Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 98 Permainan dimulai


__ADS_3

Hari Senin, hari yang baru bagi para pekerja kantoran untuk kembali dari dunia mimpi dan masuk ke realita kehidupan mencari cuan. Arya dan Dinda tak terkecuali. Keduanya menghabiskan liburan yang menyenangkan di rumah Dinda akhir pekan lalu. Bahkan mereka sempat mengajak Ratna dan Arga untuk dinner di luar. Meski awalnya Ratna menolak, tetapi akhirnya dia luluh juga.


Arya sudah siap dengan kemejanya. Arya lebih sering mengenakan kemeja dan jas tipis di kantor. Dia hampir tidak pernah mengenakan dasi kecuali pada acara - acara penting saja. Hari ini, dia mengenakan kemeja putih dan jas biru gelap dengan setelah celana bahan pensil dan sepatu pantofel.


Arya ada meeting pagi hari ini di tempat klien, sehingga dia tidak akan ke kantor kecuali hanya untuk mengantarkan Dinda. Gadis itu juga sudah siap lebih dulu dan sedang sibuk di dapur bersama Bi Rumi. Entah ada acara apa tapi gadis itu sudah hilir mudik dari pagi.


“Gimana liburan kalian? Mama sudah keburu tidur tadi malam, lelah sekali menemani tante Indah berburu keperluan pernikahan kemarin.”, kata Inggit yang sedang mengambil satu cerek jus wortel.


Hari ini secara spesial Dinda membantu Bi Rumi untuk menyiapkan sarapan. Hanya yang ringan - ringan saja, seperti jus dan sandwich sementara sisanya tetap disiapkan oleh Bi Rumi. Ketika datang ke rumah ini sebagai istri Arya, Inggit sudah mengatakan jika Dinda tidak perlu pusing dengan urusan di dapur karena sudah ada Bi Rumi.


Tapi jika Dinda sedang ingin memasak, Inggit juga tidak pernah melarangnya.


“Seru ma. Arya juga sudah mulai akrab dengan Arga.”, jawab Arya sambil mencomot sandwich buatan Dinda dari meja dapur. Arya tidak minum jus. Dia hendak meminta Bi Rumi membuatkan kopi.


“Mas Arya, hari ini minum jus, ya. Jangan kopi terus.”, pinta Dinda pada Arya.


Pria itu selalu saja minum kopi setiap pagi dan melupakan sarapannya. Dinda merasa khawatir kejadian waktu itu terjadi lagi.


“Nanti aku mules Din di kantor.”


“Engga, percaya deh mas.”, Dinda tetap berusaha membujuk Arya meski pria itu punya 1001 alasan.


Dinda berusaha ingin memberikan perhatian - perhatian positif pada Arya. Setidaknya hubungan mereka sudah ke tahap dimana sesekali Arya akan mendengarkan Dinda meski mayoritas, pria itu lebih mendominasi memerintahnya.


Dinda sadar, Arya masih merokok, sesekali minum minuman yang tidak diperbolehkan, dan tidak memperdulikan jam makannnya. Dinda sedang berpikir keras, bagaimana dia bisa membuat pria itu memperbaiki pola hidupnya yang workaholic.


Dengan malas, Arya memasukkan segelas kecil jus ke dalam mulutnya. Dinda juga tahu bagaimana membuat pria ini tidak merasa terpaksa. Dinda sengaja mempersiapkan segelas kecil dulu sebelum perlahan memberikan dengan gelas yang lebih besar.


“Aku packing-in beberapa sandwich lagi ya, mas. Biar nanti kalau lapar bisa dimakan.”, Arya hanya mengangguk. Sebelumnya dia menolak karena katanya nanti akan lunch dengan klien di luar. Tapi Dinda tetap saja memaksa agar pria itu membawa sandwichnya. Mungkin nanti dia bisa mencomotnya kapan saja dia lapar.


“Ratna sehat?”, tanya Inggit pada Arya.


“Bunda sehat. Sabtu kemarin, beliau banyak pesanan makanan. Tapi hari Minggunya Dinda sudah memintanya untuk beristirahat.”


“Wah.. sampai sekarang pesanan cateringnya masih laris manis ya. Alhamdulillah kalau begitu.”, Kuswan juga ikut nimbrung dalam obrolan pagi mereka.


