Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 49 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

“Tadi aku lihat perlengkapan mandi Dinda. Tahu gak? Dia coba - coba produk cowok, loh sekarang.”, Bianca mulai bergosip.


“Bi, apa - apaan sih kamu.”, Dinda menoel temannya yang mulutnya sudah seperti ember ini.


“Hah.. masa? Kamu semenjak masuk perusahaan Multinasional jadi liar ya Din? Sampai….”, Dian menutup mulutnya karena shock dengan imajinasi yang saat ini ia bayangkan.


“Punya adik aku, guys. Udah jangan sok kreatif ngarang cerita.”, sepertinya Dinda sangat cocok untuk menjadi artis. Aktingnya meyakinkan.


“Din, mana kartu kreditnya. Sini aku yang bayar. Guys, kalian cari tempat, ya. Yang bagus buat foto - foto. Aku sama Dinda bayar dulu.”, ujar Bianca memberikan instruksi kepada teman - temannya.


Bianca dengan cepat memilih paket buffet yang sudah mereka sepakati. Ada tiga jenis buffet yang disediakan oleh pihak hotel untuk makan malam. Menu tradisional, Italia dengan berbagai jenis steak, dan menu Korea.


Berhubung menu Italia paling mahal, mereka tidak jadi memilihnya. Padahal, mereka sangat ingin makan daging dan spaghetti. Akhirnya mereka memilih menu Korea saja. Meski berbeda, tetapi masih ada daging panggang yang bisa mereka makan sepuasnya.


“Bianca memberikan kedua kartu kredit mereka pada kasir. Bianca mengetik password pertama kali, kemudian Dinda.


Tak lama struk keluar. Dinda masih mengedarkan pandangannya ke sekitar karena takjub dengan ramainya orang dan indahnya pemandangan malam itu. Sesekali dia melambai ke arah teman - temannya yang sepertinya sudah berhasil mendapatkan tempat strategis.


“Din, kok kartu kredit kamu ada tulisan ‘Arya’ nya? Punya siapa?”, Bianca iseng membaca struk kartu kredit Dinda.


“Ah… hmmm… itu…. Hm… salah mungkin. Iyaa.. mungkin ada kesalahan, biasanya enggak kok.”


Ini kali kedua Dinda menggunakan kartu kredit tambahan dari kartu kredit utama yang dimiliki oleh Arya. Pertama kali sewaktu di mini market, tempat Arya dan Dinda menginap dadakan tempo hari. Dinda tidak pernah memeriksa struk atau semacamnya. Dia tidak mengerti tentang kartu kredit karena tidak pernah menggunakannya.


Arya memberikan kartu kredit ini beberapa hari setelah mereka menikah sebagai salah satu kewajibannya memberikan nafkah pada Dinda. Dia diberitahu passwordnya, dan Dinda tidak pernah bertanya detail.


Alhasil Dinda kaget nama pak Arya muncul di struk.


“Din, Bi, buruan sini sebelum makan kita foto dulu. Udah kan bayarnya?”, Sekar datang menghampiri sambil bersorak. Mereka jadi yang paling heboh di buffet ini.


“Hayok .. hayok.. Aku udah memikirkan pose yang harus kita gunakan. Sama nanti kita vlog juga yaa.”, Bianca, gadis ini memang tipe yang mudah berpindah topik dan cepat lupa.


Akhirnya dia mengikuti Sekar tanpa menanyakan lagi soal nama di struk. Dinda langsung membuang struk itu setelah merobeknya di tong sampah agar tidak menjadi bahan pertanyaan lagi.


‘Namanya bisa diganti ga ya? Nanti coba tanya mas Arya,deh.'


Mereka makan besar di buffet. Sebelumnya mereka menghabiskan waktu 30 menit hanya untuk foto - foto. Saat perut kenyang, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar.


Dian dan Rara sudah lebih dulu kabur ke kamar karena yang satunya kebelet panggilan alam, dan yang satunya sudah ingin tidur.


Bianca permisi 10 menit yang lalu karena dia menerima video call dari Reza, calon suaminya. Tinggalah Dinda yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan Inggit dan Bundanya.


