Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 129 Taring Arya Pradana


__ADS_3

Hari pertama Tim Building sudah dimulai. Meski mereka sudah tiba kemarin, tetapi kemarin belum bisa dikatakan sebagai hari pertama. Kenapa? Karena belum ada aktivitas yang berarti yang mereka lakukan. Hanya beberes dan acara bebas.


Hari inilah momen tim building baru akan dimulai. Panitia sudah membagi para karyawan berdasarkan survey potensi mereka dan pengumuman sudah diberikan kemarin. Sayangnya, Arya dan Dinda tidak berada dalam satu tim. Arya berada dalam satu tim dengan Suci, Bryan, Andra, Susan (Leader Tim 7 Business and Partners) dan beberapa anggota bawahan para Leader tetapi bukan bawahan Susan.


Kombinasi tim kali ini memang sangat menarik karena cocok sekali dengan tema perjalanan mereka yakni Tim Building. Erick berada di kelompok yang sama dengan Eko (Leader Tim 3 Business and Partners), dan beberapa bawahan lainnnya.


Sementara, Rini berada satu tim dengan Ranti. Lalu, Dinda satu timd engan siapa? Dinda merasa seperti berada di tengah padang pasir. Tak satupun anggota tim yang dia kenal. Dia berada satu tim dengan Kevin (salah satu bawahan Leader Tim 9 Business and Partners), James (Leader Tim 4 Business and Partners), Wawan (Bawahan Gilbert yang waktu itu pernah Dinda temui untuk urusan kantor), Egi (rekan Wawan yang masih satu tim dengan Wawan) dan beberapa orang lainnya yang sama sekali tidak pernah dikenal Dinda.


Satu - satunya orang yang satu divisi dengannya adalah Azis. Tapi, Azis dikenal sebagai orang yang sangat kalem. Sepertinya dia datang ke kantor hanya untuk bekerja. Dia bahkan jarang sekali terlihat bersosialisasi dengan yang lain.


Pagi hari, mayoritas dari mereka berada di restoran untuk sarapan pagi. Dinda, Suci, Delina, Bryan, dan Andra berada dalam formasi rutin mereka di sebuah meja. Satu per satu bergantian menjaga meja agar tidak diambil kursinya.


“Din, Din.. yuk sekarang kita yang ambil makan. Kamu mau omelet, ga?”, tanya Delina.


Dinda menggeleng.


“Aku mau Dimsum, Sosis, dengan Bubur Ayam saja.”, kata Dinda.


“Wah banyak sekali.”, kata Delina.


Dinda tersenyum. Obat pemberian dr. Rima rutin dia minum sesuai dosisnya. Satu dua hari efeknya belum kelihatan, tapi sekarang dia sudah mulai nafsu makan dan mualnya perlahan menghilang. Meski kadang sesekali masih.


“Bisa bawanya?”, entah datang darimana, Bryan tiba - tiba menghampiri Dinda yang sedang berusaha membawa dua piring plus satu jus sekaligus.


“Eh?”, kata Dinda kaget karena Bryan mengambil dua piring di tangan Dinda.


“Biar aku yang bawa. Gantinya, aku tambah dua lagi taruh disini, ya. Aku mau dimsum juga.”, kata Bryan melengos membawa dua piring Dinda. Tak lupa dia menambahkan 3 potong dimsum sesuai perkataannya tadi.


Tak punya pilihan, Dinda malah melanjutkan touring makanannya dengan mengambil sosis kecil - kecil sebanyak 5 potong. Dia melumurinya dengan saus sambal dan tomat sebelum berjalan menuju mejanya.


‘Apa - apaan si Bryan itu. Sepertinya aku juga bawa dua piring. Tapi dia tidak membantuku malah membantu si Dinda.’, decak Suci kesal menatap Bryan dari kejauhan.


“Kamu jadi ambil dimsumnya berapa?”, tanya Dinda pada Bryan.


Bryan menjawab dengan menunjukkan jarinya. Dinda mengangguk. Bryan mencoba mengambil satu sosis Dinda.


‘Heh… keluar dari kamar Pak Arya mesra - mesra. Sekarang tebar jala ke Bryan juga. Dasar murahan.’, kata Suci dalam hati.


Suci meletakkan piringnya dengan kasar di atas meja dan membuat teman - temannya terkejut.