“Ohiya Arya, gimana kabarnya di kantor kamu? Kepala divisi yang baru sudah ada?”, tanya Kuswan pada Arya.


Meski jaraknya relatif jauh, Dinda bisa mendengar pertanyaan Kuswan. Sebenarnya Dinda juga penasaran, apakah kepala divisi Digital and Development sudah ada? Meskipun Dinda sebenarnya juga tidak berharap bisa jujur dengan hubungannya dengan mas Arya ke orang - orang di kantor, tetapi kadang dia juga jadi bingung saat harus menyembunyikan statusnya.


Arya memberikan kode pada papanya untuk melanjutkan pembicaraan di luar. Kuswan melirik ke arah Dinda sebentar dan mengikuti Arya ke teras rumah.


“Kenapa? Kamu belum bilang ke Dinda?”, Kuswan langsung menembak Arya dengan pertanyaan yang to the point.


“HRD mempromosikan Arya untuk naik jabatan. Arya diminta mengambil kendali sebagai senior Head untuk Business and Partner membawahi semua tim, total ada 10 tim. Nanti masing - masing tim akan ada Managernya masing - masing. Disaat yang bersamaan mereka juga menawarkan Arya untuk mengambil posisi head digital and development. Jadi dua divisi itu akan dibawah Arya.”


“Oh bagus itu.”


“Papa tahu kan, kalau aku malah jadi Head di divisi Dinda sekarang, Dinda gak akan bisa terusin karir internnya.”


“Ah iya benar. Papa lupa. Apa gak benar - benar gak ada yang bisa menggantikan kepala Digital and Development itu? Bukannya kamu bilang itu divisi baru, ya?”


“Nah itu dia pa. Kemarin Arya meminta mereka untuk mempertimbangkan kembali. Dan mereka akan menginformasikan ke Arya dua minggu lagi. Tidak, berarti sekarang sisa seminggu lagi.”


“Semoga saja ada yang bisa menggantikan. Kamu gak bilang Dinda?”


“Aku gak mau Dinda terbebani dengan masalah ini. Sepertinya dia sangat antusias dengan pekerjaannya yang sekarang. Kalau aku cerita, dia pasti akan minta resign saja.”, ujar Arya.


“Ge er kamu. Memang Dinda sudah se-cinta itu dengan kamu?”, goda Kuswan.


“Heh.. papa, bisa aja. Ya sudah, Arya berangkat dulu ya, pa.”


“Ohiya, papa tahu, gak seharusnya papa tanya - tanya begini. Kalau kamu tersinggung papa minta maaf. Kalian sudah ada rencana untuk punya anak?”


Arya terdiam sebentar. Arya selalu saja tidak siap setiap ada yang menanyakan pertanyaan seperti ini padanya.


“Mama kamu sudah bilang semuanya ke papa. Tentang masalah kamu dulu dengan Sarah. Dan jawaban papa sama dengan mama. Kamu gak pernah tes. Mungkin saja itu hanya akal - akalan Sarah saja.”


“Arya berharap begitu, pa.”


“Jadi, kamu punya rencana untuk punya anak?”, tanya Kuswan lagi.


“Tergantung Dinda, pa. Dia yang akan bersama benih itu berbulan - bulan. Jika Arya saja yang mengatakan ‘iya’, rasanya tidak adil untuk Dinda.”


“Papa yakin dia mau.”


“Tapi mungkin belum sekarang, pa. Masalah Arya dan Sarah masih belum settle. Dinda juga masih terlalu muda.”, jawab Arya lagi.


“Apalagi yang mau kamu selesaikan dengan Sarah? Bukankah perceraian kalian sudah menyelesaikan semuanya? Kamu jangan bikin papa marah lagi dong, Arya.”

__ADS_1


“Persoalan ini kita bahas nanti lagi ya, pa. Walaupun papa tanya Arya sekarang, Arya juga belum punya jawabannya.”, kata Arya.


******


“Jadi, kamu punya rencana untuk punya anak?”, tanya Kuswan lagi. 


“Tergantung Dinda, pa. Dia yang akan bersama benih itu berbulan - bulan. Jika Arya saja yang mengatakan ‘iya’, rasanya tidak adil untuk Dinda.” 


“Papa yakin dia mau.”


“Tapi mungkin belum sekarang, pa. Masalah Arya dan Sarah masih belum settle. Dinda juga masih terlalu muda.”, jawab Arya lagi.  


