Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 34 Apa Dia masih Mencintai Mantan Istrinya?


__ADS_3

“Pak Cecep mau kemana? Kok ambil arah kiri?”, tanya Dinda.


Hari ini Pak Cecep mengantar jemputnya karena Arya sedang sakit. Mereka baru jalan dari kantor sekitar lima menit yang lalu. Namun, Dinda bingung kenapa pak Cecep mengambil jalur kiri. Padahal untuk pulang, seharusnya dia mengambil jalur kanan.


“Oiya maaf neng, Bapak lupa. Tadi Den Arya minta Bapak untuk singgah di apartemennya dulu. Ada barang yang minta diambil, katanya.”


“Barang apa, Pak?”, tanya Dinda penasaran.


“Kotak sama tas warna coklat, Neng.”, jawab pak Cecep.


“Kotak? Kotak apa Pak?”, tanya Dinda masih penasaran.


“Waduh, Bapak kurang tahu neng. Den Arya cuma pesan minta diambilkan itu.Seharusnya, Bapak ambil setelah mengantar neng ke kantor. Tapi, Bapak lupa dan sudah diminta Buk Inggit ke tempat lain.”


“Oh…”, Dinda hanya mengangguk.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen Arya karena lokasinya cukup strategis. Tinggal masuk tol dan keluar sekitar 5 menit sudah sampai di area Mall yang menyatu dengan apartemen milik Arya. Dinda sudah pernah kesini meski sebelumnya hanya diturunkan di parkiran.


“Sebentar ya neng, Bapak ke atas ambil titipannya dulu.”, kata Pak Cecep.


“Pak, saya boleh ikut ga? Saya takut disini sendirian.”, tutur Dinda.


“Ohiya, gapapa neng.”, jawab Pak Cecep.


Akhirnya Dinda juga ikut ke atas. Dia masih sedikit takut untuk berjalan sendiri di lorong - lorong seperti area apartemen. Dinda masih mengingat kejadian di hotel tempo hari.


Apartemen Arya berada di lantai 15. Ada total 20 lantai di apartemen ini, belum termasuk dengan lobi dan basement serta rooftop. Bagian termahal ada dari lantai 17 hingga 20.


Sedangkan apartemen Arya berada dalam kategori menengah. Namun, menengah saja harganya sebenarnya sudah mahal.


Dari lantai 17 - 20 hanya ada 2 apartemen, jadi sangat luas. Sedangkan untuk kategori Apartemen milik Arya yakni lantai 15 dan 16, terdapat 4 apartemen. Sebenarnya, dia membeli 2 apartemen dalam satu lantai dan merenovasinya menjadi satu.


Ceklek. Pak Cecep membuka apartemen dengan menggunakan akses card yang sudah diberikan oleh Arya pagi ini.


‘Wah.. luas juga apartemennya. Baru pertama aku masuk ruangan apartemen.’


Dinda mengedarkan pandangannya ke segala arah. Banyak ruang yang dibuat terbuka dan hanya dipisahkan dengan sekat. Seperti ruang tamu, dapur, ruang kerja, dan mini bar. Selebihnya sepertinya kamar mandi, dan 2 buah kamar.


Ada lorong yang mungkin menghubungkan dengan apartemen satunya, tapi Dinda tidak berani kesana tanpa pemiliknya. Pak Cecep juga langsung masuk ke ruangan utama.


Dinda memperhatikan foto berukuran lumayan besar di dalam tempat tidur utama yang dimasuki oleh pak Cecep. Meski Dinda tidak ikut masuk, tetapi dia masih bisa melihatnya dengan jelas.


‘Foto pernikahan pak Arya dengan mantan istrinya.’, ucap Dinda dalam hati.


‘Meski sudah lewat tiga tahun bercerai, foto itu masih terpampang disana.’ Dinda bisa melihat jelas saat pak Cecep menghidupkan lampu kedua yang lebih terang di ruangan itu.


“Cantik.”, itu kata yang pertama keluar dari mulut Dinda saat melihat pantulan bayangan foto itu dari cermin besar. Ya, Dinda melihat foto itu dari pantulan cermin besar di dalam kamar.


