Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 46 Izin Glamping


__ADS_3

“Mas Arya, saya boleh masuk?”, ucap Dinda sambil mengetuk pintu ruang kerja suaminya sebanyak 3 kali.


Masih belum terdengar suara jawaban dalam, Dinda memutuskan untuk mengetuk lagi.


“Mas, mas Arya ada di dalam?”, Dinda yakin sekali. Tadi, sebelum dia keluar untuk mengambil susu, mas Arya masuk ke ruangan kerja dan belum keluar lagi setelah itu.


Dinda memberanikan diri membuka pintu tersebut karena memang merasa penasaran.


“Baik. Tapi Sarah, kamu harus janji. Hanya sekali ini saja.”, setidaknya itulah yang terdengar oleh Dinda ketika mencoba membuka pintu itu. Nama ‘Sarah. ‘Apa mungkin ‘Sarah’ mantan istrinya lagi? Ah.. siapa lagi yang namanya Sarah disekitar mas Arya kalau bukan dia.


Dinda langsung menutup pintu segera setelah melihat mas Arya menoleh. Dia sudah membuat pria itu kecewa beberapa hari yang lalu.


Dia tidak ingin berdebat dulu perihal Sarah. Apalagi, maksud dia mencari Arya adalah untuk minta izin pergi camping bersama teman - temannya.


Dia tidak mau mengacaukan mood pria ini sampai dia mengizinkan Dinda. Dinda masih menunggu di sebuah sofa yang berada tidak jauh dari depan ruangan kerja pak Arya. Dia mengambil susunya yang tadi memang sudah dia taruh disitu dan menghabiskannya sambil menunggu.


10 menit kemudian, Arya baru muncul dari balik ruangan kerjanya itu. Dia terlihat memasukkan handphonenya ke dalam saku. Dinda langsung sigap berdiri dan bermaksud untuk menghampiri tetapi pria itu langsung melesat ke dalam kamar mandi, menutupnya.


Dinda kembali menghela nafas. Kali ini hanya lima menit ia menunggu. Arya sudah keluar dari kamar mandi. Sebelum pria itu bersiap menuju ruang kerjanya, Dinda langsung memblokade pergerakannya di depan pintu. Persis seperti saat Arya memblokade pergerakan Dinda tempo hari.


Dinda merentangkan tangannya untuk melarang pria itu masuk. Dia sudah menunggu seperti orang yang ingin meminta tanda tangan dari bos nya. Lama sekali. Tetapi pria itu malah tidak menghiraukannya.


“Mas Arya maaf, ada yang mau saya bicarakan.”, kata Dinda pelan.


“Besok aja, saya lagi banyak urusan.”, kata Arya dan hendak berjalan masuk ke ruangannya. Tapi Dinda memegang tangannya cepat.


“Sebentar aja, kok. Gak lama. Ya? Plis..”, kata Dinda memohon.


Arya mengangkat tangannya yang sudah dipegang oleh Dinda.


“Sudah berani pegang - pegang lagi? Sudah siap bayar hutang kamu yang sudah berbunga?”, tanya Arya menatap Dinda.


“Maksud mas Arya?”, kata Dinda yang sebenarnya sudah tahu maksud pria ini tetapi masih ingin mencoba meyakinkannya.


Arya melepaskan pegangan tangan Dinda, mendorongnya ke belakang mengenai sebuah lemari kecil yang membatasi sofa kamar itu dengan sedikit ruang di depannya. Lalu menyesapkan tangan kirinya ke belakang punggung Dinda. Sedangkan tangan kanannya ia arahkan untuk memegang tengkuk Dinda.


“Bukannya sudah lunas? Waktu itu bahkan sudah lebih dari 9 ciuman”, kata Dinda. Dia menurunkan volume suaranya pada kata terakhir karena merasa malu.


“Lunas? Itu baru pokoknya. Bunganya kan belum.”


“Mas Arya, gak boleh riba. Apalagi sama istri.”


“Hutang kamu, beda sama uang. Riba juga gapapa.”,


“Mas Arya… saya cuma mau minta ijin camping bersama teman - teman saya dari Kamis pagi sampai Sabtu sore.”, Dinda langsung mengatakan maksud dan tujuannya tanpa ada koma dan titik sekalipun karena dia harus segera mengakhiri situasi ini.


Arya tampak sedikit berpikir sebelum akhirnya bertanya, “Teman - teman kamu yang mana?”.