“Apalagi yang mau kamu selesaikan dengan Sarah? Bukankah perceraian kalian sudah menyelesaikan semuanya? Kamu jangan bikin papa marah lagi dong, Arya.” 


“Persoalan ini kita bahas nanti lagi ya, pa. Walaupun papa tanya Arya sekarang, Arya juga belum punya jawabannya.”, kata Arya. 


Dinda sedang berjalan menuju kantor. Arya baru saja menurunkannya di tempat biasa. Sepanjang perjalanan, Dinda memikirkan obrolan Arya tadi dengan papanya yang tanpa sengaja Dinda dengar.


‘Sebenarnya mas Arya menganggap aku apa sih? Semua perlakuannya denganku belakangan ini, kenapa jadi berbanding terbalik dengan perkataannya tadi? Apa lagi yang mau dia selesaikan dengan Sarah? Kenapa selalu ‘Sarah’, ‘Sarah’, dan ‘Sarah’. Apa sebenarnya arti wanita itu dalam hati mas Arya?’, Dinda tak memperhatikan jalannya sama sekali, pikirannya hanyut dalam spekulasi - spekulasi yang dibuatnya sendiri.


“Dinda!”, seorang pria menarik lengan Dinda kuat tatkala ada sebuah motor yang melintas saat lampu hijau sudah menyala.


Dinda terkejut. Lamunannya buyar dan pikirannya tersadar.


“Kamu kenapa?”, Dimas, laki - laki yang menyambutnya tadi memegang erat kedua lengan Dinda, menatap gadis itu lamat - lamat dan bertanya?


“Kamu hampir celaka!.”, ujarnya.


“Oh? Oh, maaf!”, Dinda segera melepaskan pegangan tangan Dimas di lengannya.


“Kamu ada masalah?”, tanya Dimas dengan nada yang lebih rendah dari tadi. Jujur dia kaget saat Dinda hampir saja tertabrak, sehingga dia tanpa sengaja menaikkan nada bicaranya.


Dinda menggeleng.


“Tidak. Terima kasih. Permisi.”, begitu dia lihat lampu merah kembali menyala, Dinda segera berjalan dan meninggalkan Dimas begitu saja. Dimas menghela nafasnya. Ia tampak kecewa. Dia hanya bisa mengikuti Dinda dari belakang karena dia juga menuju gedung yang sama.


Sementara itu di tempat yang tidak jauh dari area penyeberangan tadi, seseorang nampak bergumam.


“Dinda? Dinda? Jadi, nama gadis yang waktu itu bertemu di Mall adalah Dinda? Apakah ini cuma kebetulan atau benar itu adalah Dinda, istri Arya?”, ujar wanita yang ternyata adalah Sarah.


Dia hendak mengembalikan barang Dimas yang tertinggal saat mereka sarapan bersama pagi ini. Sarah sedang ada project kantor dan beberapa kali meeting di Mall yang kemarin. Dia sedang menunggu mall buka dan memilih untuk mengajak Dimas sarapan bersama. Belum lama ini, Sarah tahu kalau kantor Dimas dan Arya berada di gedung yang sama.


Sarah sudah tidak bisa menghubungi Arya karena setiap kali dihubungi, pria itu pasti mematikan ponselnya. Kalaupun diangkat, dia selalu menolak untuk bertemu.


“Menarik. Apa aku perlu menemuinya sekali?”, ujar Sarah yang mengurungkan niatnya untuk mengembalikan barang milik Dimas sekarang. Selain karena waktu meetingnya sudah dekat, dia juga ingin lebih siap. Siapa tahu dia bisa bertemu Arya juga.


‘Tapi, kalau gadis yang tadi adalah istri Arya, kenapa dia jalan kaki ke kantor? Tunggu, apa mereka juga sekantor? Tapi di satu gedung belum tentu bekerja di kantor yang sama. Hm.. aku jadi semakin penasaran.”, kata Sarah dalam hati.


*****


“Din, kamu yakin gapapa?”, Dimas memutuskan untuk mengejar Dinda di lobi.


“Engga, saya gapapa, kok. Maaf saya harus segera ke atas.”, jawab Dinda berusaha menghindar dari Dimas.


“Saya tahu kamu sudah menikah dengan Arya.”, kata Dimas jujur.


Mata Dinda membulat mendengarnya. Darimana dia tahu?


