
“Kamu kesini sudah beritahu suami kamu, Din?”, tanya Bunda Ratna.
Kedatangan Dinda kesini tidak seperti sebelum - sebelumnya. Bukan hanya karena dia datang sendiri tetapi ekspresi wajah Dinda tak bisa membohongi mata Ratna. Ada yang tidak beres. Buktinya, Dinda tidak langsung menjawab pertanyaan ini.
“Kemarin bunda tidak tanya banyak karena bunda pikir kamu capek. Tapi seharian kamu hanya tidur dan main ponsel tidak seperti biasanya. Bunda juga tidak pernah dengar kamu menerima atau menelpon suamimu. Kenapa? Jangan bilang kamu kesini tanpa izinnya.”, Ratna sudah sabar menunggu jawaban dari Dinda tapi dia tak kunjung memberikan jawaban.
Dinda malah asyik mewarnai telur dan memasukkannya ke dalam cangkang cetakan yang dibuat oleh Arga kemarin. Kebetulan nanti siang, pesanan ini sudah harus diantar kepada pemesan. Lumayan dekat, hanya beda dua RT saja dari rumah Dinda.
“Din? Kamu dengar bunda ngomong kan?”, tanya Ratna lagi.
“Dinda sudah bilang ke Mama Inggit dan Papa Kuswan kok Bun.”, jawab Dinda.
“Bunda ga tanya Mama Inggit dan Papa Kuswan. Bunda tanya Arya, suami kamu. Apakah kamu sudah meminta izin kemari?”, tanya Ratna.
Dinda merasa tersudut. Dia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saja.
“Kenapa? Kamu ada masalah sama suamimu?”
“Enggak. Mas Arya hanya sedang sibuk. Dia sedang meeting di luar kota. Jadi, Dinda gak mau telepon dia. Nanti takut ganggu. Yang penting Dinda sudah izin mama dan papa.”, jawab Dinda sambil meletakkan telur terakhir yang ia warnai di cangkangnya.
“Kamu mau kemana?”, tanya Ratna yang melihat Dinda beranjak dari tempatnya.
“Dinda mau kembali ke kamar dulu Bun. Dinda mengantuk.”
“Kalau begitu, panggilkan Arga. Minta dia bersiap - siap untuk mengantar pesanannya.”
“Baik Bun. Dia bisa sendiri kan? Pesanannya juga tidak banyak.”
“Iya, biar saja Arga sendiri. Kamu istirahat saja. Trimester pertama kehamilan memang harus banyak istirahat.”, ujar Ratna.
Sebenarnya, dia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan putrinya. Tetapi dia tak ingin menekannya lebih jauh lagi. Sudah cukup pertanyaan untuk saat ini. Mungkin nanti dia akan coba tanyakan kembali.
*******
Sudah sekitar 15 menit yang lalu Arga keluar untuk mengantar pesanan. Ratna melihat ke kamar dan Dinda sudah tertidur. Dia duduk sebentar sekedar melepas penatnya dari pagi mempersiapkan pesanan ulang tahun sebanyak 40 paket.
Dilihatnya ponsel di atas meja. Muncul ide dipikirannya untuk mencoba menghubungi Arya. Jam menunjukkan pukul 12.45. Seharusnya sudah jam makan siang. Begitu pikirnya. Ratna menekan tombol di ponselnya untuk mencari nama Arya disana.
“Assalamu’alaikum. Halo.. Nak Arya. Ini Bunda.”, kata Ratna sesaat setelah dia menyadari ponselnya sudah tersambung.
“Oiya, Wa’alaikumsalam. Apa kabar, Bun?”, sapa Arya.
Benar seperti dugaan Ratna. Saat ini, Arya sedang makan siang setelah setengah jam yang lalu menyelesaikan meeting hari keduanya bersama klien. Dia sedang dijamu makan oleh klein di sebuah restoran terkenal di kota itu. Arya baru saja mengambil duduk saat ponselnya berbunyi.
Saat melihat nama yang tertera disana, Arya dengan cepat permisi dengan klien dan bawahannya yang juga duduk disana. Arya melipir sebentar ke area luar restoran untuk menerima telepon karena sifatnya pribadi.
“Kalau Bunda, Alhamdulillah baik. Nak Arya sendiri, apa kabar? Sibuk sekali sepertinya. Dulu waktu terakhir bertemu sudah sibuk. Sepertinya sekarang bertambah sibuk, ya?”, kata Ratna yang sudah bingung harus mengucapkan kalimat basa - basi apalagi.
“Haha.. Iya Bunda. Arya minta maaf tidak sering - sering mampir ke rumah. Nanti kalau sudah mulai lowong, Arya akan ajak Dinda main ke rumah dan menginap lagi ya, Bun.”, kata Arya.
