
“Mas Arya, kenapa tidak cerita kalau mau meeting dengan tim di sini.”, kata Dinda setelah mereka akhirnya memiliki waktu berdua lagi.
Sementara itu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Suasana rumah sakit sudah lebih sepi dari sebelumnya terutama di koridor - koridor karena semua pasien dan keluarga yang jaga sudah memilih untuk berdiam di kamar masing - masing. Apalagi untuk kategori kamar pasien yang hanya berdaya tampung satu orang (private).
Ibas tidak datang kesini malam ini karena mama perlu ada yang standby di rumah. Arya sudah menyelesaikan ritual sorenya di kamar mandi dan sudah dalam kondisi yang lebih segar sekarang. Berbeda dengan di rumah, pria itu tidak shirtless setelah selesai mandi. Mungkin Arya takut kalau - kalau ada suster yang tiba - tiba datang ke kamar pasien untuk melakukan pemeriksaan.
“Kenapa?”, tanya Arya dengan suara lembut.
Pria itu sedang membuka botol jus dan burger yang dia pesan untuk makan malam. Makanan yang sepertinya Dinda hanya bisa melihatnya karena dokter belum memperbolehkannya. Dinda sedikit memanyunkan bibirnya, berharap bisa mencicipi makanan itu.
Makanan rumah sakit bukannya tidak enak, tetapi kekurangan MSG sehari dan fast food sepertinya sulit juga. Apalagi di kepalanya sekarang, Dinda masih tak bisa lepas memikirkan es krim dan sejenisnya.
Dinda tidak menjawab dan memberikan tatapan penuh arti pada Arya. Pria itu masih menanyakannya padahal Dinda sudah bilang beberapa kali bahwa dia kaget dan malu tiba - tiba harus berhadapan dengan orang kantor. Apalagi yang dia temui adalah bawahan Arya secara langsung setelah kejadian tidak terduga di lobi kemarin.
Bukan staff biasa tapi Team Leader yang levelnya mirip dengan Pak Erick. Bagaimana dia bisa bersikap biasa saja. Apalagi saat itu, posisinya bukan sedang duduk tetapi sedang tertidur. Meski dia pasien, tapi ada saja rasa tidak nyaman baginya. Dinda benar - benar belum siap.
“Huft… sekarang aku mau tanya sama kamu. Pertanyaan serius.”, ujar Arya mengesampingkan kembali burger yang sudah siap disantapnya. Kemudian, Arya menatap istrinya lembut.
Tiba - tiba saja, dia baru teringat tentang perkataan Dika siang ini padanya. Sesuatu tentang Dinda yang tidak dia ketahui dan Dinda juga belum menceritakan itu padanya. Untuk hal lain, dia bisa saja menunggu Dinda untuk bercerita padanya. Tapi, untuk sesuatu yang menyangkut keamanan istrinya, Arya tak bisa menunggu lagi.
“Hm? Iya mas.”, tanya Dinda bingung tetapi langsung mengarahkan fokusnya menunggu kira - kira pembicaraan serius apa yang akan dikatakan Arya padanya.
‘Pembicaraan serius? Memangnya mas Arya mau membicarakan apa? Aku jadi gugup setiap kali mas Arya mencoba untuk serius. Padahal hampir setiap waktu dia terlihat serius. Kenapa perlu mengatakannya lagi’, tanya Dinda bingung dalam hati.
“Aku tidak akan tanya ‘Kenapa’ meski aku ingin sekali menanyakannya. Tetapi aku ingin menanyakan apa yang terjadi di basement sebelum kamu bertemu dengan Dika dan kemudian istrinya di lobby?”, tanya Arya dengan tatapan serius. Dia menunggu jawaban dari Dinda yang terlihat terkejut dengan pertanyaan itu.
Arya bahkan sengaja untuk bangun dari kursinya dan mengambil duduk di bagian kecil di pinggir tempat tidur Dinda. Laki - laki itu menyeka sedikit rambut pirang Dinda. Karena hanya ada mereka berdua, Dinda sudah tidak mengenakan hijabnya.
Setelah mendengar pertanyaan Arya, pikiran Dinda kembali pada satu hari kemarin setelah mereka selesai ditraktir makan siang oleh Dika. Sejujurnya, Dinda tidak memikirkan itu lagi dan mungkin dia seolah sudah melupakannya secara refleks di kepalanya. Hal yang terjadi padanya kemarin tidak terduga dan terjadi bertubi - tubi antara satu dengan lainnya. Disaat itu, dia juga sedang memikirkan hal lain. Namun, pertanyaan Arya membuatnya kembali mengingat itu dan ekspresinya langsung mengeluarkan rasa takut.