“Pelankan suara kamu.”, ujar Dinda melihat ke sekitar.


“Sekarang kamu mau meluangkan waktu untuk kita bicara?”, kata Dimas menawarkan.


“Apa yang harus dibicarakan. Saya tidak kenal kamu. Kita hanya tak sengaja bertemu, saya tak sengaja menumpahkan kopi, dan sudah mengganti kemeja kamu. Lalu?”, Dinda bingung, kenapa pria ini terus mengajaknya berbicara berdua.


“Bukankah kita teman? Kamu menyapaku dengan ramah di mall tempo hari. Apa itu tidak dianggap teman? Kenapa sekarang kamu bilang kamu tidak mengenalku.”, tanya Dimas.


“Hah.. maksud saya. Ya.. hanya sekedar seorang pekerja kantoran yang tahu dengan pemilik cafe di bawah. Tidak lebih. Sama seperti saya tersenyum dengan resepsionis atau pemilik toko roti yang ada disana.”, Dinda menghela nafasnya sebentar, dia merasa frustasi harus menjelaskan hal ini pada Dimas.


“Berarti kita saling kenal, kan? Saya hanya ingin berteman, tidak lebih. Apalagi sekarang saya tahu rahasia kamu.”


“Terserah kamu Dimas, mau kamu katakan ke semua orang juga saya gak peduli.”


Dimas tersenyum. Jawaban yang persis seperti ekspektasinya.


“Bagaimana dengan Sarah? Kamu tidak penasaran dengannya? Saya yakin sampai sekarangpun Arya masih memikirkan Sarah?”


Deg


Dimas mendapatkan kelemahan Dinda dengan sangat tepat. Gadis itu sedikit bergeming.

__ADS_1


“Saya ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Maaf, saya permisi.”, ujar Dinda berlalu dari tempatnya berdiri menuju lift.


Sepanjang perjalanan, Dinda tak bisa lepas dari pikiran - pikiran itu lagi. Kehadiran Dimas tadi hanya menambah kusut spekulasi - spekulasinya.


“Hah.. lupakan saja. Lebih baik aku meminta penjelasan dari mas Arya tentang apa yang dia katakan tadi pagi.”, Dinda memutuskan untuk fokus dan melupakan masalahnya.


*****


Kantor Dinda sedang sibuk hari ini. Lebih tepatnya bos mereka, pak Erick yang dari tadi pagi sudah hilir mudik meeting sana sini. Kali ini tidak melibatkan Arya, karena sedari tadi Dinda tidak melihatnya di ruangan atau dimanapun.


Dinda bahkan sengaja melewati ruangannya menuju pantry, padahal jaraknya malah lebih jauh. Tapi, tidak ada pergerakan dari sana. Seseorang dari tim Business and Partners bahkan bertanya pada Dinda apakah dia sedang mencari Arya. Dinda terlampau kelihatan sedang mencari pria itu. Tentu, mereka mengira ada tanda tangan yang mungkin Dinda perlukan. Dinda menjawab tidak dengan canggung.


Dinda juga tidak enak mengirimkan pesan pada Arya di jam kerja kecuali benar - benar ada keperluan. Tapi, kali ini Dinda ingin melanggar aturan yang dia buat sendiri. Di pantry dekat area mesin kopi, Dinda mengetik pesan pada Arya.


To: Abang Ojol 


Mas Arya gak ke kantor? 


Singkat, padat, dan jelas. Begitu kiranya pesan yang dikirimkannya pada Arya. Tak sampai beberapa detik, Arya membalas pesannya. Hal yang tidak biasa dari pria itu.


From: Abang Ojol


Kenapa? Kamu kangen?


Dinda membacanya sambil tersenyum, meski awalnya merasa Arya ke-gr-an.


To: Abang Ojol 


Enggak. Siapa bilang? Mas Arya meeting di luarnya sampai jam berapa?


Dinda memberanikan diri bertanya. Biasanya dia mengeluarkan pertanyaan ini kalau sudah lewat jam pulang, tetapi Arya belum juga muncul. Kali ini, Arya tidak langsung membalasnya. Dinda menunggu selama beberapa menit, tapi Arya belum juga membalas. Dinda langsung menarik kesimpulan kalau pria itu mungkin sedang sibuk dan sudah lanjut meeting lagi.


