Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 174 Meeting di Apartemen


__ADS_3

Seperti biasanya di sore hari, Suci dan gengnya turun untuk sekedar menyegarkan pikiran mereka di cafe milik Dimas. Hampir semua dari mereka memesan kopi. Mereka membutuhkan suplemen ekstra untuk menjaga mata mereka agar tetap melek sampai pekerjaan selesai.


Fas, staf bagian keuangan (Finance) yang biasanya jarang ikut nongki di sore hari pun kali ini ikut berkumpul. Delina susah payah untuk mengajaknya turun sesekali menghirup udara segar.


“Kenapa bengong kamu, Bryan.”, tanya Fas yang mendapati temannya bengong sedari tadi.


“Engga. Berasa sepi aja.”, ujarnya.


“Kangen Dinda, ya kamu? Ya ampun, kan cuma sehari doang, doi ga masuk.”, balas Fas.


“Kamu suka sama Dinda2, Bry? Belakangan kamu perhatian banget sama dia.”, tanya Andra sedikit sewot.


“Memangnya aku itu kamu? Semua perhatian diartikan sebagai rasa suka.”, sindir Bryan.


‘Hah, dasar. Masih saja, Dinda. Apa kira - kira reaksi mereka kalau tahu Dinda sudah menikah?’, pikir Suci dalam hati.


“Tapi ya, Bryan. Aku rasa, Dinda itu sudah punya pacar, deh.”, kata Delina.


Bryan dan Suci yang sedang menyeruput Ice Coffee mereka langsung terbatuk - batuk.


“Heh heh heh.. Kenapa kalian? Hati - hati dong, minumnya.”, ujar Delina kaget dengan reaksi keduanya.


“Hai guys, ada member yang kurang nih sepertinya.”, sapa Dimas yang ikut membawakan croissant dan sandwich pesanan mereka.


Dimas merasa bosan jika hanya memantau karyawannya bekerja. Sehingga, sesekali dia juga ikut terjun melayani pelanggan. Apalagi jika dia melihat ada kesempatan untuk berbicara dengan pelanggan.


Biasanya, Dimas akan mengantarkan pesanan para eksekutif yang bisa memberikannya peluang kerja sama. Namun, kali ini dia menginginkan geng Suci untuk mengulik informasi tentang Dinda. Dia merasa penasaran bagaimana kabarnya sejak pertemuan tak terduga tempo hari.


“Iya Dim, Dinda hari ini tidak masuk. Dia sedang cuti satu hari. Mungkin sedang pacaran.”, jawab Delina bercanda.


“Hum.. aku tidak tahu kalau dia punya pacar.”, balas Dimas.


“Hm.. ada apa dengan ekspresi itu. Apa kamu juga menyukai Dinda?”, tanya Delina iseng. Dia hanya bermaksud menggoda saja.


Suci langsung menoleh karena merasa penasaran ingin mengetahui jawaban Dimas.


“Kok kamu bisa tahu, sih?”, jawab Dimas tersenyum.


“Hah? Beneran?”, Delina yang bertanya namun sekarang dia juga yang kaget luar biasa.


“Ha-ha-ha.. Aku hanya bercanda.”, ujar Dimas sambil tertawa. Lalu dia pergi setelah mengantarkan pesanan mereka.


Delina menyipitkan matanya.


“Lagian kamu apa - apaan sih pertanyaannya?”, sekarang Andra yang dari tadi diam mulai angkat bicara.


“Kenapa? Kamu cemburu ya? Ya, kan bisa aja Dimas suka. Atau jangan - jangan Dimas sukanya sama Suci, ya?”, Delina berani mengatakannya karena orang yang dibicarakan sudah pergi.


“Suci kan sudah punya pacar, kenapa kamu menjodoh - jodohkan dia lagi?”, tanya Fas.


“Wah… pada belum tahu ya? Pada belum tahu, ya?”, ujar Delina.


“Apa - apaan sih Del, kamu.”, protes Suci.


