Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 24 Menginap Dadakan di Hotel Bagian 1


__ADS_3

“Ci, saya mau ini kamu selesaikan secepatnya, ya sebelum masa rotasi kamu berakhir. Menurut saya, analisa ini bisa diselesaikan kurang lebih 3 minggu sampai 1 bulan. Ini tugas terakhir kamu di divisi saya, so do your best!”, kata Arya sambil mematikan pointers yang mengarah pada papan presentasi. Ia juga mengambil dua buah berkas dari dalam laci dan memberikannya pada Suci.


“Oke, meeting kita sampai sini. Kayanya gak ada yang perlu didiskusikan lagi. Unless you have a question, I guess see you on top ya, Ci.”, tutur Arya tegas sambil menepuk bahu Suci yang kala itu mengenakan kemeja lengan pendek.


“Pak Arya gak penasaran saya rotasi kemana?”, tanya Suci. Ia memberanikan diri untuk sedikit akrab pada Pak Arya.


Jujur, meskipun orang - orang di kantor melihat dia adalah MA paling akrab dengan pak Arya karena sering diajak pergi - pergi, tetapi gadis ini tetap saja tidak merasa keakraban yang dimaksud sama sekali.


Pak Arya tetap saja menjadi orang yang sama dengan yang orang lain lihat. Kaku, tegas, pemarah, ambisius, dan menjaga jarak. Bahkan, hingga saat ini pun Arya terus bersikap seperti itu. Hanya hubungan profesionalitas saja.


“Oke, saya ada telepon urgent. Seems like going to be an hour long. So, please help yourself. Good Luck, ya!”, jawab pak Arya sama sekali tidak menggubris pertanyaan Suci.


Meskipun begitu Suci merasa sangat senang, karena selama dia rotasi di divisi Pak Arya, baru kali ini pak Arya menepuk bahunya.


Suci memang sudah menaruh hati pada Pak Arya. Meskipun jarak mereka terpaut jauh tetapi sosok pak Arya membuatnya sangat mengagumi pria itu. Karena itu, ekspresinya saat pertama mendapat giliran rotasi pada divisi Arya tidak seperti karyawan MA lainnya.


Suci sangat senang, bahkan dia ingin terus secara permanen berada di divisi Arya.


*****


***Kamu saya tunggu di depan kantor AZ, ya. ***


***Gak pake lama. Kalo lama, saya tinggal. ***


Begitu bunyi pesan yang dikirimkan pak Arya 10 menit yang lalu pada Dinda. Hari ini, mereka bisa pulang bareng karena Arya sudah tidak ada pending meeting lagi.


Arya menyuruh Dinda untuk menunggu di tempat tadi ia menurunkan gadis itu.


Disisi lain, Dinda ternyata masih asyik mengobrol dengan teman - temannya. Mba Suci begitu antusias menceritakan bahwa pak Arya menepuk pundaknya. Sebulan lagi, ia akan rotasi ke divisi yang baru. Sehingga dia sudah bisa agak lega untuk menceritakan pengalamannya selama bekerja di divisi Arya.


Dinda sangat senang mendengar antusiasme mba Suci. Dinda juga sebenarnya ingin sekali bisa menjadi karyawan MA, tetapi strata itu begitu tinggi untuk Dinda yang hanya tamatan S1 lokal.


Pesan dari pak Arya membuat Dinda harus pamit lebih dulu. Padahal dia masih ingin mendengar cerita dari mba Suci. Saat mendengar mereka ngobrol, Dinda seolah lupa statusnya sebagai istri dari pemeran utama yang sedang disebut - sebut dalam cerita mba Suci.


Dinda dengan sigap mengambil tasnya dan berjalan terburu - buru menuju lobi. Ia harus segera berlari ke gedung AZ jika tak ingin Arya meninggalkannya.


Sebenarnya Dinda tidak masalah pulang sendiri. Tetapi, cerita tentang begal payudara dan kejahatan sejenis yang disampaikan oleh tukang ojek kemarin membuat nyali Dinda jadi ciut.


