Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 184 Menemui HRD lagi?


__ADS_3

“Din, kamu dipanggil HRD, Pak Felix.’, kata seseorang di divisi Digital and Development.


Saat itu Dinda baru saja menyelesaikan laporan yang harus diserahkan ke divisi Risk. Dinda hendak masuk ke ruangan Pak Dika untuk menaruh dokumen itu disana.


“Sekarang mba?”, tanya Dinda.


“Iya. Masa besok pagi. Buruan, sebelum makan siang. Soalnya mereka mau ada acara makan siang bareng kayanya.”, ujar perempuan itu.


“Baik mba. Aku taruh ini di ruangan Pak Dika dulu, ya. Nanti aku langsung ke ruangan HRD.”, balas Dinda.


“Pak Dika masih belum masuk?”, tanyanya.


“Iya mba. Sudah mau masuk jam makan siang tapi belum ada tanda - tanda kehadiran Pak Dika di kantor.”, jawaban Dinda membuat perempuan itu lesu.


Dia adalah orang kesekian yang menunggu Dika untuk menandatangani dokumen miliknya.


Di ruangan HRD.


“Halo, selamat siang, Dinda. Apa kabar?”, kata Pak Felix menyapa Dinda dengan ramah.


“Selamat siang, Pak. Alhamdulillah baik. Bapak apa kabar?”, Dinda tersenyum sambil membalas pertanyaan basa - basi dari Pak Felix.


“Silahkan duduk.”, kata Felix mempersilahkan.


“Maaf ya, saya panggil - panggil kamu kesini. Harusnya saya yang samperin. Tapi tadi kebetulan ketemu orang dari divisi DD. Jadi, langsung saja saya titip panggil kamu.”, jelasnya.


“Iya, gapapa Pak.”, jawab Dinda.


“Jadi, bagaimana? Sudah dipertimbangkan? Apakah kamu tertarik?”, tanya Pak Felix langsung to the point.


Dia melihat rekannya baru saja memberikan kode untuk berangkat. Kebetulan, tim HRD ada kegiatan makan siang di luar. Oleh karena itu, mereka sudah banyak yang meninggalkan kursinya sedari tadi.


“Seharusnya waktu untuk kamu memberikan konfirmasi itu adalah minggu depan. Tetapi, ada sedikit pergeseran jadwal karena ada satu orang lagi di divisi IT yang resign. Posisi Junior Officer juga. Jadi, mau tidak mau saya harus pasang iklan awal minggu depan. Berhubung posisi yang kosong ada dua dengan judul yang berbeda, saya perlu tahu keputusan kamu.”, jelas Pak Felix pada Dinda.


“Kemarin concern nya apa ya? Maaf saya lupa, soalnya banyak pegawai yang harus saya ingat.”, lanjut Pak Felix lagi.


Tok tok tok tok


Terdengar ketukan dari pintu kaca ruangan Pak Felix. Seseorang yang tidak Dinda kenal masuk. Laki - laki dengan perawakan yang tegap.


“Arya minta pengganti Gilbert segera sebelum awal bulan ini. Bisa, ga?”, tanya orang itu pada Pak Felix.


‘Mas Arya? Lagi membicarakan mas Arya, ya?’, pikir Dinda dalam hati.


“Hah… Iya. Arya sudah menunggu sejak bulan lalu. Akhir bulan ini terlalu cepat. Apa dia bisa menunggu sampai awal, tidak pertengahan bulan depan?”, tanya Felix.


Mereka berdua terlihat berdiskusi. Pak Felix juga berdiri agar diskusinya dengan Bapak tadi lebih mudah. Dinda hanya bisa duduk canggung disana menjadi pendengar yang sepertinya tidak dianggap.


Buktinya mereka terus berdiskusi tanpa mempedulikan Dinda.


‘Hm.. beginilah nasib remah - remah roti. Tetiba jadi invisible.’, ujar Dinda dalam hati.


“Memangnya si Arya mau ngapain, sih? Istrinya mau melahirkan? Sampai kesulitan backup Gilbert?”, kata Felix mengeluh.


“Dia bilang, kalau terus - terusan back up pekerjaan satu orang sambil mengurusi 10 tim, dia minta tambahan gaji dan tambahan cuti.”, ujar pria besar dan tegap tadi.

__ADS_1


“Hahaha. Bercanda dia. Tapi tidak mudah untuk menemukan satu orang yang bisa mengisi posisi Gilbert. Ahh, lagian dia kenapa berbuat skandal begitu sih.”


“Aku sudah mengatakannya pada Arya, tapi dia bilang karena itu aku dibayar. Jadi aku harus menemukan pengganti Gilbert secepatnya.. Hah.. benar - benar ya, Head divisi satu itu.”


“Kamu tidak ada rekomendasi orang? Senior Office yang bisa dipromosikan?” , tanya Felix


“Tidak ada. Soalnya industri yang dipegang oleh tim 5 itu lumayan sulit.”


