Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 125 Pengertian dan Perhatian


__ADS_3

“Sejujurnya Bunda ga percaya kamu menerima perjodohan ini. Bunda bahkan masih ga percaya sampai akad nikah itu terjadi dan sesekali kamu menghubungi Bunda untuk berkabar tentang Dinda.”, kata Bunda Dinda pada Arya. 


Arya sempat terbangun di malam hari saat mereka menginap dan memiliki momen berbicara empat mata dengan Bunda. 


“Bunda sudah berpikir beberapa kali. Sampai akhirnya Bunda memutuskan untuk mengatakannya. Dinda, dia ditinggalkan oleh papanya diusia yang masih sangat kecil. Awalnya Bunda tidak tahu, jika luka karena hal itu tidak hanya dirasakan oleh Bunda tetapi juga Dinda.”, ujar Ratna pada Arya. 


“Dinda hampir saja tidak memiliki teman. Dia takut mendekati seseorang karena dia takut ditinggalkan. Mungkin dari semua teman yang pernah dekat dengannya, hanya teman - teman di kampusnya saja yang bertahan hingga sekarang.” 


“Dinda tidak pernah pacaran meski ada beberapa pria yang bahkan sampai datang kesini.”, Ratna mengeluarkan tawa kecilnya tatkala mengingat momen saat beberapa teman laki - laki Dinda datang ke rumah dan membuatnya pusing.


“Dinda seringkali takut menyimpulkan jika seseorang menyukainya karena papanya saja meninggalkannya. Bagaimana mungkin ada pria yang mau menyukainya. Tak sekali dua kali Dinda berpikir begitu. Bunda tidak tahu, tapi mungkin dalam hubungan rumah tangga kalian nanti, Dinda bisa saja punya pikiran - pikiran seperti itu. Terlebih pernikahan kalian karena dijodohkan.”, lanjut Ratna. 


“Tapi Bun, waktu itu saya sudah pernah katakan ke Bunda..”, balas Arya, namun kemudian Ratna memotongnya. 


“Bunda tahu dan Bunda percaya kalau kamu sayang dan cinta dengan Dinda. Bunda bisa melihatnya. Hanya saja, kadang Bunda khawatir Dinda melakukan hal yang justru malah membuat kamu khawatir, salah paham, atau hal - hal lainnya yang mempengaruhi rumah tangga kalian. Jika itu terjadi, Bunda mohon kamu bisa memberikan pengertian padanya dan mau mendengarkan alasannya. Hm?”, Ratna memastikan Arya memahami apa yang dia katakan. 


“Ya Bun. Arya juga bukan pria yang sempurna. Tapi Arya yakin bisa bertanggung jawab penuh untuk Dinda.”, balas Arya tersenyum 


Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong


Dinda menekan bel beberapa kali agar Arya langsung membukakan pintu. Dia takut ada karyawan lain yang melihatnya.


“Iya… masuk.”, kata Arya begitu dia membukakan pintu.


“Ga usah takut. Cuma aku yang ambil kamar di lantai ini.”, jelas Arya yang seolah tahu kenapa Dinda tak henti - henti menekan bel kamarnya.


“Mas Arya kenapa panggil aku kesini? Aku masih harus beres - beres. Tidak seperti mas Arya, aku berbagi kamar dengan karyawan lain. Namanya Delina. Kalau aku pergi - pergi begini, dia pasti akan heran.”


“Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari kamar ini. Lagipula hari ini bebas sampai malam. Kamu bisa cari alasan apapun untuk memberitahu Delina.”, kata Arya yang langsung membuat Dinda bingung.


“Mas Arya? Jangan bilang mas Arya benar - benar ingin aku disini sampai besok pagi?”, tanya Dinda memastikan.


“Bingo!”, jawab Arya.


Balasan Arya membuat mata Dinda membulat.


“Mas Arya.. kalau ini honeymoon kita, atau liburan kita, It’s okay. Tapi ini tim building. Ada banyak karyawan lain disana.”, jelas Dinda.


“Aku mau kembali saja.”, kata Dinda berbalik hendak menuju ke pintu, namun Arya dengan cepat segera menghalanginya.


“Eits..”, Arya mengunci pintu dan mengantongi kuncinya.


“Mas Arya apa - apaan sih mas? Aku bisa masalah. Lagi pula aku belum mandi.”, Dinda dibuat heran dengan tingkah Arya.