“Pelan - pelan dong, Ci.”, tegur Andra. Belum ada yang sadar bahwa mood Suci sudah hancur pagi ini.


******


Di toilet pria di lantai lobby.


“Ternyata kamu mirip - mirip aku juga. Di kamar tadi kenapa ga setor dulu?”


“Ya.. mau gimana, orang kebeletnya baru sekarang.”


Terdengar dua orang pria baru saja memasuki dua kamar di toilet karena panggilan alam mereka. Untuk membunuh waktu, mereka saling berbincang - bincang. Begitu keduanya sudah berhasil menempati posisi yang pas, seseorang keluar dari kamar mandi yang satunya. Ternyata dia adalah Arya.


Entah kenapa pagi ini, Arya merasa sedikit mual. Padahal kalau ditelisik ke belakang, tidak ada asupan makanannya yang aneh. Tapi, perutnya terasa tidak nyaman.


Seperti biasa, Arya sudah tiba lebih dulu di restoran untuk sarapan. Dia sudah mengambil tempat duduk bersama Erick dan yang lain. Bahkan, dia sudah mengambil nasi goreng. Namun, perutnya tiba - tiba mual. Karena itulah saat ini dia berakhir di toilet lobby.


Saat dia masih sibuk dengan perutnya, Dinda dan yang lain baru tiba di restoran. Sehingga mereka tak sempat saling bertemu di lobby.


“Eh.. kamu tahu cewek intern di divisi sebelah ga?”, kata salah seorang pria di toilet tadi.


“Oh? Divisi mana? Digital maksud kamu?”, balas pria di toilet sebelahnya.


“Aku tidak tahu namanya. Wawan yang sudah kenalan. Dia berhijab. Cantik banget. Gila sih.. Kayanya kita terlalu sibuk dengan banyak hal sampai gak sadar ada hidden gems di divisi sebelah.”


“Ohhh… iya iya.. Dinda, ya? Kemaren si Danu pernah cerita. Dia kan sering bawa bekal makan di pantry. Kadang ketemu sama itu cewek. Cantik sih katanya, masih muda banget. Kayanya baru - baru kerja.”

__ADS_1


“Ya.. namanya intern gimana sih.”


“Wah.. pantes si Egi lebay girang banget ikutan aktivitas tim Building. Biasanya dia udah ngacir ke bar mana. Eh.. dari pagi sudah heboh. Ampe lupa doi kalo punya pacar.”


“Bener sih.. Biasa lihat di kantor kan gaya formal. Kemaren sempat ketemu di bandara gaya casual. Wah.. gilak cantik cuy. Suci, kalah.”


“Wuhhh biasanya mengelu - elukan Suci, sekarang pindah haluan?”


“Yang ini lebih menantang kayanya…”


Mereka saling sahut menyahut sembari melakukan bisnis mereka di toilet. Mereka tak sadar, disana sudah ada seseorang yang kepalanya sudah merah padam mendengarkan obrolan keduanya.


Arya, dia yang tadi baru keluar dari kamar toilet satunya hendak mencuci tangan dan kembali ke restoran untuk melanjutkan makan. Mendengar pembicaraan keduanya, Arya refleks langsung menendang pintu kamar toilet masing - masing dengan kuat lalu dengan santai berlalu dari sana. T


“Eh buset.”, keduanya langsung terkejut.


Mereka dengan cepat bebersih karena kesal dengan orang yang sudah menendang pintu kamar toilet mereka sembarangan. Sayangnya, saat mereka keluar, orang tersebut sudah tidak ada. Mereka mencoba keluar toilet untuk melihat, namun nihil. Tak ada siapa - siapa.


“Siapa sih tadi? Iseng banget. Awal aja kalau ketemu, aku hajar. Masa orang lagi bisnis di kamar mandi di tendang. Pintu kamu di tendang juga? Dua kali tadi bunyinya.”, tanya rekannya.


“Iya.. ampe masuk lagi tahu yang mau keluar saking kagetnya.”


Keduanya tidak sadar kalau macan penunggu Dinda (Arya Pradana) yang sudah menedang pintu kamar toilet mereka dengan kencang.


Arya kembali ke restoran. Begitu dia berjalan masuk ke area restoran, dia sudah mengalihkan banyak sekali orang disana. Pagi ini, Arya mengenakan pakaian super casual. Sebuah celana training panjang, sepatu sports, dan kaos yang memperlihatkan tubuhnya yang kekar. Persis seperti Executive Muda ala Milenial.