Maklum, perumahan tempat ia tinggal sekarang adalah perumahan elit lama, dimana banyak rumah - rumah yang sudah kosong ditinggal oleh penghuninya. Meskipun ada satpam yang berjaga tetapi dia juga selalu tidur, atau sudah pergi main dengan teman - temannya.


Jadilah, Dinda harus berusaha pulang bersama dengan pak Arya saat ini agar ia merasa lebih aman.


“Besok, telat satu menit saya tinggal.”


“Iya maaf Pak, tadi saya telat liat hapenya. Jadi, telat juga baca chatnya.”


“Ini kalo kita telat sedikit, bisa dua jam di jalan. Saya masih harus meeting sama klien nanti malam. Ato besok kamu pulang sendiri aja, deh.”


“Pak, jangan pak. Saya takut.”


“Takut kenapa? Gak bakal ada yang menculik kamu kok, ga usah khawatir.”


“Pak, jangan gitu. Besok saya akan lebih tepat waktu lagi turunnya. Maaf ya.”


Dinda terpaksa harus memohon. Daripada dia menjadi korban kejahatan seksual, lebih baik dia ditindas oleh laki - laki ini.

__ADS_1


Ternyata kondisi jalan raya pun tidak memihak pada Dinda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat, tetapi mereka masih terjebak dalam kemacetan yang entah karena apa.


Tidak seperti biasanya, mereka yang seharusnya sudah sampai sejak 30 menit yang lalu malah masih merayap di jalan. Bahkan perjalanan yang ditempuh belum lagi setengahnya. Macet sudah mulai sejak mereka memasuki jalan tol.


“Halo, iya rick. Bukannya jam 9 ya?”, tiba - tiba telepon Pak Arya berdering. Ekspresinya jangan ditanya. Kesal dan marah.


Mukanya saja sudah merah. Dinda sudah tidak berani melihat ke arah kanan. Dia hanya melihat lurus ke depan sambil membuka google maps untuk memastikan traffic. Garis merahnya masih panjang.


“Gue masih di jalan kena macet. Bisa ga di mundurin jadi 8.30? Gue cari tempat singgah dulu. Ya udah, thanks Rick.”, Pak Arya menutup teleponnya. Ia memukul setir dan berucap ‘Shit’. Meski tidak kuat, tapi cukup sudah membuat Dinda terkejut.


“Saya ada meeting 30 menit lagi. Mau gak mau kita harus minggir. Kamu bantu cari hotel terdekat dan booking satu kamar ya.”, kata Arya sambil celingak celinguk ke depan dan kebelakang seperti sedang mencari jalan.


“Kita gak pulang ke rumah, Pak?”, seketika Dinda mengutuk dirinya karena sudah menanyakan hal ini.


“Gak bisa, meeting ini penting. Saya mau keluar tol di depan. Kamu cepat cari hotel terdekat. Booking sekarang. Kayanya macetnya bakal awet. Muter arahpun bakal macet.”


“Kamu pesan pake hape saya aja. Ambil di tas belakang. Itu sudah otomatis nyambung ke mobile banking.”, kata Arya yang langsung menangkap kebingungan Dinda.


Dinda langsung berusaha sigap mengambil ponsel Arya, meskipun akhirnya dia tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak cincin dari dalam tas tersebut.


“Udah cepat, ini bentar lagi udah mau keluar tol. Kalau harus muter lagi dan kena macet, saya unboxing kamu.”, kata Arya dengan nada tegas dan mengancam,


Entah sekarang dia sedang bercanda, mengalihkan perhatian, atau bagaimana. Dinda merasa bingung harus berekspresi seperti apa.


‘Gak lucu.’, hanya itu yang bisa ia gumam dalam hati.


