
Malam semakin larut. Jalanan semakin basah terguyur air hujan. Dinda melihat keluar jendela kamar menanti Arya pulang. Hari ini Arya janji akan pulang lebih awal bersama. Tapi, sudah sampai jam 6 Dinda menunggu, pesan dari pria itu muncul dan membuatnya lagi - lagi kecewa. Sudah seminggu Arya pulang larut terus.
Dinda hanya bisa melihatnya pagi saat bangun, itupun hanya sebentar. Kemudian, kalau beruntung, dia bisa berangkat bersama dengan Arya ke kantor. Di kantor, dia mungkin hanya bisa melihat Arya 5 menit saja. Itu juga dia harus sering - sering memantau ke ruangan Arya apakah pria itu sudah selesai meeting atau belum.
Dulu, sewaktu Arya masih memegang divisinya, Dinda bisa lebih sering melihat dan berinteraksi dengan Arya karena dia pasti sering meeting dengan Erick dan Rini. Sekarang, semua jadi jauh berbeda. Malah, Dinda lebih sering berinteraksi dengan Pak Erick, Mba Rini, orang - orang sedivisinya, atau Pak Dika.
Lagi - lagi Dinda menghela nafas panjangnya menatap ke jendela yang memperlihatkan balkon kamarnya. Hari ini dia bertekad untuk tidak tidur dan menunggu Arya pulang. Tapi dinginnya hujan dan AC kamar membuat Dinda sudah mengantuk.
“Apa aku coba duduk di sofa dulu ya?”, Dinda bergerak menuju sofa di kamar dan coba menidurkan tubuhnya disana.
Awalnya dia coba bermain ponsel membaca dan menonton video - video drakor yang dia suka. Tapi pada akhirnya matanya menyerah. Dia tak bisa menahannya lagi. Dinda masuk ke dunia mimpi tak lama setelah dia menidurkan tubuhnya di atas kasur.
Ceklek
Tak berapa lama, sekiranya satu jam setelah Dinda tertidur di sofa, Arya pulang. Dia sengaja membuka pintu dengan hati - hati karena dia tahu mungkin Dinda sudah tidur. Arya lantas heran karena tak menemukan siapa - siapa di atas ranjang kamar.
“Hm? Kemana anak itu? Biasanya jam segini dia sudah tidur di ranjang. Di bawah sepertinya tadi sudah tidak ada orang.”, kata Arya pelan sambil menyusuri kamarnya.
“Woahhh..,,”, Arya sangat terkejut saat menemukan seseorang berbaring di atas sofa.
Malam itu, Dinda memang mengenakan gaun putih panjang karena dia sangat kedinginan. Rambutnya juga dia urai acak - acakkan karena ceritanya tadi dia mencoba meluapkan frustasinya pada Arya yang tak kunjung pulang.
Alhasil, tindakannya itu ternyata mengejutkan suaminya sendiri. Dinda merasa terusik dengan suara tiba - tiba dari Arya dan mencoba mengerjapkan matanya.
“Sayang, kamu ngapain tidur disini? Kalau mengantuk tidur di ranjang saja.”, kata Arya kemudian menghampiri Dinda dan hendak mengangkatnya.
“Engga. Aku belum mau tidur.”, ujar Dinda.
Namun, kalimatnya barusan berbeda 100% dengan raut wajahnya yang sudah sangat lelah dan mengantuk sekarang.
“Kamu itu sudah lelah. Sana tidur.”
“Mas Arya sih, pulangnya malam terus.”, Dinda mulai meluapkan kekesalannya seperti anak kecil.
“Fuhh…”, kali ini, Arya yang menghela nafas berat dan panjang.
Dia menyadari kesalahannya, namun tak ada yang bisa dia lakukan.
“Mau bagaimana lagi, sayang. Aku sudah berusaha tapi tetap saja endingnya pulang larut malam. Maaf ya.”, ucap Arya pada Dinda.
Dinda langsung mencium bibir Arya. Pria itu tentu saja kaget dengan tindakan tiba - tiba dari istrinya. Bukan hanya tiba - tiba, tetapi juga sangat random. Bagaimana mungkin di sela - sela perdebatan mereka, Dinda malah menciumnya.
