Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 150 Siapa Dika Sadewa?


__ADS_3

Ting. Terdengar bunyi lift terbuka. Dinda sedang menunggu lift untuk turun ke bawah. Jam makan siang sudah lewat lebih dari 10 menit yang lalu, namun dia baru memiliki kesempatan untuk turun sekarang.


Hari ini, Dinda tidak membawa bekal seperti biasanya karena dia dan teman - teman yang lain sudah setuju untuk makan di luar bersama. Berhubung hari ini adalah hari Jum’at, hari dimana para pekerja kantoran lebih senang untuk menghabiskan waktu makan mereka di luar.


Sudah hampir 5 menit Dinda menunggu lift tetapi sudah penuh. Teman - teman yang lain termasuk Fas dari Finance sudah jalan duluan. Dinda harus menyusul karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan secepatnya.


“Mau makan siang?”, tiba - tiba suara seseorang di belakang mengejutkannya.


“Ah..Iya Pak. Mau makan siang.”, jawab Dinda canggung.


Ternyata orang yang di belakangnya adalah Dika, kepala Divisi DD yang baru.


“Hm.. sudah berapa lama kamu intern?”, tanya Dika sekedar basa - basi sambil menunggu lift yang tidak kunjung muncul.


“Sudah masuk 8 bulan Pak.”, jawab Dinda singkat.


Untuk level intern sepertinya, sangat sulit mencari topik pembicaraan. Gap mereka terlalu jauh. Mau seperti apapun Dinda memutar otaknya untuk mencari topik agar suasana lebih cair, tidak ada satupun ide yang muncul di kepalanya. Alhasil, dia hanya bisa menjawab apapun yang ditanya Dika. Akibatnya, percakapan mereka hanya berjalan satu arah saja.


“Hm.. kamu tinggal dimana?”, lanjut ke pertanyaan berikutnya.


“Kompleks Perumahan Z.”, Dinda langsung menutup mulutnya karena dia keceplosan menyebutkan alamat rumah kediaman Kuswan dimana dia dan Arya tinggal sekarang.


Rasa gugup dan canggung membuatnya menjawab secara refleks.


“Hm.. maksud saya di daerah D, Pak.”, Dinda segera mengkoreksi jawaban sebelumnya menjadi rumah bundanya.


“Oh.. siapa ktu yang tinggal di perumahan Z? Pacar kamu?”, tanya Dika mencoba untuk bercanda.


Dia sadar kalau bawahannya itu tidak nyaman berada di sekitarnya. Selain karena gap mereka yang terlalu jauh. Mungkin saja karena dia juga baru di perusahaan ini.


Ting.


Akhirnya pintu lift terbuka dan kali ini hanya ada beberapa orang di dalamnya. Cukup untuk Dinda dan Dika. Dika masuk diikuti Dinda di belakangnya. Mereka tidak perlu menekan tombol lobi karena semua orang di lift sepertinya memang bertujuan ke lobi untuk mencari makan siang.


“Makan siang dimana?”, tanya Dika lagi.


Dinda kira begitu masuk lift, pertanyaan dari bos barunya itu akan berhenti. Tetapi malah sebaliknya. Dia masih menghujaninya dengan pertanyaan basa basi.


“Saya janjian dengan teman - teman yang lain di Mall depan, Pak.”, jawab Dinda.


Selesai Dinda menjawab pertanyaan, lift sudah membawa mereka ke lantai bawah.


“Baiklah kalau begitu. Kalau tadi kamu belum ada tujuan teman makan siang, saya mau traktir kamu. Mungkin lain kali.”, ujar Dika.


“Mari, Pak.”, balas Dinda sambil pamit menuju ke depan pintu keluar lobi karena selanjutnya Dika sudah berjalan ke arah basement menuju parkiran mobil. Mungkin dia berencana untuk makan siang di tempat yang jauh.


*******


“Wah.. yang benar, Din? Aku kira tadi dia sudah keluar dengan Pak Erick. Kenapa dia makan sendiri?”, tanya Delina.