Dinda kembali ke kamar sendiri. Saat akan menaiki lift, seketika Dinda teringat pada pengalaman buruknya di hotel tempo hari. Akhirnya Dinda memilih untuk menunggu di lobi sampai dia melihat ada 2 - 3 orang menunggu lift.


‘Ada dua orang perempuan dan satu keluarga menunggu lift. Aku harus ikut mereka.’, kata Dinda dalam hati.


“Turun dimana mba?”, tanya Dinda pada salah seorang wanita lebih tua darinya.


“Saya di lantai 5.”, jawab wanita itu.


“Oh sama.. Maaf ya mba, sebelumnya saya pernah dapat perlakuan tidak menyenangkan di lorong hotel, jadi saya sedikit takut.”

__ADS_1


“Ohiyaa gpp, kalau mbanya masih khawatir, bisa loh minta bantuan sama resepsionis atau petugas hotel untuk diantarkan.”


“Oh engga mba. Ga usah. Yang penting ada barengannya.”


“Stay di kamar berapa?”, tanya wanita itu lagi.


“Saya di 15 mba, teman saya ada juga yang di 16.”, jawab Dinda lagi.


Pintu lift terbuka dan obrolan mereka berhenti. Lift terbuka di lantai 5. Dinda dan wanita itu turun.


“Saya di nomor 7, saya belok sini, gpp ya? Sepertinya ga ada yang mencurigakan di lorong kamar mba.”, kata wanita itu menenangkan setelah sebelumnya memeriksa terlebih dahulu.


Dinda tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Dinda baru akan berjalan ke lorong kamarnya saat ponselnya tiba - tiba berdering.


“Halo Din, kamu dimana?”, Ternyata yang menelepon adalah Bianca.


“Udah di lantai 5 mau ke kamar.”, jawab Dinda.


“Oh gitu, ya udah. Aku 10 menit lagi baru ke atas, ya. Ga usah ditunggu. Kamu tidur duluan aja.”


“Okee.”, jawab Dinda singkat.


Dinda berjalan ke lorong sambil menerima telpon Bianca. Alhasil dia tidak fokus lorong mana yang dia lewati dan akhirnya malah salah lorong.


*‘Aduh.. bodohnya aku. Kan bukan yang ini. Balik lagi, deh.’ *


‘Mas Arya? Kok mas Arya bisa disini?’, tanya Dinda dalam hati.


Secara tidak sadar, dia mengikuti Arya dari belakang. Ternyata Arya berbelok ke lorong di seberang lorong yang harusnya kamar Dinda dan teman - temannya. Dinda tidak memanggil, tetapi hanya mengintip dari balik dinding di samping lift.


‘Betul, itu mas Arya. Ngapain dia disini?’


Dinda melihat Arya memencet bel kamar. Dimana artinya, itu bukan kamar miliknya dan dia sedang menunggu orang lain membuka kamar tersebut.


Dan benar, Dinda melihat Arya menjauh dari pintu. Lalu, seorang wanita dengan handuk kimono keluar dari pintu. Dinda bisa melihatnya dengan jelas.


Mereka tampak berbicara tetapi Dinda tidak bisa mendengarnya. Jantung Dinda berdetak kencang saat ia sadar siapa wanita itu. Arya masih berdiri di depan pintu.


*‘Sarah? Itu kan Sarah yang ada di foto pernikahan? Mantan istri Pak Arya.’ *


Ada sekitar 3 menit mereka berdiri dan saling berbicara di depan pintu. Sarah terlihat jelas dengan kimononya karena dia tidak berdiri dekat pintu tetapi sedikit lebih jauh didepannya.


Dinda terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan karena sesaat kemudian Dinda melihat Arya melangkah maju dan seperti menarik Sarah masuk ke dalam kamar hotel. Lalu, pintu tertutup.


Dinda bingung bagaimana dia harus berekspresi. Kepalanya penuh dengan berbagai asumsi yang semakin lama semakin liar di kepalanya. Tanpa disadari, dia masih berdiri mematung di tempat itu. Lima menit, 10 menit, sampai 15 menit kemudian, Dinda masih berada di tempat yang sama, dengan ekspresi yang sama.


