Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 28 Voucher Liburan


__ADS_3

“Pagi Pak Arya, mau ngingetin aja. Nanti ada Town Hall Meeting jam 1, ya”, sekretaris Arya masuk untuk mengingatkan bosnya perihal meeting penting hari ini.


“Oke, bilang saya telat 10 menit ya. Saya nanti baru selesai meeting dengan Regional jam 1. Butuh 10 menit buat napas dulu.”, kata Arya yang memang sudah keluar masuk ruang meeting sejak pagi.


“Baik Pak. Oiya Pak, untuk meeting ini akan join sama tim Digital ya, Pak.”, Arya menganggukan kepalanya lagi sambil melambaikan tangan meminta sekretarisnya segera keluar.


Hari ini dia super sibuk. Banyak hal yang ada di pikirannya. Mulai dari harus menyiapkan project untuk partner, presentasi performance ke Regional, sampai harus cek report performance divisi. Belum lagi divisi Digital juga harus dia handle.


Tak lama telepon berdering.


“Halo…”, saking pusingnya, Arya tidak memeriksa orang yang meneleponnya.


“Aryaaaa… kamu gak bilang dapat tiket honeymoon dari Tante Meri?”, Arya menjauhkan ponselnya sebentar dari telinga. Suara mamanya yang langsung masuk ke nada tinggi membuatnya kaget bukan main.


“....”, Arya masih tidak berkomentar. Kepalanya sekarang sedang penuh. Mana sempat untuk menanggapi perkataan mamanya.


“Tadi mama ke kamar kalian, terus beres - beres ternyata kado - kado dari saudara masih numpuk di kamar belum diberesin. Mama buka kotak dan lihat ada kado dari tante Meri. Ya ampun, tante Meri mulutnya kaya comberan tapi hadiahnya kelas atas Arya.”


“...”, Arya masih dengan tekun mendengarkan Inggit berbicara. Lebih tepatnya dia menaruh ponsel itu di mejanya dan lanjut mereview ppt yang sedang ia siapkan untuk presentasi nanti.


“Bayangin, tante Meri ngasih kalian voucher tiket pesawat dan hotel. Ternyata ada untungnya juga dia menikah lagi dengan Crazy Rich Kalimantan. Arya.. Arya… kamu masih dengerin mama ga sih?”, Inggit seolah sadar dari tadi anaknya sudah tidak menghiraukannya lagi.


“Kapan kamu mau berangkat sama Dinda? Kalian itu kan dijodohkan. Liburan gini bagus tahu Arya buat bonding.”, kata Inggit menurunkan volume suaranya. Pertanda ia sedang merayu anaknya.


“Iya ma, Arya lagi meeting. Nanti kita bicara lagi di rumah ya.”, Arya langsung menutup ponselnya dan fokus kembali ke layar laptop. Dia masih harus memeriksa 5 slide lagi dan jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


****


“Guys, kita ada Town Hall jam 1 siang, ya. Jangan lupa, ya. Pak Arya moodnya lagi ga enak. Tar disemprot.”, kata Pak Erick mengingatkan. Untuk kalimat paling akhir, ia pastikan untuk mengecilkan volume suaranya.


Erick sudah seperti sohib Arya jadi dia paling tahu tentang moodnya karena sering jalan bareng.


“Oiya Din, kamu  sebelum makan siang, print-in slide ppt saya dulu ya. Jangan lupa settingannya kaya biasa. Untuk present nanti.”, sambung Erick lagi yang kali ini ditujukan pada Dinda.


“Iya Pak.”, jawab Dinda singkat.


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 Siang. Dinda bersiap untuk melaksanakan perintah pak Erick. Dia segera bergegas menuju mesin printer. Dia sudah menekan print di PC nya. Sekarang dia tinggal mengambil hasilnya saja di mesin printer yang jaraknya lumayan dari meja kerja Dinda.


Sayangnya, saat diperiksa ternyata kertas di dalam mesin printer kosong. Dinda harus mengambilnya terlebih dahulu di ruangan sebelah. Tak lama ponsel Dinda berbunyi. Ternyata telepon dari mama Inggit.