‘Foto saja masih dia pajang dengan rapi seperti sedia kala. Apalagi hatinya.’, batin Dinda terdengar miris. Wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


‘Apa yang aku risaukan? Pak Arya memang suamiku, tapi hubungan kami tidak sama dengan hubungannya dengan mantan istrinya dulu. Mereka menikah karena cinta.


Pantas Dinda merasa aneh saat mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi apartemen. Tata letak, barang - barang, dan nuansa yang dia rasakan di apartemen ini bukan seperti seorang pria yang tinggal sendiri. Tetapi sepasang suami istri.


Di sudut dapur, Dinda bisa melihat beberapa gelas couple. Di dekat ruang tamu, ada gantungan coat dan disana masih tergantung dua coat. Coat berwarna coklat muda dan hitam. Warna hitam sudah pasti milik pak Arya, dan warna coklat muda pasti milik mantan istrinya. Dinda mengeluarkan asumsi - asumsinya sendiri setiap menemukan sesuatu di bagian apartemen Arya.


Sepuluh menit kemudian, Pak Cecep keluar dengan membawa sebuah kotak berukuran 30 x 30 dan tas berwarna cokelat. Dalam hati, Dinda tak kuasa menahan rasa penasarannya tentang kotak dan tas itu. Tapi, dia menahan dan mengurungkan niatnya untuk memeriksa isinya.


Tak lama, mereka segera turun dari lantai Apartemen Arya. Di lobbi, Dinda berpapasan dengan seorang wanita. Rasa tidak asing terus terpikirkan olehnya. Awalnya Dinda tidak menyadari rasa tidak asing itu. Sesampainya di mobil, dia baru sadar, bahwa wanita yang dia lihat persis seperti foto yang ada di kamar Pak Arya. Sarah.


‘Apa dia tinggal di apartemen dekat sini juga?’, tanya Dinda dalam hati.


*****


“Arya, kamu ga ada rencana akhir pekan apa gitu sama Dinda?”, tanya Inggit pada Arya.


Mereka sedang berkumpul di meja makan pagi ini. Formasi lengkap. Ada Ibas, Andin dan dua anaknya.


“Din, kamu kalo belanja biasanya kemana? Mungkin kapan - kapan kita shopping bareng yuk. Mba sibuk ngurusin anak mba. Jadi, ga pernah ngobrol dan main bareng kamu.”, Andin tersenyum.


Ya, Andin selalu saja sibuk dengan berbagai persoalan rumah tangga yang sedang dia hadapi. Semenjak Dinda resmi jadi bagian keluarga mereka, Andin belum sekalipun pergi jalan bareng dengan Dinda.


Dinda tersenyum, “Boleh banget, mba. Aku senang sekali kalo bisa pergi dengan mba Andin.”


“Oke, mungkin minggu depan, kita coba atur waktunya, ya.”, usul Andin yang kemudian di balas anggukan oleh Dinda.


“Sekarang udah gak bisa alasan - alasan lagi. Buruan dipake, kan sayang nanti kalau keburu kadaluarsa, Arya”, tambah Inggit lagi.


“Ma, tapi kan Pak.. hmm mas Arya baru aja sembuh dari sakit, belum bisa untuk langsung liburan.”, pungkas Dinda.


“Justru itu Dinda, dia itu sakit karena stress. Kebanyakan kerja, ambisius gak jelas, rajin kerja boleh, tapi jangan diforsir.”, Inggit mendadak memberikan nasihat.


“Arya, jadi kapan kamu mau berangkat sama Dinda?”, tanya Inggit lagi.


“Jadi, kapan sayang kita mau berangkat?”, kata Arya dengan wajah dan nada jahilnya.


‘Ih.. apa - apaan Bapak - bapak satu ini, kenapa tiba - tiba moodnya jadi aneh?’, Dinda langsung merinding mendengar ucapan itu keluar dari Arya?


“Nah.. gitu dong. Sering - sering panggil sayang.”, Inggit langsung bersemangat.


“Jadi, kapan Din? Ditanyain tuh sama suaminya.”, Andin ikut mengompori.


“Ehm… hehe.. Kapan ya… Hem…”, Dinda bingung harus bersikap bagaimana. Semua mata tertuju padanya.


