
Tempat yang menjadi tujuan Dinda pertama kali setelah keluar dari ruangan HRD adalah toilet. Sepertinya dia harus menenangkan diri dengan mengalirkan air matanya sebelum kembali ke area divisinya. Lagipula masih pukul 8.20 pagi. Masih ada banyak waktu sebelum memulai kembali aktivitas bekerjanya.
Cengeng? Ya, Dinda tahu benar kalau dia cengeng. Tapi, setidaknya dia tidak menunjukkannya pada orang lain. Ada sedikit rasa penyesalan dalam dirinya. Kalau saja dia tidak keras kepala menunda memberitahukan HRD, apa mungkin hasilnya juga akan seperti ini.
Toh, dikatakan lebih cepat atau lebih lambat sekalipun, orang - orang tetap membicarakannya. Dinda hanya bisa mencoba menutup telinganya. Toilet paling kiri yang jauh dari pintu masuk menjadi tempat persinggahannya. Dia masih berada di lantai HRD. Lebih baik disini daripada mendengar gosip di divisi Business and Partners yang tiada hentinya.
Saat ada Pak Arya, mereka tidak berani berbicara sedikitpun, tetapi begitu tidak ada dia, semua seperti membuka segel mulutnya dan menumpahkan semuanya di toilet. Tempat itu menjadi tempat yang terlarang untuk Dinda belakangan ini.
Tak berapa lama Dinda masuk dan duduk di toilet, suara beberapa pasang heels memasuki toilet. Suara obrolan mereka terdengar ditambah dengan dentingan barang - barang yang mungkin berasal dari pouch mereka berisi alat make-up.
Ya, tidak sedikit karyawan yang memilih datang pagi tanpa riasan dan melakukan rutinitas itu di dalam toilet. Yang terpenting, mereka sudah berada di kawasan kantor.
“Hah… capek banget. Cuma gara - gara anak intern satu biji doang kita sampai harus meeting overtime.”, keluh seorang wanita.
Tentu saja Dinda tidak mengenalnya. Satu - satunya orang di divisi HR yang Dinda kenal adalah Pak James. Bahkan Pak Gerald yang beberapa kali disebut Arya pun, Dinda sudah lupa bagaimana rupanya.
“Iyaa… baru kali ini aku meeting sampai satu jam lebih di luar jam kerja cuma karena mau bahas nasib satu anak intern doang. Padahal pekerjaan kita lainnya masih menumpuk.”, balas wanita yang lain.
“Yah, secara istrinya Pak Arya Pradana. Ya iyalah harus dikedepankan. Tapi nyesek nya, kalau endingnya masih sama, kenapa sih masih dimeetingkan segala. Buang - buang waktu saja.”
“Tapi ya, agak seru juga gak sih meeting kemarin. Aku tidak pernah loh lihat Bu Intan se-vocal itu. Sebenarnya, kalau bukan karena Bu Intan, Pak James pasti akan meloloskan anak intern itu untuk melanjutkan masa magangnya sampai 4 bulan ke-depan.”
“Iya, melihat perseteruan mereka, aku jadi seperti melihat pasangan kekasih yang sedang bertengkar.”
“Tapi Pak James kan memang sempat ada hubungan asmara gak sih sebelum dia menikah dengan istrinya yang sekarang.”
“Hah.. masa sih?”
“Kalian sudah pernah lihat Pak Arya belum? Orangnya yang mana sih.”
“Yaaaah… ini orang. Itu loh yang paling ganteng di divisi elit, yang paling sering presentasi ke depan kalau ada acara Town Hall satu perusahaan.”
“Oh? Beneran yang itu? Itu Pak Arya Pradana yang kalian omongin itu?”
“Tapi ya, aku belum pernah lihat anak internnya seperti apa. Di meeting kemarin cuma disebutkan nama, tapi wajahnya tidak diperlihatkan.”
“Yang pegang datanya kan, Pak James.”
__ADS_1
“Memangnya secantik apa sih sampai pria cakep modelan Pak Arya mau menikah sama anak intern? Gap usia mereka kan jauh banget kalau dipikir - pikir.”
“Aku pernah melihat waktu lewat ruangannya Pak James. Memang cantik sih, anaknya. Tipikal anak baik - baik dan rumahan gitu tipenya.”
“Kok beda sama deskripsi yang aku dengar. Katanya ga cantik - cantik banget. Kaya masih cantikan anak MA yang tahun kemarin yang resign itu.”
“Siapa lagi itu? Terlalu banyak gosip yang beredar, aku sampai bingung harus percaya yang mana.”
“Makanya up-to-date dong kalo jadi orang. Masa kalah sama yang baru dua tahunan di kantor.”
“Anyway, balik lagi ke cerita tadi. Jadi gimana ceritanya tuh Pak Arya yang katanya memesona itu bisa menikah sama anak intern?”
