Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 88 Dihantui Masa Lalu


__ADS_3

Dimas, pria ini masih berdiri di depan halte setelah Dinda meninggalkannya beberapa saat yang lalu. Dia sangat penasaran mengenai hubungan Dinda dan Arya. Ini sudah ketiga kalinya dia mencuri dengar pembicaraan teman - teman kantor Dinda tentang dirinya. Lebih tepatnya, hari ini dia mencuri dengar, sementara sebelumnya dia tidak sengaja mendengarnya.


‘Sh*t. Aku baru ingat. Bukankah Sarah pernah mengatakan jika Arya sudah menikah lagi? Lalu Dinda? Wait. Supir Arya mengantar Dinda pulang. No.. Don’t say that… Fu*k. I need to call Sarah now.’\, Dimas berpikir keras. Dia memiliki kepribadian yang santai sehingga dia bisa dengan mudah melupakan hal - hal yang dianggap tidak penting.


Menurutnya, kenyataan bahwa Arya menikah lagi adalah hal yang tidak penting. Tapi bagaimana jika wanita yang dinikahi Arya adalah Dinda? Wanita yang baru - baru ini menarik perhatiannya?


“Halo, Sarah?”, sapa Dimas.


“Kenapa? Ada masalah?”, Tanya Sarah. Alih - alih menjawab sapaan Dimas, Sarah langsung to the point bertanya. Dia sudah bisa merasakan nada bicara Dimas yang tidak santai.


“Apa kamu pernah mengatakan Arya sudah menikah?”, tanya Dimas memastikan ingatannya.


“Ya. Aku pernah mengatakannya.”, jawab Sarah.


“Dengan siapa?”, tanya Dimas lagi.


“Kenapa kamu tiba - tiba ingin tahu? Aku tidak pernah tahu jika kamu tertarik tentang kehidupannya.”, tanya Sarah heran. Setahu Sarah, Dimas tidak pernah tertarik dengan kehidupan Arya. Satu - satunya yang membuat mereka terhubung adalah saat Sarah dan Dimas berselingkuh.


“Jawab saja. Siapa istri Arya sekarang?”


“Aku tidak tahu, aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Aku hanya tahu namanya dari Edo, sepupu Arya.”, nada bicara Dimas tidak santai sehingga membuat Sarah juga menjawab dengan nada serupa.


“Ya. Siapa namanya?”, tanya Dimas lagi.


“Untuk apa kamu ingin tahu namanya?”, tanya Sarah heran.


“Sebut saja siapa namanya?”, tanya Dimas lagi, kali ini dengan sedikit penekanan.


“Dinda. Aku tidak tahu nama panjangnya, Edo hanya mengatakan itu padaku.”


“Sh*t..”, ujar Dimas merasa frustasi.


“Ada apa? Apa kamu mengenalnya? Halo..”, Sarah masih terus berbicara namun Dimas tidak menjawabnya. Dia mematikan ponselnya.


‘Hahaha.. Lucu sekali. Kenapa aku bisa menyukai wanita yang sama. Kenapa lagi - lagi aku menyukai miliknya. Dam ***.’, Dimas berkata dalam hati. Dia merutuki dirinya yang seolah masuk ke dalam lubang yang sama.


7 tahun yang lalu. 


“Kenapa? Kamu takut jika Arya mengetahuinya?”, ujar Dimas pada Sarah. Sudah beberapa hari Dimas tidak pulang ke flatnya. Lebih tepatnya flat dirinya dan Arya. Saat awal kuliah, Arya dan Dimas adalah roommate. Namun, seminggu ini Dimas lebih sering menginap di flat Sarah yang kini sudah berbeda gedung apartemen. 


“Bukankah kamu pindah apartemen karena kamu tidak ingin hubungan kita diketahui Arya?”, kata Dimas lagi pada Sarah. Dia sedang menghisap rokok di beranda apartemen setelah menghabiskan malam yang kesekian di apartemen Sarah. 


“Kapan kamu kembali kuliah? Apa kamu ingin menyia - nyiakan hidupmu?”, tanya Sarah pada Dimas. 


Pria itu sudah seminggu membolos dari kuliahnya. Dia tidak masuk bahkan menyentuh bukunya sama sekali. Hal yang dia lakukan hanyalah ke Bar, merokok, dan pulang dalam keadaan mabuk ke flat Sarah. 