‘Ehm.. nama mas Arya di ponselku masih ‘Abang Ojol’, apa aku ganti saja, ya? Seharusnya kalau aku tidak sebut nama tidak akan apa - apa. Lagi pula kalaupun aku tulis mas Arya, memangnya mereka bisa langsung mengira ini Pak Arya. Lagipula, mereka tidak pernah memeriksa ponselku. Hm.. aku ganti jadi apa ya?’, Dinda menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit - langit pantry, seakan langit - langit akan memberikannya jawaban.


‘Hm.. tapi..’, Dinda kembali teringat persoalan yang dia pikirkan pagi ini. Dia jadi bingung dengan perasaannya sendiri.


Tak lama, seseorang masuk ke dalam pantry. Bryan. Pria itu sedang memegang tumblr miliknya. Sepertinya dia ingin membuat kopi.


“Ngapain kamu disini? Semua pada di bawah.”, tanya Bryan pada Dinda.


Dinda sendiri, sengaja tidak ikut dengan yang lain ke bawah karena tujuan mereka adalah cafe milik Dimas. Dinda sedang menghindari pria itu.


“Kamu sendiri?”, Dinda bertanya balik. Dia juga heran kenapa Bryan tidak ikut bergabung dengan mereka.


“Kartu kreditku dibekukan. Jadi aku hanya mengandalkan gajiku sebulan ini.”, jawab Bryan datar. Percayalah, itu adalah wajah kesalnya. Hanya saja pria satu ini memang tidak ekspresif.


Sebenarnya ini salah satu alasan. Alasan lainnya dia tak ingin bergabung bersama mereka adalah, kalau Dinda tidak ikut bergabung, mereka pasti akan membicarakannya. Mereka sekarang senang membicarakan orang yang sedang tidak bersama mereka. Terutama Andra yang terkenal punya banyak intel.


“Kenapa?”. Sebenarnya Dinda tidak perlu bertanya, tapi dia jadi penasaran.


“Aku ketahuan sebat.”, ucap Bryan.


“Hanya karena itu? Bukannya kamu bilang kamu sering ke club malam? Itu tidak ketahuan?”


“Ya ya itu juga. Aku ketahuan sebat, minum, dan ke klub malam oleh papa. Biasanya dia tidak mengurusi hal seperti ini. Aku bingung kenapa dia sekarang malah memperpanjang hal ini. Memangnya dia tidak pernah apa. Hah.. membuat orang kesal saja.”, gerutu Bryan. Dia jadi refleks curhat pada Dinda.


‘Andai aku bisa blokir kartu kredit mas Arya juga. Haha.. mana bisa, orang kartu kreditku saja dari dia. Orang seperti Bryan tidak berkutik jika kartu kreditnya tidak ada. Lalu bagaimana aku harus membuat mas Arya mengurangi atau bahkan tidak menyentuh rokok lagi, ya?’, Dinda asyik berpikir sendirian.


“Din, kamu masih pacaran sama pak Arya?”, tiba - tiba Bryan melontarkan pertanyaan yang membuatnya panik.


“Kamu bisa gak sih, gak ngomong itu sembarangan?”


“Kamu bukan wanita seperti itu kan?”, Tanya Bryan.


“Hm? Wanita seperti apa?”


“Kamu jalan dengan Pak Arya saja sudah membuatku merasa aneh. Bagaimana yang lain melihatnya?Kamu tahu kalau kamu sudah dicap cewek gak baik oleh Andra dan teman - temannya?”, ujar Bryan.


“Aku bukan wanita seperti itu.”


“Terus, apa hubungan kamu dengan Dimas? Pria pemilik cafe di bawah?”


“Aku tidak ada hubungan apa - apa kok dengan dia. Hm.. aku gak bisa jelasin sekarang. Rumit. Yang jelas, aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan.”


“Kamu terlihat ada hubungan. Tadi aku melihat kalian dibawah.”


“Ah.. dia hanya menolongku saja. Tidak lebih. Sudahlah, aku mau kembali ke kursi. Aku tidak suka bau kopi yang sedang kamu buat. Itu kopi apa? Kok baunya gak enak banget?”


“Hm? Inikan kopi yang memang biasa ada disini. Sepertinya tidak pernah ganti. Mungkin ada yang salah dengan hidungmu.”, ucap Bryan heran.

__ADS_1


Dinda menutup hidungnya dan segera keluar dari pantry. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan bau kopi yang dibawa oleh Bryan.


__ADS_2