“Teman kuliah saya, mas.”, jawab Dinda sambil mencoba menurunkan tangan Arya yang ada di kerah bajunya.


“Kamu mau cuti?”, tanya Arya lagi sambil melihat ke arah kantongnya. Hape Arya kembali bergetar.


“Sebentar.”, Arya melihat ponselnya.


Arya sedikit menjauh dari Dinda. Setidaknya di jarak yang pas agar Dinda tidak mendengar apa yang dia bicarakan.


“Oke. Ga masalah. Bye.”, Arya hanya mengucapkan 3 kalimat singkat yang lebih cocok disebut kata dan kembali menutup ponselnya.


Setidaknya dia sudah menekan tombol reject dan yakin bahwa ponsel itu sudah dia tutup sebelum memasukkannya kembali ke dalam sakunya.


Sayangnya, Arya tidak memeriksa dengan cermat. Tangannya yang masih basah selepas mencuci tangan di kamar mandi, membuat sensor ponsel sentuh itu tidak menerima perintahnya. Alhasil ponsel Arya masih tersambung ke orang yang menelepon sampai orang tersebut mematikan sambungan ponselnya.


Arya kembali berhadapan dengan Dinda karena dia masih ingin terus bermain - main dengan gadis itu. Dinda membuatnya ketagihan untuk terus menjahilinya. Apalagi pose sekarang ini adalah pose favorit Arya.


Arya mengunci pergerakan Dinda di pinggir sofa agar gadis itu tidak menghindarinya.


“Sampai dimana kita tadi? Sampai disini ya?”, Arya mendekatkan bibirnya ke pipi Dinda namun sayang ditepis gadis itu pelan.


“Bukaan. Ngarang.”, kata Dinda sambil tersenyum dan berusaha menahan bibir Arya yang masih ingin menciumnya.


“Jadi, saya sudah info ke Pak Erick kalau saya mau ambil cuti. Seharusnya gak ada masalah karena saya kan ga berhubungan dengan divisi mas Arya.”, Arya nampak menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanggapan atas informasi Dinda.


“Bagaimana dengan pelatihan smart report?”

__ADS_1


“Tenang aja, saya gak ambil cuti di hari yang sudah kita janjikan kok, mas.”


“Hmm…oke…”, Arya ingin menjahili Dinda dengan mengangguk - anggukkan kepalanya tanda paham. Namun, tak lama kemudian, saat ia lihat Dinda sudah lengah, Arya langsung mendaratkan satu ciuman di pipi Dinda.


“Ihhh mas Arya… cium - cium mulu. Cium, bayar!”, kata Dinda berusaha kabur, tapi tidak bisa karena pria itu benar - benar sudah menahan dan memblokade pergerakannya dengan lengan kekar itu.


"Kan saya memang bayar kamu. Tiap bulan ada kartu kredit dan uang jajan. Masih kurang? Kalau kamu kasih yang saya mau. Saya bisa tambahin jajan kamu.", ucap Arya bercanda.


“Lengan mas Arya ini besar sekali. Gak malu apa, lawan aku yang mungil?”


“Hm.”, jawab Arya sambil menggeleng.


“Udah ah, aku mau tidur, mau siap - siap besok berangkat pagi subuh.”, tutur Dinda mendorong tubuh Arya.


Arya mengalah dengan sedikit melonggarkan pelukannya. Saat Dinda bergerak ke luar, Arya kembali menarik lengan itu dan memasukkannya lagi dalam jangkauannya.


Dinda tidak terlalu memperhatikan hingga akhirnya ia terkejut saat pria itu sudah menyesap bibirnya.


Awalnya biasa saja namun lama - lama Arya menciumnya dengan intens bahkan pergulatan yang dilakukannya sampai mengeluarkan suara. Padahal biasanya tidak sampai seintens itu, apalagi sampai mengeluarkan suara.


Sudah terlambat untuk Dinda terkejut apalagi melarikan diri. Meskipun sudah beberapa kali tapi Dinda masih belum terbiasa dengan hal ini. Arya sudah terlanjur menggaet pinggangnya, menguncinya dalam pelukan sementara bibirnya terus menyesap masuk.


Dinda sudah tidak bisa menahan suaranya saat bibir itu mulai melakukan eksplorasi ke tempat yang lain. Dinda menggigit bibirnya berusaha menahan suaranya namun tetap saja tidak bisa. Suara itu mengalir seakan - akan menjadi trigger untuk Arya berbuat lebih.


Beberapa kali dia memberikan kesempatan untuk mereka bernafas, tetapi tidak lama dia akan mengulangi pagutannya lagi.


