Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 196 Pertemuan


__ADS_3

Cekrek Cekrek Cekrek


“Hah… luar biasa permainan kamu Dika. Dasar baj*ngan. Dia sudah membuat aku kehilangan Arya. Sekarang dia bisa - bisanya memutuskan hubungan denganku seolah aku parasit di hidupnya? Lihat sekarang, siapa yang sedang dia dekati. Wanita semua sama saja.”, Sarah memukul setirnya.


Apa yang dilihatnya adalah Dika sedang berusaha mendekati Rima dan mengikutinya masuk ke dalam rumah sakit. Sarah mengambil beberapa jepretan foto. Beruntung, dia belum mengembalikan kamera milik perusahaan yang dia gunakan untuk event tempo hari.


Berkat kamera itu, dia bisa menangkap banyak sekali gambar menarik dari Dika dan Rima.


“Akan aku buat hidup kamu menjadi se-menarik mungkin, Dika. Kamu mengenalku karena kamu lari dari kehidupanmu yang membosankan? Ya, aku akan memberikannya untukmu. Tunggu saja nanti.”,


Kring Kring Kring.


“Iya, halo.”, ponselnya berbunyi. Sarah tidak melihat siapa yang menelepon. Dia memilih untuk langsung mengangkatnya saja.


“Sarah, kamu sedang dimana? Aku sudah mengirimkan kamu pesan pagi ini. Kita harus menerima beberapa barang pesanan dari luar negeri yang kita butuhkan untuk event pekan ini. Aku sudah di bandara menunggumu, tapi kamu tidak kunjung datang.”, teriak orang di seberang teleponnya.


Sepertinya orang tersebut sangat kesal. Meski nada bicaranya pelan, tetapi ada beberapa penekanan pada beberapa kata di kalimatnya.


‘Ah.. ****\, kenapa aku bisa melupakannya. Wanita itu\, workaholic sekali. Dia yang datang lebih cepat\, kenapa menyalahkanku yang ingin datang on-time. Jam berapa sekarang? Jam 2. Janjinya kan jam\, oh ****\, aku lupa. Karena mengikuti Dika kesini aku jadi melupakan jam nya.’


“Ya.. aku minta maaf. Ada kerabatku yang sedang hamil dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Aku akan segera ke bandara sekarang. Tunggu saja. Barangnya pasti datang sekitar jam 3. Tenanglah.”, kata Sarah berusaha menenangkan rekan kerjanya.


Di kantor, mereka sudah seperti friemis (friend dan enemies).


“Yang penting aku sudah mendapatkan foto - foto Dika. Selanjutnya, aku bisa mengendalikan papan caturnya.”, kata Sarah tersenyum sambil meletakkan kembali kamera di kursi sebelahnya.


Sarah langsung memutar setirnya menuju bandara.


********


“Rima, tolonglah. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Kamu tidak benar - benar memiliki suami, kan? Siapa pria itu? Apa dia tidak bersamamu sekarang?”, tanya Dika.


“Dika, maaf. Aku sudah mengatakan padamu berkali - kali. Aku sudah menikah dan aku cukup waras untuk tidak berhubungan lagi dengan kamu dalam bentuk apapun tu. Teman? Aku tidak tertarik. Aku senang bertemu denganmu setelah sekian lama. Hanya itu saja. Tidak lebih.”, kata Rima ketika sudah berada di lobi rumah sakit.


Dia berbicara sepelan mungkin agar pengunjung dan rekan sejawat yang kebetulan sedang lewat sana tidak mendengarnya.


“Tidak, kamu tidak memiliki siapapun di samping kamu sekarang. Aku sudah meminta orang untuk mencari tahu dan nihil. Tidak ada pria di sekitar kamu. Artinya, kamu tidak menikah sama sekali.”, kata Dika.


Rima membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Dika.


“Apa? Kamu membayar orang untuk menyelidiki kehidupan pribadiku? How dare you?”, kata Rima menekankan telunjuknya ke dada Dika saking dia tidak terima terhadap perlakuan pria itu.


“Rim, itu tidak seperti kelihatannya.”