“Memangnya kamu tidak berniat untuk memberi tahu mereka?”, tanya Delina bingung.


Bukannya menjawab, Suci malah membuang muka. Delina, langsung mengambil kesimpulan bahwa dia bisa memilih untuk mengatakannya atau tidak.


“Jadi, guys. Siap - siap telinga kalian, ya.”, kata Delina membuat semua yang ada disana penasaran.


“Apaan sih Del, bikin penasaran aja. Buruan.”, kata Fas sudah tidak sabar.


“Suci sudah putus sama pacarnya.”, kata Delina dengan memberikan intonasi seperti sedang memberikan berita hangat.


“Hah? Yang benar, Ci? Kamu putus sama cowok yang tajir mampus itu?”, tanya Andra tidak percaya.


Diantara semua orang yang duduk disana, hanya Andra yang mengetahui detail informasi pacar Suci. Sementara yang lain hanya tahu kalau Suci memang sudah punya pacar tetapi tidak pernah tahu siapa orangnya.

__ADS_1


“Delina, kamu memang, ya.”, kata Suci geleng - geleng kepala.


‘Kalau orang seperti Delina yang tahu tentang Dinda, aku tidak bisa membayangkan bagaimana chaosnya.’, pikir Suci dalam hati.


“Lah, kamu mau kemana?”, tanya Delina karena Suci beranjak dari tempat duduknya.


Suci memperlihatkan ponselnya. Ada panggilan dari Pak Erick yang berarti dia harus segera naik ke atas.


“Wah, kayanya kita harus balik juga.”, ujar Delina sambil mengambil potongan sandwichnya dan memakannya sambil jalan.


Teman - teman yang lain juga mengikutinya karena berarti Erick sudah selesai meeting. Dia pasti kaget kalau beberapa bangku di atas kosong.


********


“Kamu mau kemana, Sis? Sepertinya sibuk sekali. Pak Arya, ada?”, tanya Erick yang secara kebetulan bertemu dengan Siska di lift.


“Tadi Pak Arya masuk, Pak. Tapi, sekarang dia sedang tidak di kantor. Ada urusan penting, katanya.”, jawab Siska.


“Hm.. sepertinya aku tahu apa urusan penting yang dimaksud.”, ujar Erick.


“Terus ini mau ngapain? Banyak banget dokumennya?”


“Oh, iya. Pak Arya kecelakaan. Jadi,...”


“Hah? Kecelakaan? Dimana? Parah, gak? Di RS, sekarang?”, tanya Erick tanpa menunggu Siska menyelesaikan kalimatnya.


“Tunggu - tunggu, Pak. Katanya, dia baik - baik saja, kok. Hanya luka baret. Jadi, sekarang saya lagi bawa dokumen yang harus ditandatangani ke apartemennya.”, jelas Siska.


Erick tampak masih tidak puas dengan jawaban itu.


“Kalau Pak Erick mau tahu detilnya, tanya aja sama Dinda. Mereka, kan….. Pak Arya bilang ke saya kalau Pak Erick sudah tahu.”, ujar Siska tersenyum.


“Ah.. okee.. Okee.. see you.”, ujar Erick segera turun di lantai yang dia tuju, sementara Siska melanjutkan turun sampai lobi.


Tim 1 dan 3 yang dipanggil Arya ke apartemennya sudah menunggu di parkiran. Kebetulan, sampai saat ini hanya Siska yang mengetahui dimana apartemen Arya.


*******


“Sudah kok, Pak. Mungkin sedang di perjalanan. Nanti saya cek lagi ya Pak. Kita menuju ke atas. Masih di lantai 15 kan Pak?”, tanya Siska memastikan.


Meski hanya dia yang mengetahui dimana apartemen Arya, tapi dia juga tidak sering kesini. Mungkin hanya beberapa kali saja. Kebanyakan kasus adalah mengantarkan Arya yang berada dalam kondisi sangat mabuk.


“Hn.”, jawab Arya kemudian menutup ponselnya.


