjut, lebih baik dia membungkam pria itu.
“Morning, morning!”, kemudian Erick tiba - tiba muncul di depan pintu masuk.
Di tangannya sudah ada beberapa paperbag yang sudah pasti isinya juga makanan.
“Wah.. liburan para bos - bos berkualitas sekali sampai - sampai membawa banyak makanan.”, ujar Bryan saat Erick sudah meletakkan paperbag itu di atas meja.
Delina dan Dinda sebagai karyawan ter-junior inisiatif untuk langsung membuka paper bag dan menatanya di atas meja. Beberapa makanan masih disegel, dia mereka membukanya agar lebih mudah untuk di makan bersama - sama.
Sepertinya hari ini memang gudangnya makanan. Tak lama Dika muncul dan dia juga membawa sesuatu di tangannya.
“Woah.. sudah ada banyak makanan ternyata. Ini saya tambah lagi kalau begitu.”, Dika membawa beberapa makanan asin lainnya dan menaruhnya di atas meja.
Dia juga mencomot beberapa makanan lain di atas meja yang kemungkinan adalah milik Erick dan Rini.
Semua langsung membeku saat Dika sudah berada di tengah. Meski mereka sudah berada dalam beberapa pertemuan bersama, tetapi mereka merasa belum begitu dekat dengan Dika sebagai Head mereka yang baru.
Masing - masing saling beradu pandang, bingung mau mengatakan apa.
“Oh ya, ada yang sudah melihat Pak Arya?”, kata Dika mengeluarkan pertanyaan pertamanya setelah beberapa saat keheningan melanda area itu.
Dika melirik ke arah Dinda karena dia tahu, Dinda pasti mengetahui suaminya sudah tiba. Tidak, jika sudah ada Dinda, pasti sudah ada Arya juga.
“Tadi saya lihat masuk ke ruang meeting di lantai HR, pak. Mungkin sedang ada meeting dengan manajemen? Soalnya nanti sore ada acara besar di hotel, kan. Pak Dika diundang juga kan?”, tanya Rini memastikan.
__ADS_1
Erick sudah meluncur ke kamar mandi setelah meletakkan tasnya tadi.
“Hm.. saya diundang juga. Hanya saja ada yang perlu saya diskusikan dengan Pak Arya sebelum itu. Ada yang memiliki nomor Pak Arya?”, tanya Dika.
Dinda memilih untuk tidak terlalu memperhatikan. Dia berpura - pura sibuk makan bersama Delina.
“Mungkin bisa coba ditanyakan dengan sekretaris beliau, Pak.”, ucap Bryan.
“Ohiya.. Betul juga.”, balas Dika.
“Tadi saya datang berpapasan dengan Siska, mungkin di masih ada di kursinya.”, ujar Bryan memberikan informasi.
“Hm.. baiklah. Sekretaris Arya baru datang padahal bosnya sudah meeting?”, tanya Dika.
“Oh.. Siska terlibat proyek yang di Sulawesi Pak. Baru pulang kemarin. Mungkin Pak Arya memberikan keringanan.”, ujar Bryan menjawab lagi.
‘Hm…”, jawab Dika mengangguk - angguk paham.
"Kamu juga ikut di proyek itu kan? Kok kamu bisa ulang lebih dulu.", tanya Dika kemudian baru sadar kalau salah satu anggota timnya juga terlibat dalam proyek tersebut.
"Ah iya Pak, kebetulan bagian saya sudah selesai, jadi sejak awal saya memang sudah mengambil penerbangan pulang lebih dulu. Hanya berbeda sehari dengan penerbangan Pak Arya.", jawab Dika.
"Hm. Ohiya, bagaimana kabar team leader di Business and Partners yang diserang orang di parkiran itu. Kamu tahu?", tanya Dika.
"Hm.. saya tidak begitu tahu Pak. Mungkin kalau masalah berita. Pak Dika bisa menanyakannya pada Andra.