“Tidak seperti kelihatannya? Udah deh, Dika. Aku capek harus menjelaskan ke kamu berkali - kali. Aku mau praktek. Plis, sebelum orang - orang sadar kita sedang bertengkar, lebih baik kamu pergi dari sini.”, kata dr. Rima segera meninggalkan Dika yang terdiam disana.


********


“Halo pagi sayang.”, tumben - tumbenya, jam 5 pagi Arya sudah menelepon Dinda.


Dinda dengan segenap aktivitas paginya tentu saja menyambut senang panggilan telepon dari suaminya. Pada perjalanan bisnis kali ini, Arya benar - benar memastikan dia menghubungi istrinya paling sedikit dua kali sehari.


Pagi saat memulai hari dan malam saat waktu istirahat tiba.


“Pagi mas Arya. Sudah siap - siap?”, tanya Dinda.


Perbedaan waktu satu jam membuat Dinda paham, Arya pasti sudah mulai bersiap untuk bekerja.


“Hn. Sarapan di bawah sekitar 30 menit lagi. Kemudian berangkat pukul 7.30 dan sampai di lokasi sekitar pukul 8.30. Kita juga harus bersiap - siap untuk ganti hotel karena area surveynya berbeda.”, jelas Arya.


Entah sejak kapan dia mulai chatty begini, tapi Dinda menyukainya. Dinda merasa menjadi 100x lebih dekat dengan Arya sekarang. Pria itu menceritakan semuanya bahkan hal sekecil apapun.  Mission complete, begitulah kira - kira yang ada di pikiran Dinda.


“Hm.. lalu jam berapa kembali ke hotel lagi?”, tanya Dinda.


Dia ingin tahu kapan dia bisa menghubungi Arya.


“Hm.. masih belum tahu. Nanti aku telepon kamu. Jika lewat jam 9 aku tidak menelepon. Kamu tidur saja lebih dulu. Aku akan mengirimkan pesan.”, kata Arya.


“Pak Cecep sudah siap mengantarkan kamu pagi ini ke kantor?”, tanya Arya lagi.


“Masih jam 5 mas Arya. Hm.. nanti Ibas yang akan mengantarkan ke kantor. Sekalian dia juga ada meeting di luar. Pak Cecep harus mengantar papa untuk kontrol. Khawatir terjebak macet.”, balas Dinda.


“Hm-hm.. Bilang Ibas jangan ngebut - ngebut. Sama ingatkan dia, baju yang dia pinjam kemaren mana? Belum dibalikin juga. Jangan - jangan memang dia jual lagi untuk beli game.”, gerutu Arya.


“Iya.. iya.. Ya sudah.. Mas Arya beres - beres sana. Nanti telat.”, kata Dinda mengingatkan.


“Kamu hati - hati ya sayang. Ingat, jangan terlampau polos. Hah.. saya sangat khawatir setiap meninggalkan kamu.”, Arya mulai menggoda Dinda dengan kata - katanya yang lebay.


“Iya mas Arya. Aku sayang mas Arya.”, Dinda mengucapkan kalimat yang terakhir dengan buru - buru dan malu.


“Apa? Apa, Din? Aku tidak mendengarnya.”


“Ga ada siaran ulang. Udah sana beberes.”, kata Dinda yang wajahnya sudah memerah.


“Apa hayoo.. Tadi kamu ngomong apa?”, tanya Arya lagi.

__ADS_1


“Udah ih.. Lagian lain kali harus fokus. Daaa… muach”, kata Dinda menutup ponselnya cepat.


Sementara orang di seberangnya sudah senyum - senyum sendiri sampai kepalanya tak sengaja menabrak  bagian dinding.


“Ouch!”, Arya mengusap - usap kepalanya sambil mengaduh, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.


Setibanya di luar, dia bertemu dengan Bryan. Berbeda dengan Arya yang harus segera pindah hotel, Bryan masih tetap stay karena dia harus memeriksa sistem dan meeting bersama beberapa anggota yang lain.


Dia baru akan pindah ke hotel yang sama dengan Arya berikutnya setelah meeting tersebut selesai.


