
Akhir pekan belum berakhir, setidaknya untuk dua orang yang ada di club malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi untuk mereka, ini masih pagi. dr. Rima, tadi pagi dia sudah berjanji untuk pulang tepat waktu pada ibunya, tetapi lagi - lagi dia malah berakhir di klub.
“Halo.. katanya akhir pekan jadwal terlarang untuk ke klub. Kok malah muncul disini?”, ujar bartender yang ada di sana.
Dia sudah sering bertemu dengan dr. Rima beberapa bulan belakangan ini.
“Hah… mau bagaimana lagi. Aku kesepian di akhir pekan dan ingin kesini.”, jawab Rima.
“Hm.. berarti sudah saatnya kamu cari pasangan. Lihat, ada banyak pria tampan disini kalau akhir pekan. Beruntung kamu mencoba datang. Tidak seperti hari biasa, lebih banyak yang oke hari sabtu dan minggu. Mau yang mana? Aku bisa perkenalkan.”, ujar bartender itu.
“Aku tidak tertarik untuk itu.”, jawab Rima sambil menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh bartender itu.
“Wah.. kamu belum menganggapku teman? Aku bukan menawarkan pria untuk satu malam. Tapi pasangan. Bukankah yang aku katakan tadi, kamu butuh pasangan?”
“Memangnya pasangan seperti apa yang bisa aku temukan di klub? Paling hanya laki - laki brengsek.”, kata Rima.
“Oh… tidak semuanya. Makanya kamu harus punya channel sepertiku. Ada beberapa diantara mereka yang tidak seburuk itu.”
“Darimana kamu tahu? Lihat saja itu, baru datang sudah mendekati perempuan. Itu juga.”, ujar Rima sambil menunjuk - nunjuk pria yang ia lihat.
“Hei.. aku bekerja disini hampir setiap hari. Aku tidak seperti bartender lain yang hanya menyediakan minuman. Aku mengamati mereka yang datang kesini.”
“Bukankah kamu baru pindah ke bar ini?”, tanya Rima.
“Hm.. tapi, ada beberapa pengunjung yang juga pernah berada di bar sebelumnya. Intinya, kamu berteman dengan orang yang benar. Ada satu pria yang ingin aku perkenalkan denganmu kalau kamu mau.”
“Hm?”, kata Rima masih meragukan bartender tadi.
“Sini Sini.”, ujar Bartender itu meminta Rima mendekat.
“Ada satu pria yang sering datang kesini. Kadang sendiri, kadang bersama wanita. Tapi, awalnya aku kira mereka punya hubungan, tapi sepertinya tidak. Pria itu tidak pernah mendekati wanita yang ada disini. Dia hanya datang, minum, dan pulang. Aku yakin dia juga kesepian. Kalau dia nanti kesini. Aku akan memberitahu kamu.”, ujar bartender tadi.
Rima mengangguk. Tak lama seorang wanita lagi yang sebaya dengan Rima datang ke bar itu. Dia memang lebih sering datang di akhir pekan. Siapa lagi kalau bukan Sarah. Tadinya, dia sudah mengajak Dika tau Dimas, tapi tidak ada yang mau menemaninya. Alhasil setelah sekian lama tak pernah ke club sendiri, dia mencobanya.
Sarah duduk di samping Rima dan langsung meminta minuman pada bartender. Sarah melihat sekilas ke arah Rima namun kemudian mengalihkan perhatiannya lagi. Berbanding terbalik, Rima justru tidak tertarik dengan sekitarnya. Dia hanya fokus pada minuman dan masalahnya. Dia harap setelah ini dia bisa melupakannya.
Meski dia salah besar. Tidak ada minuman yang bisa menghilangkan masalah seseorang. Hanya ada solusi. Dan minum bukanlah solusi terbaik. Setidaknya Arya sudah membuktikannya. Selama kurang lebih tiga tahun dia menyia - nyiakan waktunya di klub, tak ada satupun solusi yang dia hadirkan.
“Kamu baru datang kesini? Aku tidak pernah melihatmu?”, ujar Sarah akhirnya membuka suara.