“Hah.. rasanya sudah segar lagi.”, ucap Dinda.
Tidak hanya tindakannya yang membuat Arya mengkerutkan dahinya, tetapi juga kalimat yang barusan diucapkan Dinda. Dia hening sebentar.
“Kamu ini. Gak heran ya, membuat orang rindu saja.”, respon Arya kemudian kembali mencium Dinda. Bedanya, dia mencium gadis itu di lehernya. Bagian yang paling Arya suka.
“Ih.. mas Arya. Kenapa disitu.”
__ADS_1
“Terserah saya dong. Kamu itu, mau bagian manapun punya saya. Mau disini disini atau disini disini.”, ucap Arya sambil menunjuk bahu, hidung, bibir, rambut, dan pinggang Dinda untuk menggodanya.
“Hahaha.. Mas Arya sudah,... berhenti.. Mas Arya.. Mas.. geli tahu.. Jangan hahahaa… Mas Arya.. aku haha.. Aku marah loh.. Mas! Mas Arya.. plis.”, Dinda memohon karena dia tak sanggup lagi menahan gelitikan Arya yang semakin membuatnya geli.
“Hayuk… aku antar ke ranjang supaya kamu bisa tidur lebih nyaman.”, ujar Arya sambil menggendong Dinda.
Arya baru akan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum Dinda menahan lengannya.
“Mas Arya, besok bisa temani ke rumah sakit? Katanya waktu itu mau menemani untuk check-up? Aku diberitahu kalau jadwalnya besok.”, ujar Dinda.
Ada wajah berat tersirat pada ekspresi Arya saat ini.
“Besok?”, tanya Arya kembali bertanya.
“Hm.. Rabu kemarin tidak bisa karena mas Arya kebetulan ada meeting. dr. Rima kembali menjadwalkan besok. Katanya sudah tidak bisa ditunda lagi. Mas Arya bisa kan?”, sebenarnya Dinda sudah paham dari raut wajah Arya, tapi dia mencoba tak percaya pada feelingnya kalau pria itu lagi - lagi tidak bisa.
“Sayang..Em..”, Arya yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk di samping Dinda.
Dia menatap gadis itu intens mencoba untuk menjelaskan dengan bahasa, intonasi, mimik, dan ekspresi yang sebisa mungkin tidak akan menyakiti istrinya.
“Din, aku… aku minta maaf banget. Besok aku harus ketemu klien di luar kota, penerbangan siang.”, kata Arya. Bagaimanapun dia mengubah bahasa, intonasi, mimik, dan ekspresi, tetap saja yang dia beritahu adalah informasi yang sama.
DIA TIDAK BISA.
Dan itulah yang masuk ke dalam kepala Dinda meski pria itu mencoba menjelaskan dengan lembut.
“Mas Arya jahat.”, Dinda melepas lengan Arya dan masuk ke dalam selimutnya.
Alih - alih berusaha menjelaskan kembali, dia hanya mencium Dinda dari balik selimut dan lanjut berlalu ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Dinda yang sebenarnya sudah menangis karena kecewa.
Bahkan sampai Arya selesai mandi pun, Dinda masih mengurung dirinya di balik selimut. Dia juga tidak mau menghadap ke arah Arya saat pria itu mencoba duduk di sebelahnya. Arya hanya bisa menarik nafas berat dan mengambil kopernya untuk mulai packing untuk penerbangannya besok.
*******
“Halo, Bi.”, ujar Dinda di telepon.
“Hm? Kenapa?”, jawab Bianca.
“Kamu sedang dimana?”
“Aku lagi staycation bareng Mas Reza di Bali. Hm.. Senin baru balik. Kenapa? Kamu mau ajak aku jalan - jalan, ya?”, balas Bianca dengan nada senang dan antusias.
“Sudahlah. Lupakan.”, tanpa A I U E O lagi, Dinda langsung menutup ponselnya untuk kemudian menghubungi seseorang lagi.
“Halo, Dian. Kamu apa kabar? Aku kangen…..”
