Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 91 Arya Mulai Posesif


__ADS_3

“Hai.”, Dimas menyapa Sarah yang sudah menunggunya di sebuah restoran.


Sarah menjawab sapaan Dimas melalui pergerakan dan ekspresi wajahnya. Dimas segera mengambil duduk dan memilih menu.


“Sudah lama? Aku tidak tahu kamu ingin bertemu hari ini. Aku sedang di cafe.”, kata Dimas sambil memanggil pelayan untuk menyebutkan pesanannya.


“Kamu sudah pesan?”, tanya Dimas pada Sarah.


“Sudah. Aku sangat lapar dan sudah memesan dua makanan.”, jawabnya.


“Oh.. kamu yang traktir? Kalau begitu aku juga ingin pesan ini.”, Dimas menambah satu pesanan lagi begitu ia mendapatkan anggukan dari Sarah.


“So, what’s up?”, tanya Dimas sambil meletakkan ponsel dan kunci mobilnya di meja.


“Apa kamu mengatakan sesuatu pada Arya?”, Sarah tidak ingin berputar - putar. Dia adalah tipikal yang to the point, sehingga dia langsung menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.


“Kenapa?”


“Aku bertemu dengannya di bar. Dia dalam keadaan mabuk. Aku ingin mengantarnya pulang, tapi dia menolakku dengan keras. Dia bahkan menaikkan nada bicaranya padaku dan menepis tanganku. Sebelumnya dia tidak pernah begitu. Apa kamu mengatakan sesuatu padanya?”, tanya Sarah lagi.


Dimas menelan ludahnya sebentar dan mencoba untuk membuat Sarah tenang sebelum dia mulai berbicara. Jika tidak, Sarah mungkin bisa salah memahami situasi yang sebenarnya.


“Dengarkan aku dan jangan berbicara sebelum aku selesai menjelaskan.”, Dimas menaikan alisnya untuk memastikan apakah Sarah bisa mengikuti permintaannya. Sarah mengangguk.


“Ingat, sewaktu kita berbicara lewat telepon terakhir kali? Sebelum yang kemarin.”, tanya Dimas.


“Hm.. walaupun aku tidak terlalu mengingat itu sebenarnya.”, ujar Sarah.


“Aku menerima telepon itu di tangga menuju basement di gedung tempat salah satu cabang cafeku berada. Okay? Dalam pembicaraan telepon itu, kita sempat mengobrol perihal kehamilan kamu. I totally had no idea, Arya was there. And he heard it.”


“What?”, Sarah tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“How come?”, Sarah masih tidak percaya.


“Salah satu cabang cafe yang sedang aku kelola berada di gedung yang sama dengan tempat Arya bekerja. I don’t even know. Dari mana aku bisa tahu kalau Arya bekerja di gedung itu. Aku hanya berpikir kota ini besar dan tidak mungkin bertemu dengannya lagi. And guess what? Bahkan dia bisa berada disitu saat aku menghubungimu.”


“Dan kamu tidak memberikan alasan lain?”


“He hit me as soon as he heard it. Kamu tidak aneh saat aku tidak melanjutkan obrolan kita di ponsel?”, Tanya Dimas.


“Aku sedang ada meeting saat itu, aku tidak konsentrasi. Oh ****. Bagaimana ini. Pantas dia bersikap seperti itu tempo hari.”


“Apa kamu benar - benar serius ingin Arya kembali? Bagaimana jika kamu tidak keguguran saat itu dan anak kita lahir? Apa kamu akan tetap kembali pada Arya?”, Dimas tiba - tiba merasa penasaran.


Mereka memang hanya sesekali berhubungan di belakang Arya. Itu juga terjadi karena Sarah selalu berakhir di bar saat Arya sibuk dengan pekerjaannya dan hubungan pernikahan mereka memburuk.


Sarah dan Dimas tidak menyangka jika hubungan terlarang itu malah membuat Sarah hamil.


Sarah tidak menjawab pertanyaan Dimas kali ini.


“Aku tahu kamu hanya menceraikan Arya agar bisa kembali setelah kamu melahirkan kan?”, selama ini Dimas tidak pernah memastikan rencana Sarah saat bercerai dari Arya.


“Lalu saat itu apakah aku punya pilihan lain? Bagaimana aku bisa mengatakan aku hamil jika aku tidak berhubungan dengan Arya dalam waktu yang lama? Dia sibuk dan jarang di rumah. Lalu aku mengatakan aku hamil, kamu kira dia akan menyambutku?”, ucap Sarah sambil mengikat rambutnya karena makanan sudah datang.


“Kamu tidak menggugurkannya dengan sengaja, kan?”, Dimas bertanya dengan hati - hati.