Ternyata datang ke klub sendirian adalah pilihan yang salah. Dia merasa lebih kesepian diantara keramaian. Sarah mencoba mengajak bicara wanita di sebelahnya.
“Hm? Kamu bicara denganku?”, tanya dr. Rima yang merasa ada seseorang melihat ke arahnya.
“Heh, siapa lagi. Ya, aku berbicara denganmu. Hari ini aku datang sendiri. Aku kira bisa mengurangi rasa kesepanku, ternyata aku salah. Aku tidak pernah melihatmu disini.”, ujar Sarah.
“Aku tidak pernah datang saat akhir pekan. Hari ini yang pertama, mungkin karena itu kamu tidak melihatku.”, ujar Rima.
“Sarah.”, kata Sarah memperkenalkan diri.
Rima sedikit terkejut. Dia jarang sekali melihat orang berkenalan dengannya terlebih dahulu di klub, kecuali pria.
Rima belum menjulurkan tangannya. Sarah mengangkat sedikit tangannya.
“Rima.”, jawabnya singkat.
“Kamu bekerja? Ibu rumah tangga?”, tanya Sarah.
“Sepertinya aku tidak pernah melihat ibu rumah tangga di klub.”, balas Rima.
“Aah.. mungkin kamu belum bertemu satu. Aku bekerja. Aku yakin kamu juga. Masih single?”, tanya Sarah lagi.
“Hm… Rima hanya mengangkat bahunya.”, dia tidak tahu harus menyebut dirinya single atau sudah menikah. Jika single, kenapa dia sudah memiliki anak. Jika sudah menikah, dia tidak punya suami yang bisa dia perkenalkan.
“Kamu tidak ingin berbicara hal pribadi? Baiklah.”, kata Sarah.
“Aku hanya bingung bagaimana mengatakannya. Kamu sendiri?”, tanya Rima sambil menenggak minuman yang baru saja dituangkan oleh bartender.
“Aku bekerja. Sebelumnya sudah menikah dan bercerai.”, jawab Sarah.
“Oh sorry.”
“Sudah sekitar tiga tahun yang lalu. It’s okay.”, jawab Sarah.
Keduanya merasa bahwa kehidupan pribadi mereka lumayan menarik. Yah, siapa yang datang ke klub jika mereka memiliki rumah tangga yang hangat. Apalagi di akhir pekan. Mereka memutuskan untuk mengobrol hal lain yang sifatnya tidak pribadi.
__ADS_1
*******
“Din, kamu mau coba yang mana duluan?”, ujar Arya yang sudah siap di dapur.
“Besok aja mas Arya. Sudah larut malam.”, kata Dinda.
Begitu tiba di rumah, Arya langsung meminta Bi Rumi untuk merapikan belanjaan mereka dan memasukkannya ke dalam kulkas. Hari sudah sangat larut ketika mereka selesai bebersih. Dinda juga sudah sangat mengantuk.
Tapi, pria satu ini masih bersikeras untuk membuatkannya susu. Alhasil, Dinda harus duduk di dapur bermain rumah - rumahan dengan suaminya. Bukan main, dia sudah meletakkan berbagai merek susu yang mereka beli untuk dipilih. Jangankan Dinda, Bi Rumi yang melihatnya saja hanya bisa geleng - geleng kepala.
“Selama Bi Rumi bekerja di rumah ini, Bi Rumi belum pernah melihat den Arya begini, non Dinda. Wah.. pepatah yang mengatakan kalau orang bisa berubah 180 derajat saat bertemu orang yang tepat itu benar, ya.”, bisik Bi Rumi pada Dinda.
“Aku juga bingung Bi Rumi. Apakah ini mas Arya yang aku kenal atau bukan. Tiba - tiba begini, tiba - tiba begitu.”, jawab Dinda sambil berpangku tangan melihat kesibukan suaminya.
“Jusnya sekalian ga, Din?”, tanya Arya lagi.
“Susu aja mas. Kalau aku minum jus tengah malam begini, yang ada aku ke kamar mandi terus nanti.”, jawab Dinda.
“Wah - wah.. Ada keributan apa malam - malam begini?”, Ibas tetiba muncul dari tangga.
