
“Arya, jangan langsung jalan, ya. Sarapan dulu.”, Inggit langsung mencegat Arya di depan tangga, mengambil tasnya, dan langsung menggiring putranya itu duduk untuk sarapan.
Arya yang tidak bisa berbuat apa - apa, hanya bisa ikut duduk. Lagipula jam juga masih menunjukkan pukul 6.30. Artinya, dia masih punya waktu 2 jam sebelum sampai kantor.
“Dinda mana ya? Kemarin kan gak bisa berangkat bareng karena kamu ke kantornya siangan. Sekarang bareng, ya.”, kata Inggit.
“Kalau kelihatan orang kantor gimana ma?”, kata Arya sambil menyesap secangkir kopi.
“Ya, kan bisa turunin Dinda di parkiran ato dimana. Lagian kalian kan suami istri bukan pasangan selingkuh. Kok, takut banget ketahuan.”, Inggit pura - pura amnesia.
Padahal dia tahu benar, selama enam bulan ke depan, atau setidaknya sampai kepala divisi yang Dinda tempati ada yang mengisi, status mereka tidak bisa diketahui.
Arya hanya menatap Inggit seolah mengingatkan padanya kenyataan tersebut.
“Lagian kenapa lama banget posisi itu kamu tempatin. Gajinya double dong, Arya.”, Inggit masih terus mengomel saat Dinda sudah terlihat turun dari tangga.
Arya hanya bisa menghela nafas mendengar celotehan bundanya pagi - pagi.
“Din, sini sarapan dulu. Hari ini kamu berangkatnya sama Arya, ya.”, kata Inggit bersemangat.
Dinda turun mengikuti perkataan Inggit. Dia duduk di sebelah Arya, lalu berusaha mengambil sarapan favoritnya. Secangkir susu dan sebuah sandwich.
“Ma, papa kemana?”, tanya Dinda polos.
“Ini anak menantu favorit mama. Kalo ada yang absen dari rumah ditanyain. Gak kaya kamu Arya.”, Arya hanya pura - pura tidak mendengar sambil terus membalas chat di ponselnya.
“Papa sudah berangkat dari pagi main golf sama teman - temannya. Kayak bisa aja si papa. Andin masih di kamar. Masih pada tidur sama anak - anaknya.”, kata Inggit sebelum Dinda bertanya.
“Hmmm.”, jawab Dinda singkat.
“Kalo gue ga ditanyain, Din.”, kata Ibas menyambar dari belakang.
Dinda membalas godaan Ibas dengan senyuman. Dinda senang, meskipun hubungannya dengan Pak Arya masih sulit untuk berkembang, tetapi semua orang di rumah ini bisa menerimanya dengan baik.
Setidaknya, beban yang harus diemban oleh Dinda berkurang.
“Ibas, ingat ya, kalo di luar panggil ‘Mba’. Gak enak di dengar orang. Dinda itu istri kakak kamu.”, kata Inggit yang seperti sudah berbusa mulutnya mengingatkan Ibas untuk menghormati Dinda sebagai istri dari kakaknya.
“Iya iya ma, paham. Yang punya istri aja gak protes. Kamu nonton sampe malam lagi Din? Kantong matanya sampai tebel, gitu.”, Ibas mencolek bahu kakaknya sedikit, sebelum kembali berbicara tentang Dinda.
__ADS_1
Dinda melayangkan sorot mata tajam pada Ibas. Dia tak ingin Arya mengetahuinya.
‘Gimana mau nonton, tiap malam aja aku harus pura - pura tidur cepat supaya Pak Arya gak aneh - aneh.’
Wajah Arya sedikit tidak senang dengan kedekatan Ibas dan Dinda yang ia saksikan pagi ini. Ini kedua kalinya dia melihat kedekatan mereka setelah malam itu.
“Din, berangkat.”, kata Arya singkat sambil menarik tasnya.
“Ma, Dinda berangkat dulu ya.”, kata Dinda sambil berpamitan pada Inggit.
Berbeda dengan Arya, dia langsung melengos keluar. Kalau dipikir - pikir, Arya sudah dewasa, berpamitan seperti anak SD sudah bukan stylenya. Tapi tetap saja, berapapun usia kita, tetap harus berpamitan pada orang rumah terlebih orang tua, begitu pikir Dinda.
*Dua hari sejak tragedi lingerie dan ciuman itu, sikap Pak Arya kembali seperti biasa. Dingin, cuek, dan sekedarnya. Hari Senin, dia di rumah seharian. *
*Kata Mama dia hanya menghabiskan waktu di kamar untuk istirahat. Hari Selasa, dia bangun lebih siang karena ada meeting dari pagi buta dengan klien di luar negeri dari jam 1 dini hari sampai jam 5 pagi. Lebih tepatnya, beberapa klien. Alhasil dia berangkat lebih siang ke kantor. *
*Di kantor, Dinda juga tidak berinteraksi sama sekali dengan Arya. Arya terlihat sangat sibuk di ruangannya. Dinda melihat beberapa orang hilir mudik ke luar masuk ruangan pak Arya, termasuk pak Erick. Tetapi dia tidak keluar sama sekali. Entah dia makan siang atau tidak. *
*Akhirnya pukul 5 sore, ada pesan masuk dari Pak Arya. Dia bilang akan pulang larut malam, jadi Dinda disuruh pulang sendiri naik ojek online. Dinda mengiyakan bahkan sangat senang. *
“Kamu turun disini, ya.”, kata Arya kepada Dinda. Tak terasa mereka sudah sampai di depan sebuah hotel, dua blok dari kantor mereka. Dari situ, Dinda seharusnya tinggal jalan kaki sekitar 5 menitan sampai ke kantor.
