Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 173 Drama Dinda


__ADS_3

UGD Rumah Sakit Ibu dan Anak tidak terlihat ramai. Hanya ada beberapa dokter jaga yang terlihat lalu lalang memeriksa kebutuhan yang ada di ruangan tersebut. Arya, pria itu berakhir disini berkat drama Dinda yang luar biasa di dalam mobil.


Dia menangis sejadi - jadinya, menyebabkan dua orang satpam mendatangi mobil mereka. Arya hanya bisa geleng - geleng kepala sambil menahan perih. Tadinya, dia berhasil memberikan penjelasan pada satpam dan hendak keluar dari area parkiran menuju apartemen untuk mengantarkan Dinda.


Tapi, gadis itu tidak memperbolehkannya dan merengek minta Arya untuk di bawah ke UGD. Alhasil, disinilah pria itu sekarang ditemani dengan satu orang dokter intern jaga dan satu orang suster yang membantunya.


“Boleh bantu diperiksa semua ya, dok. Tadi saya lihat bagian tengkuk dan punggungnya banyak baret - baret luka. Kalau perlu di rontgen, rongten aja dok.”, ujar Dinda memberikan penjelasan.


“Ayo mas Arya, buka bajunya. Nanti infeksi bisa bahaya, mas”, ujar Dinda meminta Arya untuk membuka bajunya.


Dinda tidak hanya meminta, tetapi dia sudah mengarahkan tangannya untuk membuka baju Arya segera. Dokter dan suser yang menangani luka Arya saat itu hanya bisa tersenyum saja. Jarang - jarang mereka melihat pemandangan ini.


Terlebih, Dinda saat ini terlihat sangat lucu dengan segala kekhawatirannya. Sebaliknya, Arya lebih lucu lagi karena sikap dewasa dan datar serta sok coolnya.


“Iya, ini kan juga lagi dibantu dokternya. Kamu duduk saja disitu.”, kata Arya menenangkan.


Dokter membantu membuka baju Arya dan benar ada beberapa luka baret merah terutama di bagian punggungnya.


“Habis kecelakaan, pak?”, tanya Dokter tersebut.


Arya melirik ke arah Dinda sebentar, gadis itu sudah memfokuskan perhatiannya. Dia sudah bertanya pada Arya sedari tadi tetapi tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pria itu. Beruntung dokter menanyakannya, dia tidak mungkin berbohong.


“Tabrakan dengan motor sedikit saja, dok.”, jawab Arya pelan.


“Kalau liat lukanya, sepertinya sudah sampai bergesekan dengan aspal. Lain kali hati - hati, Pak. Untuk jaga - jaga, kita rontgen ya Pak untuk mendeteksi kalau ada benturan - benturan yang mungkin efeknya belum kelihatan sekarang.”, ujar Dokter.


“Ah.. ga perlu dok. Saya bisa jamin tadi ga ada benturan. Memang cuma memang terjatuh dan sempat bergesekan dengan aspal tapi bagian kepala tidak terbentur apa - apa kok, dok.”, jawab Arya.


“Dok, rontgen saja. Kalau mas Arya ga mau bayar, biar pake kartu kredit aku saja.”, ujar Dinda tiba - tiba memberikan jawaban yang tak terduga.


“Hah.. bukan karena itu, Din. Tapi…”, Arya mau tertawa dibuatnya.


“Gak ada tapi - tapi. Pokoknya di rontgen.”, Dinda kembali meneteskan air matanya.


“Udah jangan nangis terus. Aku gapapa, kok.”, Arya benar - benar speechless dibuatnya.


Suster yang melihat juga hanya bisa menyembunyikan senyumnya. Dokter membersihkan luka - luka Arya sebelum memberikan obat. Setelah itu dokter tampak memberikan perban.


“Untuk sekarang kita perban dulu ya, supaya tidak terinfeksi dan gak bergesekan dengan baju juga.”, ujar dokter memberikan isyarat pada suster untuk memberikan perban di bagian punggung Arya.


