
“Coba, coba putar kembali. Aku tidak bisa mempercayai telingaku. Gi, buruan, putar lagi.”, teriak salah seorang wanita yang ada di divisi business and partners.
Tidak. Dia tidak hanya sendiri atau berdua. Mayoritas karyawan divisi Business and Partners yang sedang berada di kantor saat ini sedang berkumpul di salah satu meja. Mereka memutar tayangan rekaman salah seorang dari mereka yang menyaksikan langsung kejadian di lobi.
“Tuhkan.. Benar. Pak Arya bilang begitu. ISTRI. I-S-T-R-I. Masih kurang jelas? Perlu aku kirim video rekaman ini ke temanku yang jago editing dan menghilangkan noise cancellation agar kalian bisa percaya?”
“Ah.. jadi.. Tunggu.. Tunggu. Aku tidak bisa menyatukan berbagai informasi itu di kepalaku sekarang.”
“”Huh, jadi.. Dinda yang merupakan anak intern di divisi Digital and Development itu adalah istri Pak Arya?”, ujar Egi sudah terduduk lemas di kursinya.
Ia bahkan tak sengaja melepaskan ponsel yang ia pegang di tangannya. Beruntung seseorang menangkapnya. Egi yang sudah lama tertarik dengan Dinda sejak acara Tim Building beberapa bulan lalu langsung blank.
Informasi yang dia terima begitu berat. Bagaimana mungkin gadis itu adalah istri bosnya sendiri.
Kemudian disisi lain.
“Huh? Maksudnya Pak Arya sudah menikah begitu? Menikah dengan siapa?”
“Itu kan dijelaskan. ISTRI saya. Dinda, yang mengerjakan project smart report itu.”
“Jadi, Pak Arya benar - benar sudah menikah?”
“Wah.. setelah dipikir - pikir pantas saja beberapa bulan belakangan Pak Arya auranya terlihat berbeda.”
“Hm.. dia sudah jarang terlihat bersama wanita di bar.”
“Hm.. beberapa waktu lalu aku kira aku salah lihat. Tapi ternyata kalau aku pikir - pikir lagi benar. Yang aku lihat di Masjid shalat Jum’at itu benar - benar Pak Arya.”
“Pak Arya shalat jum’at?”
“Hm. Aku mencoba shalat Jum’at di salah satu masjid besar yang lumayan jauh dari sini. Harus menggunakan kendaraan. Dan aku melihat Pak Arya shalat Jum’at.”
“Bukannya Pak Arya gak pernah shalat, ya.”
“Memangnya Pak Arya muslim?”
“Pak Arya kan sering kunci ruangannya di jam - jam sholat.”
“Benar juga, kalau dipikir - pikir lagi, Pak Arya sulit ditemui di jam - jam shalat.”
“Tunggu… tunggu… Pak Arya kapan nikahnya?”
“Eh.. bukan itu yang paling penting. Pak Arya kapan pacarannya sama Dinda? Huh? Masa dia pacaran sama anak di bawah umur?”
“Ohhhhhhhhhhh…”
“Kenapa? Kenapa?”
“Foto, foto yang waktu itu viral.”
“Foto yang mana?”
“Foto yang Pak Arya mencium seorang wanita.”
“Ohhhh benar - benar. Jangan - jangan itu adalah… itu adalah istrinya???”
“Hah…. aku masih tidak percaya. Bagaimana mungkin? Dari modelan Bu Sarah.. Ke modelan Dinda?”
“Eh… memangnya Dinda kenapa? Sekarang jadi make sense. Kenapa gadis secantik itu tidak pernah terlihat punya pacar atau dekat dengan pria. Ternyata levelnya se-pak Arya.”, ujar Egi kembali patah hati.
“Eh eh eh…kalian lupa bagian pentingnya. Bagaimana mungkin mereka bisa bersikap biasa saja di kantor sementara mereka adalah suami istri.”
“Benar juga. Tunggu. Jadi sejak kapan mereka menikah?”
“Kalian ingat gak, waktu kejadian Dinda itu kecebur di laut. Aku ingat banget Siska yang mengantarkan DInda kembali ke penginapan.”
“Bukan - bukan. Kalau diingat - ingat lagi, Pak Arya tidak ada saat acara di pulau waktu itu. Berarti yang mengantarkan Dinda adalah Pak Arya. Woahhh aku jadi merinding.”