“Kamu bisa mandi disini. Memangnya hanya kamar kamu yang punya kamar mandi?”, kata Arya, membaringkan tubuhnya di kasur.


“Baju aku disana semua mas Arya…”


“Kamu bisa pakai kaos dan celana training aku. Atau kamu juga bisa menggunakan kemejaku, sepertinya terlihat lebih seksi.”

__ADS_1


Dinda bergidik bingung ke arah Arya.


“Mas Arya aku ga bercanda.”


“Aku juga gak bercanda. Anggap saja ini adalah hukuman buat kamu.”


“Hukuman atas apa? Memangnya aku berbuat kesalahan apa? Sepertinya dari bandara kesini mas Arya baik - baik saja.”


“Aku biarkan kamu memikirkan apa kesalahan kamu. Kalau kamu tidak bisa, kamu akan bersamaku disini sampai besok pagi.”, kata Arya santai.


Dinda lagi - lagi membulatkan matanya.


“Mas ga lucu..”


“Aku lagi gak ngelucu. Kalau kamu bisa memperbaiki kesalahan kamu, aku akan buka pintunya, sekarang juga.”


“Kesalahan apa sih?”


Arya tak mendengarkan kata - kata Dinda dan mengambil ponselnya untuk membaca beberapa pesan yang masuk.


“Ihh.. mas Arya aneh.”, Dinda mendumel kesal sebelum akhirnya mengambil handuk milik Arya di kopernya dan sebuah kemeja oversize berwarna putih kemudian langsung melesat ke kamar mandi.


Dia sudah tidak tahan untuk membersihkan badannya. Perkara Arya mau mengunci pintu, Dinda sudah tidak peduli. Nanti kalau ketahuan, mas Arya sendiri yang akan pusing. Begitu pikir Dinda.


‘Kesalahan apa sih? Memangnya aku ada buat salah? Aku juga tidak dekat - dekat dengan Andra dan Bryan kalau tidak perlu. Aku juga setibanya disini selalu menempel dengan Delina. Tunggu.. Apa aku sekarang jadi terdengar seperti istri yang menduga suaminya cemburu? Mas Arya? Cemburu?’


‘Kalau bukan itu lalu apa? Memangnya aku berbuat kesalahan lain? Yang ada dia yang sering bikin salah. Dingin kaya kulkas, suka menjahili aku, pikirannya mesum, hmm apa lagi ya… banyak deh. Kamu besok jangan kaya papa ya, nak.’, ujar Dinda pada bayinya.


Berbagai jenis pikiran - pikiran merasuki kepala Dinda meski saat ini dia berusaha untuk rileks dengan berendam di bathub.


Arya menatap ke arah kamar mandi. Dia melihat sekilas ke arah perut Dinda tadi. Bagaimana mungkin selama ini dia tidak sadar istrinya sedang hamil.


Tadinya, Arya sudah akan marah dengan Dinda. Dia sudah berniat untuk beradu argumen dengan gadis itu. Bertanya kenapa Dinda tidak memberitahunya tentang kehamilannya. Tapi, ucapan Bunda waktu itu muncul.


Walau bagaimanapun, pasti ada alasan Dinda belum memberitahunya pada Arya. Pria itu berpikir ulang tentang bagaimana dia harus menyikapi situasi ini. Apalagi melihat wajah gadis itu yang terlihat sedikit pucat.


“Tok tok tok.. Layanan room service.”, ujar seseorang dari balik pintu.


Kamar Arya berbeda dengan kamar lainnya. Terdapat dua ruangan. Satu ruangan tidur yang bergabung dengan kamar mandi dan toilet, kemudian ada satu ruangan yang terhubung dengan pintu masuk kamar yakni ruang tamu yang terdiri dari beberapa sofa.


Arya keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Ia kemudian berjalan ke arah pintu keluar dan mempersilahkan orang itu masuk. Ternyata Arya memesan beberapa hidangan untuk snak sore dan makan malam.


Saat ini sudah menunjukkan pukul 5 dan dia yakin Dinda pasti lapar. Karena hingga malam adalah acara bebas, semua karyawan bebas untuk makan dimana saja. Mereka sudah diberikan allowance untuk itu.


“Makan malamnya mau diantar pukul berapa, Pak?”, tanya petugas hotel setelah meletakkan semua makanan di atas meja.