Setelah berlangsung kurang lebih 10 menit, Arya baru menghentikan pergerakannya. Sesaat setelah mas Arya menghentikan aksinya, nafas Dinda langsung tersengal. Ia seperti orang yang sudah marathon mengelilingi satu putaran lapangan bola.


Seketika kaki Dinda lemas namun Arya dengan cepat menangkapnya, mencegah gadis itu terjatuh. Dinda melayangkan pandangan yang penuh tanya pada Arya. Dan tentu saja pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh Arya.


Dinda mencoba mencari penjelasan dibalik perlakuan tadi di mata Arya tetapi dia tak menemukan apapun.


“Anggap saja itu bayaran karena saya sudah mengizinkan kamu untuk camping. Pulang dari camping, saya gak mau ada penolakan lagi.”, kata Arya yang jelas - jelas menyinggung peristiwa tempo hari.


“Tapi mas Arya, saya masih belum siap.”


“Kalau kamu ga ahli, tenang, saya yang ajarin.”


“Wajar dong. Saya kan suami kamu. Saya belum unboxing kamu sama sekali loh. Bahkan di Maldives sekalipun. Kayanya cuma kita pasangan satu - satunya di Maldives yang gak ngapa - ngapain.”, kata Arya.


“Sekarang saya tanya, kenapa kamu gak mau?”, lanjut Arya.


Arya sih santai membahasnya, tapi hati dan wajah Dinda yang langsung tidak aman. Semburat merah, deg - deg-an dan rasa panik membanjiri kepalanya.


“Ih bahasan Bapak - bapak itu terus. Saya mau tidur aja.”


“Jawab?”, tanya Arya dengan tatapan yang serius.


“Ya.. kan saya belum yakin mas Arya komitmen sama pernikahan kita atau enggak. Kalau nanti saya menyerahkan semua yang saya punya ke mas Arya, terus mas Arya balik ke mantan istri mas Arya, saya gimana?”, jawab Kirana polos dan jujur.


“Kalau sekarang saya bilang, saya komitmen sama pernikahan kita, terus kamu mau?”, tanya Arya memberikan pertanyaan skak-matt.


“...”, Dinda tidak menjawab.


“See.. masalahnya bukan di komitmen, kan?”


“Ya… komitmen salah satunya.”, balas Dinda.


“Terus yang lain?”, tanya Arya lagi.


Baru saja Dinda terlihat ingin membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi ponsel Arya kembali berdering.


“Erick lagi. Kamu saya kasih waktu memikirkan selama kamu camping, ya.”


Dinda senang, Arya melepaskannya dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Telepon dari Erick menyelamatkan Dinda.


“Lo kemana aja sih? Gue telponin dari tadi, ga masuk - ga masuk.”, Erick sudah kesal karena dia mencoba menelepon Arya sedari tadi tetapi operator mengatakan ponsel Arya sedang menerima panggilan lain.


“Hah? Ada kok, jam berapa?”, tanya Arya.


“Barusan, beberapa detik yang lalu. Ini gue nyoba terus. Nah, ini baru banget nyambung.”, kata Erick protes.


Arya memeriksa ponselnya. Dan benar saja, ternyata panggilan masuk yang barusan dia terima dari Sarah berjalan hingga 15 menit.

__ADS_1


Padahal, Arya ingat sekali jika dia hanya berbicara beberapa detik saja dan langsung memutus panggilannya.


“Oh ****.”, ucap Arya.


“Hah? Kok lo nyumpahin gue.”, kata Erick.


“Bukan lo. Ya udah, kenapa?”, tanya Arya. Dia dengan cepat mengalihkan perhatiannya.


“Dokumen yang gue kirim barusan ke email lo, boleh di approve ga? Harus gue serahin secepatnya ke bagian finance.”


“Oke. Itu aja?”


“Yuhu… penting soalnya itu masalah keuangan. Harus selesai malam ini, detik ini juga,”


“Iya, ini lagi buka emailnya. Udah gue approve.”


“Thanks, Arya. Ada gunanya juga lo jadi atasan gue.”, goda Erick.


Arya langsung memutuskan teleponnya. Dia kembali memeriksa riwayat panggilan sebelumnya. Panggilan masuk dari Sarah yang berjalan sekitar 15 menit lebih.


‘Apa Sarah mendengar semuanya?’, bathin Arya sambil mengarahkan pandangannya ke jendela luar di ruang meetingnya.


