Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 54 Perhatian


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Arya keluar sebentar untuk mengambil air. Dia sulit sekali tidur. Bayangan - bayangan pertengkaran dengan Dinda tadi malam dan perkataan Sarah tempo hari menyelimuti isi kepalanya.


Arya melirik ke arah sofa. Dia terkejut karena Dinda masih ada disana, tertidur. Dia kira Dinda memilih tidur di kamar lain karena dia masih marah dengannya. Dia tidak tahu gadis itu akan tertidur di sofa.


Arya mengangkat Dinda untuk tidur di kamarnya. Beruntung, gadis itu tidak terbangun saat ia gendong. Ia membaringkan tubuh Dinda perlahan di kasur. Arya juga melepaskan hijab Dinda agar dia lebih leluasa.


*“Aku sayang sama kamu, makanya aku mau kasih kamu satu saran. Jangan tertipu dengan gadis polos seperti itu. Kamu kira ada wanita yang mau saja dijodohkan dengan pria yang sudah pernah menikah dan bercerai begitu saja?” *


“Jika dia terus menolak berhubungan dengan kamu, pasti ada yang dia sembunyikan.”, Sarah menarik lengan Arya agar pria itu menoleh padanya.


*“Siapa yang bisa tahu kalau dia benar - benar masih perawan. Mungkin dia tidak mau berhubungan dengan kamu karena dia takut ketahuan.” *


Sarah, perkataan wanita itu masih terngiang - ngiang di kepala Arya. Arya sudah mengenal Sarah lebih dari 8 tahun. Sementara Dinda, mereka baru saja bertemu selama 6 bulanan ini.


‘Gak mungkin. Aku gak boleh terpengaruh. Lebih baik aku selesaikan masalah yang ini dulu.’


Arya menggeleng - gelengkan kepalanya berusaha untuk menyingkirkan pikiran - pikiran negatif. Tak lama ponselnya berbunyi.


Panggilan dari Erick.


‘Jam 2 malam? Apa dia gak punya kerjaan?’, bathin Arya dalam hati.


Dia kembali keluar kamar untuk menjawab telepon dari Erick.


“Ia kenapa Rick?”, kata Arya. Arya memilih untuk mengangkat ponsel di ruang kerjanya sambil melihat view pagi dini hari dari apartemen.


“Gawat, Arya. Barusan gue dapat telepon dari branch di Poland. Katanya ada masalah dengan proyek yang tiga bulan lalu di tanda - tangani. Perusahaannya memiliki cabang paper company. Besok kita disuruh meeting dengan legal. Gila, beritanya ada dimana - mana. Corporate harus kasih legal statement secepatnya. Besok jam 7 pagi ketemu di firma hukumnya langsung, ya.”, kata Erick.


“Oiya, langsung bawa koper deh. Kemungkinan kita langsung berangkat ke Singapura ketemu branch dia disana. Mungkin butuh 2 hari untuk settlement.”, wajah Arya frustasi. Masalah pribadinya belum selesai, sekarang muncul masalah baru di kantor.


“Oke.”, kata Arya singkat sambil menutup ponselnya. Arya langsung membuka laptopnya dan memeriksa email yang baru saja dikirimkan Erick. Tidak hanya Erick, beberapa tim manajemen juga akan ikut meeting.


Arya langsung sibuk berjibaku dengan pekerjaannya. Dia harus sudah mempersiapkan materi yang harus dijelaskan pada meeting besok pagi.


****


Pagi menjelang, Dinda mengernyitkan dahinya dan berusaha untuk membuka matanya. Kepalanya terasa berat dan sakit karena efek menangis semalam. Dia melihat sekeliling dan tersadar bahwa saat ini dia ada di apartemen Arya.

__ADS_1


Dinda melihat kesamping, tidak ada Arya. Hanya dirinya sendiri di kamar itu. Meski layout dan tata letak kamar sudah berbeda, Dinda bisa menduga bahwa ini adalah kamar utama, karena posisi jendela dan kamar mandi.


Dinda bangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Beruntung hari ini hari libur, sehingga dia tidak perlu khawatir. Perhatiannya kemudian tertuju pada sebuah sticky notes yang tertempel di meja nakas.


Din, saya ada meeting pagi dan kemungkinan harus langsung terbang ke Singapura.


Kunci apartemen ada di laci.


Dinda langsung teringat pada pertengkarannya tadi malam. Dinda bingung, apa dia bisa mempercayai kata - kata Arya? Apa dia harus menemui wanita itu dan bertanya?


“Engga, aku ga mau dengar apapun dari wanita itu. Aku harus bagaimana?”, Dinda bingung bagaimana harus menyelesaikan masalah ini. Dia mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang.