“Hem.. sepertinya Dinda masih belum sempat info, ya Nak Arya. Dinda sedang di rumah Bunda dari kemarin. Dinda sudah coba menghubungi Nak Arya tetapi tidak tersambung katanya.”, sesaat setelah mengatakan itu, Ratna tiba - tiba merasa menyesal dan memukul ringan bibirnya.
Karena gugup, dia bahkan mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
Ekspresi wajah Arya langsung berubah saat mendengar informasi yang disampaikan oleh Ratna. Dia tak perlu menyembunyikan keterkejutannya karena sedang berbicara melalui sambungan telepon. Ada jeda sedikit sebelum akhirnya Arya kembali berbicara.
“Aah.. Iya Bunda. Arya minta maaf ya Bunda. Belakangan ini, Arya tidak bisa intes bersama Dinda karena kesibukan di kantor. Arya akan usahakan untuk menyelesaikannya dengan cepat.”, Arya berusaha menyembunyikan perasaannya dengan tetap menjaga intonasi suaranya agar tetap tenang.
“Iya, Bunda minta maaf ya kalau Dinda belum memberitahukannya.”
“Iya, gapapa Bunda. Dinda sedang disamping Bunda? Bisa Arya bicara sebentar?”, ucap Arya.
“Dinda sedang tidur. Nanti kalau sudah bangun Bunda akan infokan ke nak Arya atau Bunda suruh Dinda telpon lagi, ya. Semoga Bunda tidak mengganggu urusan kantor Nak Arya, ya.”
“Tidak Bunda. Dinda mungkin sudah mengirimkan pesan, tetapi Arya belum cek. Arya akan kembali besok. Arya boleh langsung mampir ke rumah Bunda untuk jemput Dinda?”, kata Arya.
__ADS_1
“Hm.. Iya tentu saja. Ya sudah, Bunda terlalu banyak menggunakan waktu kamu. Takutnya kamu sibuk, sudah dilanjut lagi. Jangan lupa makan ya, Arya.”, lanjut Ratna.
“Baik, Bun. Terima kasih. Bunda juga jaga kesehatan, ya. Kalau begitu Arya izin tutup teleponnya dulu.”
“Iya.”
‘Hah…. apa seharusnya aku tidak mengatakannya, ya? Kenapa tidak dikatakan atau dikatakanpun, keduanya sama - sama membuatku tidak nyaman, ya. Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua. Perasaan terakhir kesini mereka masih baik - baik saja.’, semakin memikirkannya, Ratna semakin bingung.
“Halo, Arga. Kamu sudah selesai?”, Ratna lanjut menghubungi puteranya yang sedang mengantar pesanan.
“Sudah Bun, sedang isi minyak motor. Sebentar lagi balik.”
“Bunda minta tolong beli air kepala dan buah alpukat di toko buah biasa, ya. Buat mba, kamu.”, kata Ratna.
“Iya, Bun. Aku juga boleh ikutan jajan, ya Bun. Aku mau martabak.”
“Ya sudah beli sana. Yang itu jangan lupa ya.”
“Iya - iya, Bun.”
********
Drrrttttdrtttt drttrrtrrr
Hari sudah larut malam. Ponsel Dinda sudah setengah jam yang lalu berbunyi namun dia masih enggan mengangkatnya. ‘Mas A ❤️’, nama itu sudah sejak tadi menghubunginya.
“Mba Dinda, itu suaminya telpon ga diangkat?”, Arga yang baru saja masuk ke kamarnya untuk mengembalikan kartu kredit yang tadi dipinjamnya melihat ponsel Dinda.
Gadis itu hanya duduk di kasur sambil membaca novel tanpa mengindahkannya.
“Mba Dinda lagi berantem? Kenapa gak diangkat?”, Arga memberanikan diri untuk bertanya.
Dulu, sebelum Dinda menikah, dia bisa leluasa menanyakan banyak hal. Tetapi sekarang, ada rasa segan jika Arga harus menanyakan hal - hal yang sifatnya privasi seperti hubungannya dengan mas Arya.
“Kamu, masih terima uang dari mas Arya?”, Dinda tiba - tiba bertanya hal yang serius.
“Mba Dinda ahli sekali sekarang mengalihkan pembicaraan, sampai aku tidak sadar. Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kamar. Jangan lupa kalau tidur lampunya di matikan. Listrik mahal.”, canda Arga pada Dinda.
Sepertinya Arya sudah tidak menghubunginya lagi. Ponsel Dinda sudah berhenti berbunyi. Namun disisi lain, ternyata giliran ponsel Arga yang berbunyi.
Malam sudah larut, Arya sudah kembali ke kamar hotelnya. Dia baru saja selesai mandi setelah sebelumnya mencoba menghubungi ponsel Dinda berkali - kali namun nihil. Terbersit ide di kepalanya untuk menghubungi Arga, adik Dinda.