“Mas Arya ngapain?”, tanyanya lagi saat sudah berada di dapur.
“Mau ngapain kamu? Sudah sana kembali ke kamar.”, kata Arya mengusir adiknya.
“Mau minum. Tanya begitu saja langsung marah.”
“Lain kali, kamu bawa galon sana ke kamar, biar ga turun - turun.”, ujar Arya.
“Mas Arya lagi bikin susu? Merek X, Y, Z.. banyak sekali. Ini mau di oplos?”, ujar Ibas sekenanya.
“Dasar gak ada akhlak kamu, masa di oplos. Bi Rumi, yang dua ini aku taruh dimana ya? Kita mau coba yang merek pertama dulu.”, ujar Arya sambil melihat ke arah Bi Rumi.
“Di lemari sebelah kanan nomor 3 aja, Den. Yang nomor 2 buat susu Rafa dan Samawa.”, jawab Bi Rumi mengarahkan.
“Okay… kamu coba sekarang.”, ujar Arya meletakkan susu yang sudah dibuatnya di depan Dinda.
“Alah, cuma bikin susu doang sudah kaya mau hajatan. Heboh. Din, jangan meleleh ya. Kan gampang, cuma panasin air, masukin gelas, aduk.”, kata Ibas.
“Heh, kamu sudah selesai minum belum. Kalau sudah, sana kembali ke kamar. Mengganggu istri orang saja. Sana.”, ujar Arya mengusir adiknya.
‘Lebay.’, begitu kira - kira pesan yang ingin dia sampaikan pada Arya.
“Oiya, tunggu.”, panggil Arya.
“Apa? Berubah pikiran?”, balas Ibas.
“Baju mas, mana? Sudah selesai, kan? Balikin, ya. Jangan bersarang di lemari kamu terus kamu akui jadi milik kamu.”
“Iya, iya.. Ya ampun pelit banget. Sayangnya om, nanti jangan kaya papanya ya.. Bahaya.”, ujar Ibas memegang perut Dinda sebentar.
Dinda hanya bisa tersenyum. Ibas langsung berlari ke atas saat Arya sudah bersiap mengejarnya. Dinda mencoba meminum susunya.
“Gimana?”, tanya Arya penasaran.
“Hm.. lumayan. Rasanya enak dan tidak buat mual.”, ujar Dinda setelah meminum setengah gelas.
Bi Rumi sudah permisi dari tadi karena dia sudah mengantuk. Hanya tinggal Dinda dan Arya di dapur.
“Kalau begitu kita coba merek yang ini dulu, ya.”, ujar Arya.
“Hm. tapi udah ya, aku ga kuat habisin.”
“Loh, kenapa? Tinggal setengah lagi, kok. Katanya enak.”
“Enak sih, tapi….”
“Ayoo… setengah lagi.”, ujar Arya memberikan motivasi.
Dinda menggeleng. Perutnya sudah kenyang, dia sudah tidak ingin memasukkan apa - apa lagi.
“Ya udah… setengahnya biar aku yang minum.”, kata Arya.
“E-eh? Memangnya boleh?”, tanya Dinda heran.
“Hm.. di internet sih katanya gapapa. Biar kamu juga ada temannya.”, kata Arya menghabiskan setengah gelas lagi. Sebenarnya tinggal sedikit karena bagian bawah gelas lebih mengerucut.
__ADS_1
Muach… Arya memberikan kecupan pada bibir Dinda sekilas.
“Bau susu.”, ujar Dinda tertawa.
“Kamu juga.”, ujar Arya tersenyum.
“Ya sudah, kita ke atas.”
********
Arya dan Dinda sudah mengambil posisi nyaman di ranjang mereka. Arya menghadap ke arah balkon, begitu juga Dinda yang berada di pelukannya. Tangan Arya berada di perut gadis itu untuk memberikan kehangatan pada bayi mereka. Begitulah kira - kira maksud Arya.
“Bulan depan, kita sudah bisa melihat jenis kelamin bayinya.”, kata Arya sambil memberikan ciuman - ciuman kecil di kepala Dinda.
“Hm? Kok mas Arya tahu.”