“Apa yang membuatmu tertarik dengan Arya?”, Tanya Dimas.   


“Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan. Aku bertanya kapan kamu akan kembali ke kampus. Kamu sudah begini selama seminggu.”, tanya Sarah mendekati Dimas yang sedang berdiri menghabiskan beberapa hisapan rokoknya lagi. 


“Aku akan kembali jika kamu menjawab pertanyaanku.”, ujar Dimas. 


“Baiklah. Arya adalah pria sempurna. Dia lahir di keluarga sempurna. Tidak sepertiku dan juga kamu.” 


“Memangnya kenapa keluargamu? Bukankah ibumu kaya?”, ujar Dimas tertawa kecil. Rokoknya sudah habis dan ingin mengambil sebatang lagi. Tapi Sarah mencegahnya. 


“My mom is rich. But, my step dad is far more rich. Itulah kenapa dia tidak punya kuasa sama sekali. Bahkan saat aku hampir dilecehkan oleh monster itu, dia tidak bisa membelaku sama sekali.”, kata Sarah. 


“Arya seperti dongeng nyata. Saat bersamanya, aku lupa semuanya. Aku seperti masuk ke dunia yang sama dengannya. Meski sekarang aku sedikit menyesal telah memperkenalkannya pada minuman, rokok, dan klub.”, Sarah tersenyum tipis mengingat pertama kali dia mengajak Arya untuk minum di sebuah bar beberapa blok dari area flatnya. 


“Haha… kamu ingat waktu kita bertemu?”, tanya Dimas tiba - tiba membuka topik lain. 


“Tentu saja. Jika kamu tidak ada disana saat itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.”, ujar Sarah. 


Sarah melihat tatapan sendu dari Dimas. 


“Kenapa? Apa kamu menyesal menolongku saat itu?”, Tanya Sarah. 


“Tidak, aku hanya berpikir, jika saja bukan aku yang menolongmu tapi orang lain, apa kamu akan melihatku seperti kamu melihat Arya?”, Tanya Dimas. 


“Jika kamu tidak menolongku saat itu. Jika ayahku tidak melaporkanmu ke polisi. Jika saja polisi tidak membuka bajumu. Apakah akan ada yang tahu luka lebam di tubuhmu itu?.”


“Aku tidak bisa membayangkan betapa banyak pukulan yang kamu terima dari ayahmu sampai tubuhmu penuh lebam seperti itu.”, Sarah menyeka air matanya. 


“Arya, apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?”, Tanya Dimas. 


“Apa dia mengatakan padamu kalau dia ingin menyatakan perasaannya padaku?”, wajah Sarah yang sedikit redup karena mengingat kembali awal pertemuannya dengan Dimas saat duduk di bangku SMA kembali cerah saat mendengar bahwa Arya mungkin akan segera menyatakan perasaannya pada dirinya. 

__ADS_1


Dimas mengangkat bahunya dan segera mengambil jaketnya. Dimas berjalan ke arah pintu. Sepertinya dia ingin pergi. 


“Kamu sudah mau pulang? Jadi kapan ke kampus lagi?”, tanya Sarah. 


“Minggu depan aku akan kembali ke kampus.”, teriak Dimas sambil berlalu. Tak lama dia menghilang dari balik pintu flat Sarah. 


‘Kenapa kamu harus menyukainya, Sarah? Padahal aku yang lebih dulu bertemu denganmu. Heh, kenapa pria itu harus punya segalanya. ***.’, ucap Dimas dalam hati. Dia merasa semua tidak adil untuknya.*


Dia yang bertemu Sarah lebih dulu. Dia yang bersama Sarah selama masa SMAnya. Dia yang lebih mengenal Sarah. Tapi kenapa Sarah harus memilih Arya ketimbang dirinya.


******


“Arya, kamu sudah siapkan beberapa dokumen yang diperlukan?”, tanya seorang pria, salah satu pemegang posisi penting di perusahaan yang posisinya satu level di atas Arya.