Dinda baru saja selesai mandi dan keluar dengan mengenakan handuk kimononya.


“Mba Siska tahu apartemen mas Arya?”, tanya Dinda yang tiba - tiba muncul dan rambutnya masih basah.


“Tentu saja. Dia kan sekretaris saya.”, jawab Arya santai.


“Mba Siska masuk kesini?”, tanya Dinda lagi.


“Hn.”, Arya bingung kemana arah pertanyaan Dinda. Tapi dia tetap menjawab dengan santai.


“Kamu kenapa?”, tanya Arya bingung melihat Dinda yang menatapnya seperti orang sedang mengobservasi.


“Tunggu, kamu kira saya ada hubungan spesial dengan Siska hanya karena dia pernah ke apartemen ini?”, tanya Arya akhirnya mengerti maksud pertanyaan Dinda.


“Siska itu sekretaris saya, jadi wajar kalau untuk hal tertentu dia mengetahui detail pribadi saya. Alamat apartemen dan rumah misalnya. Karena ada kondisi yang mungkin kamu sudah sering liat. Saya harus meeting mendadak di luar kota atau worst-case nya di luar negeri. Tapi, saya tidak punya waktu untuk persiapan. Biasanya Siska yang membantu.”, jawab Arya.


“Mba Siska, bantu mas Arya packing? Memilih baju yang mas Arya pakai?”, tanya Dinda masih tidak terbiasa dengan situasi ini.


Arya tertawa untuk sesaat dan kemudian segera menjawab.


“Ya enggak. Bi Rumi yang packing, nanti Siska yang bawa duluan ke bandara. Kalau barang yang diambil di apartemen, Siska jemput Bi Rumi ke rumah dulu, baru setelah itu ke apartemen.”, terang Arya sambil tersenyum.


“Kenapa, kamu cemburu?”, tanya Arya mendekati Dinda.

__ADS_1


“Enggak, cuma penasaran saja. Ternyata tugasnya mba Siska serumit itu.”, balas Dinda.


Arya sudah semakin dekat dengannya, bahkan sudah melingkarkan satu lengannya di pinggang Dinda.


“Cemburu?”, tanya Arya lagi.


“Enggak, kok. Cuma penasaran.”


“Yakin? Tapi kamu bertanya sampai sedetail itu.”, kata Arya sambil berusaha mengeliminasi jarak diantara mereka.


Beberapa tetes air dari rambut Dinda jatuh di kemeja Arya. Namun, pria itu tampak tak terganggu sama sekali. Dia menyentuh lembut pipi Dinda. Dingin. Semakin dekat mereka, semakin kuat aroma Dinda menyeruak ke tubuh Arya.


“Kamu pakai sabun apa? Wanginya enak.”, goda Arya.


Dinda berusaha menghindari tatapan Arya karena dia merasa sangat malu sekarang. Dia tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang keluar dari pipinya.


“Melihat kamu sekarang, membuat aku jadi tidak bersemangat untuk meeting.”, kata Arya.


Dinda menggigit bibirnya. Dia sudah tidak bisa fokus pada kata - kata Arya lagi. Arya semakin memperkecil jarak diantara mereka. Sedikit lagi. Bibir Arya bawah Arya sudah menyentuh bibir Dinda.


Ting tong Ting tong


Bel menghentikan aktivitas mereka. Dinda yang terkejut langsung berusaha lepas dari pelukan Arya. Namun, slipper yang dia kenakan membuat dirinya tak bisa mempertahankan keseimbangan dan hampir terpeleset.


Beruntung, Arya langsung menangkap Dinda dan mencegah hal itu terjadi.


“Hati - hati dong, Sayang. Kamu lagi hamil. Sendalnya diganti yang satu lagi saja. Yang ini kayanya licin.”


“Ya udah, aku di kamar saja, sampai meeting selesai.”, ujar Dinda.


“Cium dulu. Tadi belum kesampaian.”, goda Arya.


