Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 90 Konfrontasi Dimas


__ADS_3

“Guys, email resminya sudah ada nih.”, teriak Andra senang pada yang lainnya di jam - jam sore saat semua bos - bos dengan meeting.


“Delina, Azis, Suci, dan yang lainnya di divisi Digital and Development buru - buru membuka email mereka.”, wajah - wajah para pekerja kantoran itu langsung sumringah dan riang.


“Wah.. scalenya kali ini bagus nih. Di lombok 4 hari. Jarang - jarang banget tim building bisa hampir seminggu begini.”, ujar Andra mengomentari.


Diantara yang lainnya, memang Andra yang paling vokal menyuarakan isi hatinya.


“Kamu beruntung Din. Tim Building kali ini akan mengajak intern juga. Padahal sebelum - sebelumnya tidak. Hanya intern eksklusif seperti Dinda saja a.k.a Management Trainee.”, kali ini Delina ikut membuka suara.


“Iyaa mba. Aku belum pernah loh ke Lombok. Paling mentok ya Malang waktu itu karena ada study tour kampus.”, balas Dinda pada Delina.


“Nanti kita sekamar yaaa.”, ucap Delina pada Dinda.


“Hahaha.. Masih lama mba, masih sebulanan lebih lagi.”, kata Dinda sambil mengambil tumbler berisi green tea miliknya.


“Harus diomongin sekarang Din. Memangnya kenapa? Kamu gak mau sekamar sama aku?”, Delina memajukan bibirnya seperti sedang merengut. Sebenarnya dia hanya bercanda saja.


“Hihi.. iya iya mba.”, Dinda mengklarifikasi kata - katanya.


“Suci sudah pasti akan sekamar dengan Rini. Dia kan scale nya beda.”, imbuh Delina selanjutnya.


“Hm.. aku sih maunya sekamar dengan Pak Arya saja.”, jawab Suci bercanda.


Deg


Dinda terbatuk - batuk saat mendengar ucapan Suci. Kebetulan dia masih menenggak beberapa teguk green teanya supaya cepat habis.


“Pelan - pelan Din, minumnya.”, ujar Delina.


“Hush. Suci. Kamu belakangan bercandanya frontal banget.”, ujar Andra.


“Lah, memangnya kenapa? Kalau Pak Arya tertarik, aku mau masuk ke kamarnya.”, lanjut Suci.


“Wah.. kamu memang tidak ada lawannya Ci.”, Andra melanjutkan.


Tidak ada yang memperhatikan Dinda sama sekali. Meski ekspresinya sekarang agak canggung mendengar ucapan Suci, tetapi yang lain seperti sibuk mengobrol sendiri. Bahkan Delina yang tadi masih di tempatnya, di samping Dinda sudah pindah ke samping Andra karena tertarik dengan obrolan mereka.


Saat itu, Bryan yang duduknya memang sedikit jauh di seberang datang dan berdiri di samping Dinda yang masih duduk rapi di bangkunya.


“Kamu tidak masalah Suci masuk ke kamar Pak Arya?”, Tanya Bryan.


“Pelankan suara kamu.”, kata Dinda memperingatkan.


“Mereka tidak akan peduli. Mereka saja sibuk dan tenggelam dengan obrolan mereka sendiri.”, ujar Bryan melihat ke arah Andra, Suci, dan Delina yang sibuk dengan obrolan mereka. Lebih tepatnya, berandai - andai jika Suci bisa masuk ke kamar Arya saat tim building nanti.


“Mba Suci hanya bercanda. Aku mohon, bersikaplah tidak tahu apa - apa tentang ini. Bukannya kamu tidak tertarik dengan kehidupan orang lain?”, kata Dinda pada Bryan.


“Kamu yakin masih ingin berhubungan dengan Pak Arya. Dia tipikal pria yang akan tidur dengan banyak wanita.”


“Memangnya kamu pernah lihat?”, Tanya Dinda.


“Kamu sendiri?”, Bryan balik bertanya.


‘Kenapa Bryan jadi membahas itu terus? Salah - salah bicara, aku bisa dalam masalah.’, pikir Dinda dalam hati.


“Aku tidak perlu membahasnya denganmu.”, Dinda membalas dengan tajam. Dia tidak tertarik untuk membahas Arya dengan orang lain. Biarlah kehidupannya dengan Arya menjadi konsumsinya sendiri.


“Hei Bryan. Kamu ke ikut tim building, kan?”, Andra bertanya dari kejauhan begitu dia melihat Bryan mendekat.


“Lombok. Aku bosan.”, jawab Bryan.


“Ayolah biar rame. Lagian gratis.”


“Kamu lupa kalau Bryan bekerja hanya untuk mengisi waktu saja? Kalau dia mau, dia bisa ke Lombok numpang pipis lalu balik lagi.”, Delina melayangkan candaan sarkasnya.