“Mo ngapain kamu?”, kata Arya heran.
“Mau salam.”, jawab Dinda polos sambil menatap Arya.
“Ah.. seperti anak SD saja.”, Ekspresi kaget dari Arya terlihat jelas. Tapi, dia juga tidak menolak. Dia menyambut tangan itu dan membiarkan Dinda sedikit mengecup punggung tangannya sebelum gadis itu keluar.
“Bagaimana kalau kita ganti?”, ujar Arya sambil menahan lengan Dinda yang sudah ingin turun dari mobil.
“Hem? Ganti?”, tanya Dinda bingung.
Arya bergeser maju ke arah Dinda. Telapak tangan kirinya ia taruh di belakang kepala Dinda untuk menarik gadis itu lebih dekat.
Cup. Sebuah ciuman singkat dari Arya. Dinda terkejut dan matanya membulat. Meski sudah beberapa kali. Tetapi semua ciuman itu di lakukan di rumah. Saking terkejutnya, Dinda langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar.
‘Harus aku apakan gadis satu ini.’, begitu batin Arya.
Sejak mengucapkan ijab kabul, Arya merasakan seperti ada magnet yang menariknya setiap kali berhadapan dengan Dinda. Jika ada yang menanyakan tentang semua perlakuannya hingga saat ini termasuk ciuman itu, dia sendiri juga tak bisa menjelaskannya.
__ADS_1
Ada banyak trigger berbeda yang mendorongnya melakukan itu semua. Dan entah kenapa ia merasa senang melakukannya sampai - sampai dia terus ingin lebih dan lebih lagi.
‘Apa ini efek aku terlalu lama sendiri?’, ujar Arya dalam hati. Dia hanya bisa menduga - duga.
Jujur, sampai saat ini, dia masih belum bisa melupakan Sarah. Bayangan perempuan itu seperti kutukan yang terus melekat padanya. Luka yang diberikan perempuan itu terlalu besar.
Bahkan hingga kini, Arya masih memiliki banyak pertanyaan pada wanita itu. Tentang perlakukannya, pengkhianatannya, cintanya, dan arti dari semua momen yang sudah mereka lalui bersama untuknya.
‘Apakah benar Sarah meninggalkannya karena Arya tidak bisa memberikannya keturunan?’, pertanyaan itu selalu ada di kepala Arya setiap memikirkan alasan Sarah ingin bercerai darinya.
Sudah berkali - kali Inggit meminta Arya untuk memeriksakan diri ke dokter agar dia dapat memastikan hal yang selama ini menghantuinya. Tetapi Arya sangat takut jika hasilnya benar.
Disaat Arya belum berdamai dengan semua itu, ia harus menikahi Dinda. Disatu sisi dia takut hal yang sama terjadi lagi pada pernikahannya kali ini. Tapi disisi lain dia berharap agar pernikahan ini bisa membebaskannya dan memberikan ketenangan pada jiwanya.
***Sesampainya di Kantor. ***
“Pagi Din!.”, tumben - tumbennya mba Suci sudah berada di depan area divisi Dinda. Setelannya hari ini berbeda dengan hari - hari sebelumnya.
“Halo, pagi mbak. Wih mau kemana nih? Kayanya lebih rapi dari biasanya.”, kata Dinda langsung saja. Dia memang sudah akrab dengan mba Suci meskipun dia adalah seorang MA, kasta tertinggi dalam dunia per-intern-an.
“Biasa, meeting sama pak Arya. Biar at least kalo dia mau marah, udah lupa sama marahnya karena penampilan gue.”, kata Mba Suci yang langsung membuat Dinda terbatuk - batuk.
Dinda terkejut melihat Pak Arya muncul dari pintu masuk dan akan melewati area divisinya. Padahal biasanya dia jarang lewat sini kecuali ada keperluan. Ditambah secara kebetulan mba Suci menyebut - nyebut namanya. Entah dia mendengar atau tidak.
‘Perasaan dia udah jalan dari tadi, kenapa baru sampai.’ Bathin Dinda merasa bingung.
Jelas - jelas Pak Arya menurunkannya. Dinda harus berjalan selama 5-10 menit menuju kantor. Otomatis, Pak Arya seharusnya sudah sampai duluan.
‘Mungkin dia nyangkut di tempat lain.’, begitu kata Dinda.
Mba Suci yang melihat sorot mata Dinda terkejut, membuatnya ikut mengarahkan pandangannya pada arah pintu masuk. Suci juga kaget oleh kedatangan Arya.
“Pagi Pak Arya.”, sapa Suci berusaha seramah mungkin.
Arya hanya mengangguk dan menunjuk - nunjuk ruangannya. Seolah memberitahu Suci untuk mengikutinya kesana. Selama interaksi tersebut, tak sedikitpun pandangan Pak Arya menoleh ke arah Dinda.
Sikap ini membuat Dinda merasakan perasaan yang aneh. Rasa kecewa mungkin, tetapi Dinda tidak ingin mengakuinya.
Suci dan Arya berlalu dari hadapannya begitu saja.
__ADS_1