“Iya halo ma.”, jawab Dinda halus di dalam ruangan inventory kantor sambil mencari kertas untuk print.

__ADS_1


“Dinda sayang.. Kamu sudah makan siang, nak?”, tanya Inggit girang di seberang ponsel.


“Belum ma. Sebentar lagi mau keluar makan siang. Ada apa ma?”, tanya Dinda yang akhirnya menemukan kertas yang dicari.


Meski hanya dengan satu tangan, Dinda bisa memasukkan kertas ke dalam mesin printer dengan sempurna. Dinda hanya perlu menekan beberapa tombol, sampai akhirnya hasil printnya keluar.


“Kamu ada kado voucher honeymoon kok gak cerita ke mama sih sayang?”, pertanyaan yang sama dari Inggit tetapi tentunya dengan nada yang berbeda. Kali ini nada Inggit terdengar halus dan malah terkesan ingin menjahili Dinda.


“Kado apa ya ma? Ada yang antar kado ke rumah?”, Dinda masih menjawab dengan polos.


Ia sejenak menghentikan kegiatannya karena toh dia hanya tinggal menunggu kertas itu tercetak seluruhnya.


“Mama tadi pagi ke kamar kalian mau temani Bi Rumi bersih - bersih. Mama nemu banyak banget tumpukan kado yang belum di buka di meja, trus mama iseng buka kado tante Meri. Ternyata voucher tiket pesawat sama hotel. Kamu udah bahas sama Arya?”, Dinda ingat tentang kado itu.


“Hm… belum ma. Mas Arya juga sibuk.”, Dinda mendadak kaget bukan main setelah dengan santai menyebut ‘mas Arya’ di kantor.


Dia refleks menutup mulutnya dan mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Nampaknya orang - orang sudah banyak yang makan siang. Terlihat meja - meja kubikel sudah kosong.


“Maaf banget ma, kita boleh gak bahasnya nanti di rumah?”, kata Dinda dengan nada sangat lembut. Dia takut Inggit tersinggung.


“Kamu sama aja sama suami kamu. Bilangnya nanti bahas di rumah. Kalian aja balik rumah udah jam berapa.”, Inggit sedikit kecewa.


“Iya - iya ma, nanti Dinda coba tanya ya ma. Sayang juga voucher nya kalo ga dipake.”, Kali ini Dinda seperti sedang menggali kuburnya sendiri.


“Kok.. yang keluar… ini kayaknya beda”, celetuk Dinda saat melihat hasil print yang keluar.


Karena sudah tidak ada bunyi mesin bekerja lagi, Dinda berinisiatif untuk melihat hasil printnya. Saking seriusnya, dia lupa sejenak kalau sedang tersambung telepon dengan Inggit.


“Apa sayang? Apanya yang beda?”, Dinda langsung tersadar bahwa dia masih terhubung. Dia menunduk kebawah mengecek lokasi Tray tempat hasil cetakannya keluar.


“Engga ma, aku lagi nge-print. Ma, aku tutup dulu ya. Soal kado tante Meri nanti…”, Dinda belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat tubuhnya beradu dengan tubuh kekar seseorang.


Dinda mengenal aroma parfum ini. Aroma yang sama dengan yang beberapa waktu ini menyesap di hidungnya setiap hari.


“Bisa hati - hati gak sih? Kalo ga bisa multitasking ya jangan multi-tasking.”, Pak Arya, laki - laki itu yang ia tabrak karena sibuk memeriksa tray dan meladeni Inggit.


“Din, itu Arya? Din? Dinda, kamu masih disana kan?”, Arya langsung mengisyaratkan pada Dinda untuk mematikan ponselnya.


Dinda tidak mau karena dia takut Inggit tersinggung, akhirnya Arya mengambil paksa ponsel itu darinya.


“Nanti lagi ya ma. Kalo masih bahas soal voucher, nanti kita bahas di rumah”, ujar Arya.

__ADS_1


Dinda membulatkan matanya. Dia tidak percaya Arya malah mengambil ponselnya dan menjawab telepon Inggit. Dia takut ada rekan kerja mereka yang melihat dan salah paham.