“Ada Hotel A, harganya 800 ribu. Gimana? Di jalan ini.”, Dinda langsung membuka aplikasi, mengaktifkan GPS, dan mencari hotel apapun yang bisa dibooking


“Ini terlalu kecil. Kamu coba filter yang ada meja kerjanya. Hotel B coba, ada yang kosong gak. Kayanya di sekitar sini ada hotel itu.”, kata Arya melanjutkan.


“Ya udah buruan booking.”, Dinda merasa mereka sedang cosplay film Agent dimana misi rahasia harus segera diselesaikan.


Dinda segera booking dan melakukan pembayaran.


“Pak Passwordnya bisa ketik?”, Dinda menyodorkan ponsel itu pada Arya.


“Masukin 929814”, kata Arya.


“Ohiya, berapa Pak? Bapak yang masukin sendiri aja. Masa saya?”, Dinda merasa tidak nyaman mengetahui password m-banking Arya.


“Kamu gak lihat saya lagi nyetir? Udah masukin 9-2-9-8-1-4. Susah banget, sih. Nanya lagi, saya turunin kamu di jalan.”, kata Arya tegas sambil meninggikan suaranya. Dia kesal karena harus mengulang lagi passwordnya.


“Iya, iya. Udah Pak, udah berhasil di booking.”, kata Dinda menunjukkan notifikasi transaksi selesai di ponsel Arya pada laki - laki yang wajahnya sudah merah padam itu.


“Dari tadi kek. Kan gak bikin saya darah tinggi. Sekarang, kamu pindah ke kursi belakang. Kamu rapikan lagi isi tas yang kamu jatuhkan. Jangan lupa ambil berkas warna kuning yang ada stempelnya di tas yang satu lagi, trus kamu satuin. Trus kamu ambil laptop saya sama ipadnya, masukin juga ke tas itu. Udah, ngerti?”, Arya terus saja memberikan instruksi.


Dinda yang dengan susah payah berhasil pindah ke kursi belakang langsung melaksanakan tugas.


“Berkas yang ini atau yang ini?”, tanya Dinda karena dua - duanya ada stempel.


“Yang ada stempel perusahaan kita. Kalo udah, sekarang kamu lihat ke kursi belakang, itu ada tas olahraga, coba kamu buka dalamnya ada apa aja?”, lanjut Arya tanpa jeda.


“Ada tiga kaos oblong, satu jaket, trus dua celana jeans, sama iniii.”, Dinda mengeluarkan satu per satu dengan lantang sampai pada satu benda yang dia malu mengatakannya. Benda itu masih baru dalam kotak. Isinya ada tiga.


“Oke, perfect!’, kata Arya.

__ADS_1


Pas sekali dia sudah keluar dari jalan tol dan mulai putar arah menuju hotel B. Jaraknya sangat dekat. Mereka tinggal lurus melewati area macet lebih kurang 5 menit, kemudian masuk memotong sebuah perumahan dan muncul di jalan tempat hotel tersebut berada.


10 menit kemudian mereka sampai di hotel B. Arya yang sebelumnya sudah meminta Dinda merapikan tas yang tadi dia suruh packing, mengambil tas - tas tersebut dan menyandangnya.


Dinda juga ikut keluar dari mobil sambil membawa ponsel dan satu tas kecilnya. Selain itu, dia memang tidak punya barang - barang lagi.


“Oke, kita mampir sebentar ke supermarket disana. Kamu plis-plis dengan cepat beli underwear kamu. Saya mau 5 menit. Kita sudah harus check-in dan saya harus meeting.”, Meski otak Dinda masih berpikir, tapi tekanan yang dihadirkan oleh Arya membuat organ tubuhnya melangkah lebih cepat.


Dia mengambil selembar 100 ribuan yang diberikan Arya dan bergerak menuju mini market. Ia mengambil satu set underwear dan membayarnya di kasir. Kurang dari 10 menit berlalu. Arya sudah bermuka masam lagi karena Dinda selesai lewat 5 menit. Tentu saja Dinda beralasan ada antrian.