“Ada solusi dari Arya? Kalau kita tidak bisa menemukan penggantinya sampai akhir bulan?”, tanya Pak  Felix lagi.


“Aku belum tanya lagi ke Arya. Apakah dia punya plan B. Tapi, haha aku seperti bisa membayangkan jawabannya kalau aku tanya tentang plan B.”


“Apa?”, tanya Felix


“Seharusnya HRD yang memikirkan Plan B.”, ucapnya sambil tertawa.


Dinda ikut tersenyum tipis mendengarnya. Benar - benar tipikal mas Arya, katanya dalam hati.


“Oke, nanti kita atur meetinglah dengan Arya. Dia juga sibuk sekali belakangan ini. Tidak heran dia segera minta pengganti Gilbert.”, kata Felix.


“Okee.. sorry ya, Dinda. Saya jadi lupa ada kamu. Ohiya, kamu pernah terlibat dengan Pak Arya Pradana kan? Selama dia jadi Kepala Divisi sementara untuk divisi DD?”, tanya Felix.


“Aa..iya betul, Pak.”, jawab Dinda canggung.


“Gimana? Level staff sekelas Manager ke atas saja bisa jungkir balik nangis loh oleh Pak Arya? Saya jadi penasaran sikap dia ke intern bagaimana.”, tanya Felix tiba - tiba random.


“Hum.. baik, Pak.”, jujur Dinda bingung menjawabnya.


Bukan karena Arya adalah suaminya. Tentu saja, Arya adalah Arya kalau di kantor. Dia sama sekali tidak membedakan Dinda. Tapi, bagaimana caranya mengatakan bagaimana seorang kepala divisi kepada seorang HRD.


“Jujur saja. Galak, ya? Sama intern, juga?”, tanya Felix.


“Hum… baiklah. Jadi gimana? Kamu bisa kasih saya jawaban minimal besok? Karena mohon maaf sekali lagi, saya harus segera posting lowongannya awal minggu depan.”, tanya Felix lagi.


“Baik, Pak. Saya akan memberikan kabar ke Bapak, segera.”


“Kemarin pertimbangan kamu apa ya, saya lupa. Oh, kamu ada info ke saya kalau kamu sudah menikah, ya? Jadi takut kalau nanti hamil, bagaimana dengan kelanjutan pekerjaannya. Begitu bukan, ya?”


“Iya betul, Pak.”, jawab Dinda.


“Kalau boleh tahu suami kamu kerja di bidang apa, ya? Kamu sudah cerita tentang opportunity ini?”, tanya Felix.


“Uhm.. sudah Pak…”, Dinda bingung menjawabnya. Apa dia harus jujur mengatakan yang sebenarnya tentang pernikahannya saat ini atau tidak.


Lagi - lagi ada orang yang mengetuk pintu kaca ruangan Pak Felix.


“Buruan. Sudah hampir semuanya berkumpul.”, kata orang tersebut pada Felix.


Felix terlihat mengangguk. Sepertinya dia mengisyaratkan pada orang itu untuk pergi dan dia akan menyusul segera.


“Oke. Maaf banget, saya sudah ditunggu. Jadi, begitu ya, Dinda. Tolong kamu kabarin ke saya setelah kamu berdiskusi dan memutuskan. Saya berharap kamu bisa bergabung sebagai staf Junior Officer yang baru di divisi IT.


“Baik, Pak. Terima kasih.”, ujar Dinda.


Pak Felix kemudian mempersilahkan Dinda untuk undur diri karena dia juga akan segera mengunci ruangannya untuk menyusul rekannya yang lain.

__ADS_1


‘Perasaan aku dipanggil dan duduk di ruangannya sampai 30 menit lebih. Tapi konten pembicaraan hanya sekitar 5 -10 menit. Nasib remah - remah roti sepertiku memang begitu.’, bathin Dinda sambil menghela nafas.


Jika dihitung, sepertinya Dinda lebih lama menghabiskan waktunya menunggu Pak Felix dan Bapak yang tinggi tegap tadi berdiskusi dibandingkan dengan pembicaraan tentang lowongan pekerjaan untuknya.


**********


Dinda dalam perjalanan kembali menuju lantai dimana divisinya berada. Dia harus menggunakan lift untuk turun beberapa lantai. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Dinda memeriksa ponselnya tetapi belum ada pesan yang menanyakan posisinya.


‘Tumben. Apa yang lainnya tidak makan siang? HRD saja sudah take off dari tadi. Sepertinya mereka mau ada acara makan besar.’, bathin Dinda dalam hati sambil menunggu lift turun.


Tadi, dia tidak langsung turun tetapi berbelok ke toilet terlebih dahulu. Berdasarkan jurnal yang dia baca, wanita hamil tidak boleh menahan pipis. Jadi, Dinda sangat rajin ke kamar mandi begitu dia merasa harus memenuhi panggilan alamnya.


Bergerak menuju jam makan siang, biasanya lalu lintas lift menjadi lebih sibuk dari biasanya. Dinda yang bosan menunggu lift mengedarkan pandangannya ke beberapa informasi - informasi di sekitar lift.