“Merinding kenapa? Memangnya ini cerita hantu.”
__ADS_1
“Tidak, kalau dipikir - pikir lagi, Pak Arya random marah - marah tentang suruh - suruh intern? Jangan - jangan karena Dinda?”
“Wah.. bukankah itu pilih kasih namanya?”
“Jangan - jangan yang membantu DInda masuk ke perusahaan ini adalah Pak Arya.”
“Mereka ketemu dimana?”
“Kenapa pilih wanita seperti itu?”, ujar salah seorang wanita.
“Memangnya kenapa dia cantik banget tahu,,,,,”, seorang karyawan pria membela.
“Kamu ingat gak waktu kita meeting di apartemen Pak Arya? Disana kan ada sepatu wanita. Terus di kamar mandi juga ada hijab wanita. Wah… kita benar - benar tidak menyadarinya. Aku kita Pak Arya memiliki hubungan khusus dengan Siska, sekretarisnya, ternyata dengan seorang intern.”
“Heh? Kalian tidak pada kerja? Gosip terus, bahkan berkumpul seperti sedang membuat forum.”, ujar Bu Ranti yang merupakan tim Leader 6.
“Bu Ranti tidak mengetahui sesuatu tentang hubungan Pak Arya sama sekali?”, tanya salah seorang karyawan saat Bu Ranti tiba - tiba datang dari tempat mesin fotokopi menuju kursinya.
BU Ranti menoleh ke arah belakang dekat dengan forum yang sedang mereka buat. Mereka berkumpul disana. Saat Bu Ranti menoleh, wajah - wajah mereka seperti menunggu - nunggu jawaban yang keluar dari Bu Ranti.
Bu Ranti adalah orang yang paling dituakan. Dia sebenarnya tidak rela menjadi orang terakhir yang mengetahui rahasia - rahasia di kantor, Tapi kali ini dia mengaku kecolongan.
“Hum… tidak. Saya tidak tahu sama sekali. I have no idea,”, kata Bu Ranti mendramatsirnya.
Hah… semua karyawan memberikan reaksi yang kurang lebih hampir sama.
“Fans club Pak Arya apa kabar?”
“Mereka sedang meeting mendadak di pantry mesin kopi” (lebay)
“Mereka pasti sangat patah hati. Tertipu di kandang sendiri.”
“Wah.. kalau dipikir - pikir selera Pak Arya berubah 180 derajat.”
“Wan… Pak Arya tahu kita goda- goda Dinda ga ya?”, tanya Egi.
Tadinya dia sudah patah hati karena belum melangkah sudah langsung ditikung pria modelan Pak Arya. Setelah menyerah memikirkan itu, sekarang dia baru ingat kalau beberapa kali dia senang menggoda Dinda di dekat Pak Arya.
*********
Beberapa saat yang lalu setelah Arya terlihat bergegas menggendong Dinda menuju sebuah mobil yang sepertinya dikendarai oleh Dimas.
“Mba, mas,,, ini mobilnya kok ditinggal.”, ujar Satpam yang sudah selesai memeriksa mobil milik Bryan yang kemudian malah ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
“Eh… eh… aku tidak salah lihat kan? Itu yang tadi lari bukannya pak Arya, ya? Terus yang digendong sepertinya berhijab. Kalau lihat sepatu dan outfitnya bukannya itu mirip dengan yang dipakai Dinda?”, Delina bertanya - tanya. Dia mencoba mendekat tetapi apa daya, mobil Dimas sudah melaju kencang.
Suci hanya terdiam menyaksikan apa yang ada didepannya. Meskipun dia tidak mengetahui apa yang terjadi tetapi memiliki dugaan. Ada yang terjadi pada DInda dan sepertinya identitas hubungan mereka sudah terbongkar.
‘Ah.. andai saja aku tidak ikut - ikutan mereka membeli minuman hits ini, mungkin saja aku bisa melihat apa yang terjadi.’, Suci merasa kesal.
“Apa yang terjadi?”, Bryan yang baru berlari memilih berhenti di samping Delina dan Suci,
“Sepertinya terjadi sesuatu pada Dinda dan Pak Arya menggendongnya ke mobil. Mungkin mobil DImas, dia yang berlari ke arah pintu kemudi.”