“Iya pak, saya sudah siapkan. Siska, dokumennya tolong dipisahkan ya, jadi nanti ketika sudah meeting dengan klien, kamu langsung keluarkan. Klien kita langsung menghadirkan pemimpinnya, orang Thailand. Dia paling tidak suka menunggu apalagi menunggu kita menemukan berkas untuk ditandatangani.”, perintah Arya pada Siska.


Mereka akan meeting sekitar 30 menit lagi. Arya membawa Siska dan satu orang timnya bersama dua orang dari manajemen yang satu level diatas Arya. Klien ini sangat penting karena projectnya bernilai besar.


Sebenarnya Arya sudah menghindari untuk meeting di bar karena sudah pasti dia akan ditawarkan minuman. Sejak menikah dengan Dinda, Arya sebisa mungkin mengarahkan beberapa meeting untuk mengambil tempat di kantor, hotel, atau cafe. Bar dan klub adalah tempat yang sangat ia hindari.


Tapi hari ini, Arya terlambat mengaturnya karena kesibukan yang lain. Dia juga baru sadar jika meeting ini diadakan di bar siang ini. Sudah tidak ada waktu untuk mengganti tempatnya, apalagi dengan karakter klien mereka.


“Saya permisi ke toilet dulu.”, ujar Arya pada yang lain. Mereka mempersilahkan Arya dan masuk ke ruangan lebih dulu. Masih ada sekitar 15 menit lagi sebelum klien datang.


Setelah menyelesaikan keperluannya di toilet, Arya mencuci tangan, memastikan pakaiannya rapi, dan berjalan keluar. Dia melirik jam sebentar dan masih ada 10 menit lagi. Begitu keluar dari pintu toilet, Arya tak sengaja menabrak seseorang.


“Oh sorry, saya tidak senga..”, betapa terkejutnya Arya saat menyadari bahwa orang yang dia tabrak adalah Sarah, mantan istrinya. Arya dengan cepat segera mengembalikan raut wajahnya agar terlihat biasa saja.


Keduanya terdiam. Arya segera ingin pergi dari sana sebelum hal lain meracuni pikirannya. Tapi, entah kenapa dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sedikit rasa yang masuk saat melihat Sarah lagi setelah terakhir kali mereka bertengkar hebat di hotel saat itu. Seberapa kuat pun Arya mengendalikan perasaannya, membuang semua ingatan yang ada tentang Sarah, tetapi jujur dia masih belum bisa sepenuhnya menghapus total semuanya. 6 tahun lebih kebersamaan mereka. Bagaimana Arya bisa menghapus semuanya.


Arya kembali mengingat perkataan Dimas tempo hari. Rasa sakit itu kembali masuk ke hatinya. Dia tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini. Seharusnya dia benci pada wanita itu.


“Arya.. kamu.. “, Sarah belum menyelesaikan kalimatnya saat sebuah deringan ponsel menyadarkan Arya. Arya segera mengangkat telepon genggamnya.


“Pak Arya, 5 menit lagi kliennya datang.”, ujar Siska. 


“Iya, saya kesana sekarang.”, jawab Arya. 


“Kamu sedang ada meeting disini?”, Tanya Sarah.


“Hm. Aku pergi.”, jawab Arya berlalu. Namun Sarah menahan lengan Arya.


“Aku tidak merasa punya hal yang perlu dibicarakan lagi denganmu.”, jawab Arya melepas pegangan tangan Sarah dan pergi.


Arya kembali ke private room yang sudah di sewa untuk pertemuan kali ini. Meski awalnya klien memberikan beberapa pertanyaan tambahan sebelum tanda - tangan, namun Arya dan timnya bisa menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan yang memuaskan. Mereka berhasil mendapatkan project ini.


“Ayo minum.”, ujar klien tersebut pada Arya. Bos mereka sudah pergi begitu selesai menandatangani berkas. Sekarang, sisa para bawahannya saja.


Tentu saja, Arya menolaknya dengan halus. Setelah apa yang dia lakukan malam itu pada Dinda, Arya berjanji untuk tidak pernah menyentuh minuman itu lagi. Bahkan jika itu karena urusan pekerjaan sekalipun. Lagipula, Arya juga sudah ingin kembali ke rumah karena meeting sudah selesai


“Maaf. Saya tidak minum.”, ujar Arya menolak dengan sopan.