****


“Dinda sudah berangkat pagi - pagi?”, kata Inggit di meja makan. Ekspresinya kurang senang.


“Iya, Bu. Tadi pagi jam 5 sudah pergi dengan ojek online. Katanya, Dinda berkumpul di rumah temannya, Bu.”, kata Bi Rumi membantu menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukkan pada Arya. Tapi dia tidak terlihat ingin menjawab.


“Kok Dinda ga bilang sama mama, Arya?”, kata Inggit melanjutkan.


“Neng Dinda mau bilang tadi Bu. Tapi takut ganggu karena masih pagi banget.”, Inggit masih merengut dan menunggu jawaban dari Arya. Tapi terus saja dijawab oleh Bi Rumi.


“Ya sudahlah ma. Dinda tadi malam udah ijin kok sama Arya. Lagian dia kan juga udah besar. Bisa jaga diri.”, kata Arya yang sudah menyelesaikan makannya dan siap untuk berangkat kerja.


“Arya, kamu gak apa - apain dia kan? Kemarin juga masih baik - baik aja. Kok kamu suaminya gak nganterin.”, kata Inggit berjalan mengejar Arya yang sudah menuju pintu keluar rumah.


“Tadi malam aku meeting sampai malam. Udah deh ma, gak usah lebay. Sabtu juga dia balik.”, kata Arya.


“Kamu kan udah janji sama mama. Untung papa kamu lagi kumpul sama temannya. Kalau dia tahu, nanti kan ribut lagi Arya.”, kata Inggit masih berusaha menahan Arya untuk bisa berbicara dengannya.


“Apa sih ma. Kan Dinda mau liburan, glamping, sudah izin. Berangkat duluan ga mau nyusahin aku yang abis meeting larut malam. Lagian nih ya, kita fine - fine aja kok ma. Telpon aja anaknya sendiri. Udah aku berangkat dulu, sudah ditunggu partner.”, Arya berhasil melarikan diri meninggalkan Inggit.


“Bi Rumi, ambilin HP saya dong. Saya mau telpon Dinda.”, kata Inggit bergegas.


Tak lama, ponselnya sudah terhubung dengan Dinda.


“Sayang, kok berangkatnya pagi banget gak dianter Arya.”, kata Inggit to the point.


“Gpp ma. Kasian mas Arya tadi malam kerja sampai larut. Dini hari baru tidur. Rumah teman Dinda deket kok ma, ini kita udah mau jalan. Sabtu Dinda balik ya, ma.”, kata Dinda.


"Kamu kok gak bilang - bilang sama mama?", tanya Inggit.


"Maafin Dinda, Ma. Dinda salah. Dinda baru dapat izin dari mas Arya tadi malam. Dinda mau izin pagi - pagi, tapi gak enak bangunin mama.", ucap Dinda merasa bersalah.


Inggit memang sangat baik padanya. Tapi, kalau Dinda salah, Inggit juga akan menegurnya. Meski dengan teguran halus. Dinda juga paham betul karena dia sudah menjadi anak di keluarga itu.


“Ya udah hati - hati ya sayang.”, jawab Inggit lesu sambil menutup ponselnya.


****


“Eh guys, gimana dong, ini venue sampingnya ga bisa digunakan katanya air sungainya pasang.”, kata teman Dinda yang tiba - tiba ribut di tengah perjalanan.


Mereka berencana untuk melewatkan Glamping 3 hari 2 malam di sebuah tempat glamping yang berada dekat tepian sungai. Jadi, tempat campingnya sudah ada, dan letaknya persis tersusun di pinggiran sungai.


Namun, baru saja pihak glamping mengabarkan bahwa sungai sedang pasang dan tidak bisa digunakan karena takut membahayakan pengunjung. Situasi ini beberapa kali terjadi, tapi baru sekali ini yang secara tiba - tiba.


“Duit kita gimana? Kan kita udah reservasi tiga hari, masa gak jadi?”, kata teman Dinda yang lain bernama Rara.


“Bentar - bentar, aku belum baca sampai situ. Eh guys.. syukurlah, duitnya dibalikin walaupun cuma 80%.”, kata Rara lagi.


“Terus gimana dong? Ini kita sudah setengah perjalanan, loh.”, kata Bianca yang saat ini sedang menyetir.


Dinda berangkat glamping bersama dengan 4 teman perempuannya yang sudah satu geng sejak di kampus. Mereka memang sering melakukan liburan bareng.

__ADS_1


__ADS_2