Otak dan tubuhnya kembali mengingat apa yang dia alami atau hampir alami kemarin jika saja Dika tidak ada di basement itu untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Dinda langsung memegang perutnya, seolah menjaganya untuk tetap berada dalam kondisi aman.
Dinda kemudian terdiam sebentar, dia bingung mau mengatakannya dengan cara apa, mulai dari mana dan harus bagaimana? Kepanikan membuat dia jadi bingung. Ketika dia menyadari dan kembali mengingat sepenuhhnya, wajahnya menengang.
Ketegangan di ekspresi Dinda bisa Arya rasakan karena wajahnya berhadapan langsung dengan istrinya. Arya memegang tangan Dinda yang sedikit bergetar.
“Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Ceritakan saja. Apa yang terjadi sebenarnya di basement waktu itu? Apa terjadi sesuatu pada kamu?”, tanya Arya menatap lurus pada istrinya.
__ADS_1
Arya mendekatkan kembali wajahnya. Dia menatap istrinya lembut. Pria itu berusaha menyalurkan bahwa dirinya ada disini dan tidak ada siapapun yang bisa menyakitinya. Gadis itu sudah berada di tempat yang aman.
“Ehem..Waktu itu aku turun di basement setelah acara team lunch divisi. Kami menumpangi mobil beberapa karyawan dan aku menumpang mobil Pak Dika bersama dengan rekan - rekan lainnya. Jadi, gak cuma ada pak Dika disana. Terus yang lain naik semua sementara aku mampir ke toilet dulu. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kebetulan di basement juga ada toilet.”, Dinda berhenti sebentar sambil berusaha mengingat - ingat bagaimana kronologinya.
Dinda melihat ke arah Arya lagi. Ada kekhawatiran di matanya.
“Tunggu, aku mau mas Arya janji untuk tidak bersikap gegabah setelah aku menceritakan ini ya. Aku khawatir sama mas Arya.”, kata Dinda memegang tangan Arya sebelum melanjutkan ceritanya.
“Gegabah kenapa? Aku gak ngerti kalau kamu hanya bercerita sepotong - sepotong, Din. Justru sekarang aku khawatir dengan kamu.”, kata Arya menyeka sedikit beberapa helaian rambut di wajah istrinya.
“Janji dulu.”, Dinda bahkan menarik bagian bawah baju Arya agar mau berjanji padanya.
Arya menatap Dinda bingung. Tapi dia harus melakukan apa yang dikatakan istrinya dulu, agar bisa mendengarkan semua alur ceritanya.
“Ya udah. Iya, aku janji tidak akan bertindak gegabah. Jadi kenapa memangnya? Jelaskan semuanya.”, tanya Arya sudah mulai tidak sabar.
Dinda menarik nafas dalam sebentar sebelum kembali melanjutkan ceritanya lagi.
“Sewaktu aku selesai dari toilet. Tiba - tiba, aku mendengar suara orang yang sedang berselisih paham. Mereka seperti bertengkar. Aku tidak lihat dan hanya mendengar suaranya dari balik tiang. Awalnya aku tidak mengindahkan suara - suara itu dan fokus berjalan kembali ke lift yang jaraknya lumayan jauh. Tetapi, samar - samar aku dengar, sepertinya perselisihan yang mereka bicarakan ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Pak Teddy.”, jelas Dinda dengan tatapan serius.
“Pak Teddy? Teddy, Team Leader Business and Partners maksud kamu? Mereka menyebutkan namanya saat berselisih?”, tanya Arya menatap lebih serius lagi.
Dia sudah bisa mengontrol nafasnya dengan baik dan sudah mulai tenang. Arya juga mendengarkannya dengan serius.
"Sampai akhirnya mereka mengatakan bahwa sebenarnya sasaran mereka bukan Pak Teddy tapi mas Arya. Pak Teddy juga terlibat di dalamnya tetapi dia segera mengurungkan niatnya. Dan mereka balik menyerangnya. Ketika mereka menyebut nama mas Arya, aku jadi ingin mendengar lebih detail karena aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mas.”, kata Dinda memegang lengan Arya yang kekar.
Bahkan kepalan tangan Dinda di lengannya tak bisa menggapai semuanya.
“Sebenarnya ada apa, mas? Aku bingung kenapa mereka mau mencelakai mas Arya? Aku benar - benar khawatir dan shock mendengarnya.”, jelas Dinda dengan wajah khawatir.