“Begini begini, aku menyempatkan untuk baca - baca tentang kehamilan. Aku masih simpan bukunya. Ada di koper di dalam mobil. Belum sempat dikeluarkan.”
“Hm? Mas Arya beli bukunya?”, tanya Dinda kaget dan menoleh menghadapkan wajahnya pada Arya.
“Hn. Aku beli beberapa sebelum berangkat ke luar negeri dan aku masukin koper. Waktu itu kamu masih marah, jadi mungkin kamu gak lihat.”, jawab Arya mencium pipi Dinda. Interaksi mereka lebih dekat dan lebih intens saat ini.
“Mau lihat dong. Aku juga mau baca.”, kata Dinda melingkarkan lengannya di pinggang Arya.
“Harusnya tadi kita beli beberapa lagi. Waktu itu aku hanya beli sedikit. Itu juga yang tipis - tipis. Minggu depan, kalau aku tidak ada perjalanan bisnis lagi, kita ke toko buku untuk beli, ya.”c, Arya menarik lengan Dinda agar lebih erat lagi memeluknya.
“By the way, mas Arya itu manusia es, ya?”, tanya Dinda random.
“Kamu meledek saya lagi?”, balas Arya.
“Habis, masa disaat ACnya sudah sedingin ini, mas Arya boboknya masih tanpa atasan, sih?”, kata Dinda.
“Bukannya kamu sudah kalau tanpa atasan begini?”
“Ihhh apa - apaan sih mas Arya. Percaya diri banget. Memangnya kapan aku bilang suka?”, protes Dinda.
“Cuma kamu loh, yang bisa lihat saya shirtless, spesial kan jadi istri Arya Pradana.”, ujar Arya yang sebenarnya malu mengatakannya.
Dinda menggeleng - gelengkan kepalanya dan memukul dada bidang Arya pelan. Ia kemudian menggeserkan kepalanya untuk melihat ekspresi pria itu.
Muach…
“Kenapa lihat - lihat? Lihat lagi, saya cium loh.”, kata Arya.
“Atau kamu memang lagi cari - cari kesempatan, ya biar di cium.”, lanjut Arya lagi.
“Aku setuju sama kata Ibas, kalau bisa anak kita mewarisi ketampanan dan kejeniusan mas Arya, tapi jangan sikap dingin dan cheezy nya.”
“Wah… kamu mau istrinya nanti ga sebahagia kamu, ya? Huh? Kamu sekarang pasti meleleh, kan? Aku bilang begitu.”
“Awas aja, nanti pas mas Arya tidur, AC nya aku naikkan.”, kata Dinda pura - pura mengancam.
“Wah.. jadi selama ini yang bikin udara malam tiba - tiba panas itu, kamu? Jadi itu taktik kamu biar sama lepas baju, ya?”
“Ih.. mas Arya… jangan gitu ah… mas Arya ngomong gitu ke aku doang kan?”, tanya Dinda.
“Kenapa? Kamu cemburu kalo aku ngomong kaya gini ke orang lain, juga?”
“Engga, malu. Bayangkan kalau orang kantor tahu sebenarnya mas Arya itu kaya gini. Gak kebayang betapa kena mentalnya mereka.”, ujar Dinda.
“Hahahah.. Kamu nih ya, bisa - bisanya. Beruntung kamu sudah tidak jadi bawahan saya lagi, Din.”, kata Arya.
“Hm.. tapi kadang kangen juga.”, ujar Dinda tersenyum.
“Kangen?”
“Iya, kangen sama garangnya mas Arya kalau di kantor. Aku selalu salut sama karyawan Business and Partners apalagi Siska.”
“Kenapa?”, tanya Arya.
“Kuat menghadapi bos kaya Pak Arya.”, ujar Dinda tertawa lepas.
“O-oh? Kamu panggil saya ‘Pak’, berarti harus dapat hukuman ya..”
“Mmmhhh.. Mas Arya, haha.. Engga… mas Arya salah dengaar… mmm.. Haha.. Ih iseng banget deh.”
__ADS_1
Tak terasa hari ini mereka menghabiskan couple time dengan maksimal. Hari yang jarang sekali mereka habiskan apalagi setelah beberapa waktu lalu sempat perang dingin.