Setelah bosan, dia memainkan ponselnya sebentar hanya untuk membuka dan melihat pesan. Jika tidak ada pesan masuk, maka dia akan menutupnya kembali.


“Baiklah, nanti saya akan mencoba meminta datanya kepada salah satu tim di Business and Partners dan memberikan datanya kepada Bapak……”


Perlahan terdengar suara yang mirip sekali dengan suara Arya. Arahnya berasal dari tangga darurat. Dinda terus mengelak kalau itu adalah suara suaminya. Dia berpikir ‘tidak mungkin’. Padahal tentu saja bukan hal yang tidak mungkin itu Arya karena mereka bekerja di satu perusahaan yang sama.


Dinda kembali mengedarkan pandangannya pada beberapa brosur yang terdapat di sisi kiri lift sambil menunggu lift yang sepertinya masih berhenti di lantai 20-an keatas. Saat Dinda berdiri lurus menghadap lift sambil membaca brosur yang dia ambil, aroma khas yang dia kenal tercium jelas di ujung hidungnya.


Dinda mencoba melirik ke arah samping perlahan. Dia hanya menggerakkan bola matanya tetapi, kepalanya tetap lurus menghadap ke depan. Dinda mencoba melihat ke bawah.


‘Mirip sepatu pantofel mas Arya.’, pikir Dinda dalam hati.


Tidak ada orang lain lagi disana selain Arya dan Dinda. Pria yang tadi berbicara dengan Arya sudah lanjut menuruni tangga berikutnya. Sepertinya dia bertekad untuk menuruni tangga sampai bawah karena dia tahu, menjelang makan siang, orang pasti banyak yang menggunakan lift.


Berbeda dengan Arya yang menyerah di lantai ini. Dia tak sanggup lagi melanjutkan karena menurutnya setengah hari nanti akan melelahkan. Dia tidak perlu menghabiskan energinya sekarang.


Ternyata keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang tepat. Buktinya, dia jadi bisa bertemu tanpa sengaja dengan istrinya. Tapi, Arya sok menjaga profesionalitasnya dengan bersikap datar layaknya atasan dan bawahan pada Dinda.


“Kamu habis dipanggil HRD?”, suara bariton khas Arya memecah keheningan saat itu.


“Hukkk… aaah..”, Dinda kaget luar biasa sampai - sampai dia memundurkan langkahnya. Sayangnya, tindakan itu malah membuat dirinya tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Dinda gagal menjaga keseimbangannya.


Beruntung, Arya refleks langsung mengayunkan tangannya menarik lengan Dinda dan mendaratkan tubuh istrinya itu padanya. Hampir saja hal tersebut membahayakan kandungan istrinya.


Sayangnya, lift yang sedari tadi mereka tunggu tidak muncul, tiba - tiba terbuka. Waktunya pas sekali dengan gerakan Arya menarik Dinda masuk ke pelukannya.


Karyawan yang berada di barisan paling depan bisa melihat dengan jelas bagaimana posisi Arya dan Dinda sekarang. Awalnya, mereka yang ha-ha-hi-hi karena semangat untuk makan siang langsung melongo melihatnya.


Saat itu, di dalam lift yang berkapasitas hingga 21 orang itu hanya diisi oleh 6 orang saja. Hampir semuanya berasal dari divisi Finance.


Begitu sadar bahwa posisi mereka saat ini dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda dari karyawan, Dinda langsung mengambil posisi berdiri sempurna melepaskan dirinya dari Arya.


Di dalam hati sebenarnya Dinda ingin kabur saja dari sana. Tapi apa boleh buat, kabur hanya akan membuat situasi semakin salah kaprah. Lift juga masih lowong, setidaknya cukup untuk 4-5 orang lagi.


Saat Dinda masih bingung, Arya sudah masuk lebih dulu. Dia bersikap santai dan cool seolah tidak terjadi apa - apa.


“Kamu tidak masuk?”, tanya Arya saat melihat Dinda yang masih terdiam.


“Oh? Oh.. iya Pak.”, Dinda masuk ke dalam lift sambil menundukkan kepalanya.


Arya menekan lantai dimana lokasi divisinya dan Dinda berada. Sedangkan Dinda hanya diam saja.

__ADS_1


‘Situasi seperti apa ini? Kenapa lift yang sedari tadi aku tunggu selalu penuh, sekarang giliran aku sedang sedang di posisi seperti tadi, liftnya malah terbuka dan kosong? Apakah aku harus menjelaskan? Mereka mungkin akan salah paham? Tidak, justru kalau dijelaskan, bukankah akan semakin aneh? Mas Arya juga bersikap seolah tidak terjadi apa - apa.’, Dinda hanya bisa bertarung di dalam pikirannya.


Bahkan, Dinda tidak menyadari kalau satu di antara enam orang yang ada di sana sebelumnya adalah Fas, teman akrabnya di kantor.


__ADS_2