“Oh? Apa yang terjadi? Dinda kan sedang hamil. Apa kandungannya baik - baik saja?”, saking paniknya, Bryan tanpa sengaja membocorkan apa yang dia ketahui.
“Oh? Dinda kenapa? Dinda kenapa Bry? Aku tidak salah dengar kan? Kalian … O-oh? Kenapa wajah kalian seperti wajah - wajah yang tahu apa yang tidak aku ketahui.”, tanya Delina menatap bergantian ke arah Suci dan Bryan,
“Bry? Maksudnya apa? Terus kenapa Pak Arya yang gendong? Dia kebetulan ada disana? Oh? Dinda dihamili kekasihnya? Hahahaha gak mungkin.”, Delina bingung dan hanya mengatakan apapun yang bisa keluar dari mulutnya.
“Permisi, Pak. Itu mobilnya tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Ada mobil lain yang mau masuk. Mobil Bapak bisa didenda kalau begini.”, seorang satpam berlari menghampiri Bryan.
“Ah.. ia Baik Pak, saya akan memindahkannya ke parkiran. Kalian mau ikut atau langsung naik ke atas?”, tanya Bryan.
“Eh? Jawab dulu pertanyaan aku. Itu si Dinda hamil? Apa yang terjadi sih?”
“Ya sudah, aku memindahkan mobil dulu.”, ujar Bryan.
“Tunggu dulu Pak, belum ada mobil yang masuk, kok. Bry, jawab pertanyaan aku dulu.”, ujar Delina semakin penasaran.
__ADS_1
Bryan tidak mengindahkan panggilan dari Delina dan berjalan lurus menuju mobilnya. Dia harus segera memindahkan mobil itu ke parkiran bawah.
“Ci, kamu tahu sesuatu? Itu ngapain orang pada berkumpul di lobi tadi?”, tanya Delina masih belum menyerah bertanya.
“Nanti, kalau orangnya sudah muncul di kantor, kamu tanya langsung saja. Aku mau mengerjakan pekerjaanku yang masih menumpuk.
***********
“Puas kamu Rianti? Puas kamu sudah membuat keributan dan membuat aku malu di depan banyak orang. Mereka mungkin bawahanku di kantor. Hah.. aku tidak tahu bagaimana aku harus menampakkan mukaku disini mulai dari sekarang”, ujar Dika di parkiran sambil menendang mobil miliknya.
“Selain itu, kamu sudah mencelakai orang lain. Kalau terjadi apa - apa dengan Dinda dan suaminya menuntut kamu? Kamu urus sendiri. Aku tidak ikut- ikutan.”, lanjut Dika lagi.
Rianti terdiam. Dia masih berpikir.
‘Apakah keputusan yang salah untuk datang kesini? Apa dia salah menduga Dika selingkuh. Pria tadi sepertinya memang benar - benar suaminya, Bagaimana kalau papa tahu. Bisa mati aku. Papa sangat tidak suka ada perhatian ke arah keluarganya meskipun itu hanya masalah kecil.”, Rianti masih memutar otaknya.
“Kunci mobil, kamu bawa. Lebih baik kamu pulang. Dan jangan menungguku. Aku akan tinggal di hotel selama beberapa hari. Aku harus menjernihkan pikiranku.”, ujar Dika baru saja ingin beranjak pergi dari sana.
“Hotel? Huh? Kamu ingin menemui wanita itu lagi?”, tanya Rianti sinis
“Kamu tidak melihat bagaimana dia tadi? Pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Dilihat dari tanda - tandanya, sepertinya dia sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu padanya dan bayinya, kamu urus sendiri. Arya adalah pria yang mengerikan. Dan sekarang kamu bilang aku ingin menemuinya? Kalau aku kesana, aku tidak yakin bisa kembali hidup. Kamu tahu? Sebaiknya berpikir dulu sebelum membuka mulutmu.”, ujar Dika kemudian pergi meninggalkan istrinya disana.
Dika nampak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Dika memilih naik tangga ketimbang naik lift.
“Kamu yang melakukannya?”, tanya Dika segera setelah seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya.
“Apa - apaan kamu? Tidak ada kalimat pembuka dan langsung menuduhku yang tidak - tidak.”, ujar Sarah emosi saat mendengar suara Dika yang langsung menuduhnya.