Arya kesulitan membawa dua kopernya keluar sambil mengambil kartu yang masih tertinggal di dalam. Alhasil, ia tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya yang masih dia pegang karena baru saja selesai menghubungi Dinda.


Ponsel itu terlempar ke arah Bryan. Bagian layar menghadap ke atas. Mau tidak mau, Bryan membantu mengambil ponsel itu karena jatuh tepat di hadapannya. Sementara Arya masih berusaha menyeret kopernya keluar, Bryan melihat layar ponselnya.


‘Kekanak - kanakan sekali. Dia kira dia masih ABG memasang wallpaper seperti ini.”, kata Bryan saat melihat wallpaper di ponsel Arya.


“Oh thank you.”, kata Arya menerima ponsel itu dan memasukkannya kembali ke dalam kantongnya.


********


Suasana di kantor sibuk seperti biasanya. Sedikit sepi karena Bryan dan Suci sedang melakukan perjalanan bisnis di Sulawesi. Namun, namanya pekerjaan tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada dan ada.


“Hari ini mau makan bareng dengan Fas? Andra sedang ada meeting di luar bersama mba Rini. Jadi, hanya tersisa kamu dan aku. Sepi. Kita makan di luar saja, bagaimana?”, ajak Delina.


“Hm.. tapi aku sudah membawa bekal.”, jawab Dinda.


“Sudahlah, bekalnya kamu makan nanti sore saja. Sekarang kita makan di luar. Kita coba ramen dan sushi yang ada di seberang, yuk.”, ajak Delina.


“Hm..”


“Ayolah.. Nah itu Fas sudah datang.”, kata Delina saat melihat Fas sudah muncul dari kejauhan.


“Hai girls. Jadi makan Ramen dan Sushi yang di depan?”, kata Delina.


“Hm.. aku mungkin akan pesan minuman saja dan menghabiskan bekalku. Bagaimana?”, kata Dinda.


“Okay. Gak masalah.”, kata Delina.


Tak berapa lama, saat Delina sedang ke toilet sebentar, Dika keluar dari ruangannya.


“Din, Erick ada dimana?”, tanya Dika.


Fas mengambil duduk agak ke pinggir karena dia tidak ingin menghalangi arah pandangan Dika.


“Hem.. maaf Pak saya kurang tahu. Tiga puluh menit yang lalu, beliau masih ada disini.”, jawab Dinda.


Pria itu kurang membaca situasi. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Fas sudah duduk disana. Meski pria itu tidak mengetahui siapa dia. Seharusnya Dika bisa membaca kalau Dinda dan Fas sudah akan bersiap untuk makan siang.


“Oh.. baik Pak.”, Dinda tidak punya pilihan lain selain meletakkan kembali bekal makanannya dan mengikuti Dika masuk ke ruangannya.


“Loh, Dinda kemana?”, begitu Delina kembali dari toilet, dia kebingungan karena hanya menemukan Fas seorang diri disana sambil memainkan ponselnya.


“Hah.. kamu. Sudah aku bilang ke toilet yang di bawah saja.”, kata Fas kesal.


“Kenapa?”, Delina bingung dengan jawaban Fas.


“Dinda dipanggil ke dalam oleh bos kamu. Kalau lama bagaimana nih? Aku harus kembali sebelum jam 1.30.”, ujar Fas.


“Tenang, paling cuma sebentar kok. Urusan apa sih yang membuat Pak Dika memanggil intern. Pasti bukan urusan yang rumit, kan.”, Delina begitu percaya diri.


Sementara itu di dalam.


“Saya tahu caranya. Hanya saja, saya tidak ingat urutannya. Biasanya Rini yang membantu submit semua. Tapi dia sedang meeting. Sepertinya sistemnya harus diganti karena membuat pusing saja.”, kata Dika mengeluh.


“Mm iya Pak.”, Dinda hanya bisa menyetujui kata - kata Dika.


“Oh kamu duduk saja disana. Nanti saya yang beritahu mana - mana saja laporannya.”, kata Dika.