Dengan cepat mereka bergerak menuju lobby untuk check in.


Dinda belum pernah ke hotel ini sebelumnya. Hotel B tidak terlalu premium tapi juga bukan hotel abal - abal. Satu malam saja harganya sampai 900 ribu, bathin Dinda.


“Ambil kuncinya, kita langsung ke atas.”, Arya langsung meminta Dinda yang notabene hanya memegang satu kantong belanja yang isinya underwear untuk mengambil kunci dari resepsionis.


“Nyampe kamar jangan celingak celinguk kaya orang bego. Bantu saya setting meja, meetingnya tinggal 10 menit lagi.”


“Iya, jawab Dinda menunduk.”, dari tadi dia tidak lebih dari seorang asisten. Harusnya sekarang dia sudah sampai rumah, mandi, makan, dan tidur. Tapi sekarang malah harus berkutat dengan si ambisius yang dari tadi katanya harus meeting - meeting terus.


Dinda yang lapar karena dari tadi siang belum makan hanya bisa diam dan mengikuti perintah Pak Arya. Lupakan kalau laki - laki itu adalah suaminya.


“Satu kaos oblong dan celana training di dalam tas itu bisa kamu pake. Itu celana dan baju baru, kok. Kamu gak usah khawatir. Kamu mandi duluan. Selesai saya meeting kita cari makan.”, seketika senyum Dinda merebak tanpa ia sadari.


Dia langsung menarik kembali sungging bibirnya saat sadar apa yang sudah dilakukannya di depan Pak Arya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih - bersih.


*****


‘Gimana ini, aduh karena salting, aku jadi masuk kamar mandi tanpa bawa baju ganti. Keluarnya gimana, mana handuknya yang robe ada di luar lagi. Duh Dindaa, kenapa baju kotornya udah kamu basahin, sih.’


‘Bego banget sih kenapa yang kaya gitu bisa lupa. Gapapa, robe-nya kan ada disisi kiri, pak Arya ada di sisi kanan. Lagian dia pasti sedang fokus dengan meetingnya. Dia gak akan lihat - lihat ke arah sini.’


Setelah berpikir matang - matang, Dinda melancarkan rencananya untuk keluar kamar mandi dengan handuk seadanya, dan bergegas mengambil robe di sebelah kiri pintu.


Bruk


Gagal.


Begitu membuka pintu, dia langsung menabrak tubuh kekar pak Arya yang ternyata sudah pas berada di depan pintu.


“Aww.. sakit..”, Dinda terkejut sekaligus refleks mengaduh karena tabrakan itu cukup kencang.


“Eh… ini…”, Tabrakan itu ternyata membuat handuk yang dikenakan Dinda hampir terlepas. Pak Arya langsung dengan sigap memeluk Dinda agar handuk yang dikenakannya tidak terlepas. Gerakan refleks yang tak disangka - sangka.


Dinda semakin terkejut tapi juga tidak bisa berbuat apa - apa. Jika Pak Arya tidak segera memeluknya, handuk yang sedang dikenakannya sudah pasti terlepas.


“Ambil lagi bagian handuknya di sebelah kiri lalu katup kan pelan - pelan.”, perintah Pak Arya yang terdengar santai.


“Buruan, atau kamu memang sengaja menggoda saya?”


“Iya iya Pak.. sebentar.. Pelan - pelan.. Oke .. huft.”, terdengar nafas lega dari Dinda.


Pak Arya langsung melepas pelukannya. Beberapa bekas air yang masih basah di bagian atas tubuh Dinda dan air dari basahan rambutnya sudah membuat sebagian besar kemeja pak Arya basah.


Dada bidangnya sedikit terlihat dari efek transparan yang diciptakan oleh air tersebut.

__ADS_1


“Makanya ke kamar mandi jangan lupa bawa baju atau bawa ini.”, Pak Arya mengambil robe yang tergantung di sebelah kanannya dan menjatuhkannya ke atas kepala Dinda.


__ADS_2