“Come on. We have talked about it over and over. Kalau saja sejak awal aku bisa menggugurkan kandunganku, aku akan menggugurkannya tanpa bercerai dari Arya.”


“Haruskah kita membicarakan itu lagi? Apa kamu masih mencintaiku?”, Sarah merasa pembicaraan mereka malah mengungkit - ungkit masa lalu yang ingin mereka kubur dalam - dalam.


“No no no.. That’s not what I mean.”, saking ingin meyakinkan Sarah atas jawabannya, Dimas memberikan gestur tangan untuk menyangkal dugaan dari Sarah bahwa dia masih mencintai wanita itu.


“Aku sudah membuang perasaan itu sejak lama. Jika tidak, bagaimana aku bisa dengan santai berbicara dan menjadi temanmu saat ini.”


“Aku harap Arya juga bisa bersikap seperti ini. Membuang masa lalu dan berteman. Kenapa dia selalu menolakku.”


“Karena kamu tidak benar - benar ingin berteman dengannya. Kamu ingin mendapatkannya kembali.”, tebakan Dimas tepat sasaran.


“Semua karena mama Inggit. Jika saja dia tidak menjodohkan anaknya dengan wanita lain, aku mungkin sudah berada di ranjang Arya saat ini.”, ujar Sarah.


“Menjodohkan? Jadi Arya tidak menikahi Dinda karena mereka memang saling menyukai, berpacaraan, as such?”, tanya Dimas heran.


“Kamu kira Arya laki - laki segampang itu? Beberapa bulan lalu dia masih ingin bertemu denganku. Jika saja dia tidak melihatku dengan Dika, mungkin kami sudah kembali bersama.”


“Kamu juga. Sudah ingin balikan dengan Arya, kenapa malah menjalin hubungan dengan pria lain.”, Dimas tidak habis pikir dengan pemikiran Sarah.

__ADS_1


Sarah tidak menghiraukan penilaian Dimas padanya soal Dika. Dia malah lanjut memasukkan sendok demi sendok makanan ke dalam mulutnya.


“Ohiya, kenapa kamu menanyakan istri Arya padaku? Kamu juga terdengar emosi saat meneleponku.”, Sarah baru saja teringat telepon mendadak Dimas tempo hari.


“Tidak. Lupakan saja.”, Dimas tak ingin Sarah tahu bahwa sebenarnya dia mengenal Dinda. Dia tak ingin Sarah lantas ingin bertemu atau punya niatan lain pada Dinda. Meski Dimas pernah mencintai Sarah, tapi dia kenal sifat wanita ini lebih dari siapapun. Dan Dimas yakin, Dinda tidak akan bisa menghadapi Sarah.


“Kamu kan sekantor dengan Arya? Kamu tidak pernah melihat Dinda? Edo tidak memberikanku informasi lengkap. Dia bahkan sulit sekali dihubungi sekarang. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku kira dia memberitahuku tentang Dinda karena dia mendukungku kembali dengan Arya. Tapi sekarang aku jadi ragu jika itu benar - benar tujuannya.”, kata Sarah sambil berpikir.


“Kamu harus hati - hati dengan Edo. Bukankah Arya pernah memperingatkanmu tentang itu?”


“Baiklah.”


“Bagaimana rencanamu?”, tanya Dimas tiba - tiba.


“Rencana?”, tanya Sarah bingung.


“Kamu masih ingin mendapatkan Arya kembali, kan? Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”


“Aah..Aku harus menjauh perlahan untuk sementara. Biarkan saja dia memainkan mainan barunya. Nanti, jika kemarahan Arya padaku sudah reda, aku akan coba mendekatinya lagi. Bagaimana denganmu? Ada wanita yang sedang kamu sukai?”


“Tidak.”, jawab Dimas. Dia berpikir lebih baik tidak mengatakannya pada Sarah.


******


“Dinda, bagusan yang mana? Ini atau ini? Aku mau yang pastel, tapi yang ini juga kelihatannya bagus.”, Bianca sudah menunjukkan berbagai jenis pilihan baju pernikahan, undangan, outfit bridesmaid, venue, dan segala jenis persiapan pernikahan lainnya selama dua jam lebih pada Dinda.


Dinda baru menyadari kalau ternyata persiapan pernikahan bisa serumit, seribet, dan sesulit ini. Untung saja, dulu mama Inggit yang sudah mempersiapkan semuanya. Dinda hanya perlu mengikuti dan menjadi boneka saja. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa dia mempersiapkan ini semua.


“Kenapa melamun?”, tanya Bianca saat melihat Dinda terdiam sebentar.


“Haha engga. Aku hanya teringat kembali persiapan pernikahan dulu yang serba mendadak.”, jawab Dinda tersenyum.


