Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 168 Meeting di Tempat yang Sama


__ADS_3

Arya, pria itu masih terpaku melihat layar ponselnya sejak 10 menit yang lalu. Dia suah membaca pesan dari Dinda. Sebenarnya, dia sedang meeting online dengan jajaran management yang ada di regional. Gilirannya untuk presentasi sudah selesai. Tapi, dia masih harus tetap berada di meeting itu mendengarkan presenter yang lain berbicara.


From: Istriku 


Mas Arya, aku ada meeting di luar, mungkin sampai jam 6 atau 7. Mas Arya gak usah repot jemput, aku naik ojek online saja.


Arya membalas: 


Nanti aku jemput. Bilang saja alamatnya, aku kesana kalau kamu sudah siap, ya. 


……


Sejak itu, tidak ada balasan dari Dinda.


‘Apa aku telpon Erick? Ah.. pasti dia sudah mulai meeting.’


‘Tapi ini Dika. Aku harus telepon.’


‘Ah.. Arya, kamu itu harus profesional. Ini kan urusan pekerjaan. Meeting. Masa kamu harus posesif terus. Kedepannya Dinda juga akan berkarir, kan.’


‘Tapi, kan tanya saja, bukan posesif dong.’


Arya berdebat dengan dirinya sendiri. Disatu sisi dia penasaran dan tidak terima Dinda terlibat meeting dengan Dika. Disisi lain, dia tidak bisa mengabaikan profesionalitasnya dalam bekerja.


Tok tok tok tok


“Masuk.”, jawab Arya.


Ternyata Siska yang mengetuk pintu.


“Pak Arya, tim 8 bertanya, meeting dengan mereka bisa dimajukan jadi hari ini? Katanya kalau besok mereka harus studi lapangan di tempat klien. Jadwalnya baru saja diganti.”, jelas Siska.


“Hm? 30 menit lagi bisa? Saya masih meeting online.”, balas Arya.


“Sebentar saya tanyakan ya Pak.”, Siska dengan cepat bergerak keluar memastikan jadwal kembali.


“Bisa Pak katanya.”, jawab Siska.


“Oke. Hm, Sis. Bilang sama mereka kita meeting di luar. Saya yang traktir.”, ujar Arya.


“Oh, oke baik, Pak. Dimana? Perlu saya reservasi tempatnya?”, tanya Siska.


“Hm, sebentar. Nanti saya kirim nama resto dan alamatnya ke kamu.”, ujar Arya.


Siska mengiyakan dan segera undur diri. Arya kemudian memeriksa ponselnya. Biasanya Rini dan Suci sering posting di social media tentang apapun aktivitas mereka di luar kantor. Dan tebakan Arya benar, Rini baru saja memposting restoran dimana dia meeting.


Arya langsung mengirimkan nama resto dan alamatnya agar Siska bisa melakukan reservasi.


********


“Rin, udah jangan story terus. Norak banget.”, kata Erick yang lelah melihat Rini dan Suci sibuk mengambil jepretan foto. Mereka sedang memanfaatkan momen sambil menunggu Dika dan Dinda.


Kalau Dika sudah datang, mereka tidak akan berani melakukannya. Meski sudah hampir sebulan, mereka tetap masih belum terbiasa dengan Dika.


Sementara itu di mobil Dika.


“Kamu baru lulus tahun ini?”, tanya Dika yang ingin sekedar basa - basi karena suasana di mobil sedari tadi hening.


“Hm. Iya Pak.”, jawab Dinda singkat kemudian situasi kembali hening.


“Lalu, darimana tahu perusahaan ini? Dapat rekomendasi?”, tanya Dika lagi.


“Enggak Pak. Saya tahu dari senior. Banyak dari mereka yang apply dan bekerja disini. Tapi kebanyakan di divisi IT.”, jawab Dinda.


Dika mengangguk - angguk mendengar jawaban Dinda.


“Hm..kamu.. dan Arya, saling kenal?”, Dika termasuk orang yang tidak bisa tenang kalau penasaran pada sesuatu.


Tempo hari dia melihat interaksi Arya dan Dinda yang begitu natural di depan restoran. Apakah mereka ada hubungan khusus? Dia juga ingin memastikan jika istri baru Arya yang disebutkan oleh Sarah tempo hari, apakah benar Dinda. Ya, mungkin saja secara kebetulan namanya sama. Meskipun kebetulan yang sangat kecil. Karena itu dia ingin memastikan.


Dinda nampak bingung dengan pertanyaan Dika yang tiba - tiba.