“Mungkin dia belum se-akrab itu dengan Pak Erick. Biasanya Pak Erick kan makan bareng Pak Arya.”, kata Suci.


“Tapi kan Pak Arya hari ini seharian meeting di luar.”, kata Dinda refleks.


“Hm?”, sontak mata Delina, Andra, dan Fas langsung mengarah ke Dinda.


“Sejak kapan kamu tahu jadwalnya Pak Arya?”, tanya Delina.


“Ah… Eh?”, Dinda baru sadar dia telah melakukan kesalahan.


“Haha.. tadi waktu lewat di depan ruangan Pak Arya, aku dengar mba Siska ngomong jadwal Pak Arya.”, jantung Dinda seperti mau berhenti saja.


Meskipun dia sudah tidak setakut dulu kalau - kalau hubungan mereka ketahuan, tapi tetap saja. Dia masih belum bisa membayangkan bagaimana konsekuensi yang harus dihadapi kalau orang - orang kantor mengetahui statusnya sebagai istri Arya.


Sebagai seseorang yang lebih introvert, setelah dipikir beberapa kali pun, Dinda merasa lebih baik dia menyelesaikan masa internnya dengan tenang sebagai karyawan single dibandingkan tiba - tiba dikenal sebagai istri Arya.


Suci langsung melirik ke arah Dinda. Meski saat ini dia sudah menyerah dengan obsesinya pada Pak Arya, tapi dia masih belum bisa menerima dengan akal sehatnya kalau rekan kerjanya itu adalah istri Arya.


‘Sampai kapan Dinda mau menyembunyikan statusnya? Bukannya sekarang dia sudah bisa leluasa mengatakan kalau Pak Arya adalah suaminya?’, tanya Bryan dalam hati.


‘Bukankah alasan mereka harus menyembunyikan status adalah masalah profesionalitas di tempat kerja kalau pengambil keputusan memiliki hubungan keluarga dengan bawahannya? Kalau sudah ada Pak Dika, seharusnya semua sudah oke. Sekarang, apa masalahnya?’, Bryan terus bertanya - tanya sambil melihat ke arah Dinda.


“Heh.. Heh… mata dijaga. Jelalatan mulu liatin Dinda.”, Fas yang menyadari pandangan mata Bryan langsung memberikannya pukulan ringan. Fas memang lebih tomboy dari kelihatannya. Di kantor dia mengenakan rok pendek dan high heels, tetapi kalau bertemu di luar, dia akan menggunakan jeans dan berpenampilan lebih sporty.


Meski belum ada yang pernah bertemu langsung dengannya di luar kantor, tetapi instagram tentu saja memberikan mereka semua informasi itu.


“Terus - terus, Pak Dika nanyain kamu apa lagi?”, Delina kembali ke topik Pak Dika.


“Yah.. pertanyaan basa - basi-lah. Mau makan siang? Rumahnya dimana? Pertanyaan - pertanyaan seperti itu.”, jawab Dinda yang sudah mengambil sendok, karena makanan yang baru dia pesan akhirnya datang juga.


Berbeda dengan rekan lain yang sudah bisa menyantap makanan mereka, Dinda baru mendapatkan makanannya karena dia datang terlambat.


“Menurut kalian, Pak Dika itu tipe bos seperti apa? Aku belum bisa merasa nyaman dengannya.”, tanya Delina.


“Ah, buat apa peduli dia orang seperti apa. Yang penting pekerjaan selesai dan gaji masuk tepat waktu.”, jawab Andra sekenanya.


“Justru untuk bisa tenang, kita harus bisa tahu dia bos seperti apa. Kalau Pak Arya dan Pak Erick kan kita sudah tahu kalau dia adalah tipe yang bertanggung jawab. Bagaimana kalau Pak Dika adalah bos yang hobinya cuci tangan?”, kata Suci.


“Ya bagus dong. Bersih.”, kata Andra bercanda meski dia tahu maksud Suci.


Tentu saja candaannya langsung mendapat sabetan pukulan dari Suci.