“Kamu terlalu berlebihan. Aku tidak sekaya itu.”, Bryan segera mengklarifikasi.


“Aku jadi penasaran dengan agenda tim buildingnya. Wah aku sangat bersemangat. Bagaimana ini?”, pungkas Andra.

__ADS_1


Untuk 15 menit ke depan, mereka terus membicarakan tentang tim Building. Bahkan mereka sudah merencanakan ingin menggunakan baju apa, sepatu apa, sekamar dengan siapa, dan hal lainnya.


******


“Bagaimana Arya? Kamu sudah mengambil keputusan terkait promosi jabatan kamu?”, ujar seorang pimpinan manajemen yang sedang meeting 1 to 1 dengan Arya.


Pihak HRD sudah menunggu lebih dari satu minggu jawaban dari Arya, namun pria itu belum juga memberikan konfirmasi apakah setuju menerima tawaran posisi ini.


“Saya berterima kasih pada kesempatan yang sudah diberikan. Namun, saya sangat tertarik untuk mengambil opportunity khusus untuk divisi Business and Partners saja. Saya bersedia mengambil tanggung jawab semua tim, dan membawahi masih - masih managernya. Tetapi, untuk divisi Digital and Development, bisakah itu dilepaskan dari tanggung jawab saya?”, tutur Arya mencoba untuk mendiskusikan lagi terkait tawaran promosi yang diberikan kepadanya.


“Tidak ada orang selain kamu yang cocok untuk mengemban posisi itu. Kami sudah mencoba mencari kepala divisi untuk Digital and Development, tetapi meski banyak yang memiliki keahlian di dunia Digital, tetapi tidak ada yang memiliki pengalaman leader yang bagus seperti kamu.”


“Baiklah. Saya akan umumkan promosi kamu untuk membawahi keseluruhan tim Business dan Partners bulan ini. Kita harus segera restrukturisasi divisi Business agar menghasilkan performa lebih baik. Untuk Digital, kita akan rundingkan segera. Selama belum diputuskan, saya harap kamu bisa acting as Head Digital and Development untuk sementara waktu.”


Sejujurnya, Arya merasa kurang puas dengan keputusan ini. Dia tidak bisa menyimpan lebih lama lagi kenyataan tentang Dinda. Arya berdiri dari tempat duduknya dan berjabat tangan dengan pimpinan manajemen sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Kring Kring Kring


Dering ponsel Arya menyadarkan lamunannya sepanjang perjalanan dari ruang pimpinan menuju lift.


“Iya, halo Siska.”, jawab Arya.


“Pak Arya, satu jam lagi ada meeting dengan PT AB. Bapak sudah berangkat?”


“Ohiya.. Saya sedang on the way ke parkiran. Meeting di hotel XY, kan?”


“Iya betul Pak. Berkas yang diperlukan sudah saya email ke Bapak. Maaf ya Pak, saya tidak bisa ikut di meeting kali ini karena ada urusan mendadak dan saya harus cuti setengah hari.”, ucap Siska sambil menunjukkan nada menyesal.


“Tidak masalah. I can handle it. Manager tim 2 sudah berangkat? Ada anggota timnya juga yang ikut?”, tanya Arya memastikan.


“Sudah Pak. Mereka sudah di Hotel XY dan sedang menunggu Bapak.”


“Oke baiklah. Saya akan segera kesana.”, Arya menutup ponselnya dan menekan tombol lift ke bawah.


Dia harus segera menuju parkiran dan melesat dengan cepat menuju tempat pertemuan. Lagi - lagi dia tidak bisa pulang bersama Dinda hari ini. Arya hanya berharap meetingnya tidak sampai larut malam.


Arya tersenyum dan mengambil kembali ponselnya setelah menekan tombol lantai lobi yang dia tuju.


To: Istriku 


From: Istriku 


Gpp mas. Malam ini saya mau ketemu Bianca. Nanti dia yang akan antar pulang. 


Ekspresi Arya yang tadi cerah dan ceria berubah.


To: Istriku 


Kamu ga menginap, kan?


From: Istriku


*Apa aku m*enginap saja ya, mas?


Arya sudah sampai di lantai yang dia tuju. Wajahnya berubah panik.


‘Kenapa dia malah mau menginap di rumah Bianca? Enak saja.’, pikir Arya dalam hati.


To: Istriku 


Ga boleh. Kirim alamat Bianca, saya jemput kamu disana sepulang meeting.


Sekarang giliran Dinda di seberang sana yang mengernyitkan dahinya.


‘Mas Arya mau jemput? Tumben.’, batin Dinda dalam hati.


To: Istriku 


Jam 8 saya jemput. 

__ADS_1


From: Istriku


Iya mas. 


Arya sudah sampai di area parkiran mobilnya. Kini wajahnya sudah berubah dan menyunggingkan senyum.