“Hm..maksud Pak Dika, Pak Arya kepala divisi Business and Partners?”, Dinda membalas dengan pertanyaan.


“Hn. Pak Arya.”, kata Dika.


“Tentu saja. Beliau kan Kepala Divisi sementara untuk DD sebelum Pak Dika masuk.”, Dinda menjawab dengan hati - hati.


“Maksud saya bukan di kantor. Tapi di luar kantor. Kalian saling kenal?”, tanya Dika lagi.


“...Hm?”, Dinda menoleh sebentar dengan tatapan bingung.


“Ah… saya orangnya gak bisa pura - pura. Saya gak sengaja melihat Arya sepertinya menjemput kamu di restoran, tempat tim kita makan malam bersama sebelumnya. Kalian juga terlihat sangat dekat. Saudara kamu? Atau jangan - jangan pacar kamu?”, tanya Dika yang bukannya membuat suasana menjadi santai tetapi malah semakin canggung.

__ADS_1


“Oh? Hm..”, Dinda benar - benar bingung harus menjawab apa.


Situasi ini jelas sangat berbeda dibandingkan dengan situasi saat Bryan menanyakan perihal Arya padanya. Maksudnya, bukankah normalnya orang seperti Dika yang merupakan kepala divisi tidak tertarik dengan urusan ini. Ada ataupun tidak hubungan khusus antara Arya dan Dinda, Dika harusnya tidak terlalu peduli.


“.....”


Dinda masih kebingungan harus menjawab apa. Dika pun seolah tidak menambahkan kalimat yang lain selain pertanyaannya tadi. Jarak sudah semakin dekat dengan tujuan dan mereka sudah sampai.


“Mungkin kamu bisa jawab next time. Ayuk kita turun.”, ujar Dika mempersilahkan Dinda.


Di dalam restoran, ketiga orang itu langsung mengarahkan perhatiannya pada Dika yang baru datang. Samar - samar, mereka baru sadar kalau di belakangnya ada Dinda.


“Shit, kamu tidak mengajak Dinda, tadi?”, tanya Erick memukul lengan Rini karena kaget melihat Dinda.


Rini dan Suci juga di posisi yang sama. Seketika mereka baru ingat kalau mereka sudah melupakan sesuatu.


“Kalian ini. Kenapa Dinda di tinggal. Untung tadi saya lihat, kalau tidak kita meeting tanpa dia, loh. Nanti kan dia banyak membantu kita untuk urusan operational.”, ujar Dika saat duduk di meja yang sudah mereka reservasi sebelumnya.


“Wah Din, maaf - maaf. Rini nih, dia lupa. Masa kamu supervisornya tidak ajak anak buahnya sih, Rin.”, kata Erick melemparkan bola panasnya pada Rini.


Orang yang disebut hanya bisa melemparkan wajah bingung pada Erick. Sementara Suci, sepertinya dia sudah menerima kenyataan. Dia nampak tidak terlalu tertarik dengan bahasan mereka.


“Oke, kalian sudah pesan?”, tanya Dika.


“Hm.. sudah Pak. Tadi kita mau kirim menunya ke Bapak supaya bisa sekalian pesan juga. Tapi, baru inget kalau bapak kan nyetir sendiri.”, ujar Rini.


Seorang pelayan memberikan menu makanan dan minuman pada Dika dan Dinda. Dinda mencari - cari makanan yang bisa dia makan. Lebih tepatnya karena dia mual, dia harus lebih hati - hati memilih makanan.


Dia juga belum meminum pil yang diberikan Arya tadi untuk sore ini. Tidak mungkin dia mengeluarkan pil itu di depan mereka.


“Mba, saya ini ya.”, kata Dika menunjuk satu menu.


“Din, ini enak. Saya sering pesan ini disini.”, kata Dika memberikan rekomendasi karena dia lumayan sering makan di tempat ini bersama Sarah sebelumnya.


“Oh.. iya mas, saya pesan ini juga. Untuk minumnya saya es jeruk aja.”, ujar Dinda menyerahkan menu pada pelayan tadi.


Selesai memesan, Dika langsung memulai meeting, sekalian menunggu pesanan datang. Selama kurang lebih 30 menit mereka meeting, makanan baru datang. Disaat yang bersamaan, dari pintu masuk gerombolan yang mereka kenal.


Lebih tepatnya, Rini, Suci, Dinda dan Erick kenal. Dika masih baru, jadi belum mengenal banyak orang di perusahaan.


“Pak Arya? Bisa sama tempatnya. Mereka mau meeting disini juga?”, tanya Rini pada Erick.