Kemudian dokter lanjut membersihkan luka pada bagian belakang lengan dan sikunya. Bagian itu hanya perlu diberikan plester berukuran besar saja.


“Dok, di bagian kakinya juga sepertinya ada luka. Mas Arya, buka celananya ya biar dicek.”, lagi - lagi Dinda tak sadar apa yang sudah dia ucapkan karena khawatir.


“Heh.. Din.. kamu…”, Arya memegang tangan Dinda untuk memberikan kode.


“Iya, tapi di bagian kakinya siapa tahu juga ada luka, orang tadi mas Arya juga jalannya susah pas kesini.”, kata Dinda.

__ADS_1


“Iya, tapi ga disini juga dong.”, kata Arya melirik ke arah suster.


“Ya udah, ini tirainya ditutup dulu, trus mas Arya buka.”, kata Dinda.


“Kamu, Din.. Kamu..”


“Atau kita bisa robek celananya, Pak.. biar makin mudah untuk melihat kondisi kakinya. Soalnya ini celananya kan celana bahan susah juga diangkat.”, ujar dokter.


“Oh? Jangan dok. Mahal.”, ujar Arya memberikan jawaban yang kali ini membuat Dinda speechless.


Akhirnya setelah beberapa kali beradu argumen. Dokter menutup tirai agar Arya bisa mengganti celananya dengan celana pasien yang lebih longgar. Dan benar, setelah dilihat masih ada beberapa luka baret di kakinya. Mirip dengan lengannya. Sehingga dokter harus membersihkan luka, mengobati, dan menutupnya dengan plester agar tidak terinfeksi.


“Rontgennya gimana, dok?”


“Din, ga perlu. Beneran deh.. Gak terbentur sama sekali. Tuh liat, ga ada lecet di kepala, kan.”, ujar Arya masih berusaha untuk tidak di rontgen karena memang kecelakaan tadi tidak menyebabkan benturan pada kepalanya.


Dinda yang masih tidak percaya lagi - lagi mendekat ke arah Arya dan memeriksa kepalanya. Dia memutar ke kiri - ke kanan, melihat dari balik rambutnya, mengacak - acak agar bisa melihat berbagai sisi. Dan benar, tak ada goresan atau tanda - tanda terbentur sama sekali.


“Pak, namun jika ada efek tertentu setelah ini, langsung segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, ya.”


“Tuhkan, di rontgen aja. Aku bisa gak tenang kalau enggak. Mas Arya mau bikin aku stress?”, ujar Dinda.


“Kamu ini, ya. Hehehe… biasanya dia gak secerewet ini, dok.”, ujar Arya yang malu pada dokter karena tingkah istrinya yang terlampau cemas.


“Itu berarti, isteri bapak mencemaskan Bapak.”, ujar dokter intern itu pada Arya saat mengantarkannya ke ruangan untuk rontgen. Sementara Dinda menunggu di UGD.


“Loh, Dinda. Ada keperluan apa kamu disini?”, tanya dr. Rima yang tiba - tiba datang ke ruang UGD.


Dinda menghela nafas sambil menceritakan semuanya pada dokter Rima. Dia mencoba sesingkat dan sesimpel mungkin.


“Wah..ternyata kulkas 5 pintu seperti Pak Arya bisa se-so sweet itu juga, ya.”, itulah komentar pertama yang keluar dari mulut dr. Rima setelah mendengar cerita Dinda.


“Pantas tadi ekspresinya seperti kurang nyaman. Ternyata mungkin dia menahan perih, ya. Tapi, akhirnya ketahuan juga?”, ujar dr. Rima tersenyum.


Ada perasaan cemburu yang ia rasakan meski sedikit. Bukan karena dia menyukai Arya sebagai pria, tapi lebih pada hubungan keduanya yang menurutnya manis.


“Hah… kadang disaat seperti ini yang membuat saya merasa kesepian.”, ujar dr. Rima.


“Eh?”, respon Dinda bingung dengan jawaban dokter Rima.


“Lagi rontgen?”, tanya dr. Rima mengalihkan pembicaraan.


“Iya dok.”