“Ohiya, aku boleh lihat gak foto - foto pernikahan kamu? Siapa tahu bisa jadi referensi. Tante Indah bilang, pernikahan kamu bagus dan elegan waktu itu meski persiapannya terbilang singkat.


“Boleh. Tapi.. aku tidak menyimpannya di ponselku. Mungkin minggu depan, ah tidak minggu depan aku akan berkunjung ke rumahku. Minggu depannya lagi pasti mepet.”, Dinda tampang bingung.


“Kamu pulangnya sore kan? Bagaimana kalau hari biasa saja sepulang kamu dari kantor. Aku bisa jemput, lalu kita bisa pulang ke rumah bersama. Dua jam-an cukuplah. Aku juga penasaran mau melihat kamarmu. Dan mas Arya tentunya.”, ujar Bianca dengan tatapan genitnya.


“Apanya yang mau dilihat, sama kok dengan kamar kamu dan kamar pada umumnya.”, balas Dinda.


“Haha.. kamu kira aku sepertimu, baru dijodohkan langsung nempel seperti perangko.”, Dinda melemparkan beberapa kain contoh outfit pernikahan ke wajah Bianca sambil bercanda.


“Jadi, bagaimana pengalaman pertama kamu menikah dengan seorang Arya Pradana? Mas Reza aja bilang mas Arya itu dingin sekali. Ya… meski dia bisa supel juga tetapi aku saja merasa takut berada di dekatnya.”, tutur Bianca jujur.


Awal bertemu Arya saat lamaran kemarin, Bianca merasa tidak nyaman karena pria itu sangat dingin sekali dan tidak mengeluarkan banyak ekspresi. Dia bahkan tidak tersenyum saat menjemput Dinda di kamar Bianca. Meski Bianca mengakui jika Arya sangat cool dan keren.


“Menurutmu? Aku bertemu dengannya di kantor sebagai intern dan atasan yang jauh dariku. Lalu tiba - tiba aku berada satu kamar dan satu ranjang dengannya hanya dalam waktu kurang dari dua bulan saja. Hari pertama aku bahkan tidak bisa tidur.”


“Wah.. kamu sudah melalui banyak hal dong, Din sampai sini. Kapan ciuman pertama kalian?”


Dinda mengeluarkan wajah kaget karena dia tak habis pikir dengan pertanyaan Bianca yang sangat -  sangat random.


“Kamu sebenarnya memperhatikan aku berbicara tidak sih?”


“Maaf, sejujurnya aku lebih tertarik dengan skinship kalian hahaha.”, tawa Bianca pecah.


“Dasar centil.”


“Jadi kapan ciuman pertama kalian?”


Kring kring kring


Dinda belum menjawab pertanyaan Bianca namun teleponnya sudah berdiring. Panggilan dari Arya.


Abang Ojol calling….


“Abang Ojol? Bukannya kamu dijemput mas Arya, kok abang ojol?”, tanya Bianca heran.


Segera setelah Dinda mengangkat ponselnya, pria diseberang langsung berbicara.


“Din, rumahnya nomor berapa? Saya sudah masuk ke dalam perumahannya tapi tidak menemukan rumah yang dimaksud.”, tanya Arya pada Dinda melalui telepon.


Berkat kegigihan Arya, dia berhasil menyelesaikan meetingnya 30 menit lebih cepat. Arya juga menolak untuk melanjutkan dengan party di bar dan permisi lebih dahulu. Apa lagi kalau bukan karena Arya ingin menjemput Dinda agar istrinya tidak menginap di rumah Bianca.


Setelah apa yang mereka lewati kemarin malam, Arya mungkin tidak akan melepaskan Dinda begitu saja malam ini.

__ADS_1


“Cat rumahnya warna putih mas, pagarnya warna hitam mentok di paling ujung. Mas Arya masuk dari sana terus lurus sampai ujung. Mas Arya sudah masuk jalan yang ada palangnya belum? Hm.. iyaa terus saja dari situ.. Iya mas. ”, Dinda berusaha mengarahkan alamatnya pada Arya.


“Okay, ketemu. Kamu sudah mau pulang kan?”, tanya Arya pada Dinda.


“Iya. Ini sudah mau siap - siap.”, kata Dinda pada Arya.


‘Tentu saja. Memangnya dia mau menungguku.’, Dinda berkata dalam hati. Dinda kemudian menutup ponselnya setelah Arya lebih dulu sudah menutupnya.


“Itu mas Arya?”, Bianca langsung bertanya.


Dinda mengangguk.


“Gila.. masa kamu simpan namanya dengan sebutan ‘Abang Ojol’?, Bianca tak bisa bertanya dengan lebih santai. Dia bahkan sudah bangun dari duduknya karena heran Dinda menyimpan ponsel suaminya dengan nama ‘Abang Ojol’.