“Din, sorry ya, aku sedang bimbingan bersama senior. Nanti aku telepon lagi kalau sudah selesai.”, belum lagi Dinda selesai mengucapkan kalimatnya, Dian sudah langsung menutup ponselnya.
‘Hm.. coba Sekar. Mungkin hari ini aku bisa berguru cara membuat kue dengannya.”
__ADS_1
“Halo, Sekar. Apa kabar? Kamu sedang apa?”, tanya Dinda berusaha segirang mungkin.
“Din, nanti aku telepon lagi ya. Aku sedang di luar kota.”, jawab Sekar.
“Hm? Kenapa dia tidak bilang? Kenapa di grup sepi sekali tapi mereka ternyata sibuk semua?”
Tuk tuk tuk
“Kamu sedang apa?”, tanya Dinda.
Setelah lelah dan nihil menghubungi teman - temannya, target selanjutnya Dinda adalah Ibas yang sedang bersemedi di kamarnya. Entah sedang mengerjakan proyek apa.
“Masuk.”, jawab Ibas.
“Kamu sedang sibuk?”, tanya Dinda di depan pintu.
“Kenapa?”, tanya-nya.
“Hm.. kamu tidak mau menemani calon keponakanmu jalan - jalan?”, kata Dinda.
Alih - alih mengatakan langsung tentang ‘check-up’ nya, Dinda justru memilih kata jalan - jalan.
“Mas Arya kemana? Tumben kamu mengajakku?”, tanya Ibas heran.
“Mas Arya sedang keluar kota. Sudah berangkat satu jam yang lalu.”, jawab Dinda dengan nada yang masih marah. Bahkan saat Arya pergi, dia juga hanya menyalami dan menerima ciuman pria itu sebagai bagian dari formalitas karena dia masih kesal. Bisa - bisanya mas Arya sampai tidak punya waktu untuknya.
“Papa mama?”, tanya Ibas lagi.
“Sedang ke rumah kenalannya, ada acara. Mereka kembali nanti malam.”, jawab Dinda.
“Kamu sedang marahan dengan mas Arya?”
“Kamu mau menemani atau tidak?”, Dinda tidak mau membahas Arya.
“Maaf Din, aku sudah ada janji. Kehidupan asmaraku bergantung dengan desain ini.”, kata Ibas.
Ceritanya, Ibas sedang mendekati rekan kerjanya. Dia adalah desain grafis di tempat Ibas sering menawarkan jasa freelance. Dia sudah pernah mengajak perempuan itu untuk nge-date, tetapi dia menolaknya dan mengatakan kalau Ibas berhasil membuatnya terkesan dengan desainnya, dia baru mau diajak nge-date.
“Baiklah. Semoga urusan cinta kamu sukses.”
“Hm.. Pak Cecep ada ga? Kalau mas Arya tahu kamu keluar tanpa Pak Cecep, dia pasti marah.”, kata Ibas.
“Sudahlah. Kenapa dia marah kalau dia sendiri tidak bisa meluangkan waktunya.”, suara Dinda sudah tidak terlalu terdengar jelas karena Dinda sudah berjalan menjauhi kamarnya.
“Hah.. dia ngomong apa ya barusan. Aduh.. kalau bukan karena aku sedang mengerjar cinta perempuan ini, aku sudah pasti akan mengantar Dinda kemanapun dia mau. Din, maafkan aku.”, ujar Ibas dengan gaya yang dibarengi dengan sedikit ekspresi hiperbola.
Dengan langkah gontai dan perasaan kecewa, Dinda tetap bebersih dan bersiap - siap ke rumah sakit. Dia akan naik taksi online saja. Toh, jaraknya juga tidak terlalu jauh. Setelah itu, mungkin dia akan menginap di rumah Bunda.
Semenjak hamil, meski sudah memberitahu bundanya, tapi dia belum pernah menginap lagi disana.
__ADS_1
‘Mungkin ini jadi momen yang bagus untuk me time lagi bareng bunda dan Arga. Aku telepon mama untuk kasih tahu, sehabis dari rumah sakit langsung kesana.’, pikir Dinda dalam hati sambil beberes.
*******