Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 224 Insiden Tak Terduga di Parkiran Bagian 2


__ADS_3

Rianti, wanita itu mendapatkan pesan dari seseorang beberapa pekan terakhir. Dia memutuskan untuk tidak menghiraukannya sama sekali karena berpikir mungkin ini hanya lah kelakuan dari orang iseng.


Bukan sekali dua kali Rianti mendapatkan pesan seperti ini. Menjadi seorang pebisnis muda yang mewarisi ladang usaha orang tuanya membuat banyak pihak mungkin menaruh tidak suka padanya.


Rianti juga sudah hafal dengan teman - teman dan orang - orang sekitarnya yang mungkin senang mencari - cari kesempatan di balik kabar - kabar simpang siur mengenai kehidupannya, bisnisnya, dan juga suamiya.


Poin terakhir adalah poin yang kerap dijadikan sebagai tameng oleh orang - orang yang tidak bertanggung jawab untuk menjatuhkan Rianti.


Sebelum menikah dengan Dika, Rianti berpacaran dengan seorang pria bahkan sampai dihamili. Berita ini sempat menyebar di kalangan teman - temannya. Mereka seolah menang karena orang yang mereka tidak sukai akhirnya mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai balasan yang setimpal.


Saat Rianti mengatakan kalau dia akan menikah dengan Dika yang juga merupakan anak seorang pengusaha, mereka yang senang berkompetisi langsung jatuh mental. Gosip menyebar dan bukan satu dua orang yang sebenarnya memberitahu Dika tentang Riantai. Begitu juga sebaliknya.


Tiba - tiba nanti akan datang seseorang yang mengaku mengetahui tentang Dika dan mengatakan hal seperti ini dan seperti itu tentangnya. Awalnya, Rianti yang terbiasa dengan segala sesuatu yang sempurna mengikutinya. Dan semuanya berakhir pada kesalahan.


Sudah sekian lama sejak saat itu, Rianti kembali mempercayai orang yang mengiriminya informasi - informasi seputar perselingkuhan Dika. Noda yang seharusnya hilang dari perfeksionis hidupnya.


Kenapa? Karena sumber ini memberikan Rianti beragam foto dan video yang dari sudut pandang manapun, Rianti menilai ini benar. Terlebih, dia pernah melihatnya sekali.


Rianti memutuskan untuk mencoba mengamatinya lagi. Dia sengaja menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat. Menunda yang bisa ditunda dan mendelegasikan apapun yang bisa didelegasikan.


Hari ini dia mengendarai mobilnya. Dia memutuskan untuk tidak memarkirkan mobilya di gedung yang sama karena khawtir mungkin akn bertemu pandang dengan Dika.


Akhirnya Rianti memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di gedung seberang dan berjalan menuju gedung perkantoran tempat Dika bekerja.


Karena bukan merupakan salah seorang karyawan kantor, Rianti harus melewati beberapa proses screening terlebih dahulu yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan akses pintu gate kantor.


Saat Rianti sedang melewati proses itu, dari kejauhan dia sudah melihat kalau suaminya sedang bersama dengan seorang wanita. Tidak ada orang lain disana selain mereka dan jarak antara mereka tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Saat Rianti melihat wajahnya, dia bisa mengingat kalau perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan yang dia lihat tempo hari. Namun, saat itu Dika beralih bawah dia adalah bawahannya.


Kemungkinan saat itu mereka sedang merencanakan untuk makan bersama. Namun, karena Rianti sudah terlanjur disana, maka mungkin perempuan itu memilih untuk kembali.


Saat ini, Rianti melihatnya lagi. Emosi langsung menyulutnya tiba - tiba, padahal dia bukan tipikal wanita seperti ini. Namun melihat cara Dika memperlakukan wanita itu, Rianti mulai panas.


Setelah proses skrining selesai, dia langsung mengambil tas nya dan berjalan cepat menghampiri kedua nya. Tanpa ba bi bu, lagi, Rianti yang datang dari arah berlawanan di samping kanan langsung menamparkan telapak tangan kanannya ke wajah Dinda.


Ya, wanita yang dilihatnya sedang bersama dengan Dika saat itu adalah Dinda. Dinda yang sudah beberapa kali menolak untuk ikut dengannya tapi akhirnya harus mengalah karena alasan ada hal yang ingin dibicarakan terlebih dahulu.


