Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 43 Pulang Bulan Madu


__ADS_3

“Bi Rumi, Arya dan Dinda jangan diganggu dulu ya. Nanti aja bersihinnya. Mereka baru pulang bulan madu. Kali aja mau lanjut dulu.”, perintah Inggit pada Bi Rumi. Inggit dan Bi Rumi lanjut senyum - senyum dan terkekeh sendiri.


“Pada ngapain sih? Senyum - senyum nggak jelas.”, tiba - tiba Ibas datang membawa gelas kopinya yang kosong.


Ibas memang akan tinggal di rumah untuk sementara waktu. Dia masih bekerja dan pekerjaannya masih bisa dilakukan dari rumah. Ibas sedang berpikir untuk kembali kesini begitu dia lulus.


“Anak kecil gak perlu tahu. Kamu ini kok ngopi - ngopi terus, Ibas. Gak sehat, loh.”, Inggit menepuk bahu Ibas. Sepertinya baru tiga jam yang lalu dia menyesap kopi pertamanya, dan sekarang sudah ingin minum kopi lagi.


“Ih mama, siapa yang mau nambah kopi. Ibas mau minta Bi Rumi masak kentang goreng. Ibas lagi nonton di kamar.”


“Bilang dong dari tadi, kan mama nggak tahu.”


“Yah, mama udah main pukul duluan. Jam berapa mas Arya sampai tadi malam?”


“Tahu juga kamu masnya sudah sampai. Mama kira masih tidur.”


“Ada suara berisik - berisik dari kamar mas Arya. Ya.. kalo bukan Bi Rumi atau mama, berarti yang punya kamar sudah pulang.”


“Eh.. sini - sini Ibas. Suara berisik - berisik apa?” , Inggit meminta Ibas untuk mendekat.


“Hem… Gimana ya menjelaskannya. Kaya suara - suara ******* gitu ma.”, Ibas tersenyum jahil.


“Hah? Yang benar kamu?”, Inggit tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


“Iya beneran ma. Ada suara teriak - teriak juga dan kaya nafas menderu gitu ma.”, Ibas menggambarkan situasi dengan sangat detail.


“Aaakkk.”, teriak Ibas kesakitan.


Tak lama ada yang memukul kepala Ibas. Ternyata Arya dari belakang sudah melayangkan sebuah amplop dokumen ke kepalanya.


“Suara *******? Dengar dimana kamu? Kamu habis nonton film porno, ya?”, sanggah Arya.


Tak hanya Ibas, Inggit dan Bi Rumi juga tidak menyadari keberadaan Arya juga ikut terkejut.


“Bi, tolong minta pak Cecep kirim dokumen ini lewat jasa pengirim yang di depan jalan utama ya, Bi.”


“Oh baik, den. Langsung saya antarkan sekarang.”, Bi Rumi langsung bergegas membawa dokumen itu sesuai perintah Arya.


“Kamu, kalau punya waktu luang begini, lebih baik tambah kerjaan jadi penulis novel erotis. Bisa - bisanya cerita ke mama yang enggak - enggak.”, kata Arya sambil berjalan ke lemari es untuk mengambil minum.


“Jadi kamu bohongin mama, Ibas? Bener - bener kamu ini ya.”, Inggit ikut memukul bahu ibas karena geram.


"Aduh, ampun maa. Sakitt.. Lagian si mama centil banget. Kepo lagi.", komentar Ibas.


“Arya, gimana liburan kamu?”, tanya Inggit penasaran.

__ADS_1


“Lancar ma.”


“Hum.. kalian kemana aja? Kamu mainnya gentle kan sama Dinda.”


“Main apa sih ma? Udah ah jangan bahas itu terus.”


“Ya.. kan mama penasaran. Iya maaf, mama gak akan bahas lagi. Yang penting kamu sudah punya istri, sudah ada yang jagain, sudah punya tanggung jawab. Mama dan papa sudah senang. Tinggal ngurusin kakak kamu yang gak tahu rencananya mau ngapain.”


“Lah, Ibas gimana ma? Kok gak masuk hitungan.”


“Kamu masih di jalurnya, kok. Lagian kalau kamu macam - macam, sebagai anak paling kecil, kamu udah ada dua contoh.”


“Kalo Ibas menikah terus cerai juga, mama ga akan marah kan?”


“Kamu ini, ya… bercanda terus. Kamu kira bercerai itu tren apa?”


“Ya kan katanya suruh contoh mas Arya dan mba Andin.”


“Ada - ada aja ini anak. Bawa sini Arya, adik kamu ini harus dikasih pelajaran. Mana berani nipu mama lagi.”


Jadilah pagi itu terjadi keributan besar di dapur rumah. Sudah lama Arya tidak melihat pemandangan ini. Terakhir saat ia masih duduk dibangku SMA dan Ibas masih SD. Arya seolah merasakan healing yang sangat berarti di rumah. Sudah lama dia tidak merasa se-tenang ini.


