Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 39 Bulan Madu Bagian 5


__ADS_3

Tak terasa, hari ini berlangsung cepat. Bahkan rasanya cepat sekali hingga Dinda menyesali kalau sedari tadi yang mereka lakukan hanya berenang saja. Setelah itu, Pak Arya lanjut tidur hingga sore hari dan Dinda sibuk hunting foto - foto sekitaran hotel sendiri.


Berhubung ini masih hari pertama mereka di Maldives. Arya memilih untuk menikmati makan malam di salah satu buffet hotel yang mereka tempati. Arya memilih Aqua Orange Restaurant yang menawarkan tipe buffet makanan seperti resto hotel pada umumnya.


Bedanya, mereka juga bisa menikmati berbagai menu makanan Italia dan Maldives bersama dengan pemandangan lagoon yang indah. Cuaca malam itu sedikit mendung. Angin semilir menusuk ke dalam kulit sepanjang perjalanan mereka menuju lagoon.


“Tadi saya sudah bilang pake sweaternya. Sekarang kamu kedinginan kan?”


“Engga kok, Pak. Saya gak kedinginan. Eh maksud saya mas.”, Dinda teringat pesan Arya yang memintanya memanggil ‘mas’ kalau sedang di tempat ramai.


“...”, Arya hanya diam dan berdiri membuka jaketnya untuk dipakaikan pada Dinda.


Sepanjang Arya berjalan ke arahnya, Dinda hanya bisa menatapnya.


“Tapi, disini mana ada yang ngerti Bapak dan Mas. Orang bule semua.”, ucap Dinda menyadarinya.


“Mulai sekarang, selain di kantor, kamu panggil saya mas aja.”, perintah Arya.


Dinda melirik ke arah Arya sebentar dan mengangguk.


Disini banyak orang Asia juga yang sedang menginap dan bulan madu. Dinda melirik ke suasana di buffet yang seperti taman cinta. Mayoritas adalah pasangan. Bahkan sepanjang perjalanan mereka kesini tadi, Dinda sudah melihat beberapa pasangan yang berciuman dengan santainya di keramaian.


“Selain gak bisa berenang, kamu gak bisa apa lagi?”, tanya Arya.


“Kenapa pertanyaannya begitu? Harusnya kan tanya nya saya bisa apa selain berenang?.”, respon Dinda.


“Ya.. mungkin saya bisa ajarin kamu. Kalo udah bisa ngapain saya ajarin.”, kata Arya datar.


“Oh.. hem..ahh enggak ah.. Saya minta ajarin orang lain aja.”, balas Dinda sudah berani mengemukakan pendapatnya.


“Loh kenapa?”, tanya Arya.


“Nanti pasti endingnya kaya tadi lagi.”, ucap Dinda.


“Kenapa? Kamu gak nolak waktu saya cium.”, respon Arya sukses membuat pipi Dinda merah.


“Hem.. yaaa saya… takut tenggelam.”, Dinda menjawab asal.


“Hahaha kamu pikir kalau kamu menolak, saya akan tenggelamin kamu?.”, respon Arya.


“Ya.. bisa jadi. Tadi aja, pak Arya udah mau lepasin saya. Oiya, besok kita ngapain?”, Dinda segera mengalihkan pembicaraan itu ke topik lain.


“Kamu gak tanya malam ini kita ngapain?”, Arya kembali menggoda.


Wajah Dinda langsung memerah. Dia tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Dinda tak bisa menyembunyikan perubahan wajahnya.


“Hm… saya tadi sudah tidur siang, jadi malam ini….”, Arya mulai dengan serangannya.


“Pak Arya…”, Dinda menaruh telapak tangannya di bibir Arya untuk membungkam mulut pria itu.


“Saya kan udah suruh panggil mas”, ucapnya pria itu.


“Iya… maksudnya mas.”, kata Dinda menuruti.


“Lagian kamu pikir malam ini kita mau ngapain?”, lanjut Arya lagi.


“Udah ah…saya sudah selesai makan.”, Dinda menaruh sendoknya.


Arya tersenyum. Dia juga sudah menyelesaikan makanannya sedari tadi.


Saat mereka tengah berjalan ke luar restoran, ada seorang pria sebaya Arya yang mulai mendekat ke arah mereka.


“Hey Bro, masih ingat gue?”, seseorang menepuk bahu Arya.

__ADS_1


“Waw… Hey Anton. Apa kabar lo?”, mereka berjabat tangan lalu saling memberikan pelukan kecil ala pria - pria yang sudah lama tidak bertemu sahabat karibnya.


Di samping pria itu, menyusul seorang wanita yang sepertinya juga mengenal Arya. Mereka berjabat tangan, berpelukan singkat, dan menyempatkan untuk cipika - cipiki.


Dinda hanya bisa melirik bingung ke arah mereka.


“Siapa?”, pria itu melirik ke arah Dinda kemudian bertukar pandang lagi dengan Arya.


“Istri gue.”, jawab Arya sambil tersenyum dan menarik Dinda untuk lebih dekat dengannya.


Mata Anton sedikit membulat, dahinya mengkerut, dan kepalanya bergerak maju mencari penjelasan di mata Arya.


“She’s my wife. We’re here for honeymoon.”, Arya kembali menegaskan kalimatnya.


“Sayang, ini Anton, teman sekolah saya waktu di Amerika.”, lanjut Arya lagi.


“Aaa. oooh salam kenal.”, Dinda tersenyum pada Anton.