“Eh? Saya? Duduk di situ? Pak Dika saja, saya akan menunjukkan sambil berdiri.”, kata Dinda menolak dengan sopan.


“Hm.. atau laptop nya saya bawa ke meja tengah.”, kata Dika mengambil laptopnya dan membawanya ke meja tengah. Dika duduk di kursi yang mengarah ke pintu, sedangkan Dinda berdiri di belakangnya.


“Kamu duduk saja. Kalau laptopnya dimiringkan, masih keliatan, kan.”, kata Dika.


Sebenarnya Dinda agak tidak nyaman. Lebih mudah baginya jika dia berdiri. Dia masih bisa menjaga jarak dan memberitahu Dika secara bersamaan. Tapi, kalau dia duduk, otomatis posisinya dan Dika lebih dekat.


‘Fuhh.. kalau aku membantah lagi pasti jadinya tidak enak. Ya sudah aku duduk saja.’,. Pikir Dinda.


Akhirnya Dinda memilih untuk duduk. Dan benar, posisi Dika menjadi lebih dekat dan Dinda benar - benar tidak nyaman dengan itu. Dia hanya ingin ini cepat - cepat selesai.


‘Lagipula, kenapa dia tidak bisa melakukan ini, sih. Ini kan proses yang sangat mudah. Pak Arya saja tidak pernah bertanya sebelumnya.’, protes Dinda dalam hati.


Dinda sudah menunjukkan dengan dua kali contoh dan ingin pamit, tetapi Dika masih menahannya.


“Oh.. ini dipindahkan kesini lalu di ceklis, ya?”, tanya Dika memastikan.

__ADS_1


“Hm.. iya Pak Dika. Pak, saya minta maaf. Sepertinya Pak Dika sudah bisa melakukannya. Kalau begitu, boleh saya permisi?”, tanya Dinda.


“Tinggal beberapa dokumen lagi, kok.”, kata Dika tetap menahan.


“Ngomong - ngomong, Arya sedang di Sulawesi, ya?”, tanya Dika sambil memproses apa yang sedang dia kerjakan.


‘Kalau dia sudah bisa melakukannya sendiri, kenapa dia masih menahanku disini sih.’, ucap Dinda kesal dalam hati.


‘Kenapa juga dia tanya - tanya mas Arya. Pria ini tidak profesional sekali.’, Dinda tidak menjawab pertanyaan Dika dan hanya tenggelam dalam pikiran - pikirannya.


“Oh.. sudah jam makan siang, ya.”, kata Dika melihat jamnya.


“Hehe.. iya Pak. Kalau begitu saya izin permisi ya, Pak.”, Dinda memaksakan senyumnya.


“Oh jangan - jangan. Karena saya sudah menahan kamu disini, saya traktir makan siang.”, kata Dika menawarkan. Lebih tepatnya bukan menawarkan tetapi memberikan perintah.


“Oh tidak perlu Pak, terima kasih. Saya sudah janji dengan dua teman saya yang tadi. Mereka mungkin sedang menunggu di luar.”, balas Dinda.


5 menit, 10 menit, 15 menit. Tanpa terasa waktu berlalu dan mereka berdua masih menunggu di luar.


“Del, kita duluan aja gimana? Dinda juga kan bawa bekal, nanti dia bisa menyusul. Yang penting, kita pesan dulu.”, Fas sudah tidak sabar karena dia sangat lapar.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk turun lebih dulu. Sebelumnya, mereka mengirimkan pesan pada Dinda. Sayangnya, Dinda meninggalkan ponselnya di atas meja. Sehingga, dia tidak tahu kalau keduanya memutuskan untuk jalan lebih dulu.


Saat berhasil keluar dari ruangan Dika, dia heran karena Delina dan Fas sudah tidak ada disana.


“Eh? Mereka kemana?”, tanya Dinda bingung.


Dia mengambil ponselnya dan mencoba melihat pesan disana.


Din, kita duluan ya. Kalau kamu jadi ikutan. Kamu menyusul saja.


‘Yah.. kalau begitu aku makan sendiri di pantry saja. Lagipula aku bawa bekal.’, pikir Dinda.