Erick hanya mengangkat bahu. Dia juga bingung. Secara refleks Erick melihat ke sampingnya, tempat Dinda duduk. Dinda juga memasang wajah blank karena dia tak tahu kalau Arya juga meeting disini.


“Bukannya itu Pak Arya?”, kata Dika yang baru fokus pada apa yang lain lihat.


Erick dan Rini mengangguk.


“Sepertinya mereka juga mau meeting, Pak.”, kata Suci.


“Hm.. seumur - umur, sebelumnya saya tidak pernah bertemu Pak Arya setiap datang kesini. Tumben sekali, ya.”, ujar Dika.


“Hm.. biasanya Pak Arya meeting di klub (aneh siih). Tapi katanya sudah lama dia tidak meeting di luar kecuali cafe. Kenapa tiba - tiba di restoran, ya?”, Rini pun heran.


Di sisi lain. Arya pura - pura tidak melihat ataupun mencari keberadaan istrinya. Sebelum masuk, dia sudah melihat mobil Dika di parkiran, jadi dia sudah bisa memastikan kalau pria itu pasti disini.


Saat berhasil menemukan siluet Erick dan Rini sekilas, seketika dia mengelus dadanya lega karena ternyata Dinda tidak meeting berdua dengan Dika. Tadinya, Arya kira Dinda hanya meeting berdua dengan Dika. Soalnya saat di kantor, dia hanya melihat mereka berdua turun lift.


“Oh, bukannya itu Pak Erick, ya?”, ujar Wawan.


Saat ini, Arya bersama tim 8 yang dimanajeri oleh Albert. Karena Gilbert sudah tidak ada, Wawan dan Egi di perbantukan ke tim Gilbert yang saat itu juga sedang kewalahan dengna banyak project.


“Iya, ada Dinda juga Wan.”, ujar Egi.


Arya langsung menolehkan kepalanya ke Egi dan Wawan. Seolah - olah ingin berkata, ‘sejak kapan mereka mengenal Dinda’?.


“Ah.. intern divisi DD, pak. Yang waktu itu mengurus smart report.”, jawab Egi yang mengartikan pandangan Arya seperti dia sedang mencari penjelasan.


“Iya, saya tahu. Saya kan sempat jadi Kepala Divisi DD kalau kalian lupa.”, jawab Arya.


“A-ah, iya juga. Lupa, Pak.”, jawab Egi dan Wawan.


“Cantik anaknya, Pak. Pas tim building juga sempat satu tim. Jadi, kenal aja gitu Pak.”, jawab Egi ragu - ragu.


“Daripada fokus sama intern. Lebih baik kamu fokus mempercatik presentasi kamu.”, ujar Arya dengan nada killernya dan berlalu mengikuti pelayan yang akan menunjukkan meja mereka.


“Mana bisa nelan makanan kalau Pak Arya seperti Grim Reaper begitu.”, ujar Egi pada Wawan.


“Lagian, kali aja Pak Arya juga suka sama intern itu, hahaha.. Makanya dia sewot.”, ujar Wawan masih sempat bercanda.


“Suek.. beraninya kalau Pak Arya lagi tidak ada di sekitar kamu. Coba ngomong begitu pas lagi ada orangnya.”


“Ya, aku masih banyak cicilan Gi. Belum mau dipecat.”, ujar Wawan masih melanjutkan candaannya sambil mengikuti Pak Arya dan beberapa anggota tim yang lain. Sementara Pak Albert sendiri masih pusing mencari parkiran karena yang di depan sudah penuh.

__ADS_1


“Sebentar saya ke sapa Pak Arya dulu, ya.”, ujar Dika pada timnya.


Berbanding terbalik dengan Arya yang tetap sok cool, Dika yang mendengar perkataan Rini berinisiatif untuk menghampiri Arya.


“Sore Pak Arya. Wah, meeting disini juga?”, ujar Dika berbasa - basi.


“Oh.. Iya. Kebetulan sekali. Pak Dika meeting juga? Baru tiba atau?”, balas Arya sambil tetap meneruskan aktingnya. Bersikap seolah - olah tidak tahu kalau tim DD juga meeting disini.


“Sudah hampir sejam. Ada project besar, atau dari tempat klien?”, tanya Dika.


“Oh tidak.. Sudah lama tidak meeting di luar, jadi saya mau treat tim saya saja.”, jawab Arya.


“A-ah.. baiklah. Semoga meetingnya lancar. Saya kembali dulu. Kebetulan meetingnya belum selesai, makanannya baru datang.”, terang Dika.


“Silahkan.”, balas Arya tersenyum.