“Ga ada orang. Lagian kamu tuh, ya. Kamu kan bisa bilang sedang di kantor. Kenapa juga masih diangkat?”, ucap Arya ketus setelah menutup paksa ponselnya.


Sekarang pandangannya mengarah pada tray karena dia baru saja mencetak dokumen presentasinya.


“Ini apa lagi. Kamu ngeprint di tray yang sama? Kamu kan tahu kalo kamu itu ngeprintnya disana.”, protes Arya saat tahu hasil print nya bertumpukan dengan punya Dinda. Gadis itu juga sudah mengambil beberapa kertas dan sekarang sudah tercampur.


“Tapi ini buat Pak Erick, Pak. Jadi saya harus print disini. Maaf Pak, punya Bapak yang mana?”, tanya Dinda pelan.


Aura Arya di kantor tetap membuatnya takut.


“Ya udah sini, saya yang atur. Ini slide Erick buat nanti?”, tanya Arya.


“Iya bener Pak.”, jawab Dinda tertunduk.


“Kenapa Din?”, teriak Erick dari kejauhan. Dia seperti punya firasat anak buahnya sedang dalam cengkraman singa.


Erick berjalan mendekat. Dia tahu mood Arya sedang tidak baik hari ini karena dia juga ada di meeting yang sama dengan Arya tadi pagi.


“Pilih bawahan yang benar dong Rick. Ini masa dokumen saya dicampur semua. Mana lima menit lagi saya ada meeting.”, padahal Arya sudah selesai mengatur kembali dua slide ppt yang berbeda. Tetapi dia masih saja protes.


Dinda, dia hanya tertunduk lesu. Dimarahi Arya di kantor rasanya berbeda dengan saat dimarahi di rumah. Rasanya lebih sakit dimarahi di kantor. Apalagi di depan atasan. Dia merasa sudah memberikan kinerja yang buruk.


“Itu kan sudah selesai diperbaiki. Jangan galak - galak dong Pak Arya sama anak intern.”, Pak Erick memang selalu terdepan kalau sedang membela stafnya.


“Kalau di divisi saya, udah gak pakai karyawan model begini.”, Arya mencelos pergi setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu.


Kalau Arya memarahinya karena urusan di rumah, Dinda masih bisa tahan. Tapi kalau sudah menyangkut kinerjanya di Kantor, pak Arya masih sama dengan rumor yang dia kenal.


Galak, tidak punya perasaan, dan dingin seperti lemari es. Dia hanya akan lunak dengan orang - orang di circle dia dan itu juga bukan sembarang orang. Hanya orang - orang yang notabene cerdas.


“Kamu gapapa din? Dia emang gitu, gak usah diambil hati, ya.”, kata Pak Erick berusaha menghibur Dinda.


‘Padahal dia sudah satu rumah, satu kamar, satu ranjang dengan Arya, tapi tetap saja sakit kalau diomeli.’, batin Dinda meraung.


“Iya gpp, pak. Saya permisi dulu ya Pak. Saya jilid pptnya, nanti saya taruh di meja Bapak. Sekalian saya juga mau cari makan siang.”, kata Dinda masih dengan nada lesu.


Dinda segera menyelesaikan tugasnya dan bergegas mencari makan siang. Kali ini dia tidak pergi dengan rekan kantor seperti biasanya. Sepanjang jalan, Dinda masih memikirkan kata - kata Pak Arya.


‘Kenapa perkara slide doang dia bisa semarah itu sih. Lagian juga mana aku tahu kalo dia mau ngeprint juga. Dia yang pusing kok nyeret - nyeret orang. Pusingnya dia kan ngeluarin gaji dua digit. Sementara pusingnya aku cuma dapet UMR.’

__ADS_1


‘Lagian mama kenapa harus bahas - bahas voucher itu sih. Udah aku umpetin jauh masih aja keliatan. Seharusnya kemarin aku bakar aja vouchernya. Ato aku masukin situs barang bekas biar ada yang beli. Mayan duitnya buat jalan - jalan.’, Dinda terus menceletuk dalam hati.


****


__ADS_2