Para wanita terutama yang memang dari perusahaan mereka terpana melihat penampilan Arya yang berbeda dari penampilannya saat di kantor. Tak hanya wanita, ternyata para pria juga tak sedikit yang perhatiannya teralihkan saat Arya memasuki area restoran. Jika wanita terpesona, para pria justru merasa terintimidasi dengan kehadiran Arya.


Bahkan dengan sorot matanya saja biasa membuat aura gelapnya tercipta dimana saja. Beberapa langsung menghindari tatapan Arya agar tak terkena masalah. Siapa tahu mood dia sedang tidak enak dan malah menanyakan bisnis di waktu healing seperti ini.


“Wawan, Gilbert udah masuk?”, tanya Arya saat melewati meja Wawan, salah satu bawahan Gilbert.


“Be-belum, Pak.”, jawabnya terbata - bata. Bahkan sosis yang ada di mulutnya sulit untuk dia telan.


“Set meeting hari Senin depan. Sekarang kalian bisa senang - senang. Senin depan laporan project harus disubmit. Gilbert, biar saya yang urus. Hapus saja nama dia dari laporan project.”, ucap Arya dengan tegas.


“Oh iya Pak Bondan, analisa yang kemarin saya tolak. Tolong minggu depan buat yang baru present ke saya. Saya mau dalam tiga hari sudah selesai, ya. Grafik turun, saya pantengin 24 jam di kantor untuk bikin grafiknya, naik lagi.”, kata Arya.


Setidaknya beberapa orang yang duduk di meja - meja sebelum meja Arya menjadi korban kebrutalan moodnya hari ini karena kejadian di toilet. Erick dan yang lain bahkan sampai kaget.


“Sorry, kayanya aku sudah selesai deh. Sudah gak bisa nelan makanan.”, kata Eko yang tadi mengambil tempat duduk dengan Erick dan baru tersadar ternyata Arya juga duduk disana.


Ranti dan Susan yang melihat tindakan Eko langsung tertawa melihatnya. Diantara semua Leader tim, hanya Ranti dan Susan yang masih bisa jadi diri mereka sendiri saat bersama Arya. Mereka bisa mengimbangi pria itu. Mereka justru kagum dengan cara bekerja Arya yang gesit dan selalu tepat sasaran.


“Wah… seharusnya aku mengambil tempat duduk paling depan supaya sindrom workaholic Pak Arya tidak memakan korban terlalu banyak.”, celetuk Erick sambil mengunyah saladnya. Saat tim buildingpun, dia masih memikirkan program dietnya.


“Kamu jangan santai dulu. Jatah last minute approval untuk divisi kalian sudah habis. Aku tidak mau ya, Rini terus meminta approval last minute padaku. Next, aku akan minta dia yang menjelaskan langsung dan bukan kamu.”, kata Arya begitu sampai di tempat duduknya.


“Pak Arya, project yang di Bangkok akan diserahkan ke salah satu tim, kah?”, tanya Susan.


‘Hah… mulai lagi orang - orang boring ini.’, kata Erick kesal dalam hati.


“Hm. Tapi kali ini, aku tidak akan menyerahkan project ini dengan mudah. Tim dengan performance tertinggi yang akan mendapatkan project ini. Angkanya besar, jadi aku harap kalian berdua bisa lebih ambis dari biasanya. Kata Arya pada Ranti dan Susan.”, jelas Arya.


Erick sudah mengangkat piring makanannya.


“Mau kemana?”, tanya Arya pada Erick.


Erick menjawab dengan kode gestur mengatakan bahwa dia ingin duduk di meja bwahannya. Erick menunjuk meja yang diduduki oleh Dinda. Rantid dan Susan sedang sibuk berdiskusi sehingga tak begitu memperhatikan interaksi mereka.


Arya memberikan sorot mata yang tajam pada Erick untuk tidak pindah kesana. Dia sudah cukup kesal dengan bawahannya di toilet, kesal dengan bocah bernama Andra dan Bryan yang berada satu meja dengan Dinda. Dia tak ingin membuat kekesalannya dengan Erick pindah ke sana.


“Baiklah. Aku disini mendengarkan pembicaraan Pak Arya yang luar biasa menarik sampai sosis ini tidak masuk lagi ke mulut.”


“Makanya, go public.”, bisik Erick pada Arya sambil menunjuk ke meja Dinda.