“Ha-halo mas Arya.”, Arga kaget karena tak berapa lama setelah kembali ke kamar, ponselnya tiba - tiba berbunyi dan tertulis nama ‘Kakak Ipar’ disana.
“Apa kabar kamu, Arga?”, sapa Arya dari seberang telepon.
Arya adalah tipe orang yang to the point. Dia jarang sekali berbasa - basi. Jika sewaktu - waktu dia melakukannya, itu berarti dia menganggap orang itu sangat dekat dengannya.
“Alhamdulillah baik mas Arya.”, jawab Arga singkat.
Meski sudah beberapa kali bertemu, tetapi Arga masih belum bisa nyaman dan santai meskipun hanya berbicara melalui sambungan telepon seperti saat ini. Maklum, tidak hanya karena aura Arya yang mendominasi, usia mereka juga terpaut sangat jauh.
“Dinda ada?”, tanya Arya.
“Hm. Ada mas. Kalau boleh tahu ada apa mas?”, Arga memberanikan diri bertanya.
Lebih tepatnya, Arga mengkhawatirkan kakaknya. Apa yang terjadi pada Dinda sampai dia tak ingin mengangkat telepon suaminya sendiri. Arga penasaran. Meski dia percaya dan menghormati Arya, tetapi jika hal - hal seperti ini terjadi tentu saja dia jadi khawatir. Memang, Arga tidak menunjukkannya.
“Ada sedikit selisih paham. Bukan hal yang perlu kamu khawatirkan. Dia sedang tidur?”, tanya Arya.
“Hm.. iya mas. Ehm.. sebenarnya tidak. Dia sedang membaca buku.”, jawab Arga.
Awalnya Arga ingin berbohong, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Lebih baik Arya tahu dan lebih cepat menyelesaikan masalah diantara mereka.
“Baiklah. Tidak apa - apa. Dinda sehat, kan? Mas cuma mencemaskan itu.”, kata Arya.
__ADS_1
“Iya mas. Tadi Bunda membelikannya air kelapa dan membuatkannya jus alpukat. Dia juga makan banyak dan istirahat dengan baik.”, jawab Arga.
“Syukurlah. Yasudah kalau begitu. Sudah malam. Kamu juga sudah mau tidur. Mas tutup, ya.”
“Baik mas.”
*******
Di kantor, Dinda datang lebih pagi dari biasanya. Jarak rumah bunda dengan kantor sedikit lebih jauh. Dia tak ingin terlambat, karena itu Dinda berangkat lebih pagi. Ternyata perjalanannya berjalan lebih lancar dari yang dia duga.
Berkat menginap di rumah Bunda, Dinda jadi merasakan kembali bagaimana melewati berbagai jenis transportasi yang sambung menyambung sampai ke kantor. Dinda juga beberapa kali tak segan meminta bangku prioritas karena dia sedang hamil. Beberapa mata sempat melihat ke arah perutnya karena masih datar, namun Dinda merasa bangku itu memang haknya. Jadi, tak ada salahnya meminta.
“Pagi, Dinda.”, sapa Dika yang baru saja keluar dari ruangannya.
Dinda terkejut karena tak menyangka pak Dika datang sepagi ini. Biasanya dia datang mepet - mepet jam kantor setelah hampir semua bawahannya masuk.
“Pagi Pak Dika.”, jawab Dinda canggung.
Saat itu baru ada mas Azis dan mba Rini. Mas Azis duduk berjauhan dengannya dan Rini sedang membuat kopi di pantry.
“Project kamu saat ini smart report itu, ya?”, tanya Dika.
Entah basa - basi atau bukan, Dika melemparkan beberapa pertanyaan mengenai project yang sudah hampir selesai itu pada Dinda. Dinda menjawab dengan sangat baik. Meski dia merasa sedikit canggung karena Dika adalah kepala divisi disana. Ada perasaan cemas dan juga takut yang muncul saat berbicara dengan orang seperti Dika.
“Hm.. hm.. Menarik sekali. Berarti sekarang kamu mengatur laporan - laporan yang muncul kalau ada ketidak sesuaian laporan untuk Business and Partners, ya?”, ini adalah pertanyaan ke sekian yang sudah dilemparkan oleh Dika.
“Iya betul, Pak.”, jawab Dinda.
“Hm.. saya ada rencana untuk melibatkan kamu juga di project terbaru di bulan depan. Project ini sebenarnya tidak melibatkan intern, tetapi saya ingin kamu juga terlibat supaya ikut belajar. Kalau kamu tertarik, saya coba diskusikan dengan Erick dan Rini.”, ujar Dika.
“Hm.. kalau boleh tahu project tentang apa, pak?”