“Kamu tahu? Kamu hanya akan membuat Arya semakin membencimu. Hah… aku tidak tahu lagi tentangmu. Arya benar. Sarah yang dulu sudah menghilang. Kamu benar - benar sudah menjadi pribadi yang baru dan jahat.”, ujar Dika menutup teleponnya.
“Arghhhhh…Dika melemparkan ponselnya ke lantai. Dia tidak pernah sekalipun menyangka situasi tadi akan terjadi.
Dia murni khawatir dengan gadis itu. Kenapa semua malah jadi begini?
‘Ah.. dia juga sepertinya sedang hamil. Semoga saja dia baik - baik saja. Dinda tidak pernah berada dalam permainan ini. Dia seharusnya tidak pernah masuk dalam permainan ini’, ujar Dika dalam hati.
**********
Beberapa saat yang lalu di lobby saat kejadian pertengkaran itu masih berlangsung dan Arya sudah berada disana.
“Selingkuh? Siapa yang Anda bilang selingkuh, huh? Dia isteri saya. ANDA sudah menampar orang di tempat umum. Mana sih satpam, kenapa keributan seperti ini dibiarkan? Gila apa?”
Ucapan Arya terdengar samar di telinga Susan, namun dia masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Susan baru saja selesai meeting dari luar. Ia merasa haus dan lelah. Menurutnya kopi bisa menjadi penyembuhnya. Susan sedang mengantri kopi ketika insiden itu berlangsung. Saat dia sedang mengantri, belum ada Arya disana. Hanya ada DIka dan seorang wanita yang tidak dia kenal. Kemudian, DInda.
Susan tidak berpikir yang aneh - aneh. Dia fokus memesan kopinya dan kemudian permisi ke toilet yang tepat berada di samping Cafe.
Keluar dari toilet, Susan tentu langsung ingin mengambil kopi yang sudah dia pesan. Seharusnya sudah jadi karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama di toilet.
Saat dia keluar. Situasi sudah banyak berubah. Orang sudah lebih banyak di sekeliling tapping gate untuk 15 lantai pertama. Beberapa bahkan ada yang mengeluarkan ponsel mereka untuk mereka. Pandangan Susan sedikit terhalang dengan beberapa orang di depannya.
Susan memutuskan untuk mengambil kopi miliknya terlebih dahulu sebelum akhirnya ikut menyaksikan perseteruan itu. Susan baru menyadari kalau itu adalah perseteruan serius dari bisik - bisik orang - orang di sekitarnya.
Saat itulah dia melihat dengan jelas sudah ada Arya disana. Dan saat itu dengan jelas, Arya menyebut bahwa Dinda, wanita yang dia pegang sekarang adalah istrinya.
Susan langsung membeku. Dia memang melihat wanita itu pergi bersama Arya beberapa waktu lalu di rumah sakit. Tetapi mendengarnya langsung seperti ini tetap tidak bisa menghilangkan keterkejutannya.
Dinda juga dalam kondisi yang tidak baik sepertinya. Tapi anehnya tidak ada orang yang berani maju untuk sekedar membantu atau melerai. Bahkan satpam juga baru datang saat Arya sudah akan menghajar Dika.
Saat Arya menyibak sedikit rok Dinda, Susan juga bisa melihat dengan jelas ada tetesan daran disana. Ditambah orang lain juga mengatakan dan mencemaskan hal yang sama.
“Sayang, DIn.. Jangan gini.. DIn? Din? Dinda? Sayang. Oh sht”, someone called an ambulance.”*
Mendengar kata itu keluar dari mulut Arya membuat Susan terdiam. Dia membeku. Pria itu ternyata sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Betapa bodohnya waktu itu dia masih berpikir untuk mendekatinya.
Susan tenggelam dalam pikirannya sampai suara teriakan Arya yang kedua membangunkannya.
“SOMEONE CALLS AN AMBULANCE?”
__ADS_1
Susan dengan refleks mengambil ponsel di tasnya dan mencoba menghubungi 112. Namun, orang yang berada beberapa meter darinya lebih dulu terhubung dengan Ambulans. Tak berapa lama, Dimas terlihat berlari dari pintu depan lobby dan segera menawarkan bantuan. Saat itu, Dinda sudah tidak sadarkan diri.
‘Hah… sebenarnya apa yang sedang terjadi disini.’, pikirnya dalam hati.