“Halo..”, kata Dinda saat sudah menemukan nama yang dimaksud dan meneleponnya.


“Halo, Din.”, jawab seseorang di seberang sana. Ternyata Dinda menelepon Bianca.


“Bi.. kamu ada acara hari ini?”, kata Dinda.


“Ada sih, nanti malam mau ketemuan sama Reza. Kenapa?”


“Aku boleh ketemu kamu siang ini? Ada yang mau aku tanyakan.”, kata Dinda.


“Di luar aja, aku traktir kamu makan all you can eat.”, kata Dinda. Hitung - hitung dia refreshing menyegarkan pikirannya dari masalah rumah tangga yang belum siap ia hadapi.


“Okee… aku tunggu jam 1 ya. Aku kirim alamat restoran yang aku pengen. Gapapa, kan?”, kata Bianca.


“Hm.”, Dinda tersenyum. Dia segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


20 menit kemudian.


“Ooh… aku lupa sekarang lagi ada di apartemen. Aku mana punya baju.”, Dinda merutuki dirinya yang bodoh.


Akhirnya, sekarang dia mencoba memeriksa beberapa sudut lemari untuk mencari pakaian yang bisa digunakan. Dinda menemukan satu kemeja unisex dan celana panjang.


“Ah.. ini kan celana pak Arya, sudah pasti besar, dia kan punya kaki yang panjang. Apa aku lipat saja? Ah ..tetap saja besar.”


“Ooh iya, apartemen ini kan sampingnya Mall. Aku coba pakai celana training ini, terus beli disana aja. Pake kartu kredit pak Arya, biar dia bangkrut sekalian.”, kata Dinda.

__ADS_1


Dengan semangat 45, Dinda bersiap - siap menuju mall. Ia menggunakan baju dan celana training Arya yang masih bisa digunakan dan dia lipat bagian bawahnya.


Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit, Dinda sudah sampai di mall yang terhubung dengan apartemen. Dia langsung masuk dan memilih - milih pakaian yang akan dia kenakan. Begitu selesai, Dinda menyodorkan kartu kredit dan menyelesaikan pembayaran.


“Eh, Dinda.”, seorang wanita menyapanya, yang ternyata adalah Suci, rekan kantornya.


“Mba Suci.”, jawab Dinda tersenyum.


Suci mengedarkan pandangannya dari atas ke bawah. Dia bingung dengan outfit Dinda.


“Kamu ngapain ke Mall pake baju olahraga? Kamu ngegym disini?”, tanya Suci.


“Ohh.. ahh temen aku. Aku menginap di apartemen teman aku disini. Iyaa… jadi aku abis ngegym Benar sekali. Hehe”, kata Dinda berbohong.


Sebenarnya dia tidak perlu berbohong dan hanya menjawab iya saja. Tidak perlu penjelasan panjang.


“Ooh.. kirain kamu sendiri. Ya udah.. Aku duluan, ya. Mau nonton dan filmnya akan segera dimulai.”, kata Suci.


Dia datang bersama seorang pria. Saat Suci berbicara dengan Dinda, sepertinya pria itu memintanya untuk cepat menyelesaikan pembicaraan mereka. Mungkin takut ketinggalan.


Suci akhirnya berjalan menuju lift untuk ke lantai bioskop.


“Hm.. kok aku mencium parfum pria ya di bajunya Dinda. Aromanya aku kenal banget, tapi aku lupa.”, Suci mencoba mencium aroma baju pacarnya, takut dia salah cium.


“Sepertinya bukan parfum kamu. Parfum dari Dinda.”, kata Suci.


“Teman kamu tadi namanya Dinda?”, tanya pacar Suci.


“Hn.. dia teman sekantor aku. Tapi, kayanya rumah Dinda bukan di daerah sini. Kenapa dia pagi - pagi sudah ada di mall ini, ya.”


“Tadi kan dia bilang menginap di apartemen. Heh.. pasti abis tidur sama cowonya tadi malam. Lihat aja, dia belanja baju pas tadi kita ketemu.”


“Gak mungkin. Dinda bukan perempuan seperti itu.”, kata Suci.


“Jangan mau ditipu sama wajah polos. Kayanya juga bajunya itu baju cowo, kebesaran. Aromanya juga aroma parfum cowok. Sudah pastilah dia abis tidur sama pacarnya. Malam minggu, lagi. Kaya kamu?”, kata pacar Suci.


“Ih.. udah ah. Besok Senin aku tanyain ke orangnya.”, lanjut Suci.

__ADS_1


“Idih, ngapain kamu pake tanya - tanya. Pasti dia jawab enggaklah. Udah, ga usah dipikirin.”.


****


__ADS_2