“Apa mereka mengatakan sesuatu tentang alasannya mereka ingin mencelakai aku?”, Arya punya dugaan, tapi dia belum ingin mengatakannya. Dia juga ragu, apakah seorang bawahannya, bisa melakukan sampai sejauh itu hanya karena permasalahan di kantor.
'Tidak, belum tentu dua orang itu adalah karyawan kantor atau bawahannya.', ujar Arya berpikir dalam hati.
Dinda menggeleng. Dia benar - benar tidak tahu. Mengingat kembali saat - saat itu membuatnya jadi takut.
“Terus, kenapa kamu bisa bersama dengan Dika setelah itu di lobby?”, Arya sedang berusaha menyusun puzzle - puzzle dari cerita Dinda yang sebelumnya tidak berurutan.
__ADS_1
“Tadinya aku sudah mendekat untuk mencoba mengetahui siapa mereka berdua. Aku mencoba menjulurkan ponselku. Tapi, seseorang menghubungiku tiba - tiba dan mereka sadar. Aku lari sekuat tenaga dan berakhir dengan bertemu Pak Dika di parkiran beberapa baris dari tempat aku menguping pembicaraan mereka.”, jelas Dinda dengan runut.
“Tunggu, apa kira - kira mereka tahu kalau kamu menguping pembicaraan mereka?”, tanya Arya sangat khawatir.
Walau bagaimanapun, dia tidak bisa membiarkan sesuatu yang berbahaya terjadi pada istrinya.
“Bagus, kalau dia minta penjelasan. Bawa di kesini di jam - jam sepi seperti kemarin. Biar aku hajar dia.”
Dinda terdiam sebentar kemudian dia menggeleng.
“Aku tidak ingat mas. Aku langsung lari. Aku tidak ingat lagi apa yang mereka bicarakan setelah itu.”, ujar Dinda.
Kalau mengingat kejadian saat itu, dia jadi gemetar karena Pak Teddy saja bisa begitu karena ulah mereka apalagi dia dan bayinya. Parkiran saat jam segitu juga sangat sepi. Mereka bisa melakukan apapun dalam waktu singkat tanpa ketahuan.
‘Hah… memikirkannya membuat aku gila. Kalau saja saat itu ada yang miss sedikit, aku tidak akan memaafkan diriku.’, ujar Arya dalam hati.
“Kamu kenal siapa orangnya?”, tanya Arya kemudian masuk ke pembicaraan yang lebih serius.
“Tidak. Aku tidak ingat mas. Aku tidak melihat jelas. Aku hanya ingat suaranya. Meski aku sudah mencoba melihat dengan ponsel, saat itu ponselnya langsung bunyi. Aku tak sempat melihat apapun.”, jelas Dinda, masih ada rasa khawatir dalam dirinya.
“Ya sudah. Untuk sementara waktu, jangan pergi ke tempat - tempat sepi sendirian terutama di kantor. Kalau ada sesuatu atau kamu membutuhkan sesuatu, kamu segera menghubungi aku, ya.”, kata Arya memegang bahu Dinda untuk menenangkannya.
Dinda mengangguk.
“Mas Arya juga hati - hati. Makanya mas Arya jangan galak - galak.”, kata Dinda dengan nada serius.
Namun, Arya mendengarnya berbeda. Dia hampir saja tertawa.
“Memangnya kenapa? Apa hubungannya?”, tanya Arya bingung, dia menyentuh sedikit - sedikit pipi Dinda.
“Mungkin saja mereka jadi bete dan dendam karena mas Arya galak.”, tutur Dinda dengan polosnya.
“Itu namanya bukan galak tapi tegas. Bagaimana bisa kita memastikan pekerjaan kita bisa selesai jika kita tidak tegas. Apalagi kalau kamu membawahi orang dengan kepribadian yang beragam.”, jelas Arya.
Hanya Dinda yang mampu membuat dia berbicara lebih dari tiga kalimat.
“Iya juga sih.”, respon Dinda sudah mulai lelah.
__ADS_1
‘Sepertinya dia sudah mengantuk padahal dia baru saja tertidur. Mungkin dokter memberikan resep obat yang mudah kantuk sehingga dia bisa optimal untuk bedrest.’, pikir Arya saat menatap mata istrinya yang masih sayu.
Dinda membiarkan rambut pirangnya tergerai rapi dan Arya meminggirkan sedikit ke belakang telinga untuk menatap wajah istrinya.