“Sudah, jangan nangis lagi. Kasian nanti bayinya jadi ikut sedih, loh. Kalau dengar dari cerita kamu, harusnya dia gapapa. Cuma luka baret saja, ya walaupun itu perih sih untuk beberapa hari ke depan.”, tutur dr. Rima.


“Oh? Masa iya dok? Bisa begitu, ya?”, ujar Dinda memegang perutnya.

__ADS_1


Kadang ada waktu dimana dia lupa kalau dia sedang hamil.


“Hm.. tentu saja. Bayi itu berbagi perasaan dengan ibunya. Kalau ibunya senang, dia akan senang. Dan berlaku sebaliknya.”, ujar dr. Rima kemudian berlalu dari sana.


********


“Mas Arya.”, panggil Dinda.


Mereka sudah sampai di apartemen. Arya sudah selesai rontgen dan perawatan juga sudah dilakukan. Tidak ada yang bermasalah kecuali luka - luka dan baret di beberapa bagian tubuhnya.


Semua juga sudah di perban. Dokter hanya berpesan agar luka tersebut rajin dibersihkan dan di perban agar cepat sembuh. Begitu semua selesai, Arya segera membawa Dinda ke apartemen sebelum berencana kembali ke kantor.


“Hm?”, jawab Arya menoleh ke belakang.


“Apa tidak sebaiknya mas Arya kerja di rumah saja? Luka - luka mas Arya pasti masih sakit.”, kata Dinda dengan wajah memelas agar suaminya tidak jadi ke kantor.


“Sayang, nanti malam aku pulang, kok. Kamu tunggu disini dulu, ya.”


“Tapi, mas.”, Dinda masih enggan.


“Laptop aku masih di kantor. Barusan Siska WA katanya ada beberapa dokumen yang harus aku tanda - tangani. Atau mau aku suruh mereka kemari?”, kata Arya berharap Dinda menjawab tidak.


Sebaliknya, Dinda justru mengangguk.


“Gapapa. Mereka kesini saja biar mas Arya gak capek.”, balas Dinda.


“Yakin? Katanya kamu belum mau mempublikasikan hubungan kita.”, tanya Arya.


“Aku tinggal bersembunyi di kamar sampai mas Arya selesai. Mudahkan. Ya mas, yaaa…. Luka - luka mas Arya masih basah, badan mas Arya juga kayanya demam. Ya?”, kata Dinda berusaha membujuk suaminya.


Arya nampak berpikir sebentar. Kemudian dia menekan nomor ponsel Siska.


“Halo, Sis.. kamu bisa bawa semua dokumen yang harus saya tanda - tangani ke apartemen saya? Sama laptop saya sekalian.”, ujar Arya.


Mendengar itu, nampak senyum merekah di wajah Dinda.


“Oiya, dua dokumen kamu bilang baru di submit hari ini dari tim 1 dan tim 3 ya? Minta dua orang perwakilan dari mereka yang bisa menguasai materi untuk ke apartemen saya juga, ya. Maaf saya harus request seperti itu karena saya baru kecelakaan.”, jelas Arya.


“Hah? Serius Pak Arya? Pak Arya gapapa? Pak Arya di rumah sakit mana?”, tanya Siska kaget sampai tidak fokus pada pertanyaannya.


“Gapapa. Lagian, kalo saya di rumah sakit, kenapa saya minta kamu dan anggota tim datang ke apartemen saya? Buat bersih - bersih?”, kata Arya geleng - geleng kepala.


“Ah, iya. Maaf - maaf, Pak. Tapi Pak Arya gapapa, kan?”, tanya Siska memastikan lagi.


“Sejak kapan kamu peduli sama saya. Bukannya kamu berharap saya saya gak masuk - masuk biar kamu bebas, ya?”


“Pak Arya, bisa aja. Engga kok, Pak. Mana berani saya berpikir begitu.”, balas Siska.

__ADS_1


“Oke, saya tunggu ya. Kalau sudah tiba di parkiran, whatsapp saya. Ada istri saya juga soalnya.”, kata Arya.


“Oh, baik Pak.”


__ADS_2