__ADS_1


Arya kembali memberikan sorot mata tajam sambil meminum Ice Americano yang dia pesan.


******


“Wah… pesona Pak Arya. Aku sekarang mengerti kenapa Siska tetap bertahan dengan bos kaku dan sedingin alaska seperti Pak Arya. Sepertinya, makian Pak Arya pun akan terdengar seperti puisi ditelinga Siska.”, celetuk Delina.


“Kamu yakin bisa meluluhkan pria seperti itu, Ci?”, tembak Delina menoleh ke arah Suci.


Saat itu harga diri Suci langsung terasa terinjak - injak. Jika dia tidak melihat kejadian tadi malam, mungkin Suci masih bisa menerima candaan Delina. Suci melirik ke arah Dinda.


“Aku yakin bisa membuat Pak Arya tidur denganku.”, kata Suci.


“Uhuk Uhuk.”, Dinda yang baru menenggak jus miliknya terbatuk - batuk mendengar perkataan Suci.


Sedangkan yang lain membulatkan mata mereka kaget dengan jawaban Suci yang seolah - olah menganggap guyonan Delina serius.


“Heh… hati - hati, Ci. Disini ada banyak karyawan lain. Kamu memang dekat dengan Pak Arya sebagai MA. Tapi, sepertinya dia bukan orang yangg bisa dengan mudah kamu masukkan sebagai objek dalam kalimat kamu.”, kata Bryan mengingatkan Suci karena sudah berbicara keterlaluan.


Walaubagaimanapun pergaulan Suci di luar sana, tetap saja mereka sedang berada di dunia kerja yang profesional. Bercanda boleh, tetapi itu mungkin bisa menjadi kuburan bagi karyawan itu sendiri jika bercanda keterlaluan.


“Who knows. Mungkin Pak Arya juga sudah pernah tidur dengan bawahannya.”, kata Suci melirik Dinda sebentar sebelum akhirnya berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja untuk mencari makanan yang lain.


“Heh.. Suci kenapa sih? Akhir - akhir ini dia lebih frontal. Masalahnya, kalau dia suatu hari kena dengan Pak Arya, baru masalah. Apalagi kalau terdengar dengan divisi lain. Kamu kan tahu dibalik ekslusifnya divisi sebelah, mereka juga divisi yang berbahaya, loh. Lebih berbahaya dari divisi yang pernah ngelabrak Dinda dulu.”, kata Andra.


“Hah, emang Dinda pernah dilabrak?”, tanya.


“Yah.. masa kamu sudah lupa, sih? Itu loh yang sampai Pak Erick harus minta tanda tangan Pak Arya. Oiya.. kalau dipikir - pikir, untung saja waktu itu kamu gak habis sama Pak Arya, Din.”


“Pak Arya kan juga professional, dia ga mungkin lah main marah - marahin intern sembarangan.”


“Hm.. Iya juga ya..”, kata Andra.


EPILOGUE 


Setelah Dinda kembali ke kamarnya, Arya merebahkan tubuhnya di kasur.


“Hah… kenapa aku sudah merindukan gadis itu?”, Arya mengeluh karena ranjang ini terasa sangat luas dan sepi tanpa Dinda.


“Hm…”, Setelah menatap langit - langit beberapa menit, Arya memutuskan mengambil ponselnya di atas nakas.


Dia membuka aplikasi browser di ponselnya dan mengetik beberapa kata kunci.


- Makanan yang baik untuk ibu hamil -


Hasil pencarian keluar dan Arya mencoba mengunjungi beberapa artikel teratas dan membacanya. Dia mengambil tablet yang ada di atas meja kerja kemudian kembali ke kasurnya.


Arya mencatat beberapa poin yang dia anggap penting di setiap artikel yang dia baca ke dalam tabletnya. Bahkan, Arya sudah membuat grafik, timeline, dan reminder untuk beberapa poin tersebut.


Setelah puas dengan kata kunci tadi, dia mencoba membuka kata kunci berikutnya.


Tips untuk Ibu Hamil 


Hal - hal yang harus dihindari oleh Ibu Hamil 


Pantangan Ibu Hamil


Apa yang harus dilakukan suami saat istri sedang hamil 


Apa hal yang membuat ibu hamil stress 


.


.


.

__ADS_1


Dan seterusnya sampai dia terlelap tidur.


__ADS_2