“Ku sih ga masalah karena setelah 4 bulan, aku akan rotasi lagi. Satu kali rotasi dan aku ingin masuk ke divisi Business and Partners. Tapi, bagaimana dengan kalian yang akan terus tetap bersama dengan bos seperti Pak Dika?”, lanjut Suci.


“Kamu Din?”

__ADS_1


“Dinda beda, dia kan intern, dia bisa cabut kapan saja. Kamu belum dapat tawaran jadi karyawan tetap?”, tanya Andra.


“Hehe belum.”, jawab Dinda.


“Kamu gak mau tanya?”


“Aku sudah tanya itu duluan ke Dinda, tapi dia jawab belum tahu dan gak enak tanya ke Pak Erick.”, potong Delina.


“Tricky juga sih. Sekarang yang bisa ambil keputusan bukan Pak Erick, tapi bos diatasnya, yaitu Pak Dika.”


“Memang begitu?”, tanya Fas yang sedikit bingung dengan struktur di divisi DD karena dia berasal dari divisi Finance.


“Yah, kurang lebih. Kecuali Pak Erick bersedia merekomendasikan kamu. Pak Dika kan masih baru. Dia pasti tidak terlalu tahu. Soalnya, posisi Dinda sekarang itu kan memang selalu diisi oleh intern.”, kali ini Bryan yang menjawab.


“Ahh benar juga sih, ya.”, lanjut Andra.


“Begitu ya? Berarti memang tidak ada harapan?”, kata Dinda.


“Kamu kan bisa tanya Pak Arya.”, kali ini Bryan yang keceplosan dan Suci langsung melirik ke arah Bryan.


“Heh? Ngapain Dinda tanya ke Pak Arya? Walaupun mayoritas hampir setengah masa internnya waktu itu di bawah kepemimpinan Pak Arya, dia kan sudah tidak pegang DD lagi.”, ucap Andra.


“Ah.. iya.. Lupa.”, Bryan akhirnya hanya bisa mengiyakan kata - kata Andra.


‘Maaf, keceplosan.’, begitulah kira - kira ekspresi yang ditunjukkan Bryan pada Dinda.


*******


“Kamu sudah pesan makan?”, tanya Dika pada wanita di depannya.


“Kenapa ekspresi kamu begitu?”, tanya Sarah.


Siang ini, dia mengajak Dika untuk makan bersama di luar. Hal yang jarang sekali mereka lakukan. Biasanya mereka hanya bertemu di hotel atau apartemen milik Dika. Tetapi, entah kenapa Sarah malah menghubunginya dan mengajak untuk bertemu siang ini.


“Kita sudah setuju untuk membatasi pertemuan di luar. Kenapa kamu tiba - tiba mengajak makan bersama di tempat terbuka begini?”, tanya Dika.


“Kenapa? Kamu takut istri kamu tahu kalau kamu selingkuh?”, bukan Sarah namanya kalau tidak bersikap frontal seperti ini.


“Kamu mau apa?”, tanya Dika.


“Kamu pindah kemana? Kenapa aku harus tahu kepindahan kamu dari HRD? Kamu mau menghindari aku?”, tanya Sarah.


“Bukankah kamu berniat kembali pada mantan suamimu? Kenapa sekarang berlagak posesif terhadapku?”


“Kenapa? Apa memang benar kamu menghindariku?”


“Aku tidak menghindarimu. Buktinya sekarang aku disini. Kenapa?”, tanya Dika.


“Hm. Tidak. Aku hanya bingung kenapa kamu tidak memberitahu aku sama sekali kalau kamu sudah resign dan pindah. Kamu pindah kemana?”


“Sudahlah. Dimana aku bekerja, tidak ada kaitannya dengan hubungan kita.”


“Halo?’, Dika menjawab ponselnya.


“Eh? Baik, tidak perlu panik. Aku kesana sekarang.”, jawab Dika kemudian menutup ponselnya.


“Kenapa?”, tanay Sarah.


“Orang rumah menghubungi. Katanya anakku masuk rumah sakit. Aku harus pergi sekarang. Aku akan bayar makanannya di depan. Kamu nikmati saja makan siangnya.”, kata Dika berdiri.