“Mana aku tahu. Tanya aja sendiri sama Pak Arya. Itu juga kalo kamu berani, ha-ha”
“Yeee… kirain tahu.”
Seorang wanita yang sudah selesai berdandan langsung pergi meninggalkan rekan - rekannya di dalam toilet. Sementara yang lain masih lanjut menyelesaikan bagian - bagian yang masih belum sempurna.
‘Hah… kenapa sih selalu saja tanya, kenapa pak Arya bisa menikah dengan intern? Memangnya kenapa?’, ucap Dinda kesal di dalam toilet.
Kring Kring Kring. Bunyi ponsel mengejutkan Dinda dan juga orang - orang yang ada di luar.
‘Angkat ga ya? Sepertinya belum semua meninggalkan toilet. Kalau mereka tahu yang mereka bicarakan tadi ada di dalam toilet bagaimana? Hah.. tidak.. Siapa yang tahu kalau ini adalah Pak Arya.’
“Halo mas?”, jawab Dinda.
Meskipun dia sudah percaya diri dan mantap mengangkat ponsel, tetapi dia tetap mengeluarkan suara yang luar biasa pelan.
“Halo, Din? Kamu ada disana? Suaranya kecil banget.”, seru Arya dari seberang.
“Iya, ada mas. Aku lagi di toilet, kenapa mas, ada yang tertinggal?”, tanya Dinda pelan.
“Kamu cek ponsel yang kamu pegang sekarang deh. Itu ponsel siapa?”, tanya Arya dari seberang.
“Hm?”, masih bingung, Dinda mengikuti perintah Arya untuk memeriksa ponsel yang sekarang dipegangnya.
“Ahhh… ini ponsel mas Ar..”, sebelum Dinda berhasil menyebutkan nama Arya lengkap, dia langsung menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
“Kok bisa?”, lanjut Dinda sambil berbisik tapi seperti berteriak.
“Aku sudah di bawah sekarang. Syukurlah meeting diundur satu jam, jadi masih ada waktu. Kamu bisa ke bawah sekarang? Aku masih harus diskusi dengan team di Cafe.”, jelas Arya.
“Hm.. iya.. Bisa. Aku kesana sekarang kalau begitu.”, ucap Dinda segera menutup ponsel dan keluar dari toilet.
Dia mengantongi ponsel itu di saku roknya dan mencuci tangan. Dia tak menoleh pada siapapun yang ada disana dan langsung mantap menarik tissue dan keluar dari toilet.
Sesampainya di bawah, Dinda mencari - cari keberadaan Arya dan akhirnya menemukannya di antara para karyawan divisi Business Partners yang lain.
‘Aduh… bagaimana ini. Aku kira dia sendiri, ternyata banyak tim lain disana. Aku malu.’, ujar Dinda dalam hati. Dia sudah menghadap ke Cafe dimana Arya berada tetapi kembali menoleh ke belakang.
‘Tidak. Justru saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk bisa menunjukkan kalau kamu memang istrinya Pak Arya.”, Dinda kembali berbalik mantap ke arah Cafe.
Lalu berhenti lagi.
‘Ah.. tapi ini kan di kantor. Mana bisa aku berpikir seperti itu. Kalau di kantor, aku dan Pak Arya adalah karyawan.’, Dinda kembali berpikir.
‘Mana ada karyawan yang ponselnya bisa tertukar dengan atasannya. Arghhhh…’., Dinda frustasi sendiri berperang melawan pikirannya.
“Din, ngapain kamu?”, tak lama Dimas yang baru saja tiba langsung menyapa Dinda. Sedari tadi dia memperhatikan gadis itu sambil menaruh tasnya untuk diperiksa oleh sekuriti. Dinda tampak sedang ragu - ragu untuk melakukan sesuatu.
“Ah.. tidak. Tidak apa - apa.”, kata Dinda.
“Yakin?”, tanyanya sambil mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandangan Dinda tadi.
‘Arya, dia melihat siluet pria itu duduk diantara karyawan lainnya di Cafe. Bukan Cafe milik Dimas tentunya.
Berbeda dengan Cafe milik Dimas, Cafe yang satu ini lebih berat ke makanan ringan tradisional.
“Kamu mau bertemu Arya?”, tanya Dimas bisa menebak dengan sempurna.
Dinda mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Tapi tidak nyaman dengan keberadaan karyawan yang lain?”, tanya Dimas lagi.
“Tidak..”, Dinda hanya bisa menyanggah ucapan Dimas barusan.
__ADS_1
Ternyata baru saja Arya bisa melihat istrinya bersama dengan Dimas dari kejauhan. Pria itu langsung berdiri.
“Tunggu sebentar, ya.”, kata Arya pada bawahannya dan berjalan mantap ke arah Dinda.