“Kalau aku simpan mas Arya, nanti tiba - tiba dia call di kantor bagaimana? Yang lain bisa tahu.”


“Ya kan kamu bisa simpan dengan nama ‘Suamiku’, ‘My Love’, ‘Sayang’, apa kek?”, ujar Bianca menggebu - gebu.


“Ah enggak ah.. Geli. Itu kan kamu.”


“Kamu ini, ada - ada saja. Terus kamu tahu tidak mas Arya simpan nomor kamu di ponselnya apa?”


Dinda menggeleng.


“Mungkin ‘Dinda’, dia punya dua ponsel, jadi tidak masalah.”


“By the way, Mas Arya itu terlihat beda ya dari penampilannya. Kamu bilang dia galak dan dingin, kenapa barusan aku malah berpikir dia sangat posesif? Waktu itu gak boleh menginap, sekarang juga. Memangnya kamu tahanannya?”, Bianca mulai protes.


Bianca sengaja meminta Dinda untuk ke rumahnya karena dia ingin pendapat Dinda tentang berbagai pilihan yang dia punya untuk persiapan pernikahannya. Bianca tidak bisa mengajak Sekar karena dia sedang di luar kota. Dian dan Rara sudah pasti sangat sibuk karena mereka masih Koas.


Sekarang dia malah lebih banyak menginterogasi kehidupan pernikahan Dinda ketimbang meminta masukan tentang persiapan pernikahannya.


“Din, sekarang aku mau tanya serius. Kamu cinta ga sih sama mas Arya?”, Bianca menghentikan Dinda sejenak yang baru saja mau beres - beres untuk pulang.


“Hm.. aku tidak tahu.”


“Saat disampingnya, kamu merasa deg - deg-an gak? Terus apa kamu pernah merasa sangat tertarik dengannya? Seperti misalnya saat dia sedang berbicara, kamu tiba - tiba ingin mencium bibirnya. Atau saat dia bekerja terlihat seksi. Semacamnya?”


“Kamu genit sekali. Udah ah.. Ga usah dibahas.”, Dinda langsung tersipu malu.


“Kamu pasti sudah di unboxing kan, sama mas Arya?”


“Apaan sih Bi, pembicaraan kamu dewasa sekali.”, Dinda berkata seolah mereka belum dewasa.


“Kamu sudah menikah, Din. Masa membicarakan ini saja malu. Aku yakin pasti mas Arya sudah unboxing kamu. Kapan? Bagaimana?”, tanya Bianca penasaran.


“Memangnya nanti kalau kamu sudah menikah, lalu aku tanya, kamu mau jawab?”, Dinda menantang Bianca.


“Tentu saja. Aku yakin unboxing terjadi di hari pertama. Jadi kamu tidak perlu menanyakannya. Aku juga akan sangat senang menceritakannya detailnya.”. Ujar Bianca bersemangat.


“Haha.. kamu ini gila. Ya sudah, aku balik dulu ya.. Mas Arya sudah di depan.”


“Hm.. Sanaa balik. Enak banget ya sudah punya suami. Ada yang jemput, ada yang nemenin tidur.”, goda Bianca pada Dinda sambil mengantarkan gadis itu ke ke depan.


Dinda tidak membalas godaan Bianca dan hanya terus berjalan ke depan. Dia sudah bisa melihat mobil putih milik Arya. Hari sedikit gerimis. Bianca berbaik hati memayungi Dinda sampai ke pintu pagar mobil. Arya membuka kaca mobilnya.


“Bisa puter balik dulu?”, tanya Arya pada Bianca.


“Ohiya bisa. Sebentar. Pak Toto, pagarnya boleh bantu dibuka, Pak. Biar mobilnya bisa putar balik.”


Pria paruh baya bernama pak Toto, satpam di rumah Bianca membuka pintu pagar. Dinda naik terlebih dahulu sebelum Arya memutar mobilnya.


“Daaa Bi. Sampai ketemu minggu depan, ya.”, ujar Dinda.


“Hati - hati, Din.”


Begitu mobil sudah jauh, Arya menutup kaca mobil di sisi Dinda.


“Kamu mau bertemu dia lagi minggu depan? Menginap?”, Tanya Arya.


Entah sejak kapan pria ini tertarik dengan rutinitas Dinda dan sepertinya terobsesi dengan kata ‘menginap’.


“Engga. Bianca mau ke rumah, katanya mau lihat foto pernikahan kita untuk jadi referensi.”


Arya mengangguk. Rasa lega seperti terpancar dari wajahnya karena Dinda tidak menginap di rumah Bianca.

__ADS_1


__ADS_2