‘Enak saja dia mau menginap. Aku harus menyelesaikan meeting ini dengan cepat.’, ujar Arya dalam hatinya. Dia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang sumringah.


“Arya!.”, seseorang memanggil Arya begitu pria itu sampai di depan mobilnya. Arya menoleh dan merasa tidak senang dengan kehadiran orang tersebut.


“Dinda, gadis berhijab yang satu kantor denganmu. Apa dia adalah istri barumu?”, tanya Dimas blak - blakan.


Arya sudah membuka pintu mobilnya dan bermaksud untuk tidak menghiraukan Dimas, tetapi laki - laki itu menahannya.


“Apa urusanmu. Apa kamu terobsesi denganku? Aku rasa kita sudah tidak punya urusan apapun satu sama lain. You got Sarah, right? You have a child, then why keep bothering my life after destroying it?”, ucap Arya dengan tegas. Dia menutup pintu mobilnya lagi dan berdiri berhadapan dengan Dimas.


“Why her?”


“What is your business?”, jawab Arya geram.


“Arya, kamu hanya akan menghancurkannya. Dia gadis yang sangat polos.”


“Look who’s saying.”, Arya mengeluarkan tawa sinisnya.


“Aku tahu kamu masih sangat mencintai Sarah. Dan kamu bermain dengan gadis sepolos itu? Kamu hanya akan menghancurkan dia.”


“Jangan sok tahu tentang perasaanku. Urus saja urusanmu sendiri.”


“Dinda bukanlah tipikal wanitamu. Kenapa kamu harus menikahinya?”, ucap Dimas tak kalah tegas.


“Kenapa semua orang sok tahu dengan tipikal wanitaku. Lalu kamu sendiri? Apa tipikal wanita mu adalah wanita yang sudah dimiliki orang lain?”, tanya Arya dengan tenang. Dia sudah sangat emosi namun dia menahannya.


“Lebih baik kamu kembali pada Sarah dan rawat anak kalian baik - baik daripada terus menggangu kehidupanku.”


Arya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya segera. Dia meninggalkan Dimas yang terdiam di posisinya.


******


“Kamu kenapa? Tidak biasanya berpikir terlalu dalam seperti itu?”, ujar Dika, pria yang dipergoki Arya berada satu kamar dengan Sarah tempo hari.


“Aku bertemu dengan Arya kemarin.”


“Kamu masih berhubungan dengannya?”, Tanya Dika. Mereka sedang berada di ruang meeting kantor saat ini. Dika adalah kepala divisi IT di salah satu startup terkenal.


“Tentu saja. Kamu tidak berpikir kita berpacaran hanya dengan berhubungan satu kali, kan?”, kata Sarah dengan penuh percaya diri.


“Haha.. tentu saja tidak. Aku juga punya anak dan isteri. Anggap saja kita hanya bermain sebentar lalu kembali ke dunia nyata. Lalu, bagaimana dengan mantan suamimu. Kalian bertemu di bar. Apa selanjutnya kalian menghabiskan malam bersama?”, Tanya Dika.


“Dia justru memakiku. Aku bingung dia tahu dari mana jika aku pernah hamil di belakangnya.”, ujar Sarah santai.


Dika, pria itu sudah menutup mulutnya karena syok.


“Heh. Kenapa kamu kaget begitu.”, Tanya Sarah.


“Jadi, kamu sudah punya anak? Aku bahkan tidak tahu itu.”


“Pernah hamil. Tapi beberapa bulan setelah aku bercerai dari Arya, aku keguguran.”


“Lalu apa masalahnya? Arya pasti akan merasa bersalah saat tahu kamu keguguran anaknya saat bercerai.”


“Aku berharap aku bisa mengatakan bahwa itu adalah anaknya. Tapi sepertinya Arya sudah mengetahui semuanya.”


“What? Jadi, anak yang kamu kandung bukan anaknya? Gila, kamu Sarah. Bagaimana kamu bisa hamil anak orang lain?”, ujar Dika.


“Dimas tidak mungkin mengatakan pada Arya. Tapi, dari mana Arya tahu jika bukan dari Dimas.”, Sarah memijat keningnya frustasi. Dia bingung kenapa Arya bersikap 180 derajat berbeda. Padahal sebelum - sebelumnya, dia masih memancarkan pandangan yang hangat pada Sarah.


“Aku harus bertemu dengan Dimas, sekarang. Kita sudah tidak ada meeting lagi kan?”, tanya Sarah pada Dika.


“Meeting di hotel jika kamu mau?”, ujar Dika setengah bercanda.

__ADS_1


“Aku sudah cukup denganmu. Sebaiknya kamu kembali pada istrimu.”, Sarah mengambil blazer yang digantungkan di ruang meeting dan segera keluar meninggalkan Dika.


__ADS_2