*********
Pihak berwenang sedang menyelidiki perihal kejadian tidak menyenangkan yang dialami olah salah satu karyawan di salah satu perusahaan di gedung itu.
Pak Teddy, pria berusia 40 tahunan mendekati 50 itu diserang oleh orang tidak dikenal. Arya adalah orang yang pertama kali melaporkan bahwa ada suara mencurigakan yang dia dengar di parkiran dan melaporkannya ke satpam terdekat.
Nampaknya, tak lama setelah itu tim satpam bersama beberapa orang rekannya melakukan pengecekan terhadap tempat parkiran yang dilaporkan.
Dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan seorang pria paruh baya sudah tersungkur dengan kepala berdarah di belakang mobil yang joknya terbuka.
Mobil tersebut adalah mobil pribadi milik Teddy. Tidak ada barang yang hilang di dalam mobil. Namun ada yang aneh dari jok yang terbuka. Bukan tidak mungkin sebelumnya, terdapat barang di dalam jok mobil itu.
Pihak keamanan gedung sudah memeriksa CCTV dan saat mobil melewati pemeriksaan, terlihat jelas bahwa jok mobil itu kosong.
Teori yang didalami saat ini adalah, jika tidak ada barang hilang lalu apa motifnya. Dan mereka juga memiliki spekulasi lain dimana, mungkin jok mobil itu berisi barang yang dipindahkan dari mobil lain dan tidak terlihat oleh CCTV.
Namun, hal tersebut juga perlu di dalami lebih lanjut dengan melihat lebih banyak rekaman CCTV lagi.
Arya pernah diundang sekali untuk memberikan keterangan. Dia bahkan sempat dicurigai. Namun CCTV jelas mengungkap dirinya dari awal keluar dari lift hingga masuk ke dalam mobil hanya sendiri.
Begitu juga Dinda yang ada di dalamnya. Hanya berselang beberapa menitan, Dinda juga menyusul masuk ke dalam mobil.
"Tapi, Pak Teddy sebelum kejadian itu memang agak aneh sih. Seharusnya dia kan sangat sibuk mempersiapkan perjalanan dan progress project yang harus diselesaikan do Sulawesi. Tapi dia seperti malah sibuk dengan yang lain.", ujar salah seorang anggota Tim Pak Teddy.
"Bener - bener. Kamu merasa begitu juga ya. Iya sih, dia terlihat sibuk karena seharian menerima panggilan telepon dari seseorang terus. Tapi setelah aku cek dengan klien, ternyata doi gak telponan atau diskusi dengan klien. Malah kita yang dikejar - kejar. Belum lagi disemprot habis sama Pak Arya begitu sampai di Sulawesi. Rencana program belum rambung, tapi pelaksanaan sudah main di atur - atur saja dengan klien. Berasa itu akan jadi dalam semalam. Wah kalau membayangkan bagaimana Pak Arya marah besar. Eh.. bikin merinding.", ujar yang lainnya.
"Selama Pak Teddy belum sadar, kita tidak bisa mengetahui apa - apa. Tapi aku jadi takut loh sekarang kalau ke parkiran. Seperti cemas aja."
"Tenang, dia gak akan culik kamu kok."
"Tahu dari mana?"
"Kejadiannya kan terjadi di parkiran elit yang member parkir sebulannya aja mahal. Hanya Team Leader ke atas atau owner tenant aja yang parkir disana."
"Aku jadi berimajinasi kalau pelakunya mengincar para bos - bos aja."
"Kebanyakan nonton film kamu. Kan ada juga yang mengatakan itu kecelakaan tunggal. Soalnya disana kan ditemukan oli juga."
"Ngarang kamu. Itu hoaks. Tidak ada oli disana. Kamu nih pasti baca judul - judulnya aja."
"Memangnya ada berita pastinya?"
"Hm ketahuan gak baca email. Corporate Affair kan sudah memberikan informasi melalui email tentang kejadian ini. Ada rincian nya juga disana. Berisi informasi yang sudah divalidasi kebenarannya."
"Oh.. ya maaf aku belum liat."
__ADS_1