Ting tong ting tong


Baru saja Dinda mau mengabulkan permintaan Arya agar pria itu tidak aneh - aneh lagi, suara bel sudah kembali mengganggu.


“Bukain pintu sana.”, kali ini giliran Dinda yang tersenyum menggoda.


Dia langsung berlari masuk ke kamar dan menutup pintunya.


“Dasar Siska, dia gak tahu ‘timing’ nya.”, protes Arya berjalan menuju pintu masuk.


“Selamat sore, Pak Arya.”, ucap beberapa karyawan yang sudah ada dibalik pintu masuk.


“Sore, silahkan masuk. Maaf saya minta datang ke sini karena ada insiden tak terduga.”, kata Arya mempersilahkan anggota timnya masuk.


“Iya gapapa, Pak. Saya dengar dari Siska, Pak Arya kecelakaan. Pak Arya, gapapa?”, tanya salah seorang dari mereka sambil basa - basi.


“Hm.. ya. Tidak parah. Hanya baret - baret saja, tapi memang efeknya bikin saya ada gejala demam sedikit. Tapi, gak masalah. Ayo, silahkan duduk. Feel free aja, kalau mau ambil minum, teh, kopi, atau apapun di dapur, kalian ambil saja. Saya sudah pesan beberapa makanan, tapi belum datang ya, Sis?”, tanya Arya sambil berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil laptop.


Siska langsung meletakkan dokumen - dokumen yang diperlukan di atas meja. Beberapa gelas sudah tersedia bersama satu cangkir air mineral dingin yang di dalamnya terdapat beberapa slices buah sebagai infused water. Dinda yang sudah mempersiapkannya, sebelum dia mandi tadi.


Ting tong Ting tong


“Oh sepertinya itu makanannya, Pak.”, ujar Siska.


Setiap makanan yang dipesan secara online akan diletakkan di bagian sekuriti bawah. Selanjutnya, bagian sekuritilah yang membawanya sesuai dengan unit pemesan.


“Terima kasih, pak.”, ujar Siska sambil memberikan tips yang tadi sudah diberikan oleh Arya.


Makanan yang dipesan oleh Pak Arya adalah jajanan rumahan yakni dua kotak martabak mesir, satu kotak pizza, dan dua bowl fried chicken. Karena sudah praktis bisa langsung dimakan, Siska tinggal menaruhnya di atas meja. Alhasil sekarang meja penuh dengan makanan.


“Silahkan langsung dimakan. Saya mulai untuk tim 1 dulu ya.”, ujar Arya langsung mengambil dua buah laporan yang harus dia tanda - tangani. Anggota tim 1 yang bertugas juga langsung mengambil duduk di hadapan Arya.


Arya membaca satu persatu baris laporan. Seperti biasa, begitu dia melihat ada sesuatu yang tidak dia mengerti, ada kesalahan, dia langsung menandainya. Semua itu baru akan Arya tanya setelah dia selesai memeriksa semuanya.


Dan benar sekali. Setelah menutup sampul terakhir, Arya akan kembali lagi ke bagian yang dia tandai dan langsung menanyakannya ke anggota tim. Pemandangan yang kontras, dimana tim 3 sibuk makan dan tim 1 sedang di sidang. Uniknya, mereka sudah terbiasa dengan ini. Bedanya, dulu Pak Arya lebih sering meeting seperti ini di ruangannya, atau di ruangan private dalam klub.

__ADS_1


Beberapa kali mereka juga meeting di cafe tapi menurut Arya, mereka sulit menemukan private room di cafe. Kontrasnya, mereka bisa menemukan ruangan yang privat di klub untuk meeting. Selain karena sehabis meeting dulu Arya memang sering  stay di klub, Arya juga membuat suasana jadi sedikit berbeda dan lebih santai.


Sejak menikah dengan Dinda, Arya sudah tidak pernah meeting di klub kecuali diajak oleh klien mereka. Para anggota tim Arya juga baru - baru ini menyadari adanya perbedaan ini dari Arya.


__ADS_2