“Oke, minggu depan aja, gimana? Kalian ambil cuti, trus berangkat liburan. Ya? Mau ya sayang?”, rayu Inggit bukan main membuat Dinda jadi tak enak hati.


“Mulai lagi si mamah. Memang ratu drama, mama waktu mudanya jago akting, ya?”, Ibas yang dari tadi hanya ikut arus saja, mulai berkomentar.


Andin dan Arya juga ikut bertatapan pertanda setuju. Mereka sudah hafal dengan gaya mamahnya.

__ADS_1


“Ya udah, minggu depan kan berangkatnya. Hari ini aku mau gym dulu. Aku berangkat ya, ma.”, pamit Arya.


Dia berlari ke atas mengambil tas gymnya.


“Aku pamit ya, sayang.”, Arya mencium pipi dan kepala Dinda dengan mesra.


“Uhuyyy… yang lagi mesra - mesranya.”, Ibas bersorak heboh sebelum akhirnya dilempar kerupuk oleh papanya.


“Jangan digituin.”, kata Kuswan marah pada Ibas.


“Ih si papa gak seru.”, lawan Ibas.


Dinda hanya bisa terkekeh canggung menerima perlakuan yang tidak biasa dari Arya. Sebelumnya dia memang selalu akting peduli pada Dinda kalau sedang di meja makan atau sedang berada dekat dengan keluarganya. Tapi, tidak pernah ada kontak fisik.


‘Apa maksudnya? Apa sakit kemarin berefek ke otaknya, ya?’, Dinda masih bingung.


“Arya itu kalo weekend gini memang sering ke gym. Kadang dia juga main tenis. Nanti sore biasanya baru pulang. Kayanya kesibukannya belakangan ini bikin dia jadi jarang nge-gym lagi.”, tutur Inggit pada Dinda.


“Din, sini bentar. Mama mau bicara.”, Inggit menggiring Dinda ke dapur karena dia ingin berbicara hal yang rahasia dan sensitif.


“Maaf ya, mama ikut campur. Maklumin ya sayang. Kamu sama Arya…. Udah….?”, Inggit tak sanggup rasanya menanyakannya. Alhasil dia hanya menunjukkan dengan gestur tangan saja.


“Udah apa ma?”, tanya Dinda bingung.


“Itu.. masa kamu gak tahu.”, ucap Inggit masih berusaha memberikan kode dengan gestur tangan.


“Itu apa ma? Maaf, Dinda gak ngerti.”, Dinda menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Aduhh… kamu sama Arya udah tidur bareng belum?”, tanya Inggit langsung karena dia sudah kehilangan ide untuk bertanya.


“Hah? Kan tiap malem tidurnya memang dikamar itu ma. Yaa.. selalu bareng. Kecuali kalo Pak Arya lagi sibuk.”, Dinda menjawab dengan polos.


“Huft… bukan itu maksud mama. Ini…udah belum?”, Inggit akhirnya mengetik kata yang sensitif itu di ponselnya dan menunjukkannya ke Dinda.


Alhasil wajah Dinda langsung merah padam.


“Ahh.. Mama.. Ih..Ehmm… Ehem.. Uhuk uhuk.”, Dinda langsung salah tingkah.


“Buk, Buk Inggit dipanggil Bapak.”, tiba - tiba Bi Rumi datang seolah menyelamatkan Dinda.


Inggit mau gak mau harus pergi.


“Nanti dilanjut lagi ya, Din”, kata Inggit sebelum pergi.


‘Lanjut apanya? Mama aneh banget deh… Untung Bi Rumi datang. Masa kaya gitu ditanya - tanya sih.’, pikir Dinda frustasi dalam hati.


Dinda jadi kembali memikirkan hal itu. Dia masih berpegang teguh pada prinsipnya. Dia tidak akan menyerahkan hal yang paling berharga dalam dirinya sebelum bisa melihat komitmen dan keseriusan Arya pada pernikahan mereka. Tidak akan.


Dia tidak mau mengalami hal yang sama dengan Bundanya. Ditinggalkan dan dibuang seperti sampah oleh papanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2