Sarah menahan tangan Dika.


“Kenapa kamu begitu peduli? Bukankah kamu tahu kalau itu bukan anakmu?”, tanya Sarah.


“Sudahlah, Sar. Aku pergi, ya.”, ujar Dika meninggalkan Sarah sendirian di restoran.


*******


Dinda tak bisa menahan kantuknya yang kian lama semakin menyerang. Sepertinya menu makan siangnya hari ini terlalu berat dan membuatnya mengantuk dengan mudah. Dia akhirnya berdiri dan mencoba untuk mengitari lantai agar kantungnya hilang.


“Oh, Bryan? Ngapain kamu?”, tanya Dinda yang melihat Bryan sedang berada di pantry.


“Sepertinya makanan kita tadi banyak obat tidurnya. Aku ngantuk sekali. Mau kopi?”, kata Bryan menawarkan.


“Nah, benarkan? Aku juga merasa begitu. Ini pertama kalinya aku merasa mengantuk setelah makan siang.”


“Bukannya selalu begitu?”, goda Bryan.


“Enak saja. Itu mba Delina. Mana pernah aku tidur setelah makan siang.”


“Din, kamu… masih berhubungan dengan Pak Arya?”, tanya Bryan.


“Hm?”


“Kamu, masih berhubungan dengan Pak Arya?”, tanya Bryan lagi.


“Hn.”


“Wah.. sebelumnya kamu ragu - ragu menjawabnya dan sekarang kamu terdengar lebih percaya diri. Apa karena Pak Arya sudah tidak menjabat sebagai kepala divisi kita lagi?”, ujar Bryan.


“Kamu, kenapa bisa keceplosan? Bukannya kamu janji tidak akan memberitahukannya pada yang lain?”


“Kapan aku berjanji. Lagipula, bukannya kalian bisa dengan bebas sekarang? Dia terlihat sangat mengkhawatirkanmu saat acara Team Building yang lalu. Dia bahkan sampai memarahi kita di ruangannya. Sepertinya dia memang benar - benar menyukaimu.”


Raut wajah Dinda terlihat berbeda. Dia merasa senang dengan ucapan Bryan barusan.

__ADS_1


“Benarkah?”, kata Dinda memastikan.


“Wah… kamu benar - benar percaya diri sekali sekarang. Apa dia sudah berjanji akan menikahimu? Sampai kamu yakin begitu.”, ucap Bryan bercanda.


Dinda hanya tersenyum karena perkataan Bryan bahkan sudah terjadi sejak lama.


*******


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”, tanya Dika pada dokter yang saat itu sedang bertugas dan memeriksa di samping puteranya.


“Kelelahan. Setelah infusnya habis, saya akan memberikannya vitamin. Setelah itu sudah bisa di bawa pulang.”, ujar Dokter menyampaikan.


“Hah.. syukurlah. Apa tidak perlu menginap dok?”, tanya Dika memastikan.


“Tidak. Setelah infusnya habis, Bapak bisa membawa pulang dan diberikan asupan makanan lalu istirahat yang cukup.”, jawab Dokter.


“Baiklah. Terima kasih, Dok.”, Dika memeriksa keadaaan puteranya sebentar sebelum menggiring bundanya keluar dari area UGD.


“Tuhkan, ini yang mama bilang pernikahan? Dia saja sudah tidak peduli dengan anaknya sendiri, Ma.”, Dika langsung mengeluarkan emosinya ketika sudah berada di luar ruangan UGD.


“Terus, itu berarti kamu bisa dengan bebas berselingkuh dengan orang lain?”, kata mamanya.


Mata Dika membulat mendengar ucapan mamanya. Dia memberikan ekspresi seolah ingin bertanya bagaimana mamanya bisa tahu.


“Kamu tidak perlu heran dari mana mama bisa tahu. Siapapun wanita itu, segera tinggalkan dia. Mama tidak mau mertua kamu mempermasalahkan hal ini di kemudian hari.”


“Hah, mama dan papa sama saja. Kalian tahu, dengan begini, kalian sudah menghancurkan hidup putera kalian sendiri hanya demi uang.”, ucapan Dika begitu tegas.