Drrrrtt Drrrrttt


Ponsel Arya berbunyi.


Dari: Istriku


Mas Arya meeting disini juga? Kok gak bilang? Bukannya tadi mau jemput? Aku kira mas Arya ga ada meeting lagi.


Arya membalas: 


Tiba - tiba ada. Nanti pulangnya bareng. Awas bareng sama Dika.


Dahi dinda mengkerut karena heran membaca pesan dari Arya.


‘Memangnya kapan aku bilang pulang sama Pak Dika. Kan aku bilang pulang naik ojek online.’


“Din, kamu catat MoM, meetingnya kan?”, tanya Rini memastikan karena melihat Dinda sibuk dengan ponselnya.


“Ah…Iya mba. Aku catat semua.”, jawab Dinda.


Lebih kurang hampir dua jam mereka menghabiskan waktu untuk mendiskusikan langkah selanjutnya project yang akan mereka laksanakan. Dika sudah menutup meeting dan mempersilahkan yang lain untuk pulang sembari dia membayar tagihan makanan. Rini langsung bergegas keluar parkiran karena dia ada janji dengan pacaranya.


Seperti biasa, Erick menunggu Dika menyelesaikan pembayaran dan berencana untuk keluar bersama meski mereka menaiki mobil yang berbeda.


“Din, aku duluan, ya.”, ujar Suci pada Dinda.


Sementara Dinda permisi untuk ke musholla menyelesaikan kewajibannya. Sekembalinya dia dari musholla, Dinda bermaksud memesan minuman sambil membuka laptopnya untuk menunggu Arya selesai meeting.


Tapi dia terkejut, karena ternyata Dika dan Erick masih belum pulang.


“Loh, Din.. saya kira kamu sudah pulang.”, kata Erick begitu menyadari Dinda kembali ke dalam restoran.


“Aah… saya.. menunggu ojek online. Iya.. sudah pesan tapi belum muncul juga.”, tak ada alasan lain yang bisa Dinda pikirkan selain itu.


“Bareng saya saja. Rumah kamu dimana?”, tanya Dika.


Dahi Erick langsung mengkerut karena baru saja mereka memesankan minuman lagi karena ingin lanjut mengobrol.


“Oh enggak Pak, ga usah. Saya jugaa mau janjian sama teman, iya. Lagi diskusi apa mereka mau jemput kesini atau enggak. Gitu.”, beruntung, Dinda bisa memikirkan alasan lain.


“Yakin?”, tanya Dika tidak percaya begitu saja kata - kata Dinda. Dia hanya merasa Dinda seperti menolaknya dengan halus.


“Iya Pak. Tidak usah repot - repot.


Sementara itu, Erick yang bingung hanya bisa diam saja tanpa banyak berkomentar. Dia sudah tahu kalau Dinda pasti sedang menunggu Arya selesai meeting.


Tak berapa lama Dinda duduk, Egi, Wawan, dan tim Arya yang lainnya sudah selesai meeting. Merek terlihat membawa tas keluar resto. Kecuali Egi yang menyadari Dinda duduk sendiri di sebuah meja.


Ya, Dinda memilih tidak bergabung kembali di meja Erick dan Dika karena sepertinya mereka ingin mengobrol hal lain dan sepertinya bukan tempat yang cocok juga untuk dia bergabung.


“Hai Din. Belum pulang? Tadi aku lihat Suci sudah pulang.”, ujar Egi dengan gaya dan nada bicara seolah mereka dekat.


“Lagi menunggu teman, mas.”


“Mau pulang bareng aku aja, gak? Aku bawa mobil.”, ujar Egi menawarkan.


Egi mengusap - usap leher belakangnya seperti ada aura tajam yang mengarah padanya.


“Ga usah mas, saya bareng teman saya saja. Kalau begitu, sampai jumpa besok di kantor.”, ujar Dinda hanya basa - basi.


Tapi, Egi malah ke-gr-an dan pamit sambil senyum - senyum. Saat hendak keluar, dia berpapasan dengan Arya di meja kasir.


“PPT jangan lupa.”, ujar Arya dengan nada datar tapi tatapannya tajam.


“Iya, Pak. Makasih traktirannya ya Pak.”, jawab Egi segera kabur. Begitu Egi membuka pintu, dua orang masuk ke dalam restoran. Arya yang sedang menunggu struk dari kasir iseng menoleh melihat ke arah pintu keluar.


Tatapannya tanpa sengaja menangkap dua orang yang baru masuk ke dalam restoran. Sarah dan Dimas.

__ADS_1


********


__ADS_2