*****


“Wah.. Din makasih ya… kamu liburan kemana nih?”, tanya Rini, supervisor Dinda.


Dinda tidak bisa membawa oleh - oleh dari Maldives karena Arya sudah pasti akan membawa hadiah itu untuk rekan satu divisinya.


“Aku ke Solo sama teman - teman mba.”, jawab Dinda.


Rini mengangguk sambil mencomot salah satu bolu yang dihidangkan Dinda di salah satu meja di area divisinya. Saat itu masih sepi karena masih sangat pagi.


Dinda tidak berangkat bersama Arya hari ini karena dia langsung meeting di luar.


“Hai Din.. Wah apaa nih? Jadi kamu liburan ke Solo.. aku minta ya.”, beberapa orang satu per satu datang dan langsung menyapa Dinda begitu melihat ada kue tertata.


Dinda dengan ramah menyapa balik mereka. Andra, Suci, dan Bryan juga tidak ketinggalan. Per hari ini, Suci sudah duduk di divisi Dinda.


“Pak Erick kayanya meeting dengan Pak Arya, ya?”, kata Rini bertanya. Pertanyaan yang ditujukan kepada semua orang yang ada disitu.


“Iyaa.. tapi di divisi Pak Arya sudah banyak makanan, tuh. Katanya beliau habis liburan juga. Sama banget sama kamu Din, janjian ya?”, Dinda terbatuk - batuk mendengar perkataan Suci.


“Haha.. bercanda Din. Pak Arya kayanya ke luar negeri, deh. Aku lihat ada beberapa snak - snack Singapur di meja divisi sana. Ngapain yaa… pak Arya ke Singapur.”


“Jangan - jangan pacar barunya pak Arya tinggal di Singapur.”, Andra mulai lagi dengan spekulasinya.

__ADS_1


“Wah bisa jadi tuh.”, celetuk yang lain. Dinda bahkan sudah tidak tahu siapa yang berbicara karena mereka saling sahut menyahut.


‘Kalau ada orangnya, mana berani mereka ngomong begini.’, bathin Dinda dalam hati.


“Atau mereka sama - sama berangkat dari sini untuk pacaran disana.”, sahut Andra lagi.


“Hus.. kedengaran orangnya aja, bisa disidang kamu. Kuat ada di ruangan pak Arya sambil ditatap sama dia?”


“Ihh serem, ketemu di jalan aja bikin merinding. Aku bersyukur punya bos kaya Pak Erick. Kalau bos aku kaya pak Arya, sepertinya aku sudah resign dari lama.”, kata Andra mendadak curhat.


“Kok kamu bisa tahan sih Ci? Apa rahasianya?”, tanya Bryan mendekat.


“Pak Arya itu baik, kok. Dia cerdas, enak kalau diskusi, terus ganteng dan cool, lagi.”, Suci mulai blak - blakkan karena toh dia sudah tidak di divisi yang sama dengan pak Arya lagi.


“Uhuk uhuk.”, Dinda kembali batuk.


“Kamu sehat Din? Dari tadi batuk - batuk mulu. Ohiya, kamu ada teman yang dari Maldives? Kok aku baru lihat gantungan kunci di tas make-up kamu?”, kata Rini.


Suci memang sudah terbiasa mengambil tempat make-up Dinda hanya untuk meminta parfum, mist, atau lipstik.


“Siapa - siapa? Wah.. tahun ini aku harus ke Maldives nih.”, kata Rini lagi.


“Aku juga. Mba Rini ke Maldives sama siapa?”, sahut Suci.


“Ya.. sama pacar aku dong. Masa sendiri.”, sahut Rini.


“Kamu sama siapa Ci? Sama aku aja ya, kali ini gantian Andra yang menyahut.


“Enak aja. Sama pacar gue juga dong.”


‘Lagi tren ya, liburan bareng pacar? Kenapa mereka bisa begitu bebasnya?’, tanya Dinda dalam hati.


Tempo hari di Maldives, dia melihat Anton dan Angel. Dinda berpikir, mungkin karena mereka sudah lama tinggal di luar negeri, jadi mereka lebih bebas. Tapi mba Suci dan mba Rini, kenapa bisa semudah itu juga untuk jalan bersama pacarnya ke luar negeri.


“Bareng aja yuk, mba Rin. Kita double date.”, usul Suci.


“Sorry, aku ga double date sama bawahan.”, tutur Rini dengan lagak sombong tetapi bermaksud untuk bercanda.


“Din, kamu udah punya pacar belum? Double date sama aku.”, Suci masih berusaha melayangkan ajakannya.


“Wah.. kamu salah ajak orang Ci. Masa, Dinda diajak liburan bareng pacar ke luar negeri.”, Andra ikut menimpali.


“Aaaa kamu pacarannya masih level itu ya. Okee.. haha.”, jawab Suci tertawa.


“Din, masa muda tuh harus dinikmati.”, kata Andra bermaksud bercanda.

__ADS_1


“Hehe.. aku belum punya pacar, kok.”, jawab Dinda.


****


__ADS_2