Siska, dan beberapa orang yang mengenal Arya heran. Arya tidak pernah sekalipun menolak sebelumnya. Bahkan sudah bukan rahasia jika beberapa orang pernah melihat Arya di klub dan minum bersama wanita.


“Oh came on.. just one cup.”, Arya sudah ingin beranjak pergi namun orang tersebut tetap memaksa.


“I’m so sorry. But, I just can’t. I need to drive.”, ujar Arya.


“Okay, then you go with this one.”, ujar seseorang dari pihak klien menawarkan.


“This is without alcohol. Believe me.”, ujar pria tersebut.


Meski ragu, Arya meminumnya. Dari rasa, Arya tidak bisa membedakan apakah itu alkohol atau tidak. Rasanya seperti buah. Jadi, Arya percaya saja. Arya bahkan meminum sekitar 5 gelas.


“You said this is without alcohol.”, ujar Arya. Gelas pertama, dia tidak merasakan apa - apa. Gelas kedua, ketiga, dia juga masih merasa biasa. Tapi sekarang kepala Arya sudah mulai berat. Meski dia masih bisa mengendalikannya, tetapi jika Arya tidak keluar dari ruangan ini segera, pria di depannya ini sudah pasti akan memintanya untuk minum lagi.


“Mohon maaf, besok kita ada meeting lagi. Jadi, saya harus segera kembali.”, ujar Arya sesopan mungkin. Jika mengikuti egonya, dia sudah menghajar orang ini karena dia sudah membohonginya. Lagipula kontrak sudah mereka dapatkan. Tapi Arya tidak ingin membuat keributan.


“Siska, kita kembali. Pak, besok kita masih ada meeting. So we need to get back home now.”, ujar Arya. Dia juga tidak tega jika Siska tetap berada disini. Dari tadi Arya juga beberapa kali menyelamatkan Siska agar tidak meminum minuman yang tersedia.


Arya dan Siska berhasil keluar sementara satu orang manajer dari timnya dan bosnya serta beberapa orang dari pihak klien masih lanjut.


“Makasih banyak ya Pak Arya. Saya tidak tahu tadi harus bagaimana menolaknya.”, ujar Siska pada Arya begitu mereka sudah sampai di luar ruangan bar tadi.


“Hm.. kamu bawa mobil? Kamu tadi tidak minum sama sekali, kan?”


“Iya, gak Pak.”, Jawab Siska.

__ADS_1


“Baiklah. Hati - hati.”, ujar Arya pada Siska.


“Pak Arya bagaimana? Sepertinya Bapak sedikit mabuk. Apa saya pesankan taksi online?”, ujar Siska menawarkan.


“Tidak perlu. Saya duduk sebentar di mini market depan. Saya panggil supir saja.”, jawab Arya.


“Baik. Kalau begitu saya permisi ya, pak.”, jawab Siska berpamitan menuju parkiran.


Arya segera berjalan keluar Bar. Kepalanya sedikit berat namun dia masih bisa berjalan dengan normal.


“Sh*t. Kenapa aku tidak mengenali minuman itu. Klien itu membodohiku.”, Arya merutuki kebodohan dirinya yang bisa - bisanya ditipu oleh kliennya.


‘Kalau aku pulang begini, bisa bisa papa dan Dinda akan drama lagi. Lebih baik aku duduk sebentar di mini market depan.’, ujar Arya dalam hati.


“Arya, kamu mabuk?”, seseorang tiba - tiba menghampiri Arya.


“Sarah?”, tanya Arya memastikan.


“Aku bisa antar kamu pulang. Aku tadi juga meeting disini dan aku tidak minum apa - apa. Aku bawa mobil kesini.”, Sarah menawarkan.


“Aku bisa pulang sendiri. Selesaikan saja urusanmu disini.”, ujar Arya melepaskan pegangan tangan Sarah.


“Kamu mabuk. Kamu tidak bisa menyetir. Urusanku sudah selesai. Aku juga mau pulang. Apa salahnya aku mengantarmu. Aku juga tidak akan melakukan apa - apa.”, ujar Sarah.


Arya memijat kepalanya sedikit.


“Aku baik - baik saja. It’s just a little shot.”


“Arya, can we just stay friends?”, ujar Sarah tiba - tiba karena Arya terus menolaknya.