Dia menunggu. Menunggu pria itu keluar dari kamar hotel itu. Dinda berharap Arya dan Sarah hanya bertemu dan berbicara. Kalau begitu, pasti 10 menit lagi Arya keluar.


Tapi sudah hampir setengah jam lebih, Arya belum juga keluar. Tak terasa, air mata Dinda menetes. Hatinya sakit. Sakit sekali. Bagaimana mungkin? Mendengar nama Sarah saja belakangan ini sudah membuat hatinya tidak nyaman. Sekarang, untuk pertama kalinya dia melihat Arya bertemu dengan mantan istrinya.

__ADS_1


Imajinasi yang selama ini ada dipikirannya seolah keluar menjadi nyata.


*‘Aku kenapa sih? Jelas - jelas sejak awal mas Arya nikah sama aku tanpa cinta. Di apartemennya masih simpan foto perempuan itu. Terus aku kenapa nangis? Seharusnya aku sudah memprediksi hal semacam ini terjadi, kan?’ *


Dinda tak sanggup lagi berdiri di depan lift. Dia berlari menuju kamarnya. Masuk ke kamar mandi dan menangis sejadi - jadinya. Bingung, sakit hati, cemburu, entah perasaan apa lagi yang dia rasakan sekarang. Yang jelas, semua perasaan itu bercampur jadi satu.


Dinda mengambil ponselnya.


To: Abang Ojol (Nama yang disimpan Dinda untuk Arya di ponselnya)


Pak Arya lagi dimana?


Singkat, padat, dan jelas. Dinda mengirimkan pesan pada Arya untuk mengetahui apakah pria itu akan berbohong padanya.


Ting ting


Tak butuh waktu lama, pesan Dinda langsung dibalas oleh Arya.


***From: Abang Ojol ***


*Di luar *


To: Abang Ojol


*Dimana? *


Dinda menunggu jawaban dari laki - laki itu. 10 menit berlalu, belum ada juga pesan dari Arya. Dinda menangis lagi sejadi - jadinya. Lama Dinda tidak menerima balasan dari pesannya.


“Din… kamu ngapain di dalam?”, ternyata Bianca sudah kembali.


Dinda dengan cepat menyeka air matanya. Ia mencuci muka dan memakai krim malamnya agar Bianca tidak tahu bahwa dia habis menangis.


“Hai Bi, udah balik. Lama banget dibawah, katanya cuma 10 menit? Aku tidur duluan, ya?”, Dinda langsung mengambil tempat di kasur dan merebahkan badannya. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut.


Dinda menangis dalam keheningan. Dia mencoba mengontrol nafas dan suaranya agar Bianca tidak mendengarnya. Dinda berharap saat ini dia ada di padang pasir yang luas dimana dia bisa menangis sepuasnya.


Sakit. Hati Dinda sangat sakit.


Bianca yang melihat itu hanya bisa diam karena bingung. Dia tak ambil pusing dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


****


Pagi menjelang, Dinda dan teman - temannya sudah siap untuk sarapan. Agenda mereka pagi ini adalah foto - foto..


Dinda tidak memeriksa ponselnya lagi sejak tadi malam. Dia ingin melupakan apa yang dia lihat tadi malam dan bersenang - senang hari ini bersama teman - temannya. Memikirkan perkara tadi malam hanya akan membuat tangisnya pecah lagi.


*‘Apa lagi yang dilakukan dua orang dewasa di dalam kamar hotel? Ditambah,  mas Arya juga tidak membalas pesannya dengan cepat tadi malam.’ *


Dinda memilih untuk mereset ingatannya dari kejadian tadi malam. Dinda sengaja meninggalkan ponselnya di kamar hotel. Hingga dia tidak sadar bahwa ada pesan yang baru masuk dari Arya di ponselnya.


***From: Abang Ojol ***

__ADS_1


*Kamu kepo banget sih. Kenapa? Kangen kamu sama saya? *


__ADS_2