“Hm.. project managing untuk divisi ‘Risk Management’ yang juga berkolaborasi dengan beberapa tim di Business and Partners. Untuk detailnya lumayan kompleks sehingga tidak bisa saya jelaskan sekarang. Saya akan coba bicarakan dengan Erick dan Rini. Nanti mereka yang akan mengabari kamu lagi.”, ujar Dika.
“Baik Pak. Terima kasih atas kepercayaannya.”, kata Dinda.
“Haha.. tidak perlu se-formal itu. Ya sudah kalau begitu. Kopi buatnya dimana ya? Saya dengar ada beberapa mesin kopi di lantai ini.”, tanya Dika.
“Ada di pantry, Pak. Di sebelah sana, masuk ke koridor, lalu ke kanan hampir berdekatan dengan ruangan Pak Arya, tapi memang letaknya memang agak dipojok. Atau perlu saya antarkan?”, kata Dinda menawarkan.
“Oh boleh - boleh, saya berterima kasih sekali kalau begitu.”, Dinda berdiri dan mulai mengarahkan Dika menuju pantry.
“Dua mingguan ini, saya selalu membeli kopi di bawah, tapi agak merepotkan kalau tiba - tiba lupa. Jadi saya mau coba bikin di mesin kopi ini.”
“Aaah.. iya betul Pak. Repot juga kalau harus turun - turun ke bawah.”
Dinda mengarahkan Dika melewati divisi Business and Partners yang masih sepi. Namun, dibandingkan dengan divisi DD, lebih banyak karyawan yang datang pagi di divisi ini.
“Ini ruangan Pak Arya, Pak. Kalau dari sini, kita tinggal masuk ke koridor lalu belok kanan, nanti di pintu sebelah sana ada jalannya.”, ujar Dinda.
“Oh.. ini ruangan Pak Arya, ya? Sudah lama sepertinya beliau di perusahaan, ya. Usianya tidak terlalu jauh dari saya, tapi level nya sudah senior sekali. Beliau belum datang? Biasanya datang jam berapa?”, tanya Dika.
“Biasanya datang jam 8, Pak. Itu kalau tidak ada meeting, kalau ada meeting, kadang bisa lebih pagi. Beliau sedang tidak ada, karena ada urusan business di luar kota.”, jawab Dinda lancar seolah - olah dia adalah Siska yang tahu jadwal Arya detail.
“Wah.. luar biasa sekali kamu tahu jadwal Pak Arya. Hm.. pantas saja dia tidak ada di ruangannya. Yang itu ya, mesin kopinya? Oh itu Rini. Ya sudah, kamu antar sampai sini saja. Terima kasih, ya.”, ujar Dika pada Dinda.
“Baik, Pak.”, jawab Dinda segera berjalan kembali ke tempatnya.
Sepertinya Dika akan menghabiskan waktu yang lama dengan Rini karena begitu bertemu mereka langsung terlibat pembicaraan. Dinda segera berlalu dari sana. Saat melewati ruangan Arya, Dinda sengaja memelankan langkahnya.
Meski dia sedang marah dan menolak mengangkat ponselnya, tapi Dinda juga kangen pada Arya. Tidak hanya karena pria itu ke luar kota, tetapi belakangan ini dia memang jarang sekali berinteraksi dengannya. Beberapa pikiran negatif muncul, tapi Dinda tak pernah mengindahkannya.
Dia tidak boleh menjadi istri yang memiliki trust issue dengan pasangannya. Mas Arya sudah lebih dewasa darinya. Dari segi usia, mereka terpaut 11 tahun. Tipikal pria dewasa seperti Arya pasti tidak suka menghadapi gadis labil sepertinya. Dinda mencoba untuk lebih dewasa menghadapinya.
Beberapa waktu ini dia juga senang membaca buku yang berhubungan dengan self-improvement agar dia bisa mengimbangi Arya. Tapi tetap saja, itu adalah hal yang tidak mudah. Jauh di dalam, Dinda tetap saja gadis 23 tahun yang baru saja lulus kuliah belum setahun yang lalu. Meski sudah mencoba bersikap dewasa, tapi tetap saja perasaan - perasaan remaja yang masih ada mempengaruhi kesehariannya. Termasuk sikapnya pada Arya saat ini.
__ADS_1
Sebelumnya, Dinda tidak pernah mempermasalahkan Arya yang sibuk. Tapi, kerinduannya pada pria itu membuatnya jadi sensitif. Dia jadi melakukan hal yang sebaliknya.
‘Apa nanti kalau mas Arya telepon aku angkat saja? Aku juga ga mau perang dingin begini. Bagaimana kalau mas Arya bete dan … Ah tidak - tidak.. Mas Arya tidak mungkin begitu.’, pikir Dinda dalam hati.