“WE CAN’T”, teriak Arya. Dia sudah muak dengan semua rasa sakit yang diberikan Sarah padanya.


“Why don't you go to Dimas and stay friends with him. You even have a child together behind me and you still want to stay friends? *ARE YOU FUKING INSANE?**”, Entah pengaruh alkohol atau tidak tetapi Arya benar - benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia meninggikan suaranya dan membuat beberapa pasang mata disana melihat ke arah mereka.


Dia muak dengan sikap Sarah yang kembali setelah tiga tahun dan bersikap seolah - olah tidak terjadi apa - apa. Bahkan dia juga tidak pernah bersikap jujur pada Arya dan membuat pria itu merasa bersalah selama tiga tahun ini.


“Arya, what the he*l are you talking about? Child?”, Tanya Sarah.


“Aku sudah dengar semua dari Dimas. Jangan pura - pura. I’ve my own life now. STAY AWAY FROM ME, please!.”, jawab Arya tegas. Dia melepas pegangan tangan Sarah sekali lagi dengan kasar dan pergi.


Sarah terdiam di tempatnya.


******


“Pak Arya kemana Rick?”, tanya Rini pada Erick yang masih terlihat merapikan mejanya.


“Dia ada meeting sore ini dengan klien baru. Kenapa? Butuh tanda tangannya?”, Tanya Erick. Mejanya sudah rapi dan dia sudah bersiap pulang.


Rini mengangguk.


“Harus hari ini.”, jawab Rini kemudian dengan ekspresi yang tidak enak. Erick sudah tahu jika Rini ingin meminta bantuan Erick.


“Kamu tidak merasa keterlaluan? Aku sudah merapikan mejaku dan ekspresi wajahmu mengatakan aku harus menyusul Arya?”, ujar Erick. Dia merasa Rini tidak pernah menganggapnya sebagai atasannya. Mungkin karena jarak usia mereka yang tidak terpaut jauh.


“Aku mohon. Kalaupun aku bisa mengejar pak Arya, aku tidak tahu bagaimana caranya minta tanda tangannya disaat mepet seperti ini.”, ujar Rini.


Meskipun Rini hanya satu level di bawah Erick, tetapi tetap saja dia masih sama takutnya dengan yang lain jika harus berhadapan dengan Arya. Apalagi jika meminta tanda tangan saat dia sedang meeting bersama klien.


“Aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Aku benar - benar lupa untuk cek apakah pak Arya ada di kantor jam segini atau tidak. Aku kira dia tidak ada meeting.”, Rini bahkan mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memohon pada Erick.


“Baiklah. Kamu harus bayar bensinku dan traktir aku makan siang.”, ujar Erick mengambil berkas di tangan Rini.


Rini mengangguk senang.


Erick tahu dimana Arya meeting karena siang tadi mereka sempat mengobrol. Erick langsung menuju basement untuk mengambil mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, Erick mencoba menelpon Arya untuk memastikan dia masih disana.


“Halo, Arya? Kamu masih di Bar Z?”, Tanya Erick.


“Hm.”, jawab Arya singkat. Kepalanya sedikit sakit.


“Oh okay.. Maaf sekali. Kamu bisa tunggu disana sebentar? Aku ada dokumen yang harus ditanda - tangani karena harus disubmit malam ini sebelum jam 12 malam. Is it okay?”, tanya Erick hati - hati. Meski dia berteman baik dengan Arya, tetapi permintaan seperti ini tetap saja sangat sulit.


“Aku sedang di mini market di seberangnya. Seorang klien menjebakku dan aku mabuk sekarang. Aku tidak bisa menyetir. Aku tanda tangan itu, tapi kamu antar aku pulang.”, ujar Arya.


Tadinya Arya ingin menelepon pak Cecep, tapi itu sama saja dia akan membangunkan Kuswan dan bisa menimbulkan drama. Lebih baik dia meminta Erick mengantarnya sampai gang depan dan Bi Rumi bisa membukakan pintu pelan - pelan.


Arya yakin Dinda mungkin juga sudah tidur.

__ADS_1


“Okay. Deal!”, jawab Erick cepat sebelum singa di seberang telepon berubah pikiran. Tidak masalah dia harus pulang telat hari ini, yang penting dokumen ini bisa disubmit tepat waktu.


******


__ADS_2