“Mama bawa Putera pulang setelah infusnya habis. Bilang ke Rianti, aku tidak akan pulang malam ini.”, perintah Dika.


“Kamu mau kemana? Menghabiskan malam dengan wanita selingkuhan kamu itu?”, kata mamanya.


“Kantor.”, kata Dika menarik nafas panjang dan berlalu.


Dia berjalan terus di sepanjang rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan dia harus sudah kembali ke kantor. Meskipun dia adalah kepala divisi, tetapi tidak seharusnya dia kembali lewat dari jam makan siang.


Saat melewati lobi rumah sakit, bayangan seorang wanita membangunkan lamunannya. Seseorang yang dia kenal melewati lobi rumah sakit namun segera melebur dengan beberapa pasien dan para staf rumah sakit.


‘Seperti seseorang yang aku kenal? Hah tidak mungkin. Sebaiknya aku kembali ke kantor.’, bathin Dika.


Baru akan melanjutkan langkahnya, suara seseorang yang sangat dia kenal kembali membuatnya berhenti. Dika menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang sangat dia kenal berada disana.


Wanita itu sedang berbicara dengan salah seorang staff rumah sakit sebelum dia menyadari ada seseorang yang menatapnya. Seiring dengan wanita itu menoleh ke arah Dika, dia juga semakin yakin dengan bayangan yang dia lihat tadi.


“Rima?”, refleks nama itu keluar dari mulutnya.


Disisi yang berlawanan, dr. Rima tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dunia memang sangat sempit. Setelah bertahun - tahun mereka tidak pernah bertemu dan bersinggungan, bisa - bisanya mereka malah bertemu di tempat ini. Rima ingin menghindar tapi hati dan langkahnya tidak bisa bersinergi.


“Rima?’, Dika memberanikan diri untuk berjalan mendekati dokter itu.


“Hai.”, sapaan canggung yang pertama kali keluar dari mulut Rima.


Sapaan yang membuat seolah gap 10 tahun ini seolah tidak ada artinya.


“Kamu?”, tanya Dika ragu - ragu. Dengan gown putih yang dikenakan Rima sekarang, dia pasti bisa menduga kalau gadis yang dia pacari 10 tahun yang lalu sekarang sudah menjadi seorang dokter.


“Hm.. akhirnya..”, kata Rima. Dia dan Dika tahu benar jika menjadi dokter adalah impiannya.


*******


Di taman Rumah Sakit dengan segelas kopi di tangan masing - masing. Sudah lima menit mereka disini, tetapi belum ada yang memulai percakapan sama sekali. Cuaca mendung dan udara juga sudah dingin membuat bibir mereka mungkin terkatup dan tak ingin berbicara.


“Wah.. sudah lama ya.”, kata Dika dengan nada canggung.


“Hm.. sudah 10 tahun atau lebih?’, balas Rima.


“Kamu sudah lama di rumah sakit ini?”


“Baru beberapa bulan ini.”


“Di kota ini?”, tanya Dika.


“Hem.. belum lama. Setahun? Dua tahun? Aku tidak menghitungnya.”, jawab Rima.


“Kamu sudah menikah?”, Dika masuk ke pertanyaan paling sensitif sekaligus membuat dia penasaran.


“Hm… sudah.”, jawab Rima berbohong.


“Aaah…”


Ekspresi Dika nampak kecewa. Setelah itu dia tak menanyakan apa - apa lagi.


“Kamu sendiri? Masih dengan Mba Rianti?”, tanya Rima.


“Hm..”


Drrrttttdrrttt


“Oh… aku ada pasien. Daa..”, kata Rima mencoba mengakhiri percakapan mereka.


“Rim…”, tangan Dika refleks memegang tangan Rima.


“Hm?”


“Kapan kita bisa mengobrol lagi?”, tanya Dika.

__ADS_1


Rima melepaskan pegangan tangan Dika.


“Sepertinya tidak akan. Bye.”, kata Rima sambil tersenyum.


__ADS_2