“Ini….?”, Arya tahu siapa wanita di sebelah Anton, hanya saja dia bingung memperkenalkannya karena dia juga lupa status mereka masih berpacaran atau sudah menikah.


“My Girlfriend..”, jawab Anton cengengesan.


“Ahh.. still..”, kata Arya lagi.


“Haha.. yup.. kita agak - agak parno sama pernikahan, jadi… pacaran kayaknya lebih baik.”, balas pria bernama Anton itu.


Dinda ingin sekali menunjukkan ekspresi kagetnya saat ini tapi dia mengurungkannya karena tidak enak dengan lawan bicara mereka.


“Stay dimana sekarang?”, tanya Arya lagi.


“Kita di Hongkong. Dua tahun lagi, kita memutuskan pindah ke Sydney menyusul orang tua gue.”


Arya mengangguk. Sebenarnya, Arya tidak terlalu dekat dengan Anton pada masa perkuliahan. Sarah yang memperkenalkan mereka. Tak heran, jika Anton sedikit kaget dengan keberadaan Dinda.


“Kita baru sampai pagi ini.”, tutur Arya.


“Besok kalian ada agenda apa? Kita udah dua hari disini tapi belum ada aktivitas luar.”, kata Anton tertawa.


Arya sudah bisa menebak maksud mereka. Arya memilih untuk tidak memperjelasnya.


“Ya.. kita mau diving dan kalau sempat kita mau coba wreck diving, cuma belum tahu.”, ujar Arya.


“Can we join? Kayanya kalau aktivitas luar lebih seru rame - rame.”, tanya Anton.


“Ahhh okay, see you besok pagi, kalau gitu.”, Arya mengiyakan.


Setelah menemui kesepakatan, Anton dan kekasihnya berjalan menjauhi mereka.


“Gapapa dia tahu kalau aku istri mas Arya?”, tanya Dinda yang dari tadi hanya ikut tersenyum saat mereka berbicara.


“Terus, kamu dan saya di Maldives, kalau bukan suami istri, namanya apa?”


“Dia aja gak menikah datang ke Maldives.”


“Terus kamu mau saya bilang kamu pacar saya?”


“Ya.. enggak..”


“Hum?”, Arya menatap Dinda menunggu jawaban dari gadis itu.


“Iya sih..”, Dinda akhirnya mengakuinya.


****

__ADS_1


“Pak Arya… saya kan ga bisa berenang. Terus, emang gapapa menyelam?”, tanya Dinda khawatir.


“Satu.”, Arya membuka kalimatnya.


“Ah.. satu? Apanya?”, tanya Dinda bingung.


“Tadi malam saya kan sudah bikin perjanjian, setiap kamu panggil saya ‘Pak’, saya akan hitung dan sebanyak itu pula, kita ……”, jelas Arya mengingatkan perjanjian mereka kemarin.


“Kan saya belum setuju. Lagian ekstrim perjanjiannya, saya gak mau.”, balas Dinda menolak.


“Ekstrim? Emang apa perjanjiannya?”, Arya pura - pura tidak tahu.


“Gak mau bilang.”, Dinda memalingkan wajah.


“Hehe… kalo kamu bilang, saya mau loh ubah perjanjiannya.”, balas Arya.


“Ehem.. setiap kali saya panggil Pak, setiap kali itu juga kita..”, Dinda ragu - ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


“Kita…?”, Arya membantu mengulangi kata - kata Dinda agar gadis itu segera menyelesaikan kalimatnya.


“Tidur bareng.”, jawab Dinda sambil memejamkan matanya.


“Heh, tidur bareng? Trus menurut kamu selama ini kita ga tidur bareng?”, balas Arya sambil menaikkan satu alisnya.


“Ya.. maksudnya, tidur bareng yang beneran.”, Dinda menjawab pelan.


Arya masih terus tertawa jahil.


Saat ini mereka di dalam kamar dan bersiap untuk melanjutkan aktivitas laut yang sudah menjadi satu paket ekstra dari voucher hotel mereka.


“Okee… sekarang saya ubah perjanjiannya. Setiap kamu panggil saya Pak. Sebanyak itu pula saya akan cium kamu.”


“Ihhh… mesum banget sih.”, Dinda kembali menutup mulut Arya dengan tangannya.


“Yaa kamu pikir orang ke Maldives ngapain? Berjemur? Atau mau saya balikin ke perjanjian awal”


“Ihhh makin aneh.”


“Apanya?”


“Pak Arya, saya sudah bilang saya akan menyerahkan semuanya setelah saya siap. Saya bahkan gak tahu Bapak menganggap saya apa.”, kata Dinda.


“Istri saya.”


“Dengan masih menerima telpon dari mantan istri Bapak?”


Wajah Arya sedikit berubah ketika Dinda kembali mengungkit nama Sarah. Melihat perubahan wajah itu, Dinda menyesal telah membahas topik ini lagi.


Tapi, meski suasana mereka bisa lebih cair dari sebelumnya, tapi perasaan dibayang - bayangi oleh wanita bernama Sarah membuatnya tidak nyaman.


Drttt… Drttt


Ponsel Arya berbunyi.


“Masih main aja bro di dalam? Katanya mau aktivitas laut jam segini?”, ujar Anton melalui sambungan teleponnya.


“Lo udah dimana?”


“Sudah di tempat janjian kita.”


“Okee.. kita kesana.”


“Yuk.. sudah ditunggu sama Anton.”, ujar Arya menarik lengan Dinda.

__ADS_1


Dinda menyadari perubahan sikap Arya yang tiba - tiba jadi dingin.


__ADS_2