“Hm.. jam 8 aja. Ini.. terima kasih ya Pak.”, Arya memberikan tip pada petugas sebelum akhirnya mereka undur diri.


‘Mungkin ada alasan untuk Dinda belum memberitahunya. Arya akan menunggu sampai gadis itu siap memberitahukan perihal kehamilan itu padanya.’, pikir Arya dalam hati.

__ADS_1


“Hukkk… mas Arya ngapain? Mau ada meeting disini?”, tanya Dinda sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Dia baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar ada seseorang di luar. Untungnya pintu kamar sudah ditutup oleh Arya. Setelah memastikan mereka keluar, Dinda baru muncul dan terkejut melihat beberapa makanan terhidang di meja.


“Sini kamu.”


“Hm?”, tanya Dinda bingung.


“Kita makan bareng. Pasti capekkan perjalanan di pesawat, belum lagi dari bandara kesini. Kamu pasti lapar. Kita makan bareng sini. Belakangan kamu makannya dikit. Nanti kurus, Bunda dan Mama akan memarahiku.”, tutur Arya sambil menepuk - nepuk sofa meminta gadis itu duduk di sampingnya.


“Wah.. ada buah juga. Puding? Ini apa?”


“Kamu pasti suka, enak ko itu. Ada taco juga nih. Ringan tapi lumayan membuat kenyang. Kamu juga harus minum jus, biar semakin sehat.”, Arya menunjukkan segala perhatiannya pada Dinda.


Meski dirinya sudah tahu Dinda hamil, tapi dia mencoba berpura - pura tidak tahu sampai gadis itu mengatakannya. Tapi, bukan berarti Arya tidak memperhatikan kesehatan istri dan calon bayinya.


“Uhmm…. Yummy. Taco-nya enak banget. Ada yah, disini menu taco? Jarang - jarang banget, loh. Ini?”


“Jus dari beberapa buah yang dicampur dengan mint. Enak dan segar. Bada kita bisa jadi fresh dengan ini.”


Kring Kring Kring Kring


Ponsel Dinda berbunyi saat dia sibuk melahap beberapa makanan di atas meja, sedangkan Arya hanya memperhatikannya saja.


“Mas Arya makan juga.”, kata Dinda sebelum mengangkat telponnya.


Arya hanya mengangguk - angguk memberikan kode ‘Iya’ pada Dinda.


“Halo, iya Mba Delina.”, sapa Dinda.


“Iya.. maaf mba aku belum kasih tahu. Ehm… teman aku, iya.. Teman aku yang lagi di Lombok, ngajakin aku ke Cafe, iya buat ketemu.. Jadi aku tadi gak sempat pamitan. Nanti aku balik malam ya, Mba. Maaf aku ga bisa ikut makan bareng yang lain.”, jawab Dinda mendengar celotahan pertanyaan - pertanyaan yang dilontarkan oleh Delina padanya.


“Iya.. masih rame dong sama mba Suci, Andra, Bryan dan lainnya. Gapapa, ga usah dibungkus buat aku. Aku nanti makan disini juga, kok. Oke.. makasih mba Delina.. Maaf yaa.. Nggak mengabari lebih awal.”, Dinda segera menutup ponselnya.


“Siapa?”, tanya Arya.


Sebenarnya pria itu tidak tertarik mengetahui siapa. Dia merasa ingin bertanya karena ada nama pria yang disebutkan disana. Dia baru ingat jika pria yang ada di divisi Dinda adalah Bryan dan Andra.


“Delina. Tadinya kalau mas Arya tidak mengurung aku disini, kami mau pergi ke pantai untuk makan seafood bakar.”, jawab Dinda.


“Heh… kaya ga pernah makan seafood bakar aja. Saya sering bawa kamu makan seafood bakarkan?”


“Ya.. tapi seafood bakar disini beda.”


“Ya jelas beda. Makannya ga sama saya. Nanti buat makan malam, kita pesan seafood bakar.”, jawab Arya dengan nada kesal.


“Hah? Masih mau makan malam lagi? Padahal sekarang udah makan banyak?”


“Din.. kamu itu masih masa pertumbuhan. Jadi, harus banyak makan. Udah ngikut aja apa kata saya.”, balas Arya.

__ADS_1


Saat ingin terdengar sebagai superior, Arya akan menggunakan kata ‘Saya’ pada Dinda agar gadis itu mendengarkannya.


__ADS_2