Plakkk.. Bunyi tamparan itu tentu saja mengagetkan mayoritas petugas yang ada disana, terutama petugas skrinning yang jelas - jelas beberapa saat lalu masih memeriksa Rianti. Lobby yang saat itu relatif sepi dan hening langsung menggemakan suara tamparan keras dari Rianti.


Dika langsung terkejut karena dia yang sedari tadi melihat dan fokus pada Dinda yang hampir oleng tak menyangka akan ada Rianti disana. Dia sama sekali tidak melihatnya walau pandangannya yang beberapa sentimeter saja dialihkan ke depan mungkin bisa menyadari keberadaan istrinya.


Dinda, gadis itu juga langsung terkejut luar biasa. Dia tidak melihat ada orang yang datang ke arahnya sama sekali karena sejak tadi dari bawah sebenarya pikirannya antara ada dan tidak ada di otaknya.


Lalu tamparan keras langsung melayang seperti angin di hadapannya. Tamparan itu masih terasa seperti angin di detik - detik pertama namun rasa sakitnya perlahan datang. Rasa panas dan perih mulai menajalar di otaknya.


Terlebih, Rianti menggunakan tangan yang jarinya terpasang cincin sehingga menimbulkan sedikit goresan diwajah Dinda.


“Rianti! Apa - apaan kamu? What? Apa yang kamu lakukan? Kamu sedang apa disini? What the hell are you doin?”, Dika tidak bisa lagi membendung emosinya.


Perasaan terkejut, tidak menyangka, dan emosi meletup menjadi satu. Saat itu, jka bukan sedang di tempat keramaian, Dika tidak tahu apa yang akan dia katakan pada istri di atas kertasnya ini.


“Kamu sadar, apa yang sudah kamu lakukan?”, tanya Dika heran.


“Din, kamu gapapa?”, tanya Dika.

__ADS_1


“Hah.. masih bertanya.. Kamu masih bisa bertanya ke wanita itu tidak apa - apa? Oh… besar juga rasa tidak tahu malu kamu.”, ujar Rianti tidak percaya pada apa yang sedang dia lihat di depannya.


“Aku sampai tidak bisa berkata - kata dan kamu masih bisa bertanya ke perempuan tidak tahu diri ini, kamu tidak apa - apa?”, Rianti juga diletupi rasa amarah dan kecewa.


Saat ini dia hanya melihat Dika dan perempuan ini. Sekelilingnya abu - abu, tidak terlihat. Dia tidak bisa melihat siapapun disana kecuali mereka bersua dan dirinya.


*********


Tok tok tok tok


“Pak Arya, sorry ganggu meeting Pak Arya. Tapi Pak Arya harus lihat ini.”, ujar Siska.


Dia menunjukkan sebuah foto pertengkaran Dika dan Rianti serta Dinda yang berada di tengah - tengah mereka masih memegang pipinya yang memerah. Siska memiliki banyak intel di kantor. Sehingga dia bisa mendapatkan ini dengan mudah.


Dan jika Siska berhasil mendapatkannya untuk Arya, maka bisa ditebak, Andra juga mendapatkan foto yang sama disaat yang hampir bersamaan. Dan bisa ditebak bahwa orang yang bersama Andra yakni Suci, Delina, Bryan, dan yang lain juga mungkin sudah melihatnya.


“What the … apa - apaan foto ini? Kapan ini, Sis?”, tanya Arya yang langsung berdiri dari bangkunya dan mengambil ponsel Siska untuk melihat dengan jelas.


“Barusan banget Pak. Mungkin di bawah masih…”, Siska belum sempat melanjutkan kata - katanya, namun Arya sudah terlanjur berlari keluar ruangan, meninggalkan laptopnya yang masih mengeluarkan suara pertanda orang sedang meeting.


Beberapa saat lagi adalah saat dimana Arya harus melakukan presentasi. Orang sebelumnya berhasil menyelesaikannya dengan cepat dan Arya seharusnya menjadi orang selanjutnya.


“Okay, next our Business & Partner’s Head, Arya Pradana. You can start your presentation about the high and down of the business in 20xx.. Arya, the stage is yours.”, ucap seseorang yang kemungkinan adalah moderator.


“Hello, I’m really sorry but Arya is currently just unavailable due to personal issue. I’ll just share the presentation. We’re really sorry about it.”, Siska langsung mengambil kendali.


Dia tahu apa yang sedang terjadi dan kemungkinan Arya untuk kembali ke kursinya dalam waktu dekat. Siska langsung mengambil alih untuk sekedar menginformasikan bahwa dia tidak available dan tidak  dapat melanjutkan presentasi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2