Tiba - tiba, Dika keluar dari ruangannya. Dinda menyesal tidak segera melesat ke pantry.


“Loh, Din. Kamu masih disini? Teman kamu mana?”, tanya Dika.


“Aah, mereka makan duluan Pak. Saya bawa bekal, jadi saya makan di pantry saja.”, kata Dinda yang tidak bisa memikirkan jawaban lain.


“Kalau begitu, yuk lunch bareng saya saja. Bekalnya buat nanti saja.”, ajak Dika.


“Eh? Ga usah, Pak. Saya makan disini saja. Bekal saya lengkap kok, Pak. Sayang kalau tidak langsung dimakan.”, lagi - lagi DInda berusaha menolak.


“Nanti juga masih bisa dimakan. Yuk, tidak ada siapa - siapa lagi disini. Saya juga bingung harus makan dengan siapa.”, ajakan Dika lebih terdengar seperti perintah sampai - sampai Dinda kesulitan untuk menolaknya.


“Nah begitu dong. Kenapa kamu sering menolak ajakan dengan saya? Arya memangnya mengatakan sesuatu?”, tanya Dika saat menunggu lift.


‘What? Apa - apaan sih dia ini. Kenapa jadi bawa - bawa Pak Arya segala? Dia tidak sadar, apa? Kalau dia ajak yang lain, mereka juga pasti akan menolak.’, kata Dinda yang hanya bisa berontak dalam hati.


‘Nasib intern.’, keluh Dinda.


“Kenapa? Arya melarang kamu untuk akrab dengan saya?”, tanya Dika lagi.


Di lift tidak ada orang. Hal ini membuat Dika akan lebih leluasa bertanya. Mimpi buruk untuk Dinda.


“Bukan begitu kok, Pak. Saya tidak enak saja harus mengganggu makan siang Bapak. Saya benar - benar tidak masalah kok, Pak.”, Dinda terus memberikan jawaban netral.


“Hmmm… yakin itu alasannya. Bukan karena takut Arya cemburu?”, tanya Dika.


‘Lama - lama orang ini semakin melewati batas deh pertanyaannya. Ini di kantor. Lagipula, kenapa dari tadi dia mencampur adukkan masalah pribadi, sih.’, Dinda sudah berteriak - teriak dalam hati.


Namun, di luar dia hanya bisa memaksakan senyumnya. Dia tidak tahu harus memberikan respon apa.


Kring Kring Kring. Ponsel Dika berbunyi.


“Sebentar, saya terima telepon dulu, ya.”, kata Dika.


Dinda tersenyum mengiyakan.


‘Yang lama - lama aja terima teleponnya. Biar gak jadi makan di luar. Anyone please help me. Kenapa sih dia harus mengajakku makan siang. Pak Erick dan mba Rini kemana lagi.’, ujar Dinda dalam hati.


Sementara itu Dika,


“Iya halo.”, wajahnya nampak serius saat menerima telepon.


“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Kamu sudah mau keluar untuk makan siang kan? Aku tahu restoran yang enak.”, ternyata yang menelepon adalah Rianti, isteri Dika.


“Hah? Aku tidak tertarik. Berhentilah berusaha. Aku sudah mau keluar untuk makan siang. Aku tidak punya waktu untuk menunggumu.”, kata Dika.


“Aku sudah di kantormu. Sebentar. Aku sudah di lobi. Kamu dimana?”, tanya Rianti.


Dika mengedarkan pandangannya ke sekitar dan menemukan Rianti. Namun, istrinya itu sepertinya belum melihat dan menemukannya. Dika segera balik badan agar Rianti tak melihatnya.


“Kamu tidak perlu repot - repot. Aku ada acara divisi. Kamu pulang saja.”, balas Dika.

__ADS_1


“Kamu mengirimku pulang karena ingin makan dengan perempuan lain?”, kata Rianti saat berhasil melihat Dika berdiri di samping Dinda yang sedang memainkan ponselnya.


Tanpa berpanjang lebar, Rianti langsung menutup ponselnya dan menghampiri Dika.


__ADS_2